
Kehamilan Momy Meera saat ini sudah semakin membesar. Mual muntah yang dady alami pun sudah tak lagi terasa seiring berjalannya waktu begitu juga dengan manjanya bayi besar itu akibat Syndrom yang ia alami.
Kini sudah Sembilan bulan dan momy hanya tinggal menunggu jadwal kapan adik baby berjenis kelamin perempuan itu akan segera hadir diantara mereka semua, apalagi momy ingin proses kelahiran normal untuk buah hatinya saat ini.
Seperti biasanya, bahwa sejak hamil momy dan dady memiliki ritual baru yaitu mengusap dan mencium perut yang berisi adik baby itu sebelum tidur dan dady selalu membuat posisi tidur Meera agar lebih nyaman dan nyenyak nantinya. Untung dady berpengalaman hingga Meera cukup terbantu saat ini.
Sementara itu Sean begitu akrab dengan nenek hinga Dafa bisa fokus pada pekerjaannya di kantor bersama Shila. Bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan beberapa bulan lagi jika adik baby sudah lahir.
"Hiks... Momy," lirih Sean yang cukup gelisah malam ini.
"Sean kenapa?" Nenek bangun dan memegangi Sean saat itu, bahkan memeriksanya yang ternyata sudah berkeringat dingin akibat kegelisahan yang mendera. Biasaya Sean tak begini, dan ia begitu mengerti keadaan Meera yang sudah sulit untuk bergerak kesana kemari saat ini.
"Tidur ya, Sayang. Sean kan anak hebat, anak pinter, udah mau punya adik juga." Nenek mengusap kepala Sean dan mengecupnya dengan hangat saat itu hingga Sean benar-benar kembali tenang dan memejamkan matanya.
Suasana kembali tenang, dan nenek ikut memejamkan mata disebelah cucunya tercinta.
"Dady," lirih Meera yang membangunkan suaminya. Dady yang memang begitu siaga, langsung membuka mata dan menyalan lampu yang cukup terang untuk menjawab panggilan sang istri tercinta.
"Yess, Mom... Ada sesuatu, Sayang?" tanya dady, yang memperhatikan wajah Meera sedikit pucat saat ini.
"Dady, baby mau lahir sepertinya. Meera kontraksi," lirihnya saat itu.
Meski terkejut dady berusaha untuk tetap tenang menghadapi semuanya dan berusaha untuk tak tergesa-gesa. Untung saja Meera juga telah mempersiapkan semua keperluannya di lemari yang akan ia bawa ke Rumah sakit, dan dady langsung menghubungi Dafa saat itu yang sudah tidur di kamarnya.
"Ya, Kak?" tanya Dafa yang tak kalah siaganya dengan dady saat ini untuk Meera dan keponakan barunya. Ia langsung bangun saat itu dan keluar untuk memanaskan mobil, setelah itu naik menuju kamar mereka untuk membantu mengambil beberapa keperluan yang ada.
__ADS_1
Tampak dady tengah membantu Meera mengikat rambutnya yang panjang agar lebih rapi dan mengganti pakaian Meera yang cukup basah karena keringatnya.
"Hany aini?" tanya Dafa dengan dua tas yang ia jinjing saat itu. Mereka sejak lama sudah mewanti-wanti dady agar tak pergi ke Rumah sakit sendirian lagi seperti kala itu.
"Iya, Mas." Meera yang masih cukup tenang menganggukkan kepala untuk menjawabnya.
Dady memapah Meera menuruni tangga sementara Dafa mengetuk pintu kamar Sean untuk pamit saat itu. Ibu tak cemas karena yakin Meera bisa menghadapi semuanya, dan ia yakin jika Meera kuat hingga ia akan fokus pada Sean saat ini.
"Meera ngga papa kok, Bu. Titip Sean, ya?" ucap Meera dari bawah sana.
"Yasudah. Jika ada apa-apa, kabarin ibu ya." Dafa mengangguk dan mencium tangannya saat itu.
Mereka pergi, dan Dafa menyetir mobil dengan keuatan yang sedang saat itu karena hari sudah malam dan cukup lengang. "Hey, bisakah pelan sedikit?" tegur dady pada adiknya.
"Kau lihat istrimu sudah kesakitan, dia harus segera dibawa ke Rumah sakit."
