
“Hoeekk… HOeekk!!”
Mual dady makin menjadi hari ini, dan Dafa terpaksa menemaninya di dalam kamar mandi dan memijati tengkuknya agar sedikit lega. Dady bahkah berlutut di closet kamar mandi sangking lemahnya untuk berdiri, dan mereka membatalkan rapat saat itu karena kondisi yang tak bisa diajak kompromi.
“Kau kenapa?”
“Jika aku tahu, aku akan dengan mudah mengobatinyya.”
“Lagian aku hanya bertanya untuk memastikan. Apa perlu ku panggil Dokter Dodit untuk memeriksamu?”
“Kita pulang saja,” ajak dady pada Dafa.
Dafa akhirnya pasrah dan menuruti mau dady saat itu. Setidaknya ia akan aman di rumah karena Meera sudah pulang, dan ia bisa segera pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena kejadian ini.
Dady berusaha berjalan sendiri hingga sampai di loby hotel hingga menuju mobil agar tak membuat beberapa pegawai disan cemas karenanya. Tapi ketika tiba di mobil, ia lemas lagi dan hanya bisa bersandar memejamkan mata. Harapan Dafa agar ia tak kelepasan muntah disana.
“Sudah hampir seminggu begini. Kau bahkan sudah minum obat,”
“Ya, ini yang terparah karena beberapa hari lain aku masih bisa menahannya.”
Mereka terus berjalan hingga tiba di rumah dan masuk ke dalam tanpa sambutan dari Meera yang duduk santai di meja makan. Ia baru saja menikmati seblak saat itu, yang ia beli ketika perjalanan pulang dari sekolah Sean.
“Dady pulang?” sapa Meera yang langsung menghampiri, namun dady langsung menolak pelukan darinya saat itu.
“Kenapa?” tanya Meera sedih, karena tak biasanya dady menolak, bahkan biasanya dady lah yang langsung memeluk dan menciumi Meera dengan begitu gemasnya.
“Meera makan apa? Kenapa baunya aneh?”
“Aneh?” Meera menciumi diri sendiri saat itu, hingga ia ingat jika baru saja menghabiskan seblak dengan ukuran ekstra karena lapar yang luar biasa. “Seblak, tadi_”
__ADS_1
“Hoeek!”
“Ya, muntah lagi,” ucap Dafa menepuk jidatnya.
“Emang tadi muntah-muntah?” heran Meera, dan Dafa menganggukkan kepalanya.
Meera langsung meraih air hangat dan memberikannya pada sang suami, tapi pria itu jutsru tampak meringis karena justru terasa perih di gastricnya saat itu. Baru kali ini ia merasakan muntah sampai habis dan isi perutnya tak tersisa seperti ini, dan rasanya menyakitkan sekali.
“Meera kerokan, ya? Kasihan udah pucet begini,” ucap Meera yang mengusapi keringatnya saat itu, bercucuran begitu deras bagai ketika mereka habis bermain semalaman.
“Kau makan apa seharian tadi?” tanya dady dengan napasnya yang terengah.
Meera hanya diam dan sejenak mengingat semuanya, kemudian ia menceritakan apa saja yang ia temui dan ia nikmati seharian tadi tanpa henti. “Meera jadi doyan makan saat ini,” imbuhnya, heran pada diri sendiri.
Dady saat itu langsung tegap berdiri, dan ia berjalan seperti mencari sesuatu yang tertempel di dinding, hingga ia menemukan sebuah kalender dan memperhatikannya saat itu. Meera yang kurang pengalaman hanya menelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
“Dafa!” pekik Dady, padahal Meera sendiri disana menatapnya dengan penuh tanya.
Dady lantas memperlihatkan kalender yang ia pegang saat itu meksi Dafa hanya memberi tatapan datar padanya. Bengong, dan Dafa langsung menempelkan punggung tangan ke kening kakaknya saat itu, tapi dady langsung menepis dan berbisik ditelinganya.
“Hey! Meera disini!” tegur Meera pada mereka berdua saat itu. Lagipula, ada saja tingkah dady yang membuat istrinya makin penasaran.
Dady langsung menatap sang istri dengan smirk dan senyumnya. Ia merentangkan tangan dan berjalan langsung memeluk Meera dengan erat saat itu hingga Meera sesak karenanya.
“Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena kau telah memberikan hadiah terindah untukku dan pernikahan kita, padahal aku belum memenuhi janji untukmu memberikan sebuah pesta pernikahan mewah.” Meera memicingkan mata sembari berfikir keras mencerna semua ucapan suaminya saat itu.
“Wuaaah! Kau serius? Aku akan dapat keponakan lagi??” Justru Dafa yang cepat tanggap dengan ucapan kakaknya saat itu. “SEAN!”
“Ke-po-nakan? Maksudnya, Meera hamil? Tapi Meera ngga rasain apa-apa, Dady. Meera hanya_”
__ADS_1
“Ya, aku yakin kau pasti hamil, dan aku yang mengalami mual muntahnya. Aku akan memanggilkan DOkter untukmu saat ini juga,” ucap dady yang langsung meraih hpnya saat itu meski masih dalam keadaan sempoyongan. Tapi apapun itu, semua kalah dengan keadannya yang begitu amat bahagia saat ini.
Sean yang saat itu tengah istirahat di kamarnya lantas keluar oleh panggilan Dafa. Ia mengedip-ngedipkan matanya memperhatikan mereka semua dengan tingkah anehnya masing-masing hingga Dafa meraih tubuh Sean dan menggendongnya.
“Kenapa?” tanya cengo Sean pada pamannya yang seperti begitu bahagia, sementara dadynya sendiri seperti begitu lemah saat ini dan Momy nya seperti kebingungan. Sepertinya taka da yang normal diantara mereka.
Hingga akhirnya Dokter tiba dan langsung memeriksa Meera di kamarnya. Dan benar saja, Dokter langsung mempertanyakan haid terakhir Meera dan meminta Meera melakukan terspeck agar lebih yakin dengan diagnosisnya saat itu. Meski ragu, tapi Meera melakukan semuaya dibantu dady di kamar mandi.
“Meera ngga yakin, masa Meera ngga sadar kalau Meera hamil? Justru Dady yang paham,” tukasnya.
“Itu karena aku yang mengalami syndrome couvade, Sayang. Kehamilan simpatik,” colek dady yang Sudah mendingan itu pada hidung bangir istrinya. Dan memang ia sadari saat ini jika ada beberapa bagian tubuh Meera yang berubah, seperti dada dan pinggulnya. Ia kira hanya karena Meera terlalu bahagia hingga tubuhnya sedikit mengembang.
“Lihat, benar kan?” ucap dady ketika mempelihatkan hasil terspeknya pada sang istri.
Barulah saat itu Meera terkejut dan terharu dengan apa yang ia lihat. Dan seakan kehabisan kata-kata, saat itu Meera langsung memeluk dady dengan deraian air mata yang membanjiri pipinya. Ia menangis, terharu dan begitu bahagia saat ini karena keinginan terbesar itu akhirnya terkabul.
Dady membalas pelukan itu tak kalah haru dan mengusap punggung Meera saat itu. Mengecup pipi Meera dan mengusap air matanya, bahkan dady ikut menangis saat itu sangking bahagia.
“Dady nangis?” tanya Meera, yang tak menyangka respon dady akan sebahagia ini dengan kehadiran anak mereka.
“Ya, aku bahkan sampai tak bisa berkata apapun untuk mengekspresikan ini semua. Keluar, dan beritahu pada Sean jika ia akan mendapat adik babynya segera.” Dady menggandeng tangan Meera dan keluar dari kamar mandi itu untuk menghampiri Sean di sofanya.
Dan benar saja, Sean langsung terlonjak kaget dan berdiri mendengarnya. Ia langsung menghampiri Dafa dan mereka bahagia bersama, bahkan menari-nari disana dengan begitu gembiranya meloncat loncat tak karuan.
Sean wajar karena ia anak kecil, tapi Dafa?
Dady dan Meera hanya menggelengkan kepala melihat keduanya saat itu dan tak bisa berkata apa-apa saat ini. Yang jelas mereka bahagia. Hanya saja, pasti akan lebih repot karena Dady masih akan mabuk entah hingga kapan nantinya.
Tak apa, yang penting Meera bisa makan sepuas dan sesuka hatinya tanpa hambatan apapun demi bayi mereka.
__ADS_1
Bisa mampir kesini sembari otor buat karya baru, "Mr. Demian Kesetrum Cinta😘😘"