
Meera membuka matanya ketika pagi masih sangat gelap. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah dady yang meski terpejam tapi masih tetap tampan dan mempesona dimatanya. Apakah ia yang Sudah lebih dulu jatuh cinta? Padahal yang ia ingat, ia masih ngambek semalam dan bahkan menolak ketika dady ingin mengecup bibirnya ketika tidur. Tapi kenapa saat bangun justri ia yang memeluk suaminya.
Kadang memang fikiran dan hati suka bentrok, dan itu tengah dialami Meera saat ini yang bingung dengan keduanya. “Malu-maluin! Kamu yang ngambek, malah kamu yang peluk,” geram Meera pada dirinya sendiri saat ini.
Meera lantas melepas tangan dari sana, bangun dan langsung mengikat rambut panjangnya yang masih berantakan untuk segera terjun ke dapur. Jika menunggu Duo gayung bertindak, mereka akan kesiangan lagi untuk sarapan nanti.
Greepp!! Tangan dady meraih Meera kembali hingga jatuh langsung kebelakang dan terbaring di dada bidangnya yang kekar. “Awwhh! Dady_”
“Mau kemana? Kau masih sakit?” Dady langsung menyentuh kening Meera dengan punggung tangannya saat itu untuk memastikan suhunya telah normal.
“Udah, mau masak buat sarpan.” JAwaban Meera terdengar terlalu singkat untuk dady saat ini, dan ia masih merasakan aroma ambekan dihati istrinya.
“Kau belum jawab pertanyaanku semalam. Ada apa hingga kau seperti ini padaku?”
“Dady,” rengek Meera berusaha melepaskan diri darinya. Namun semakin Meera berusaha memberontak, semakin tangan ramah dady menyentuh area yang membuatnya seketika memejamkan mata tak berdaya.
“Dady,”
“Kau yang membuatnya disana, bukan aku. Jadi, bagaimana?” Bahkan dengan nakalnya dady memberi sentuhan kecil di salah satu benda menggemaskan itu, hingga Meera sedikit menggeliat dibuatnya.
“Dady, please… Ini, sudah jam berapa? Kasihan Sean harus sarapan, dan_”
“Baiklah, tapi aku masih menunggu jawabam. Aku tak akan mempertanyakan untuk ke tiga kalinya setelah ini. Kau dengar?” Meera mengangguk, dan dady segera melepaskan tangan besar itu dari tubuhnya dan ia merasa amat lega. Dady tak akan mungkin sebentar jika untuk menikmati tubuhnya.
Meera langsung turun saat itu, dan Vira sudah mempersiapkan beberpaa bahan yang tersedia diatas meja. Bahkan ia sudah membantu Meera mengupas bawang hingga Meera hanya akan mengolah dan mempercepat waktu kerjanya saat itu.
“Mereka ngga dibangunin, Nya?” tanya Vira, melirik kearah kamar Oma dan Ane.
“Udah biarin, lagi males cari ribut sama mereka.” Meera lanjut untuk membuat bekal Sean selama menunggu masakan lain matang.
__ADS_1
Meera mendengar kamar Dafa terbuka, ia juga menatap pria itu keluar dan mungkin akan menuju kamar Sean untuk membangunkan keponakannya saat itu. Ia seperti menyadari jika Meera menaatapnya dari kejauhan, ia lantas menoleh dan bahkan langsung menghampirinya disana.
“Sudah sembuh?” sapa Dafa, dibalas anggukan Meera. Tapi wajah Meera yang masih pucat membuat Dafa spontan menempelkan punggung tangan di kening Meera saat itu juga dan membandingnya dengan dirinya. “Adem,”
“Apanya yang adem, Mas?”
“Keningnya Adem, malah saya yang anget.” Dafa malah memberikan senyum lucu pada Meera saat itu hingga membuatnya tertawa.
“Meera daritadi kerja, mungkin yang dipegang tadi bekas keringet. Dilap dulu, gih.” Meera meraih sebuah tisu dan mengusap tangan Dafa saat itu. Mereka tak sadar, jika sosok Ane memperhatikan mereka berdua dari pintu kamarnya.
“Perasaan kalau sama kak Louis bawaannya tegang. Sebenarnya ada apa mereka ini?” Ane terus saja bertanya. Tapi Ane seolah melihat kondisi itu dan akan memanfaatkannya saat ini. Ia langsung mengendap-endap dengan langkah yang kecil dan naik menuju kamar dady untuk mempersiapkan pakaian kerjanya.
