
Kini sean tengah asyik dengan hpnya ketikaa oma vani mengajak dady louis duduk bersama di sofa. Dady louis hanya diam dan santai dengan tab ditangannya seperti sang putra.
“Louis,”
“Ya, Mam, ada apa?” Dady louis berusaha menghormati oma vani dan menaruh tabnya di meja. Ane ingin meraih tab itu, tapi louis mencegah dan menyentil dengan jemarinya.
“Aaakkhh!” Gadis manja itu memekik menahan nyeri.
Oma vani lantas melirik agar ane diam dan tak mengganggu mereka bicara setelah ini.
“Mama hanya ingin mempertanyakan mengenai hubungan kalian,”
“Siapa?”
“Louis sama ane. Bukankah sejak lama, mama ingin agar kalian turun ranjang? Dan mama rasa Rose tak keberatan dengan itu, karena adiknya sendiri yang akan menjaga putranya setelah ini.”
“Tapi Ocean sendiri tak memilih ane sebagai momynya, dan bahka rose sendiri tak memberikan amanat itu pada louis.” Jawabnya tegas, lugas dan santai. Membuat oma vani meneguk salivanya dalam-dalam.
Memang tak ada amanat apapun dari rose ketika meninggal, bahkan semua terjadi begitu cepat bagai sebuah mimpi dan ia justru tak akan pernah bangun lagi. Louis sendiri tak sempat menyatakan cintanya untuk yang terakhir kali pada sang istri.
“Tapi Louis, Ocean itu akan lebih baik di asuh oleh tantenya sendiri karena mereka memiliki ikatan. Orang lain belum tentu bisa mengasuh dan memberikan kasih sayang itu padanya. Atau_”
“Atau apa, Ma? Bahkan sean sendiri telah memiliki calon untuk menjadi ibunya.”
Deegg!! Oma vani dan ane sama-sama berdebar ketika mendengar itu semua, meski ane sendiri sudah pernah mendengarnya. Ia kira, ketika oma vani yang membujuk maka louis akan seketika patuh karena memang seperti itu selama ini.
Tapi tidak. Patuhnya louis hanya karena beliau adalah mantan mertua, meski hanya ibu tiri dari mendiang istrinya. Andai tak berfikir panjang, Ane saja sudah tak menjadi tanggung jawab ketika istrinya meninggal.
“Ada dua kemungkinan ketika kamu menikahi gadis yang sean inginkan. Satu, dia hanya memanfaatkan kamu saja dengan harta yang kamu miliki. Dan dua, kamu akan tersiksa dengan dia karena kamu bahkan tak tahu siapa dan bagaimana orang itu,” ucap oma pada mantan menantunya.
__ADS_1
“Iya kan, Kak? Mending sama Ane aja, Ane siap kok jadi momy yang baik buat Ocean,” liriknya pada sang keponakan, tapi sayangnya sean sama sekali tak menghiraukannya saat itu dan asyik dengan hpnya.
“Jangan memaksa untuk menyukai seseorang hanya karena itu pilihan putramu, Nak. Kita harus berfikiran panjang dan jauh kedepan untuk_”
“Seaaan!!” pekik Meera yang mendadak masuk kedalam ruangan itu. Sontak saja, sean langsung menyingkirkan hp, turun dari ranjang dan menghampiri momynya disana. Dan bahkan langsung memeluknya.
“Momy,” ucap sean, yang sontak membuat oma vani dan Ane menyipitkan mata dan mulut keduanya ternganga.
“Kenapa turun? Sean sudah sehat kah?”
“Yess, Momy. Go home,” ucap sean yang terdengar menambah kosa kata baru yang ia ucapkan saat ini.
Oma vani dan ane kompak menoleh mentap louis, dan pria itu hanya mengangguk-anggukan kepala pada keduanya disana. Mengissyaratkan jika apa yang menjadi pertanyaan mertua dan adik iparnya itu benar dan gadis itu adalah calon momy bagi mertuanya.
“Gadis liar ini? Yang bahkan tak mengetuk pintu ketika masuk kedalam ruangan? Sepertinya dia kurang diajari sopan santun oleh kedua orang tuanya,” sindir oma vani, dan meera langsung melepas pelukannya pada sean saat itu juga.
Meera berdiri tegap, membungkukkan badan memperkenalkan diri. Tapi sebagai guru sean, dan bukan sebagai momy karena meera sendiri belum siap betul dengan gelar itu saat ini. Meera juga langsung menatap louis dengan pertanyaan dari matanya.
