
Sepanjang jalan menuju sekolah, Sean senyum-senyum sendiri saat duudk di belakang sendirian. Entah apa yang ia khayalkan saat itu, mengengok kearah momy dan dady secara bergantian.
"Sean kenapa, ada sesuatu?" tanya Meera yang cukup heran.
"Tidak," geleng Sean pada Momy. Tapi entah kenapa ia senang sekali hari ini ketika dady mengantar mereka berdua ke sekolah seperti ini. Sangat jarang..
"Dady, terimakasih."
"Untuk?"
"Hanya merasa terbela dengan kelakuan mereka berdua. Boleh cium?" goda Meera sembari mengedip-ngedipkan mata. Wajahnya mulai mendekat, tapi saat itu dady justru meraup wajah Meera dan menjauhkannya.
"Jahat!"
"Kiss Sean... Kiss Seaaaaaan!" pekik pria kecil itu dari belakang yang spontan mencondongkan wajahnya kedepan.
Meera langsung meraih anak itu dan mengecupi pipinya dengan gemas, memeluknya dalam pangkuan hingga Sean tertawa terbahak-bahak karenanya
Kepala dady mendadak berdenging. Makin lama makin kuat hingga terasa begitu nyeri dibuatnya. Ia bahkan terpaksa menghentikan mobil secara mendadak di pinggiran jalan dan memegangi kepalanya saat itu menahan segala rasa nyeri yang ada.
Meera melihat suaminya itu seketika cemas, Sean pun segera beralih kembali ke belakang dan meraih botol minum untuk dady. "Terimakasih, Sayang." Meera segera memberikannya pada dady saat itu juga.
Dady langsung meminumnya, cukup banyak dalam beberapa tegukan dan Meera mengusap keringat yang cukup mmebanjiri wajanhnya saat itu.
"Dady tak apa?" tanya Meera.
Dady mengangkat kepala dan langsung menatap Meera saat itu juga. Tangan besarnya meraih wajah mulus Meera dan mengusapnya lembut. Entah kenapa, Meera juga bertanya-tanya saat itu apa maksudnya.
Dady justru semakin erat menyentuh wajah itu, tapi makin lama tangannya menjauh dan mengepal seolah ia tengah menghindari perasaannya sendiri saat ini.
__ADS_1
"Tak apa. Kita lanjut berangkat," ajak dady yang menyetir mobilnya kembali. Hingga perjalanan mereka itu sampai ke tempat tujuan.
Meera dan Sean turun, tak lupa mencium tangan dady sebelum berjalan masuk ke ruang kelasnya saat itu.
"Pagi, Momy Sean," sapa beberapa ibu yang ada disana.
"Pagi, Bu. Ada apa ini, kok rame-rame?" heran Meera, karena mereka memang jarang sekali menyapanya saat itu. Mereka tampak seperti mau sesuatu darinya saat ini.
"Kami... Kami hanya ingin mengkonfirmasi berita ini." Salah seorang ibu memperlihatkan sebuah berita yang ada di hpnya. Cukup mengejutkan mengenai bu Dona yang tertangkap basah selingkuh dengan rekan kerja suaminya sendiri.
"Berita kapan?" tanya Meera. Tapi ia tak meminta jawaban saat itu juga karena masih akan meminta Sean masuk ke dalam kelasnya.
Meera tampak terkejut, lantas setelah itu dengan buru-buru ia meminta Sean masuk ke dalam kelas untuk belajar. Ia langsung keluar lagi usai merapikan putranya.
"Kapan berita ini ada?" tanya Meera yang bergabung kembali dengan ibu-ibu yang ada.
"Baru... Baru pagi ini, Momy Sean. Saya saja kaget, inipun karena suami saya bekerja sebagai editor salah satu majalah online."
Berita apa?
Ya, berita itu dari bu Dona dan rekan kerja suaminya. Tapi bukan seperti yang Meera tebak jika bu Dona ada affair dengan abrar. Tapi, pria lain.
