Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Perjanjian pernikahan


__ADS_3

Pernikahan terjadi dengan begitu sederhana, bahkan dengan gaun dadakan yang sekretaris Dady berikan untuk Meera. Hanya beberapa saksi, itu juga dari pegawai hotel dan Dafa yang mengurusi semua dokumennya.


Kini mereka sah menjadi sepasang suami istri, dan Meera cukup senang dengan status barunya saat ini. Bahkan Dady tak segan mencium bibir Meera didepan mereka semua, hingga riuh dan tepuk tangan penuh ucapan selamat menyelimuti suasana yang ada.


"Tuan, selamat atas pernikahan Anda." Dafa mengulurkan tangan pada Dady Louis memberikan selamat padanya.


"Mas Dafa, Sean tak ikut, kenapa?" tanya Meera, yang saat ini terfikir pada putranya. Ya, sudah sah bukan?


"Dia akan segera membawamu pergi nanti," sahut Dady yang ada didekat Meera saat itu, langsung meraih bahu dan menggenggamnya dengan erat.


Meera lagi-lagi hanya menelan saliva dengan aksinya.


Dafa yang melihat ekspresi keduanya saat itu hanya bisa menggaruk kepala. Ia bingung, hingga akhirnya memutuskan mengajak semua orang untuk pergi dari sana."Ayo, aku traktir makan siang," ajak Dafa, disambut bahagia mereka semua.


"Tuan, kita tak ikut?" tanya Meera, tapi Dady justru mengeratkan cengkramannya.


Gleeek! Meera tak akan bisa lari saat ini.


"Kau bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Dady.


"Ya... Bahagia. Apalagi sudah langsung mendapatkan seorang putra tampan seperti Sean," puji Meera, yang saat itu Dady membalik tubuhnya dan membelai wajah mulus itu dengan tangan besarnya.


"Apakah, Tuan bahagia?" Meera memberanikan diri bertanya itu pada pria yang telah menjadi suaminya saat ini.. Entah harapan apa yang ia nantikan.


"Belum."


Dan jawaban yang diharapkan Meera memang terlalu jujur keluar dari mulut suaminya. Meera hanya menghela napasnya dengan panjang, Ia sadar posisinya menikahi seorang duda anak satu yang memang belum lepas sepenuhnya dari bayang-bayang mendiang sang istri.


"Tapi... Saya istri anda sekarang," lirih Meera yang berusaha menjaga perasaannya.


"Ya, Kau momy Sean." Padahal sejak kemarin, Ia merasa jika Dady begitu menginginkannya. Namun, ia melihat sesuatu yang berbeda saat ini, terutama dari mata tajam itu ketika menatapnya.

__ADS_1


"Tu-tuan?"


"Aku minta, agar kau tak banyak menuntutku untuk saat ini. Semua perjanjian sudah ku penuhi padamu, dan bahkan ibumu. Setelah ini, kau patuhi perintahku."


Tubuh Meera seketika bergetar. Padahal semalam Meera dipeluk tanpa jeda olehnya, meski tanpa bertatap muka. Tapi Meera sendiri merasakan getaran yang berbeda, terutama yang ada di jantung suaminya.


"Saya tak akan menuntut apapun sesuai yang Tuan minta. Tapi, apakah Tuan sendiri tak ingin jika saya melakukan tugas selayaknya seorang istri?"


Beginilah rasanya menjadi Meera, yang menikah tapi pria itu belum sama sekali lepas dari bayangan masa lalunya.


Dady Louis mendekatkan dahi, menempelkannya pada dahi Meera saat itu juga sembari memejamkan matanya. Terdengar napasnya yang berat disana, seakan begitu sulit untuk berkata-kata.


"Jalankan dulu tugasmu untuk Sean. Aku berharap, seiring berjalannya waktu semua akan terbiasa dengan keadaan yang ada. Termasuk aku,"


Dady sudah mencoba, tapi begitu sulit rasanya melepas bayang-bayang itu untuk Meera. Apalagi ketika harus menyentuhnya dengan cara yang berbeda. Terutama dengan cinta.


"Baiklah, saya bisa mengerti. Saya sudah bersyukur dengan semua yang Anda berikan, dan saya berusaha untuk tak menuntut apapun saat ini," ikhlas Meera pada semuanya.


