
“Dady, Momy?” panggil Sean lewat telepon padanya. Bocah itu penasaran kenapa Momy nya tak kunjung datang menemuinya.
“Ya, Sayang? Momy, besok pagi akan pulang ke rumah. Sean tunggu ya,” pinta Dady Louis yang berusaha menenangkan putranya.
Saat ini ia tengah berada di makam sang istri, tertunduk lesu disana dengan wajah sedihnya. Ia meminta izin untuk menikah dengan Meera demi Ocean, putra mereka berdua.
Seperti biasa Sean tak banyak bicara, dan sayangnya saat itu Meera tak memegang hp ditangannya gar bisa sean hubungi dan bertatap muka lewat video. Hp Meera sengaja ditinggal agar tak ada yang bisa menghubunginya, bahkan sudah di riset untuk nomor dan semua panggilan yang ada. Meera berusaha untuk benar-benar lepas dari bayang-bayang kepedihannya selama ini.
Saat itu hujan cukup deras. Louis turun menuju makam itu dan berlutut disamping dengan sebuah buket bunga besar ditangannyya, buket bunga mawar putih yang amat indah kesukaan Rose selama hidup, dan hampir setiap hari Dady Louis menghadiahkan untuk sang istri semasa hidup bersama.
Bisa dibayangkan bagaimana bahagia mereka saat sebelum kejadian itu merenggut semuanya. Pasti Sean juga tak akan menjadi anak pendiam dan penyendiri saat ini.
“Ingat, aku tak akan pernah melupakanmu ataupun putri kita. Kau ingin Sean bahagia, bukan? Ya, aku akan bahagia jika sean bahagia. Ia bisa tertawa, dan bahkan mulai lancar berbicara.” Dady bahkan menitikan mata di pusara istrinya.
“Tapi kau paling tak suka melihatku melakukan sesuatu dengan terpaksa. Bagaimana jika aku terpaksa menikahinya, Rose? Apakah bisa untuk aku membuka hati padanya yang bahkan selama ini tak pernah aku kenal? Sedangkan beberapa orang yang sudah begitu dekat saja tak sama sekali bisa menyentuhnya. Hatiku yang sudah begitu tertutup hanya denganmu,”
Dady Louis tersedu, bahkan menunduk pada pinggiran pusara itu dengan air yang mengguyur membasahi tubunya. Ia tak perduli sedingin apa itu, rasanya ia begitu rindu dengan dekap hangat sang istri ketika memeluknya. Bayangkan saja, hubungan mereka bahkan sudah terjadin Lima belas tahun sejak dekat di masa SMA, kuliah terpisah dan tetap setia bersama hingga benar-benar maut yang memisahkan.
Bahkan saat itu Nyonya Rose sudah dijodohkan oleh orang lain dengan ayanya, agar tak menikah dengan Dady Louis yang kala itu belum seperti saat ini. Berat perjuangan mereka, sejak keluarga membuang muka hingga bisa menyambut dengan senyum terlengkung diwajahnya.
“Tuan, Anda disini?” sapa seorang perawat makam dengan payung ditangannya. Mungkin ia ingin memayungi dady saat itu, namun sepertinya percuma.
“Ya, sangat jarang, bukan?” Selama ini Dady meminta penjaga makam itu yang membeli dan menaruh mawar putih disana, hampir setiap harinya. Mawar harus segar agar makam itu wangi dan Nyonya bahagia disana.
“Jika saya tahu Tuan akan datang, akan saya bereskan semuanya.”
__ADS_1
“Tak perlu, ini saja sudah begitu bersih. Terimakasih atas perawatanmu selama ini, Joko.” Dady berdiri dan saat itu membuka dompet untuk mengeluarkan beberapa lembar disana.
Joko memang terampil sebagai pengurus makam saat itu, pemakaman dengan tanah pribadi yang sengaja Dady beli untuk keluarganya berteduh untuk yang terakhir kali.
“Mereka tak pernah kemari, sekalipun.” Yang dimaksud adalah oma Vani dan Ane. Karena bagi mereka urusan dunia dengan Rose sudah selesai dengan kematiannya.
Tapi seperti biasa, jika Dady akan selalu datar jika membalas tentang mereka. Ia memilih pergi seolah tak mendengar apapun mengenai mereka berdua saat itu.
Sementara di Hotel saat itu Meera tengah menunggunya dalam keadaan cemas. Ia yang tadinya merebahkan diri tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia tengiang pada Dady Louis yang ada diluar sana, yang bahkan tak ada kabarnya hingga saat ini.
