Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Tak Munafik


__ADS_3

Meera bangun pagi seperti biasa, seolah tak ada beda dengan semua aktifitasnya. Hanya kali ini ia tak berhadapan dengan ibu, melainkan dengan anak dan suami yang seolah tengah berebut perhatian darinya. Meera segera mempersiapkan perlengkapan mandi Dady dan beberapa pakaian ganti sebelum membangunkan dady dari tidurnya.


Berajak dari kamar, Meera berjalan menuju kamar Sean untuk membangunkan dan memandikan sang putra disana. “Ingat, Momy sekarang ngga bisa jadi guru Sean lagi. Momy hanya bisa menunggu dan mengawasi dari kejauhan. Mengerti?”


“Yes, Momy.” Sean menganggukkan kepalanya patuh. Ia bahkan bergegas mempersiapkan beberapa perlatanannya sendiri saat itu agar Momy bisa segera pergi untuk mandi dan berdandan agar segera sarapan bersama. Untung saja paman Dafa datang membantunya.


Meera lantas keluar dari sana, mendapati Dady baru selesai mandi hanya dengan handuk yang melingkar dipinggangnya. Ia sudah tak lagi memejamkan mata, justru datang untuk membantu Dady dengan searagam yang ada.


“Sudah lama tak dilayani seperti ini,”


“Kenapa tidak meminta salah satu maid yang ada. Mereka pasti patuh,”


“Aku tak ingin ada orang lain menyentuh tubuhku sembarangan,”


“Oh ya? Jadi, Momy beruntung dong?” canda Meera pada suaminya yang saat itu tengah memasang kemeja dan bahkan mengancingnya hingga selesai.


“Jasnya pakai sendiri, ya? Buru-buru nih,” ujar Meera yang berjalan cepat meraih handuknya menuju kamar mandi. Dady entah kenapa menggelengkan kepala gemas melihat tingkah istrinya saat ini.


Kadang selalu ingin cepat mengerjakan semuanya hingga terkesan ceroboh dan memperkeruh keadaan yang ada. Tapi Meera telah berusaha melakukan semua pekerjaannya dengan baik dihari petama sejak menjadi istri dan Momy dari putranya.


Tak lama, Meera keluar dengan handuk yang melilit dari dada hingga pahanya. Ia sengaja tak mengenakan kimono karena ribet, dan ia harus sat set mengerjakan semua tugas yang telah menunggunya dibawah sana. Terutama untuk sarapan Sean.


“Kau benar-benar mengincar satu milyar yang ku janjikan?” tatap nyalan dady padanya.


“Apa? Ini biasa saja menurut saya? Apakah Anda tergoda?” Meera dengan sengaja melenggokkan pinggul ketika melangkah dihadapan suaminya. Ia kemudian berjongkong didepan lemari untuk mencari dalaman yang akan ia pakai saat ini.


“Ehmm… Bisakah Dady membalik badan?” tanya Meera mulai sungkan.


“Aku terlalu malas melakukannya. Kau tahu, aku tengah sibuk memasang accesorisku saat ini.” Dady memperlihatkan posisi ketika ia memasang jam tangan mahal dipergelangan tangannya.

__ADS_1


“Iiiish! Awas saja,” gerutu Meera, yang dengan percaya diri memasang pakaian dalamnya didepan sang suami. Bahkan ia tersenyum licik dan puas ketika menangkap Dady tengah menatapnya tanpa berkedip saat ini, terutama ketika Meera tengah berusaha mengaitkan branya dari belakang tanpa ia putar dari depan.


“Kau punya mata tambahan dibelakang?”


“Eh?” kaget Meera ketika Dady meraih kait bra dan membantu Meera memasangnya.


Plaaak!! Meera menabok tangan Dady yang sempat mencuri kesempatan menyentuh bulatan indahnya. Tapi Dady hanya tersenyum, Bahkan sempat mengecup bahu Meera saat itu dengan begitu mesra. Tapi Meera lagi-lagi hanya menghela napas panjang agar bisa menjaga perasaannya.


“Kau takut memberikannya secara Cuma-Cuma?” ledeknya.


Hingga akhirnya Meera selesai dengan pakaiannya. Celana bahan dan sebuah kemeja biru menjadi pilihan saat itu, sedehana tapi membuatnya tampak begitu elegan apalagi mengenakan beberapa acesoris yang Dady berikan.


