
Sebagai seorang guru dan pengajar Sean selama di Sekolah, Meera paham benar kelebihan dan kekurangan putranya itu. Sean memang pandai dalam matematikan dan memiliki hoby menggambar, namun ia begitu lemah dalam membaca dan sering diberi waktu khusus oleh Meera untuk belajar berdua.
Dan kini, Meera memiliki banyak kesempatan dan waktu lebih banyak untuk anak sambungnya itu. Usai makan malam bersama, Meera langsung membawa Sean masuk kedalam kamar dan memulai pelajaran membaca. Pria kecil itu memang tampak tak bersemangat untuk merangkai huruf, melihatnya saja Sean sudah begitu mengantuk.
“Mom,” keluh Sean yang berusaha membujuk Momynya.
“No, Sean harus belajar meski sedikt malam ini. Siang kita sudah bermain, dan tadi bersama Dady. Sekarang membaca… Ayo, Sayang,” bujuk Meera sembari mengeluarkan buku tulis Sean dari tasnya.
Meera mulai menulis beberapa huruf disana dan meminta Sean menyebutkannya. Bisa, namun terhalan oleh kemalasan dalam dirinya seperti belum ada penyemangat yang mendorongnya untuk belajar lebih aktif lagi saat ini.
Hingga Meera menulis beberapa kata disana dan meminta Sean mengejanya, dan disana kelemahan Sean ditemukan. Ia belum bisa membaca dan membuan susunan hurufnya sendiri saat ini meski nama itu adalah nama Meera dan dady Louis_ayahnya.
“Ayolah, nanti kalau Sean ditanya ngga bisa jawab, gimana?”
“Mom, please,” rengek manja Sean padanya.
“Ocean, please. Momy ngga selamanya bisa bersama Sean nanti, jadi Sean harus belajar mulai saat ini.”
“Don’t go Anywhere,” pinta Sean dengan mata berkaca-kaca, tapi Meera kekeuh dengan pengajaranya.
Meera terus membantu Sean belajar dan Menyusun huruf yang ada didepan matanya saat itu, pelahan tapi pasti hingga Sean mengeluarkan suaranya. Meera yakin, jika Sean bisa membaca ia pasti juga akan mulai lancar megeluarkan berbagai macam kosa kata dari bibir mungilnya.
“Meera,” bimbingnya saat itu.
“Meera... Momy?”
“Ya, Momy. Ini dibaca, bukan ikutin Momy, Sayang.” Meere akhirnya mengomel dengan kebararannya yang mulai menipis saat ini. Ia tak sadar dari balik pintu itu Dafa memperhatikan mereka berdua.. Dafa bahkan tersenyum melihat keluwesan Meera mengasuh putranya, apalagi dengan daster seperti itu membuat jiwa mak-maknya makin terlihat menggemaskan.
“Kau tak dengar panggilanku?” tanya Dady yang teryata ada dibelakang Dafa saat itu.
Dafa terlonjak, karena memang dady memintanya mengambil sebuah berkas didalam tas yang ada di kamar.
“Maaf, Tuan.” Dafa menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“Kau lihat apa?”
“Sean dan Meera, mereka sedang belajar didalam. Hanya lucu ketika mendengar Meera mulai mengomeli putranya,” balas Dafa dengan senyum manisnya.
“Meera mengomeli… Putraku?” kaget Dady membulatkan mata, dan ia segera maju kedepan mengintip mereka berdua dari luar sana.
Sebagai dady yang bahkan tak pernah memarahi anaknya, mendengar itu saja rasany membuat dady sakit kepala dan mengepalkan tangannya. Ia ingin membalas Meera dengan memarahinya nanti.
“Hey, biarkan saja.” Dafa menegurnya saat itu.
“Aku saja tak pernah memarahinya, kenapa dia bisa?”
“Dia Momynya. Sesekali seorang anak harus di didik sedikit keras agar mengerti, apalagi demi kebaikannya. Lagipula, Meera tak seperah itu yang bahkan membentak anaknya.” Dafa tersenyum miring melihat tingkah bosnya itu.
Tampak lebay, tapi itu karena Dady Louis memang membesarkan dan merawat Ocean sendiri selama ini karena ia tak mau disentuh oleh siapapun. Bahkan Dafa sendiri perlu waktu lama untuk dekat dengannya. Dafa yang saat itu aktif di kantor harus menumbalkan salah satu pekerjaan demi membantu dady mengurus Sean di rumah ketika urusannya di kantor selesai.
Kini, Dafa tengah berusaha Kembali fokus pada kantor sejak kedatangan Meera, meski ia masih harus bolak balik mengurus mereka berdua. Tapi tak apa, ia mulai nyaman dan terbiasa apalagi ada Meera yang memang ramah padanya.
