
“Apa yang mau kamu lakuin sama aku, Ane?”
“Apa… Apa kamu tanya? Aku benci sama kamu yang merebut posisi aku yang seharusnya menjadi istri kak Louis. Kamu tahu rasanya aku ketika mengganti gaun ini tadi?” Dan Ane menurunkan lengan Meera hingga bagian dadanya terbuka separuh, dimana banyak tanda cinta bertebaran disana.
“Ini! Aku sakit lihat ini, asal kamu tahu. Sebenarnya apa yang kak Louis cari dari kamu? Cantik juga cantikan aku,” ujar Ane dengan segala rasa percaya dirinya yang tinggi. Ia masih menganggap dirinya yang paling pantas mendampingi Louis sebagai pengganti mendiang kakaknya.
Ia menurunkan Meera secara paksa dan menyeretnya untuk masuk kedalam Gedung itu. Meera terus berusaha menolak untuk masuk kesana, apalagi ketika mendengar suara Dady yang tengah mengisi acara didalamnya. Meera tahu apa maksud Ane saat ini untuk mereka berdua.
“Ane, jangan begini.” Meera terus memberontak. Namun, entah kenapa dan apa yang membuat Ane seolah begitu kuat mencengkram tangan Meera hingga begitu sulit untuk ia lepas saat ini.
Bahkan Meera berharap, jika Dafa mendadak datang untuk menolongnya saat itu juga agar tak terlanjur menimbulkan huru hara disaana. Hingga sebuah kesempatan Meera dapatkan, dan seketika itu ia menghempaskan tangan Ane dan berlari pergi darinya segera.
Namun, rupanya Ane tak sendiri dalam usahanya saat ini. Ia bersama seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan dady dan menghancurkan pernikahan mereka berdua hingga berpisah selamanya. Meera membulatkan matanya melihat siapa pria yang mencengkram kuat tangannya itu dan kembali memaksa untuk membawanya masuk kedalam Gedung dimana acara itu dilangsungkan.
“Tuan, lepaskan saya!” mohon Meera padanya.
“Aku sudah cukup lama menunggu moment ini. Lantas, bagaimana aku bisa melepasmu dengan begitu mudahnya?” tanya pria itu wajah yang begitu santai.
Suasana yang ada digedung itu cukup meriah. Semua tamu undangan, bahkan semua wartawan datang untuk meliput bagaimana kesuksesan seorang Louis Alexander Damares yang dengan segala usaha dan bisnisnya yang semakin menggurita bahkan di luar kota yang amat jauh disana.
Dady sendiri tengah diwawancarai oleh mereka semua berkat semua prestasinya yang berhasil membuka kembali ribuan lapangan pekerjaan untuk masyarakat luas. Ocean duduk disamping kanannya saat itu, dan Dafa duduk disamping kiri sebagai asisten pribadi yang menemaninya selama ini. Andai Meera ada, pasti semua akan semakin sempurna.
Hingga hp Dafa berdering saat itu, dan ketika ia melihat nomor Vira, maka ia segera beralih dari sana untuk mengangkatnya.
__ADS_1
“Apa kau bilang?” kaget Dafa yang tengah berdiri dipojok sepi ruangan itu.
“Mba Ane, bawa nyonya pergi. Saya ngga tahu beliau dibawa kemana, Tuan.” Vira dengan tangisnya disana, bahkan suaranya saja masih begitu lemah.
“Kau tenang, aku akan urus semuanya.” Dafa langsung mematikan panggilan saat itu juga setelah mendapat jawaban dari Vira. Isi kepalanya mulai mencoba membaca situasi saat ini, seolah ia mulai tahu akan dibawa kemana Meera oleh adik ipar kakaknya itu.
Ia memilih kembali kedalam Gedung, karena ia bisa memastikan jika Meera akan dibawa kesana oleh Ane. Ia tahu Ane akan berusaha membongkar rahasia mereka berdua agar segera pisah dan ia masuk untuk menjadi istri barunya nanti.
“Siapa?” tanya dady.
“Tak apa. Lanjutkan acaranya,” balas Dafa yang mulai mempertajam pengelihatannya.