Mereka tertangkap tengah berada disebuah kamar hotel bersama. Bahkan di dalam foto itu tampak jelas bu Dona di pinggiran pintu dengan kemejar yang terbuka beberapa kancingnya, dan rambut yang cukup berantakan.
"Ini kabar asli? Nyatanya baru dan fotonya real gitu." Salah seorang diantara mereka bertanya pada si pembawa berita.
"Ini yang Momy Sean maksud kemarin? Apa prianya juga ini?"
"Saya... Apa?" tanya Meera yang gugup dibuatnya.
__ADS_1
"Itu loh, kata Momy Sean kan gini... Kalau prianya yang dikerjain, kenapa bu Don yang marah? Kenapa ngga istri pria itu yang labrak. Gitu kan?" Ia menirukan ucapan Meera kemarin, meski tak sepenuhnya benar.
"Iya, kan maren begitu. Momy Sean tahu sesuatu pasti nih? Kan dady Sean bosnya suami bu Don.
Mereka semua lantas menatap takut pada Meera. Bisa saja salah satu dari mereka selanjutnya yang akan dikuliti seperti bu Don dengan semua kasus atau rahasia yang mereka sembunyikan selama ini.
Ada yang mantan pelakor, ada yang istri kedua dan ada yang bekas wanita malam. Mereka semua memiliki rahasia masing-masing yang begitu kelam dan benar-benar disembunyikan.
"Dafa?" fikir Meera saat itu karena ia satu-satunya orang yang sempat melihat semuanya. Meera lantas terfikir bagaimana suasana di kantor dady saat ini. Pasti kacau dengan adanya berita yang tengah heboh mengenai istri managernya.
*
"Bagaimana Kau saat ini?" tanya dady yang tengah bicara Empat mata dengan managernya itu.
Bahkan ia membawa sang putra ikut bekerja bersamanya karena tak ingin ia melihat apa yang ada di dalam berita. Ia membawa anak itu dan bisa mengawasi, menahan jika mamanya mendadak datang dan berusaha mengambilnya secara paksa.
"Saya selama ini tak percaya dengan rumor yang ada. Saya berusaha untuk menampiknya sendiri dan menyimpan semua rasa curiga dalam hati. Entah saya bodoh, atau dia yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya."
Pak Ridwan saat itu tampak begitu pucat dan lemas, bahkan seolah tak lagi memiliki gairah hidup. Hanya bersama sang putra, dan ia yang bisa membuatnya kembali mengangkat kepala saat ini.
" Maaf, jika selama ini dia telah membully istri Tuan. Saya juga tak tahu, saya fikir itu hanya_" Pak Ridwan bahkan tak mampu menyelesaikan kata-katanya saat itu. Ia bahkan masih bingung untuk menata hatinya sendiri saat ini dengan semua masalah yang menimpa dirinya.
Atau bahkan mungkin ia rela, jika harus mutasi ke tempat yang cukup jauh dari tempatnya saat ini demi menatap hidup berdua dengan putranya.
"Sekali dua kali bisa disebut bercanda, Wan. Tapi jika setiap hari? Apa itu bisa tertawa dengan ejekan yang selalu sama?" ucap dady padanya yang tampak begitu santai dengan teh ditangan. Mengaduknya dengan begitu tenang, lalu menyeruputnya dengan begitu nikmat.
Teh dengan perasan lemon, seperti yang sering dibuat mendiang istrinya kala itu. Membuatnya begitu rindu saat ini dengan sosok cantik penuh kebahagiaan itu.
Ya, dady terkadang begitu rindu dengan wanita yang sudah bersamanya begitu lama itu. Hanya membayangkan senyumnya saja membuat semua syarafnya berpindah dipunggung seakan ia tak bisa lagi berdiri tegak untuk beberapa saat
__ADS_1
"Kau lemah, Louis." Dady bahkan berkali-kali memarahi dirinya sendiri, bahkan tak jarang memukuli dadanya hingga membiru sangking ia menahan semua rasanya selama ini.