
Meera tengah membersihkan dirinya saat ini. Tubuhnya terasa lelah akibat terhujam semua prasangka yang terus meraba dihatinya, namun setidaknya saat ini sedikit lega meski itu belum semua dari apa yang ada.
Ia keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masihh basah dan berbalut kimono putih ditubuh sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tampak oleh Meera ketika dady tengah duduk diatas sofa, dengan tangan kanan kiri direntangkan dibahu sofa bersandar mengadahkan kepalanya keatas dengan wajah yang tampak begitu tertekan saat ini. Atasan kemejanya juga tampak begitu berantakan, Meera lantas berfikir pasti dady baru saja memukuli dadanya lagi barusan.
“Ya, aku tahu betapa beratnya dia untuk menghempas bayang-bayang Momy Sean yang sudah sekian lama menemaninya. Hanya mempertahankan aku disini saja sudah menjadi hal yang luar biasa baginya saat ini.” Meera lantar berjalan menghampiri dady dan duduk disampingnya saat itu.
Meera lantas membuka kemeja dady dan meniup bekas biru yang ada disana dengan napasnya yang begitu lembut dan hangat, hingga membuat dady seketika membuka matanya saat itu juga. “Pasti sakit. Kenapa begini?” tanya Meera sesekali menegakkan kepala menatapnya.
“Maaf,” ucap dady saat itu. Ia tak akan mungkin mengatakannya lagi karena Meera sudah tahu semuanya. Ia meraih tangan Meera yang menempel didadanya saat itu, kemudian mengecup telapak tangannya dengan begitu dalam dan mesra.
“Meera tak akan meminta dady melupakan masa lalu, tapi hanya meminta agar dady berdamai dengan itu semua.”
“Aku sudah mencobanya,” ucap dady lirih. Tapi, kadang semakin ia coba justru ia semakin tertekan dibuatnya.
Ia selalu terbayang-bayang bagaimana kecelakaan itu telah merenggut sang istri dengan calon anak mereka yang harusnya lahir diwaktu yang sama. Saat ia lemah akibat semua kejadian, dan ia sendiri bahkan tak bisa menolong istrinya sendiri yang terlempar keluar dengan tubuh berlumur darah diatas aspal jalanan. Yang kedua ia lihat adalah Sean, yang juga pingsan di kursi paling belakang mobil itu. Yang memang ia tak mau ditinggal oleh siapapun, selalu ingin ikut kemana dady dan momynya pergi. Apalagi untuk menyambut calon adiknya yang akan lahir.
__ADS_1
“Hujan, semuanya gelap hingga bahkan aku tak bisa melihat apapun yang terjadi setelahnya. Aku ingat ada seseorang menolongnya saat itu, namun aku tak dapat melihat wajahnya sama sekali. Dan setelah itu, aku sadar jika aku sudah berada di ruang perawatan. Bahkan aku sempat memeluk bayi kami sebelum dimakamkan bersama Momynya.”
Dady bahkan sampai menutup wajahnya sendiri seolah tak kuat menceritakan itu semua. Tapi, entah kenapa efeknya menjadi sedikit ringan dan lega didalam hatinya saat itu. Napasnya begitu lancar ia hembuskan setelah ia hirup dengan kuat dari hidungnya.
Meera senang jika akhirnya dady terbuka meski tak sepenuhnya. Ia begitu tertutup ketika Meera mempertanyakan kisah ini, bahkan dady akan selalu mengalihkannya dengan hal yang lain. Meera yang saat itu terenyuh, lantas kembali menyentuh dady dengan telapak tangannya untuk menghilangkan semua rasa sakit didada yang nyaris membiru. Ia meniupnya sesekali dengan begitu lembut, bahkan sesekali mengecupnya sembari menorehkan senyum pada dady.
Sontak saja, tangan dady yang tepat berada di belakang kepala Meera saat itu langsung bergerak dan mendorong wajah Meera agar semakin mendekat hingga dady segera mendapatkan bibir manisnya untuk ia kecup dan ia lumaat. “Eehmmmpp!” Meera melenguh, semua ini begitu mendadak baginya. Ia kira dady cukup sedih hingga tak akan… Ash, sudahlah.
Cumbuan dady pada Meera semakin lama semakin intens, bahkan Meera sampai sulit untuk mengimbanginya. Hingga akhirnya Meera meraih wajah dady dan melepas panguutan itu untuk sesaat darinya. “Jika seperti ini, siapa yang Dady lihat?” tanya Meera, memastikan jika ia bukanlah pelampiasan dari isi fikiran dan hati suaminya.