Mereka mulai masuk ke acara inti saat ini untuk peresmian Gedung baru yang akan mereka tempati seminggu lagi usai kelengkapan semua barang disana. Dady memotong pita saat itu, diiringi tepuk tangan mereka semua yang hadir disana, dan Sean memotong balon agar terbang ke udara dengan spanduk JVT Ekspres yang tak lain adalah perusahaan besar mereka saat ini.
Dady langsung meminta Dafa dan Shila untuk menjamu semua tamu yang ada dengan semua hidangan yang tersedia disana. Sementara ia berusaha menghubungi Meera saat itu untuk memberitahu semuanya, karena sejak tadi ia bahkan belum sempat untuk mengabari istrinya. Namun, Meera tak kunjung menjawab panggilan saat itu hingga cukup bisa membuatnya menghela napas cemas.
Dady menarik celana bahannya keatas kemudian belutut dengan satu kaki ia tekuk untuk memberi perhatian pada sang putra yang kurang suka dengan keramaian. Persis dengannya, tapi ia sudah amat terbiasa karena semua keadaan yang ada.
“Ya, Sayang?” tanya dady, dan entah kenapa Sean hanya menundukkan kepala lesu dan memainkan kakinya saat itu.
“Kau rindu Momy?” Sean menganggukkan kepala, karena biasanya Momy sudah memeluknya untuk tidur pada jam itu.
Dady memanggil Dafa untuk memegang Sean, karena dengan Shila pun Sean menggelengkan kepalanya. Dafa segera meraih Sean kemudian menggendongnya untuk ia bawa ketempat yang sedikit sepi agar ia tak panik setelah ini.
__ADS_1
“MOMY!” panggil Sean secara mendadak, dan itu membuat Dafa segera memtar tubuhnya. Tak hanya Dafa, tapi juga Dady yang langsung mengarahkan pandangan pada Meera yang baru saja masuk dari pintu utama.
Seperti ada yang mendorongnya saat itu hingga Meera jatuh bersimpuh dilantai dengan keadaan yang cukup berantakan. Sean langsung melesak turun dari gendongan Dafa saat itu, dan nalurinya segera membawanya lari untuk memeluk Momy dengan penuh cinta.
“Sean jangan,” lirih Meera yang menggelengkan kepala pada sang putra, hingga Dafa dengan segera melangkah dan menarik tubuh Sean kembali padanya dan menahan tubuh kecil itu agar tak lari lagi memeluk Meera. Jujur, posisinya serba sulit saat ini karena semua media meliput semuanya.
Namun, seolah ada yang mendorong mereka semua untuk menghampiri Meera ditempatnya saat itu dan mengambil fotonya dengan berbagai cara meski Meera sudah berusaha menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia juga berharap agar dady bisa menahan diri agar tak menghampiri. Atau meksi iya, maka mereka akan berusaha seolah tak saling kenal saat ini.
“Apakah Anda istri Tuan Louis? Jika tidak, kenapa Ocean memanggil anda momy?”
“Sejak kapan kalian menikah?”
“KEnapa pernikahan di rahasiakan?”
“Berarti Tuan Louis sudah mengkhianati mendiang istrinya sendiri?”
Rasanya begitu banyak pertanyaan yang datang pada Meera saat itu, dan ia memilih diam dan tak menjawab semuanya. Ia sendiri tengah berusaha berdiri saat ini meski sulit karena silaunya kamara mereka yang memotret tanpa henti hingga pandangannya sendiri buram.
Dady mengepalkan tangannya disana, Dafa melihat itu semua dan berharap agar dady tak menghampiri Meera saat ini, dan ia justru menurunkan Sean untuk tetap disana agar ia bisa megamankan Meera.
“Sa-saya… Saya hanya…. Hanya_” Meera gamang dan kebingungan saat itu. Dafa mulai mendekat pada Meera, namun langkahnya disalip oleh sesorang yang melangkah lebih cepat dari dirinya.
Greep!! Sebuah tangan besar meraih tangan Meera saat itu juga, kemudian tanpa aba-aba ia segera memeluk Meera dengan begitu erat dan menyembunyikan wajah Meera di dadanya yang bidang.
__ADS_1
“Dady?” panggil Meera, yang tak menyangka jika dady justru menghampiri dan memeluknya didepan mereka semua. Lantas, semua kamera mengarah pada mereka berdua dan mengambil foto terbaik sekuat tenaga.
“Aku tidak bisa, Meera… Ini terlalu menyakitkan untukku,”