"Tapi, bukankah kita tak boleh canggung didepan Sean? Dia... Akan curiga," ucap Meera yang ingat pada ketajaman putranya.


"Ya, aku sendiri akan berusaha untuk mengatasi semuanya." Dady kembali memeluk Meera dengan begitu hangat, dan bahkan mengecup kepalanya.


"Kita pulang?" tanya Meera. Lagipula, mereka tak melakukan apapun disana, hingga tak perlu waktu lama kembali ke Rumah mereka. Sean sudah menunggu.


Dady Louis mengangguk. Namun sebelumnya ia memberikan sesuatu untuk Meera, sebuah Hp yang cukup canggih dan mahal seperti miliknya. Tak hanya itu, sebuah mobil juga Dady hadiahkan untuk sang istri meski belum bisa dibilang sebagai yang tercinta.


"Saya, tak bisa bawa mobil. Dan sepertinya ini berlebihan," ucap Meera, berusaha menolak pemberiannya.


Bagi Meera, pertolongan dady Louis lebih dari cukup saat ini, terutama untuk ibunya meski Meera belum tahu bagaimana keadaan sang ibu saat ini.


"Aku memberinya sebagai hadiah pernikahan kita. Kau simpan hingga kau bisa menyetir nanti. Tapi, untuk sementara waktu aku tak mengizinkanmu keluar dari rumah sendirian. Harus dengan Dafa, atau yang lain sebagai pengawal."

__ADS_1


"Iya," angguk Meera. Ia menggenggam hadiah itu dengan bahagia meski masih ada yang mengganjal didalam hatinya.


Tapi Meera berusaha mengalihkan semua rasa itu. Seperti yang dady Louis bilang, jika yang utama adalah ia harus fokus pada Sean saat ini. Mengasuh dan menjadi Momy yang baik untuknya.


Tak ada yang perlu Meera bereskan. Mereka hanya tinggal pulang meninggalkan kamar tetap milik Dady Louis di Hotel itu.


"Apa Tuan pernah bermalam dengan wanita disini?"


"Jika iya, apakah aku bisa tahan denganmu yang ada didepan mataku?" tatapnya dengan menelengkan kepala.


"Saya hanya bertanya, dan mungkin juga seleranya berbeda." Meera menatap dirinya sendiri saat itu, fikirannya membandingkan diri sendiri dengan banyaknya wanita cantik yang mungkin Dady temui diluar sana.


Dady hanya tersenyum miring melihat kelakuan istrinya didepan mata."Ayo, pasti Sean sudah begitu menantikanmu saat ini." Dady mengulurkan tangan untuk menggandeng Meera keluar dari kamar itu.


Entah bagaimana hubungan yang akan mereka jalani nanti, dan entah berapa lama semua akan bertahan seperti ini. Atau, entah siapa dulu yang akan menyerah atau bahkan mengakui pertautan hati terlebih dulu diantara mereka berdua nantinya.


Yang jelas, selagi Dady masih baik itu tak masalah bagi Meera dan ia akan berusaha untuk meraih hati suaminya.


"Atau, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku?" gumam Meera dalam hati..


Sepanjang jalan mereka diam, dan Meera terus memainkan Hp barunya. Tapi sayang ia tak memiliki teman yang bisa ia hubungi dan berbagi kebahagiaan saat ini. Meera diam lagi dan menundukkan kepalanya sedih.


Dady meraih tangan Meera dan menggenggamnya erat. Setidaknya, Ia tengah mencoba menjadi sahabat terbaik saat ini.


Hingga keduanya tiba di rumah, saat itu Sean langsung menyambut keduanya dengan begitu bahagia. Meera langsung menggendong tubuh kecil itu dan mengusap rambutnya dengan mesra.


"Sean bahagia? Setelah ini, kita akan selalu bersama. Okey?"


"Okey, Mom." Sean menyandarkan kepala di bahu Momynya. Sangking bahagianya, ia tak bisa diam menyentuh wajah, hidung, dan rambut Meera dengan tangan lembutnya. Sesekali mengecup, seolah ia tengah bersyukur dengan hadiah yang ia dapatkan dari dady saat ini.


Ya, apalagi jika bukan seorang Momy yang paling ia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2