Berkali-kali Meera menatap keluar dan melihat beberapa kali kilat menyambar. Meski ia tahu Dady Louis mengendarai mobil mewahnya hingga tak mungkin basah atau kedinginan, tapi ia tetap khawatir pada calon suaminya itu. Apalagi besok mereka akan menikah, walau Meera sendiri tak tahu bagaimana prosesnya nanti.
Meera menutup layar horden kamar itu dan melirik jam dinding besar yang ada disana. Sayangnya ia sama sekali tak memiliki sesuatu yang bisa membuatnya menghubungi Dady Louis saat ini hanya untuk sekedar bertanya kabar dan memastikan ia baik-baik saja.
“Tuan? Astaga, kenapa basah?” Meera lantas mengambil handuk untu Dady Louis yang saat itu ada dihadapannya. Ia mengelap wajah serta tubuhnya yang basah, bahkan tak segan untuk membuka kemeja yang dipakainya.
Meera terkesiap melihat cetakan sempurna yang ada disana dan hanya bisa menelan saliva saat itu juga. “Berhenti mengagumi, aku sudah kedinginan.” Dady menegurnya saat itu, dan Meera segera melepas yang lainnya.
“M-Maaf, yang ini apakah harus saya juga?” tanya Meera yang sungkan ketika harus membuka celana bahan yang Dady pakai saat itu.
“Tanpa terkecuali,” ucap Dady datar dan tegas. Meera mengangguk, dan dengan gugup gemetaran ia terus melakukan tugasnya dengan baik.
Dady Louis mandi sebentar untuk membersihkan sisa air hujan dalam tubuhnya dan kemudian keluar lagi dalam keadaan serba terbuka dan Meera segera menghampirinya.
Pinggang dady Louis Meera ikat dengan handuk sementara Ia mencarikan pakaian gantinya. Namun, Dady menolak kaos ataupun kemeja karena lebih nyaman tidur dengan bertelanjaang dada. Meera hanya bisa menundukkan kepala ketika memakaikan celana jogger yang ada padanya, sementara Dady memperhatikan ekspresi Meera sejak tadi dengan senyum miring sesekali.
__ADS_1
“Sudah, Tuan,” ucap Meera, dan Dady justru menundukkan kepala agar Meera mengusap rambutnya yang masih basah itu dengan handuk yang ia pegang.
Meera terpaksa berjinjit saat itu agar dapat menjangkau tubuh tinggi besar Dady dengan tubuh kecilnya. Ia memang sangat kurus jika dibanding wanita seusia yang harusnya cukup berisi dibagian tubuh tertentu. Tapi nanti pasti akan seperti itu dengan lincahnya tangan Dady yang akan membentuk tubuh Meera secara alami.
“Ada sesuatu lagi?” tanya Meera yang semakin gugup hingga tak mampu menatap wajah itu.
“Kau menungguku? Kenapa?”
“Wajar kan, jika saya khawatir dengan calon suami saya sendiri? Apalagi besok kita akan menikah,” jawab Meera malu-malu.
“Jadi, kau benar-benar sudah siap menikah denganku?”
“Bukankah itu rencananya? Dan saya akan pulang untuk menjadi Momy Ocean Alexander Damares,” jawab Meera apa adanya sesuai dengan janji yang memang telah mereka sepakati.
“Hanya jadi Momy? Bagaimana dengan aku?” Dady mendekat, dan semakin lama semakin erat pada Meera disana.
Lagi-lagi Dady meraih pinggang ramping itu hingga Meera terkaget dan mendongakkan kepala menatap wajah tampannya yang paripurna, putih, bersih, hingga tanpa sadar tangan Meera meraih wajah itu dan membelainya dengan begitu lembut hingga Dady memejamkan mata pada setiap sentuhhan Meera padanya.
Buuggghhh!! Dady mendorong tubuh ramping itu hingga terbaring di ranjang besar mereka. Ia merangkak diatas tubuh Meera yang meraih dadanya, kemudian Dady memiringkan tubuh Meera untuk membelakanginya.
Dady memeluk Meera dari belakang dengan begitu erat seakan tak ingin melepasnya sama sekali.
“T-Tuan?”
“Diamlah… Bukankah kau masih sakit? Tetap seperti ini, sudah cukup.” Dady berbicara sembari memejamkan mata seolah tengah menahan dirinya.
__ADS_1