
Hp Meera berbunyi pagi-pagi sekali. Ia yang masih dalam pelukan tubuh besar dady itu langsung membuka mata dan meraih hp di nakas yang ada di samping ranjang dan mengangkatnya.
“Ya, Vira?”
“Nyonya, Maaf mengganggu pagi-pagi. Bik Tum tak masuk saat ini karena cucunya sakit, jadi dia harus mengasuh. Saya tak bisa jika harus memasak sendirian, jadi_”
“Yasudah, biar saya yang masak. Tunggu dan persiapkan semua bahannya di dapur, ya?”
“Iya, Nyonya.” Vira mengangguk dan mematikan teleponnya.
Meera lantas melepas perlahan tangan dady dari tubuhnya, kemudian ia meraih daster yang terlemper cukup jauh dari ranjang saat itu dan memakainya lagi karena masih cukup bersih dan tak terkena noda apapun bekas malam tadi. Ia menoleh sejenak untuk mengecup kening suaminya lebih dulu,”Kemana?” tanya dady yang mendadak meraih wajahnya.
“Bik Tum ngga bisa masuk, jadi Meera yang mau masak buat sarapan pagi.”
“Kau bisa?”
“Eh, kenapa meremehkan sekali? Belum pernah Meera masakin, ya?” dady menggelengkan kepalanya.
Meera kemudian beranjak dan meninggalkan dady yang kembali tidur lelap disisa waktunya saat itu. Lelah bermain semalam seolah tak pernah bosan saling mengagumi dan menikmati tubuh masing-masing yang sudah menjadi candu satu sama lain.
Meera kemudian mengikat rambutnya dan turun kebawah untuk menemui Vira dan mulai memasak disana. Bahkan Vira mempersiapkan tah hangat agar Meera semakin bersemangat saat ini.
Opor ayam, tumis aneka macam sayuran dan tempe mendoan serta sambel kesukaan Meera menjadi alternatif masakan pagi ini. Meera dengan begitu semangat mengolah itu semua, apalagi selama disana ia tak diperbolehkan terlalu sering menginjak dapur oleh suaminya.
“Wah, harumnya,” puji Vira yang baru saja membereskan beberapa bagian rumah ketika Meera sibuk memasak makanan.
“Cicip, Ra… Enak ngga?” Bahkan Meera tak segan menyendokkan kuah semur dan menyapkannya pada Vira saat itu. Ia tak sekalipun merasa kasta mereka sudah beda saat ini karena sejak awal mereka adalah sama.
“Enak banget, Nyonya. Tuan pasti suka, dan makin cinta ini nanti.”
“Cinta?” fikir Meera dalam hatinya. Ia langsung tampak canggung ketika mendengar kata itu dari Vira.
Saat itu Vira langsung meraih ulekan dan membantu Meera mengulek sambel yang baunya tak kalah harum dengan masakan yang lain. Meski terasa sedikit menyengat dengan aroma pedas campur sedikit terasi untuk bumbunya.
“Empph… Apa ini?” omel oma yang baru keluar dari kamarnya. Ia langsung menuju dapur dan melihat masakan mereka berdua, bahkan menatap jijik dengan sambal yang Meera buat dan diulek Vira saat itu.
__ADS_1
“Mana bik Tum? Bik Tum mana? Kenapa masakannya begini?”
“Bik Tum sedang izin bu Oma, jadi Nyonya Meera masak pagi ini. Sebentar lagi selesai kok, ini sambelnya udah_”
Sreek!! Tangan lincah oma meraih ulekan kayu itu lalu membuang sambalnya ke tong sampah. Ia bahkan mencuci bekasnya hingga bersih berkali-kali hingga baunya diyakini tak tercium lagi.
“Bu Oma… Nyonya?”
“Makanan kampung! Masak lagi yang bener, saya ngga mau ada makana seperti ini dimakan oleh menantu dan cucu saya!”
Meera hanya diam tak menggubris itu semua. Yang jelas ia sangat kesal saat ini dan berusaha menahan semuanya agar tak terjadi keributan dipagi hari.
Usai masak, Meera langsung naik ke kamar untuk mengurus suami dan anaknya sementara Vira merapikan semua di meja makan.
“Sean! Cepetan sedikit kenapa? Ini sudah siang!” bentakan itu terdengar dari kamar Sean saat itu, tentu saja dari omanya.
Meera yang kaget langsung masuk kesana dan mendapati Seannya justru tengah meringkuk ketakutan di bawah meja.
“Ada apa ini? Sayang_” Meera langsung meraih tubuh sang putra dan menggendongnya.