“Ini jam siapa? Meera tak mau jika ini milik Nyonya,”


“Tidak… Aku membelikannya untukmu, dan ini_” Dady memberikan sebuah paperbag berisi tas untuk Meera yang sudah ia beli sejak beberapa hari lalu sebelum menikah, saat ia tak tega melihat tas usang yang Meera bawa kemana-mana.


“Wow! Ini untuk Meera?” tanyanya menutup mulut dengan telapak tangan, seolah tak percaya. Ia tahu itu adalah barang mahal, dan selama ini bahkan tak pernah berani bermimpi untuk memilikinya.


“Kau suka?”


Degg!! Jantung Dady nyersi seketika mendengarnya, lalu ia menatap Meera tersenyum dengan begitu indah da wajahnya yang merona bahagia. Meera memainkan, memeluk dan menciumi tas barunya saat ini.


“Ehemmm!!” Dady berdehem hingga Meera menatapnya malu-malu saat itu.


“Apa? Kan sudah terimakasih tadi.” Dady menjulurkan jarinya agar Meera mendekat, kemudian menunjuk pipinya sendiri saat itu.


“Apakah perlu diajari bagaimana berterimakasih pada suami?” Masih memeluk tas barunya, Meera menoleh kanan kiri saat itu.


Cup… cup… cuppp! Meera berjinjit mengecup pipi kanan kiri dan bibir Dady secara bergantian. Tapi seakan tak puas, Dady meraih dagu Meera dan memperdalam kecupan dibibirnya.

__ADS_1


“O… Ooowwh!!” Mendadak Sean datang dan menutup mata melihat pemandangan yang ada.


“Sayang, kamu lapar? Momy turun sekarnag,” ujar Meera yang langsung menaruh barang ditas barunya. Untung saja KTP dan kartu berharga lain dibawakan oleh orang dady dan masih utuh didalam dompetnya saat itu, dompet yang tak kalah usang dengan tas tua yang entah dimana sekarang.


Dady mengeluarkan credit card dan berlembar uang miliknya untuk Meera. Jika dihitung, mungkin jumlahnya adalah gaji Meera selama sebulan, dan ia mendapatkannya sehari secara utuh tanpa takut ada yang merebutnya lagi.


“Wuaaa… Banyak,” kagum Meera dengan begitu bahagia.


“Kau suka?”


“Ya, tak munafik. Wanita mana yang tak suka uang? Terimakasih Suami,” colek Meera di dagu suaminya, kemudian ia menghampiri Sean untuk sarapan bersama dan dady menyusul dibelakang keduanya.


Tak perlu waktu lama untuk sarapan, Dafa telah siap mengantarkan Sean dan Momy ke Sekolah hari ini. Dan untuk pertama kali Sean akan benar-benar dijaga dan diawasi.


“Hubungi saya jika ada sesuatu nanti,” ujar Dafa padanya.


“Mungkin pulangnya akan bawa beberapa barang, karena Meera mau membereskan meja kerja hari ini.”


“Baik, “ angguk Dafa dengan patuh padanya usai membukakan pintu dan Meera turun dari mobil itu.


Meera masuk dengan membawa tas Sean dipundaknya, masuk berbaur dengan ibu lain yang ada disana yang juga tengah memperhatikannya saat ini.


Ya, jelas saja diperhatikan karena Meera amat berbeda dari biasanya. Lebih cantik, rapi dan anggun.


“Oh, ini alasannya Resign? Mau jadi pengasuh pribadinya Ocean toh. Kenapa? Biar lebih bebas membela tanpa ada teguran? Terus bisa cari muka sama supirnya itu?” Mia yang bertemu lantas mencecar Meera dengan ledekannya.


“Mohon kerjasamanya ya, Bu Mia. Saya wali sah Ocean Alexander Dameres sejak saat ini. Jika ada sesuatu, mohon segera konfirmasi pada saya,” ucap Meera membungkuk padanya.


“Hhhhh! Apa-apaan?” geram Mia padanya.

__ADS_1


Kegiatan sekolah mulai dilakukan. Meera duduk di kursi tunggu bersama ibu yang lain disana, yang tak henti menatap heran padanya. Fikiran mereka hampir sama dengan Mia, yaitu Meera mundur dan memilih menjadi pengasuh pribadi dari muridnya saat itu. Mugkin mereka membayangkan jika Meera memilih gaji yang lebih tinggi dibandingkan pengabdiannya menjadi seorang guru disana.


“Oh, pantes aja. Ngebet jadi baby siter rupanya. Cumup tah aja,” sindir bu Dona dari tempat duduknya saat itu, dan Meera hanya tersenyum datar mendengarnya.


__ADS_2