
Meera yang mendengar titah dady dari Dafa saat itu langsung membereskan pakaian miliknya dan Sean. Vira membantu karena Meera juga harus menjalankan misi lain saat itu, dan pada akhirnya ia diperbolehkan masuk ke dalam kamar rahasia milik mendiang momy kandung Sean.
Meera meraih kunci yang ada di laci paling bawah lemari suaminya. Ia tahu benda itu disana, namun ia sama sekali tak pernah berani untuk membuka tanpa perintah langsung darinya. Bukan huru hara yang ia takutkan, tapi seperti sebuah kenyataan yang akan menampar dirinya saat itu. Entahlah, Meera selalu berfikir seperti itu ketika menggenggam kunci yang sempat ia temukan dilaci.
Momy Sean itu lantas berjalan keluar dari kamar menuju kamar yang ada diujung lantai atas. Jantungnya berdebar, semakin kuat debarannya ketika semakin dekat dengan pintu kamar itu. Bahkan ia sempat menjatuhkan kunci ketika akan membukanya.
“Takut?” tanya Dafa yang meraih kunci itu dari lantai dan memberikannya pada Meera dengan segera.
“Bukan takut pada semua kenangan yang ada didalam. Tapi, takut dengan apa yang harus dihadapi dari masa lalu itu hingga dady akhirnya meminta Meera membuka pintunya. Sendiri.” Meera menundukkan kepala dan mulai lagi untuk membuka pintunya saat itu.
Kreek! Pintu terbuka, dan lampu segera Dafa nyalakan agar Meera segera dapat melihat isi didalamnya.
Kamar yang sangat cantik dengan nuansa lilac, masih begitu rapi bahkan dengan begitu banyak pajangan foto sebuah keluarga kecil yang bahagia. Foto pernikahan, foto kecil Ocean Alexander Damares dari bayi merah hingga beberapakali foto ulang tahunnya disana terpajang sesuai urutan. Dan seorang wanita cantik nan anggun mengenakan sebuah gaun pengantin yang begitu indah dengan perut besarnya.
Bukan menikah ketika hamil besar, tapi itu hanya sebuah meternity shoot dengan gaun pengantin sedangkan Sean balita dan dady kompak mengenakan jas hitam . Ya, mereka amat bahagia dan itu seperti sebuah museum khusus yang dibuat untuk keluarga kecil mereka bersama Momy Rose.
Dari sekian kenangan bahagia yang ia lihat, saat itu dibarisan paling akhir Meera melihat beberapa potongan koran yang tesusun dengan rapi. Meera yang penasaran segera meraih dan membacanya satu persatu dengan cepat agar setidaknya ia mengetahui inti dari semua berita yang ada.
__ADS_1
“Itu kumpulan tentang berita meninggalnya kak Rose. Sempat heboh karena kak Louis sendiri sempat depresi dan seolah kehilangan jati diri setelahnya. Aku dan Shila yang selama ini berusaha membuatnya bangkit serta memabantunya untuk terus menstabilkan JVT bagaimanapun caranya.”
Hingga wajar saja jika dady Louis juga cukup menyayangi Shila seolah adiknya. Bahkan sempat Shila menjadi sasaran Ane ketika dady lebih tampak menyayangi Shila daripada dirinya saat itu dan mengira Shila yang akan merebut posisinya sebagai calon istri seorang Louis Alexander.
Lalu apa yang membuat dady meminta Meera untuk masuk dan mengambil sesuatu?
Ya, sebuah berkas yang Dafa ambil dari laci nakas sebelah tempat tidur bayi berwarna pink. Sudah bisa dipastikan jika calon anak kedua dady adalah perempuan saat itu, tapi bukan itu masalahnya.
“Ini?” tanya Meera yang membuka lembar demi lembar isi dokumen itu dan memperhatikan semua hingga ia mendapatkan sebuah kenyataan yang membuatnya membungkam mulut sendiri saat itu. Meera menangis sejadi-jadinya dengan hati yang pilu, teramat pilu hingga begitu sakit ia rasakan saat ini.
“Dady menculik Meera untuk balas dendam?” tanya Meera pada Dafa yang duduk disampingnya saat itu.