Ane membuka pintu, dan saat itu takjub dengan kondisi kamar dady yang luar dan begitu mewah. Sungguh, sangat mencengangkan baginya saat itu. Ia tersenyum riang, dan dengan segala rasa percaya dirinya segera membuka lemari dady dan mempersiapkan seragam kerjanya saat itu meski ia juga meniru mode yang Meera berikan pada suaminya.
“Siapa menyuruhmu masuk?” tanya dady yang ternyata keluar dari kamar mandi saat itu.
Ane terlonjak kaget, ia memutar badan dan lagi-lagi dibuat takjub oleh kakak iparnya yang begitu sempurna dimatanya saat ini. Dulu saat awal bersama Rose memang tampan, tapi ini sempurna dengan segala sisi dewasa yang ada.
“Ehmm… Kak, Ane Cuma mau bantu siapin baju kakak buat kerja kok. Kan Meera lagi dibawah sama Dafa_masak, jadi Ane mau….”
“Meera dan Dafa?”
“I-iya, mereka masak berdua dibawah. Jadi Ane kira mereka bakal lama, jadi Ane mau bantu kakak buat_” Ucapan Ane tak berlanjut ketika dady mendekatinya saat itu. Cetakan otot yang sempurnya tampak begitu mempesona, dan ia bahkan gemetar melihatnya. Ia seakan langsung meleleh tak berdaya.
Greep!! Tangan besar dady langsung meraih kerah belakang Ane dan menjinjingnya bagai kucing kecil yang mengganggu. Saat itu dengan wajah datarnya dady langsung membawa gadis itu keluar dari kamar dan bahkan melepasnya dengan kasar hingga Ane berteriak mengagetkan semua orang.
“Momy!” Dady memekik datar dan suara baritonnya jelas mengalahkan suara sang putra yang cempreng. Bahkan Sean ikut keluar dibuatnya, sama-sama dengan handuk terikat dipinggang saat itu.
“Ya, Sayang…” Meera menjawab dari meja makan. Ia juga sebenarnya akan naik setelah semua siap, namun dady keburu memanggilnya saat itu. Dan tampaklah Ane yang baru saja dady usir dari kamar itu dengan wajah melasnya.
__ADS_1
“Ada apa, Dad?”
“Kau bersama siapa di dapur?” tatap dady penuh curiga.
“Ya, sama Vira lah. Siapa?” Meera justru balik bertanya sembari berjalan naik menghampiri suaminya. “Ane?”
“Dia masuk ke kamar dan mempersiapkan pakaianku. Persiapkan ulang, baru aku akan memakainya.”
“Kak, apa bedanya? Sama-sama baju kan? Yang Ane persiapkan juga tak kalag_”
“Aku mau istriku. Dan kau, jangan pernah sekalipun tanpa izin masuk ke dalam kamar kami.” Tatapan dady begitu tajam menusuk saat itu, membuat Ane langsung menundukkan matanya takut.
“Sean, kenapa keluar?” panggil Dafa yang keluar dari kamar keponakannya. Dady menoleh pada Dafa, lalu menoleh lagi pada Ane dengan tatapan yang semakin tajam seakan bisa menjatuhka tubuhnya dari ketinggian lantai dua saat itu juga.
Meera yang menyadari kemarahan itu, mengambil alih emosi dady dengan mengecup dadanya sekali. Entah efek apa, yang jelas dady langsung tampak tenang dibuatnya. Mungkin Ane yang semakin geram melihat mereka berdua dengan kemesraannya.
“AAaargghhh!! Kesel!” Ane memukul lantai saat itu juga meski akhirnya merintih kesakitan karena perbuatannya sendiri saat ini.
Meera yang telah tiba di kamar itu langsung mengganti semua pakaian yang sempat dipersiapkan oleh Ane dengan seragam pilihannya. Ia bahkan memakaikan itu semua dengan rapi ditubuh suaminya saat ini.
“Dia bilang apa?”
“Kau bersama Dafa,”
“Dady cemburu?”
“Kau istriku, Meera.”
“Cemburu pada adik sendiri, itu lucu.” Meera dengan wajah datar mengucapkan itu pada suaminya. Sontak saja, saat itu dady langsung meraih dagu mungil Meera dan mendongakkan wajah menatap kedua matanya dengan begitu tajam.
__ADS_1
“Siapa yang memberitahumu?” Tatapannya saat itu seolah akan marah pada siapa saja yang membongkar rahasia dalam hidupnya.