"Ini sepi, Kak Louis. Kau ini," kesal Dafa padanya.
"Hey, sudahlah. Kenapa justru kalian yang bertengkar," tegur Meera yang sejak tadi berusaha tenang dan mengelusi perutnya yang mulai menerima gelombang cinta. Perlahan, tapi pasti dengan ritme yang beraturan.
Dady juga mengelus perut Meera saat itu dan sesekali mengecup keningnya dengan lembut. Hal itu lantas membuat Dafa memanyunkan bibirnya kesal pada sang kakak. Tapi tidak dengan Meera.
Hingga keduanya telah tiba di Rumah sakit saat ini, dan dady langsung menggendang Meera masuk kedalam menuju ruang pemeriksaan.
Dokter segera datang untuk menangani Meera saat itu bersama beberapa perawat yang langsung memeriksa Meera dengan berbagai alat penunjang lainnya. Meera sendiri tampak tenang menjawab semua pertanyaan Dokter meski harus dipasang selang oksigen dihidungnya saat itu.
__ADS_1
Gelombang cinta yang Meera rasakan saat ini semakin menguat. Ia mulai gelisah dan berkeringat, merintih sesekali memanggil nama dady agar selalu ada didekatnya saat itu.
Dady mengusap keringat Meera, dan bahkan netranya jatuh melihat semua kesakitan yang Meera rasakan. Meski bukan baru pertama kali melihat istrinya melahirkan, karena mendiang momy Sean juga melahirkan secara normal saat itu.
Hingga di pembukaan ke Lima, ketuban Meere pecah. Rasa sakit itu semakin menjadi dan Meera seperti sudah begitu lemas saat ini. Ia miring, dan saat itu dady dari belakang mengusapi perutnya dengan perlahan. Ia duduk tepat dibelakang Meera saat itu dan ia juga terus memberi semangat pada istrinya meski hanya dengan sebuah ciuman mesra.
Dady tak mampu berkata apa-apa lagi, hanya bisa diam cemas dan berdoa untuk Meera saat ini. Dafa datang sesekali memberi minum untuk Meera agar tak dehidrasi saat itu.
Dokter beberapa kali masuk untuk memeriksa Meera dan memastikan pembukaannya sudah lengkap. Ia mulai meminta para perawat untuk membenarkan posisi Meera saat itu agar ia siap untuk mengejan.
Dady terus mendampingi disampingnya dengan begitu tegang sementara Dafa diluar. Dan hari sudah mulai pagi sejak mereka datang kesana.
Dady menangis lagi Sangking terharunya melihat perjuangan Meera melahirkan putri mereka.
Meera terus berusaha mendorong bayinya agar segera keluar saat itu, peluh ssmakin banyak membasahi dan dady kembali mengusapnya saat itu. Ia dekatkan kening mereka berdua dan terus memberi semangat pada Meera hingga suara Bayi terdengar menangis dengan begitu kuat mengisi seluruh ruangan itu. Bahkan terdengar sampai keluar ditelinga Dafa.
"Hey... Keponakanku sudah lahir," senang Dafa saat itu.
Akhirnya Meera dan dady bisa bernapas lega, terutama ketika bayi itu ditidurkan di dada Meera dan Dokter memberi perawatan lain dibawah sana.
"Hey... Kau cantik seperti Momy," sapa Dady pada putri cantiknya saat itu. Ia menggenggam tangan itu, begitu mungil dan menggemaskan kemudian mengecup kembali kening Meera untuk berterimakasih padanya. Sean pasti bahagia.
"Adik Baby!" pekik Sean yang datang pagi itu menjenguk Momy dan adiknya di Rumah sakit. Ia diantar Shila dan nenek saat itu karena ia benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan adiknya disana.
"Thanks Mom, Sean suka adik baby nya." Sean duduk didekat Meera dan memeluknya saat itu. Begitu mesra dan penuh rasa cinta. "Adik Baby so Beutifull," puji Sean pada bayi mungil yang digendong dady saat itu.
__ADS_1
Sean menciumnya sesekali, tapi masih ngeri karena adik baby begitu kecil saat ini. "Samudera, Yess?" tanya Sean yang memberi nama untuk adiknya, dan mereka semua mengangguk disana.