“Balas dendam pada ayahmu, dan balas budi pada ibumu.” Dafa memberikan satu dokumen lagi pada Meera saat itu. “Dan kau adalah perantara untuk keduanya. Itu salah satu alasan kak Louis menculikmu dan ibu, dan ia mengendalikan semua itu dengan tangannya sendiri.”
Sayangnya semua rencana belum sempurna hingga terjadi hal ini. Ibu belum sembuh sesuai rencana dady karena kondisi naik turun ibu yang kadang sulit untuk stabil beberapa saat lalu, dan ibu ditakutkan belum bisa menjadi saksi kunci terhadap persidangan yang sebentar lagi terjadi.
Jika bertanya kenapa tak membawa Meera secara baik-baik saat itu, jawaban paling tepat adalah ayahnya yang gila uang. Meski ratusan milyar diberikan, ayah Meera tak akan bisa puas dengan itu semua nantinya dan akan terus memanfaatkan keadaan sebagai sumber keserakahannya. Terlebih lagi dendam dady pada Ayah Meera yang menjadi penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tercintanya kala itu.
__ADS_1
Awalnya memang berat bagi dady ketika membawa Meera sebagai istrinya ketika mengingat itu semua, tapi Sean dan ibu menjadi kekuatannya saat itu untuk tak membuat Meera sebagai pelampiasan dan fokus dengan misi yang ada. Itulah sebab ia merawat ibu dengan baik saat itu, karena ibu yang menolong mereka usai ayah Meera kabur dari kejadian itu.
“Jika orang membahas kenapa begitu lamban untuk menangani kasus ini, maka mereka sebenarnya tak mengerti bagaimana perasaan kak Louis sesungguhnya. Mudah dengan uang untuk menyelesaikan semua asal-asalan, tapi semua belum tentu memberikan kepuasan dihati kakakku saat ini. Apalagi ketika tahu jika penabrak dan penolong itu adalah suami istri.”
Dafa menambahi keterengannya saat itu dengan Meera yang masih terisak disampingnya. Ingin sekali rasanya Dafa memeluk Meera saat itu dan menenangkannya, namun itu tak ia lakukan saat ini. Ia takut jika nanti akan mengkhianati dirinya sendiri yang sudah memantapkan hati untuk melepas Meera pada kakaknya.
“Jika semua selesai, kau hanya harus menambah tuntutan itu pada ayahmu jika kau mau hukumannya lebih berat dari ini.” Meera menganggukkan kepala dan langsung mengusap air matanya saat itu, dan ia mulai menceritakan kisah menurut versi yang ia ketahui.
“Apakah kejadian itu terjadi ketika ayah membawa kami keluar kota mendadak? Meera juga heran dan bertanya-tanya saat itu kenapa ayah sepanik itu membawa kami pergi, bahkan beberapa kali memukul ibu sepertinya agar menurut dengan perintahnya.”
“Nanti kita tanyakan pada ibu jika ada waktu. Ibu harus istirahat saat ini, bahkan ia sudah dijauhkan dengan semua berita yang mungkin akan mengganggu fikirannya. Ibu saksi kunci kita sebenarnya, dan semua keputusan ada ditanganmu saat ini.”
Itu untuk urusan kasus penculikan, karena inti dari semuanya ada pada Meera saat ini. Sebagai korban, saksi dan istri yang mencintai suaminya. Tapi ia juga adalah anak seorang tersangka yang membuat mendiang momy Sean meninggal.
Perjuangan mereka untuk menjadi seperti ini tidaklah mudah, meraih cinta dady hingga sepenuhnya menjadi milik Meera dengan segala kenangan masa lalunya. Dady juga tak mudah, harus terus hidup bersama putri dan pria yang ia benci selama ini.
Meera hanya menghela napas panjang, kemudian ia berdiri dari tempatnya saat itu untuk segera menuruti perintah dady mengungsi ke hotel sementara waktu. Mereka pasti akan ke rumah itu cepat atau lambat, apalagi ayah Meera yang tengah begitu gencar mencarinya dengan berbagai cara.
__ADS_1