
Meera telah masuk ke dalam rumahnya saat ini. Rumah sederhana yang sudah 25tahun menjadi tempatnya berteduh bahkan sejak dari ia belum dilahirkan.
Tapi sore itu ibunya tak menyambut, meera masuk dan langsung ke kamarnya sejenak untuk menaruh tas dan laptop yang ia bawa, kemudian berjalan mencari sang ibu di kamarnya.
Akan tetapi, justru suara rintih kesakitan yang terdengar di telinga meera. Yang saat itu meera berjalan semakin cepat untuk segera mendatangi sang ibu yang memang sudah meringkuk kesakitan diatas ranjang kecil itu.
"Ibu, sakit lagi?" tanya meera.
"Meera, kamu sudah pulang, nak?" ibu dengan lemah berusaha mengangkat kepala dan meraih putrinya.
"Kalau sakit, kenapa ngga manggil? Meera bisa pulang cepet tadi."
"Ibu takut kamu sibuk, Nak. Lagipula, ini sebentar lagi juga sembuh. Ibu minum obat tadi,"
"Beli di warung?" tukas meera, dan benar saja ibu mengangguk padanya.
Obat warung hanya sebagai pereda rasa nyeri, dan kadang bukan mengobati. Apalagi dosisnya yang kadang asal-asalan dan tak sesuai dengan apa yang ibu derita saat ini. Tapi memang persediaan obat ibu sudah habis dan ia tak bisa membelinya sendiri di apotek.
Ibu banjir keringat. Meera juga tahu jika rasa sakit diperutnya itu sudah luar biasa hebat. Bahkan saat ini seperti perut ibu membesar dari biasanya. Betapa cemas meera saat ini.
"Besok kalau meera gajian, kita ke dokter ya?"
"Ke dokter itu mahal. Bawa saja ibu ke rumah sakit, kan ada pelayanan gratisnya dengan kartu yang ibu punya."
Meera terdiam. Ia sulit untuk menjelaskan jika hari liburnya sudah kadung habis saat ini, dan tak ada lagi kemurahan hati untuknya. Mereka amat profesional, tak pernah tebang pilih dengan sesama profesi yang bekerja disana.
__ADS_1
"Jika meera sibuk, ibu tak apa. Biar ibu minum obat yang ada saja," pasrah ibu ketika melihat kebingungan putrinya.
"Maaf, Bu. Besok akan meera usahakan," jawabnya lirih, pertanda tak sama sekali bisa menjamin waktunya esok hari.
Meera memasak air hangat, lalu ia gunakan untuk membasuh tubuh sang ibu saat itu. Tampak semua keriput disekujur tubuh sang ibu, yang ia tahu pekerja keras kala masih seusia meera. Apapun ia kerjakan demi buah hati tercinta. Bahkan karena kondisi ekonomi nya, ibu rela tak menambah anak meski ia amat ingin melakukannya.
Apalagi dengan kondisi ayah yang ia tahu suka bermain wanita. Hanya tak tertular penyakit menjijikan saja ibu sudah bersyukur saat ini dan masih bisa membuka matanya dipagi hari.
"Meera mandi dulu ya, nanti kita makan bareng," ujar meera membereskan semua perlengkapan yang ada.
Tapi ibu yang merasa sudah mendingan itu segera bangun dan membuatkan makan malam untuk putrinya. Meski itu sederhana hanya dengan nasi dan telur urak arik kecap kesukaan meera. Yang entah kenapa jika ibu yang buat, maka rasanya akan sangat luar biasa.
Meera hanya terharu ketika mencium baunya sampai di kamar. Perutnya langsung lapar dan ia segera keluar menyantap makanan nikmat itu hingga tandas dan tak tersisa.
Apakah jika menikah dengan louis, ia masih bisa menikmati makanan ini? Semua seperti simalakama untuknya.
"Ini? Ini pinjeman, Bu. Temen pinjemin meera biar bisa kerja katanya. Baik ya?"