Dady lalu pergi dan Dafa mengikuitinya dibelakang untuk masuk kembali ke dalam ruang kerja. Disana sesekali Dafa memberi kabar tentang ibu Meera yang sebentar lagi akan menjalankan operasi pertama. Pengangkatan usus dan akan membuat stoma untuk saluran pembuangannya.
Dalam hal ini harusnya Meera menemani sebagai keluarga satu-sayunya, tapi dady benar-benar tak mengizinkan itu terjadi bahkan tak mengizinkan sama sekali Meera mendengar kabar itu dari sipapapun. Kasihan, tapi itu demi kebaikannya dan Sean,
“Kau saja yang kesana jika kau kasihan. Bila perlu kau masuk kedalam ruang operasi dan menyaksikannya hingga selesai,” tantang dady, yang membuat Dafa seketika gugup mendengarnya.
“A_aku mana berani. Sudahlah, jangan bahas lagi.” Dafa merasa ngeri mendengarnya, dan bahkan ia tak bisa membayangkan semua yang terjadi karena terdengar begitu ngeri dan menyakitkan baginya. Tubuhnya bahkan bergidik geli hingga ia harus mengelus dada sendiri.
Hingga dady mengakhiri semua obrolan itu dan melanjutkan semua pekerjaan yang ada.
“Mom,” panggil Sean yang tampak sudah begitu ngantuk saat ini. Meera sadar dan menutup buku yang ada ditanganya, tak lupa memberi aplous untuk sang putra yang sudah berusaha menurut dengan apa yang ia minta.
“Momy bikin susu dulu, sebentar lagi kita tidur sama-sama disini. Okey?”
“Yes!” Sean tampak begitu semangat, bahkan ia langsung berlari untuk membereskan tempat tidurnya saat itu untuk sang Momy. Menyusun bantal, dan meraih selimut besar di dalam lemari hingga muat untuk mereka berdua nanti.
__ADS_1
Meera di dapur dengan susu untuk sang putra, tak lupa membuatkan secangkir teh untuk para pria di ruang kerja dan mengantarkannya saat itu juga sembari berjalan menuju kamar Sean.
“TErimakasih,” ucap Dafa yang begitu senang. Pasalnya, jarang sekali ada teh ketika bekerja seperti ini.
“Kalau mau tinggal panggil aja, nanti Meera buatin kok.”
“Jika kau mau, panggil Tutik dibelakang… Jangan istriku,” sambung Dady, membuat Meera langsung sungut melihatnya.
“Apa? Kau istriku, dia tak berhak memerintahmu.” Dady membalas lirikan Meera saat itu juga.
“Suami itu maunya istri cantik, bukan dasteran begini. Beliin gaun yang indah, biar wajah semakin cerah.”
“Besok, akan ku belikan kau gaun tidur yang akan kau pakai khusus untukku.” Celetukan dady tak ayal membuat Meera membulatkan mata, bahkan Dafa sampai tersedak dan memuncratkan tah yang ada dimulutnya saat itu.
“Apaan? Sosoan mau beliin lingerie, padahal_”
“Mau ku bekap mulutmu?”
“Hey… Ayolah, kenapa kalian makin tak akur seperti ini?” tegur Dafa berusaha menengahi keduanya.
“Mas Dafa, tolong bilang sama Dady Sean, kalau ISTRInya ini mau tidur dikamar anaknya.” Meera lantas memutar badan dan pergi dari ruangan itu dengan segera.
Dafa hanya diam, cengo melihat keanehan mereka berdua didepan matanya. Sementara Dady datar sembari mengepalkan tangan besar dan menepuk meja.
Hingga malam semakin larut. Meera Sudah terlelap di kamar Sean saat itu dan bahkan mungkin sudah bermimpi dengan begitu indahnya. Berpelukan dengan begitu hangat didalam selimut yang Sean pasangkan ditubuh Momy.
Dady akhirya membuka pintu, masuk dan mentap keduanya saat itu. Ia berjalan menuju Sean, berjongkok mengusap wajah mungil Sean lalu mengecupnya sebagai ucapan selamat tidur pada sang putra. Selanjutnya, dady berpindah ke arah Meera dan memberi tatapan datar padanya.
Sreeek!! Dady justru menyibakkan selimut Meera dan berjongkok untuk memopong tubuh istrinya saat itu, lalu membawa Meera ke kamar mereka berdua. Akhirnya dady membopong tubuh Meera dengan cara yang wajar dan tak seperti biasanya kali ini.
Dady menurunkan Meera perlahan di ranjang besar keduanya. Saat itu tangan kiri dady masih berada dibawah tengkuk Meera, dan mau tak mau mengeratkan wajah keduanya. Dady membungkuk, satu tanganya kembali membelai wajah Meera hingga turun ke leher jenjangnya. Namun Dady berhenti, mengepalkan tangan dan menutup matanya sendiro saat itu seakan tengah menahan sesuatu dalam dirinya.
"Tidak, Louis... Jangan sekarang,"
__ADS_1