“Ouuh,” anguk meera santai. Ia tak merasa tersinggung sama sekali atau sakit hati dengan ucapan waniat itu padanya.
Lantas ia berdiri, untuk kembali mempersiapkan kepulangan sang putra karena dafa sudah menunggunya dibawah sana usai mengurus semua adimistrasi yang ada karena louis tak sedikitpun meninggalkan putranya keluar dari kamar itu.
“Ini sudah semua?” tanya meera, melihat semua sudah tersusun dengan begitu rapi di dalam tas yang ada.
“Sudah, hanya tinggal membawanya. Kau bawa ini, dan aku akan menggendong sean turun kebawah. Ayo, Sean.” Louis mengulurkan tangan, tapi sean saat itu menggelengkan kepala ingin digendong oleh meera.
“Hey, ayolah… Momy berat jika harus menggendongmu hingga_”
“Susah sekali, sedikit paksa kalau tak mau. Sesekali tegas lah,” ujar oma yang tak sabar melihat mereka bertiga merayu sean. Ia bahka berdiri dan berjalan cepat meraih sean dalam gendongannya dengan paksa.
__ADS_1
Terang saja sean saat itu langsung meraung menolak dalam gendongannya. Ia terus memanggil meera, sementara oma vani semakin kuat mendekapnya.
“Momy… Momy!” suara anak itu tampak seperti ketakutan saat ini. Tapi, meera tak berani merebut sean kecuali louis yang melakukannya.
“Kamu itu harus tahu, oma ini yang seharusnya kamu hormati. Kenapa kamu begini!”
“No…. Momy! Help me!” Sean mengulurkan tangannya.
“Mam, stop mam. Sean tak mau dipaksa seperti itu,” ujar louis yang masih berusaha lembut saat ini.
“Inilah kamu, terlalu memanjakan dia selama ini. Kamu membuat dia bahkan tak bisa membedakan, mana yang harusnya diperjuangkan dan mana yang tidak, Louis. Mama ini omanya.” Sementara sean terus saja meraung dan memohon agar bebas dari dekapan nenek sihir itu saat ini.
“Mam… STOP!!” Akhirnya louis tegas dan keras. Ia bahkan sejenak menyesali sikapnya saat itu karena cukup kasar dengan wanita yang ada dihadapannya. Ia seolah lupa jika itu adalah Rumah sakit, ia terlanjur emosi ketika anaknya yang baru saja sembuh kembali harus meraung ditangan omanya sendiri saat ini.
Oma vani yang tersentak, lantas pias dan melepas sean dari dekapanya segera hingga sean langsung menuju momy meera.
“Momy,” peluk sean pada meera, dan meera langsung mengecupnya untuk menenangkannya segera. Cukup menegangkan bagi meera yang paling takt ahu apa-apa disana. Apalagi takut jika nanti akan terseret dengan semua permasalahan yang ada.
“Kamu bentar mama?” Lantas oma vani serasa menjadi mertua paling tersakiti di dunia, terutama ketika ane seolah perduli dan langsung memeluknya saat itu juhga.
“Louis tak akan seperti itu, jika mama tak berbuat demikian.”
“Kak Louis jahat. Cuma gara-gara wanita itu_” Ane justru menunjuk meera yang takt ahu apa-apa.
Suasana menjadi sedikit tegang, rasanya ingin mengajak mereka duduk dan menjelaskan semuanya pada oma dan ane. Tapi dasarnya sejak awal merekalah yang memancing masalah, padahal tahu semua intinya.
“Kita pulang,” ajaknya pada meera dan meraih tas yang ada. “Dan kalian bisa ikut pulang karena aku akan bicara mengenai semua. Jika tidak… Tak apa. Dafa akan ku minta agar mengantar kalian pulang kerumah,” imbuh louis untuk mertua dan adik iparnya itu.
Louis menuntun meera keluar bersama dengan sean dalam gendongan. Persis terlihat seperti keluarga sempurna karena sean amat lengket dengan meera seolah tak ingin lepas lagi darinya, terutama ketika ada oma. Sepanjang jalan sean juga tak henti mengusap bahu meera, seolah merasakan betapa gundah meera dengan masalahnya sendiri saat ini.
__ADS_1
“Kak louis, tunggu.” Ane memanggil dan ingin naik mobil louis saat itu, namun dafa meraih tangan ane agar ia dan oma naik kedalam mobil yang ia bawa.
“IIiiiih… Apaan?” kesal ane pada dafa.