"Ya, sangat baik." Dan entah kenapa ibu tampak kurang senang melihatnya. Entah cemas, atau ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat ini.
Meera lantas mengambil flashdisk dan mulai mengerjakan semua tugasnya disana. Memang terasa begitu nyaman ketika bisa mengerjakan semua itu dirumah. Ia bisa santai dan tak terlalu dikejar oleh waktu, apalagi ketika gedung sekolah mulai akan ditutup. Saat itu ia seperti tengah dikejar anjing hearder antara menyimpan semua data dan mematikan laptop sekolahnya.
"Dady, momy?" ucap sean yang tampak begitu merindukan meera saat ini. Untung saja kondisinya sudah membaik, dan besok bisa dipastikan ia sudah diperbolehkan untuk pulang dari Rumah sakit.
Sayangnya, meera sudah izin jika tak dapat menemani sean besok karena tak lagi memiliki izin dari sekolahnya.
__ADS_1
"Besok sore, momy akan kerumah kita. Pagi hari sean tak boleh mengganggu momy mengajar. Sean tak mau momy mendapat masalah, kan?"
Sean mengangguk. Ia meraih tab dan mengusap foto meera disana yang ia ambil diam-diam ketika ada di sekolahnya. Ini adalah salah satu perlakuan spesial sean yang membuat iri murid lain disana, ketika tak ada yang diperbolehkan membawa gadged ke sekolah.
Sean bahkan memeluk foto itu sebagai pelampiasan rasa rindu pada momynya. Karena jujur, sean jarang melihat foto asli momy kandungnya karena louis sembunyikan di gudang. Sean bahkan sempat demam tinggi hanya karena melihat foto itu diperlihatkan oleh bibi Ane ketika mengasuhnya di usia Empat tahun..
Dan sejak itu, sean tak lagi mau dekat dengan ane bahkan omanya. Oma kandung serasa oma tiri, dan bahkan sean tak pernah kesana beberapa tahun belakangan ini. Ia suka memaksa keinginannya pada sean, agar menuruti semua maunya.
Meera masih sibuk dengan semua tugas yang ada. Bahkan hingga larut malam dan ibu menunggunya hingga tidur di sofa.
"Eeeuuggghh! Akhirnya selesai. Emang gini enaknya kalau kerjaan bisa dirumah." Meera meregangkan semua ototnya dan menghela napas dengan begitu lega.
Greeek! Suara dari luar membuyarkan ketenangannya saat itu. Ia langsung menoleh kearah sumber suara dan memegang sapu menghampirinya.
Meera melihat dari jendela, siapa yang ada di luar sana. Seorang pria, yang bersandar di pintu dengan sebotol minuman dalam genggamannya.
"Itu ayah?" gumam meera, tapi ia sama sekali tak berniat membuka pintu dan memintanya masuk. Justru ia yang segera membereskan laptop dan menyembunyikan benda mahal itu didalam lemari, bahkan ia tutup dengan pakaian sebanyak mungkin agar tak terendus oleh sang ayah.
"Aman." Setelah itu meera mengajak sang ibu untuk segera pindah ke kamarnya. Ia tak menghiraukan bahkan ketika beberapa kali ayahnya menggedor pintu dan memintanya masuk kedalam.
"Meera! Buka pintunya! Kau fikir hanya dengan memberiku uang segitu, kau bisa mengusirku dari rumah ini? Aku tak akan pergi semudah itu!"
Suara serak mabuk itu terdengar menyeramkan ditelinga meera saat ini. Ia meringkuk didekat sang ibu yang langsung lelap setelah berpindah ke kamar meera, sepertinya efek obat yang baru saja ia minum tadi.
Braakk! Braak! Braak! Suara semakin keras dan semakin membuat jantung meera berdebar. Ia takut jika pak tua itu nekat dan mendobrak atau bahkan membobol rumah itu kemudian mencelakai ia dan ibunya.
__ADS_1
Meera hanya memejamkan mata, berharap ada keajaiban datang dan menolongnya.
"Hah... Diam? Benar-benar diam? Dia pergi?"