
“NEnek!!” pekik Sean yang berlari menyambut neneknya dengan riang gembira. Ia ingin memeluk sang nenek dan menciumnya, tapi ibu mencegah karena ia masih memiliki stoma dan kantung diperut saat itu.
Dady langsung mengambil alih bujang kecilnya untuk ia gendong dan ia kecup dengan segala rasa rindu yang ada. “Kau tak rindu dengan Dady, hmmm?”
“No, Dady… Sean mau sama nenek, mau peluk.” Sean merengek untuk turun saat itu. Ibu merasa terharu dengan penerimaan Sean padanya, namun sayang ia tak dapat langsung meladeni keinginan Sean saat ini karena semua keterbatasan yang ada.
“Sayang, nenek belum bisa peluk sama gendong. Nenek masih sakit, ada luka diperutnya. Cium ngga papa,” bujuk Meera, dan Sean langsung menganggukkan kepala. Ia meloncat dari tubuh dady yang tinggi itu dan mendekati ibu kembali untuk mendapat ciuman hangat darinya.
Seperti, Sean memiliki rasa terhadap nenek yang sempat menyelamatkannya kala itu karena ibulah yang menggendongnya tertatih ke Rumah sakit.
“Doakan nenek segera sembuh, ya Sayang.” Ibu memeluk Sean dengan begitu hati-hati pada akhirnya. Sean amat gembira saat itu dan seakan tak sabar untuk segera bermain dengan nenek, namun harus menelan kecewa lagi karena nenek juga harus istirahat setelah ini.
“Main dengan Momy, okey?” bujuk Meera. Ia langsung membawa Sean ke kamar dan menitipkan ibu pada ibu saat itu hingga akhirnya Shinta menjemputnya kembali nanti.
Ibu belum bisa tinggal bersama mereka karena masih banyak proses yang harus di jalani dengan jadwal kemoterapy yang hanya tinggal beberapa kali lagi. Untung saja ibu menerima kemo itu dengan baik, karena kadang kondisi akan lebih lemah dari sebelumnya jika tak bisa menyesuaikan diri dengan segala proses pengobatan yang ada.
“Ibu disini dulu, nanti Shinta akan menjemput. Maaf, karena belum bisa membawa ibu bersama kami disini,” ucap Dady yang baru saja memindahkan tubuh itu di ranjangnya yang nyaman.
__ADS_1
“Ibu sudah begitu nyaman seperti ini. Bertemu kamu, dirawat hingga seperti ini sudah begitu bahagia bagi ibu. Tak apa, asal Meera sering menengok ibu nanti.” Ibu sangat mengerti keadaan ini, dan terutama Meera yang memang tak boleh ikut menemani kemoterapinya karena itu beresiko.
Ibu ingin mereka bahagia, dan bahkan ingin segera mendapat cucu dari mereka berdua secepatnya seperti Sean yang sudah kebelet ingin punya adik. Padahal dady sendiri masih ingin menikmati semua moment indah dan mengajak Meera bulan madu berdua jika ada kesempatan. Tapi, siapa yang akan mengasuh Sean nanti.
Dady meminta ibu istirahat setelahnya, dan ia segera naik ke kamar untuk istirahat sejenak dan memejamkan mata. Tidur di lantai penjara hanya beralaskan tikar membuat sekujur tubuhnya sakit semua saat ini. Ingin rasanya segera memanggil Meera untuk memijati seluruh tubuhnya, apalagi jika ditambah plus dengan full servis yang ia janjikan.
Dady hanya bisa melenguh diam membayangkan semuanya dan menahan diri saat ini.
Meera menghubungi salah seorang sahabatnya di sekolah untuk membicarakan pelajaran Sean yang sempat tertinggal, dan ia meminta maaf karena beberapa hari tak datang untuk ikut pelajaran seperti biasa.
“Ya, ngga papa. Kami paham kok, Meer. Tapi semua sudah selesai kan?”
“Besok kemungkinan Sean sudah bisa masuk seperti biasa, jadi mohon bimbingannya lagi, ya?” pinta Meera dan disambut hangat oleh sahabatnya itu.
Sean yang mendengar obrolan mereka langsung paham dan mengeluarkan beberapa buku sebagai tanda jika ia siap belajar seperti biasa. Ia duduk didekat Meera dan membuka beberapa tugas yang belum sempat ia kerjakan selama huru hara ini terjadi.
“Pintarnya anak, Momy.” Meera memuji sang putra dan mengusap rambutnya saat itu karena pengertiannya dan mereka mulai belajar bersama dengan semua bahan yang ada. Sean akan masuk SD setelah tahun ajaran ini selesai, dan Meera bahkan sudah mempersiapkan semuanya dari sekolah hingga dana yang ada dari dady.
__ADS_1
“Nanti kalau udah SD, harus lebih mandiri, ya? Momy ngga bisa ikutin Sean terus nanti,”
“Yess, Momy. Sean mandiri,” ucapnya sembari mengepalkan tangan penuh semangat. Betapa sayang Meera pada sang putra, hingga sepertinya ingin segera memberinya adik baby sebagai hadiah kelulusannya dari TK nanti.
Beberapa jam bersama sang putra membuatnya lelah. Ia meminta Sean istirahat sejenak dan naik ke kamar untuk mengganti pakaiannya saat itu setelah sebelumnya mengintip sang ibu yang masih terlelap dengan begitu nyamannya di kamar itu.
Meera menemukan suaminya yang tidur amat lelap saat itu dan tersenyum miring sembari melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaiannya dengan daster seperti biasa agar lebih lega. Ia mengikat rambutnya keatas saat itu hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang indah, kemudian menaikkan bawah dasternya untuk naik dan merangkak di ranjang.
Meera merangkak masuk ke selimut dady dan meraih sesuatu yang menggemaskan dibawah sana kemudian melahapnya. Bagai mimpi, dady masih memejamkan mata dan mulai menikmati semuanya saat itu dan mulai mengeluarkan deep voicenya dengan tekanan yang begitu dalam.
Dady langsung membuka mata ketika sadar jika itu nyata dan langsung melirik bawah selimutnya. Ia menemukan Meera tengah tersenyum disana penuh goda, “Shit! Kau nakal sekali, Sayang.” Dady hanya bisa mendongakkan kepala dan semakin menikmatinya saat itu.
Hingga akhirnya Meera merayap lagi mengecupi perut berotot itu hingga ke dadanya, menimbulkan sensasi geli namun begitu nikmat bagi pemilik tubuhnya hingga mengeerang dengan segala kenikmatan yang ada. Sangking tak kuasa, dady meraih tubuh Meera hingga mereka berhadapan dan langssung menyerang bibir indah itu dengan brutalnya.
Meera mulai mendesis dengan semua yang dilakukan dady dengan tangan yang mulai tak bisa diam meraba seluruh tubuhnya. Menggeliat dan mendongakkan kepala menerima semua sengatan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya dan bahkan beberapan kali mengejaang ringan.
Bruughh!! Dady menghempas tubuh Meera hingga jatuh terlentang dan dady mulai menikmati setiap senti tubuh yang nyaris polos itu dengan lidah lancipnya.
__ADS_1
“Siapa yang sedang mendapat full service saat ini?” lirih Meera saat itu. Tapi dady tak perduli sama sekali, maunya lebih besar dari apa yang seharusnya Meera berikan dan semua terasa sama saja baginya.
“Arrrghhh!!” Meera menjerit hebat akibat kebrutalan suaminya saat itu, seperti ia butuh kursi roda saat ini akibat ulahnya yang benar-benar menggila.