“Meera… Ameera Larasati,” ucapnya.
Meera lantas tersenyum. Ia membalas panguutan dady dengan tangan yang melingkar dilehernya saat itu, untuk memperdalan aktifitas keduanya. Semakin lama semakin dalam dan intens, hingga telapak tangan besar dady mulai mendarat dipahaa mulus Meera yang tertutup alakadarnya saat ini, bahkan mulai berantakan akibat ulah keduanya.
Meera melenguh, tubuhnya melenting merasakan sensasi sengatan listrik yang seolah mnegalir ditubuhnya saat itu. Dengan sekali tarikan, tali kimononya terlepas hingga terbuka dan memperlihatkan semua bagian tubuhnya yang sempurna. Ia melepaskan panguutan itu, dan langsung menenggelamkan wajah dileher dady Louis dan menggigitnya kecil sebagai pelampiasan.
“Emmppphh!!” Meera mulai frustasi, Dady sudah menyentuh semua area sensitifnya saat itu dengan jemari besarnya. Meera bahkan sontak mendongakkan kepala, menggigiti bibir bawah sembari menyingkirkan anak rambutnya yang terurai kedepan.
__ADS_1
Dady menyukai ekspresi Meera saat ini. Ia langsung menarik tubuh itu keatas pangkuan, lalu menggendongnya didepan berjalan menuju ranjang besar mereka. Tubuh polos itu ia jatuhkan kemudian langsung mengungkung Meera untuk ia kecupi setiap jengkal tubuh indahnya tanpa terlewat sama sekali.
Menggeliat, menggelinjang seperti cacing diberi garam Meera dibuatnya. Ia hanya bisa merem melek dengan segala sensasi yang ada, membuat tubuhnya menggila. Ia mulai frustasi, tangan itu mulai meraih apapun yang bisa ia jadikan pelampiasan dan meremaasnya sekuat tenaga. Mulut Meera ternganga membuang segala desahaan yang ada.
Kecupan demi kecupan itu turun, terus turun hingga ke perut rata Meera dan perlahan kepala itu tenggelam diantara kedua pahanya. Sensasinya makin luar biasa, Meera sudah tak mampu lagi harus bagaimana saat ini selain hanya menerima semuanya.
Berkali-kali suaranya melengking disana memenuhi ruangan besar itu, bersahutan dengan suara dady yang terus menghujamnya dengan brutal semalaman hingga mereka lagi-lagi saling mendapatkan kepuasan. “Sean ingin adik,” ucap Meera disela hujaman suaminya.
Dady hanya tersenyum miring menanggapi semua itu, dan justru semakin mempercepat tempo hentakannya saat ini hingga menabrak dinding Rahim Meera dan ia berteriak dibuatnya. Kaki Meera ia angkat, ia kecupi hingga telapaknya mendarat dipipinya saat itu dengan terus bergerak tanpa henti.
Hingga akhirnya tubuh Meera mengejang lagi untuk kesekian kalinya, dan dady juga mendapatkan puncak mereka bersama-sama saat itu juga. Tumpah di dalam dan berharap kecebong yang ia berikan segera masuk dan bisa membuat anak kecambah didalam sana sebagai calon adik untuk putranya.
Napas keduanya terengah-engah saat itu dan tubuh dady ambruk disebelah Meera. Jarang sekali Meera mau untuk duduk diatasnya dan mengambil alih permainan mereka. Meera hanya bisa diam saat itu dan tak bisa menggerakan tubuhnya ketika clyton sudah bersarang disana, dan Meera hanya bisa meringis dengan segala rasa yang ada.
Meera tertidur miring berselimut berdcover tebal dengan dady yang ada dibelakangnya saat itu. Entah kenapa dady memeluk dan mengusap perut Meera dengan telapak tangannya dengan begitu lembut sembari sesekali mengecupi Pundaknya yang terbuka. Meera saat itu berusaha memejamkan mata, namun sedikit terganggu dengan segala sensasi geli yang menjalar ditubuhnya.
Ini posisi rawan, tapi Meera tak mungkin tak bergerak meski hanya untuk merubah posisi tubuhnya. Dan benar saja, Meera langsung membulatkan matanya saat itu, sementara dady langsung memberikan tatapan tajam dengan smirknya.
__ADS_1