“Apakan? Kamu seolah tengah menuduh saya berbuat jahat sama cucu saya sendiri saat ini.”
“Jika tidak, kenapa Sean ketakutan?” tatap tajam Meera padanya. Tampak Meera seperti sudah tak bisa menahan emosi saat ini.
Meera langsung membawa Sean untuk mempersiapkan semua pakaian gantinya meski oma Vani terus nyerocos mengomelinya saat itu bahkan mencacinya tiada henti. Sean sendiri refleks menutup telinga karena tak ingin mendengar semuanya. Bahkan ia ingin menutup telinga Meera saat itu agar ia tak sedih dengan ucapan oma.
“Saya dulu mendidik Momy Sean dengan keras seperti ini, dengan didikan agar ia bisa mandiri. Lihat hasilnya! Dia bahkan bisa membantu suaminya mendirikan perusahaan dan memajukannya bersama. Emangnya kamu, yang datang dan langsung menikmati hasil dari kerja keras mereka?”
Meera tak mengindahkan itu semua, hanya fokus mengurus Sean dan memandikannya saat itu. Untung Sean sudah mempersiapkan buku yang akan ia bawa ke sekolahnya hari ini. Usai dengan Sean, Meera keluar melanjutkan kesibukan untuk suaminya di kamar. Untung saja saat itu dady sudah rapi, hingga Meera hanya membantunya memasang dasi dan beberpa acesoris yang harus dipakai hari ini.
Meera murung, wajahnya tak ceria seperti biasanya dan dady menyadari itu semua.
“Ada apa?”
“Oma Sean, nyebelin. Pagi-pagi cari masalah mulu, kesel!” geram Meera mengepalkan tangannya. “Bahkan dia omelin Sean pagi-pagi sampai ketakutan di kolong meja. Mas Dafa mana sih, ngga keluar juga?”
__ADS_1
“Dia pergi. Sejak kau bilang cucu bik Tum sakit, dia ku minta membawanya ke Rumah sakit untuk berobat.” Meera hanya bisa menghela napas panjang mendengarnya.
“Yaudah, Meera mandi dulu.”
“Biar aku yang antar Sean jika kau lelah.”
“Ngga usah, daripada makin stress di rumah. CCTVnya pantau aja terus,” ucap Meera yang mandi tanpa menutup pintu yang ada. Saat itu dady hanya bisa menelan saliva meski tak nampak oleh mata.
*
“Aku mencium aroma sambal tadi. Mana sambalnya?” tanya dady ketika melihat taka da bentuk sambal di meja makan, padahal aromanya begitu nikmat tercium dihidungnya.
“Ngga jadi sambelnya,” jawab lesu Meera sembari menyuapi Sean. Dady hanya memiringkan kepala dan menatapnya penuh tanya saat itu.
“Mamam buang sambelnya. Sambel apaan bau begitu,”
“Namanya juga terasi,” balas Meera. Oma hanya mencebik kesal mendengarnya.
“Kak Louis mau sambel? Ane bisa masakin loh, yang pasti akan lebih enak dan higienis dari sambel tadi.” Ane menawarkan dirinya untuk memasak.
“Oh ya? Hebat sekali kamu. Cantik, baik, pandai memasak.” Dady langsung mengarahkan pandangan pada adik iparnya itu, membuat Ane langsung tertunduk dan tersipu malu dibuatnya dan seperti langsung terbang ke udara.
“Iya dong, kan dia anak mama. Sempurna kan?” Oma menambahi pujian itu sembari sesekali melirik sinis pada Meera yang langsung menarik napasnya dalam-dalam.
“Bagaimana, Mom?”
“Ya, terserah dady saja bagaimana baiknya. Momy rela,” jawab pasrah Meera, disambut suka ria Duo gayung yang ada disana. Entah apa isi fikiran mereka saat ini.
“Baiklah jika begitu, kita sepakat untuk_”
“Apa Kak?” tanya Ane dengan begitu antusias.
“Sarapan jam 06.30, makan siang Momy dan Sean pukul Satu siang, dan makan malam pukul Delapan malam. Semuanya harus sempurna, sesempurna yang kalian ucapkan barusan.” Dady langsung menyantap sarapannya saat itu sembari sesekali menyuapi Meera.
Tandanya, saat itu semua orang sudah dilarang bicara kecuali momy yang meladeni ocehan putranya.
__ADS_1
Duo gayung itu kembang kempis menahan amarah saat ini. Rasanya emosi sudah mengambang bagai balon udara yang siap pecah kapan saja.