Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Begitu?


__ADS_3

Suasana makan malam tampak tegang, tak ada yang berani bicara disana sebelum dady yang memulainya. Terutama Ane dan oma yang terus tertunduk saat itu dan sesekali mencuri pandang pada Meera yang tengah menyuapi putranya. Sesekali juga dady yang tampak menyuapi Meera meski tampak tak mesra.


Duo gayung itu seperti tengah mencari celah kesalahan Meera saat ini, agar bisa membullynya lagi.


"Sampai kapan Mama dan Ane akan tinggal?” tanya dady pada akhirnya ketika makan malamnya selesai. Ia meraih piring dan beralih menyuapi istrinya saat itu, membuat Ane langsung menusuk daging ayam dipiringnya dengan begitu keras.


“Maksud kamu apa nanya begitu? Kamu ngga suka kami tinggal disini? Atau, istri kamu?” Oma langsung membalas pertanyaan dady dengan hujaman pertanyaan lainnya.


“Rumah kalian_”


“Iya, rumah kita kenapa? Ngga kenapa-napa kok. Kak Louis bawaannya curiga,” tukas Ane padanya. Tampak tenang, tapi dady paham jika ada sesuatu yang ia sembunyikan saat ini.


“Kamu berubah. Louis. Kamu tak menghormati mama sama sekali setelah kedatangan wanita itu, apa lebihnya dia.”


Takk!! Dady menaruh piringnya dengan kasar.


“Hey,” panggil Dafa padanya sebagai teguran agar menahan emosinya saat ini, namun sepertinya memang Duo gayung itu sengaja melakukan ini semua. Mereka tahu jika dady bisa melakukan apa saja ketika lepas kendali, dan itu akan menjadi alat untuk mereka nanti.


Untung Sean sudah selesai. Meera meraih piring dan pamit melanjutkan makan malamnya di kamar dan menghindari mereka semua demi Sean yang tak harus melihat keributan di mejar makan. “Kita kerjain PR, ya?” Dan Sean mengangguk menjawab permintaan Momynya saat itu.


“Sampai kapan kalian akan menikah?” tanya oma balik pada dady. Ia kira pernikahan itu hanya sandiwara atau pernikahan kontrak seperti dalam novel atau drama china yang sedang marak saat ini.


Jelas tidak, karena dady tak pernah sama sekali mempermainkan pernikahan meski perasaannya sendiri belum jelas saat ini. Ia sudah pernah kehilangan dengan begitu menyakitkan, maka ia juga akan berusaha tak kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.


“Maksud kalian, apa?” sambung Dafa mewakili kakaknya.


“Ya, anggap saja kami disini sedang ingin melindungi hak Sean dan Rose agar tak beralih pada wanita itu. Apalagi ketika kalian berdua punya anak nanti, mama ngga mau separuh dari harta keluarga yang kalian, Rose dan Louis perjuangkan akan kalian nikmati. Seperempat saja dia tak punya HAK!”

__ADS_1


Oma bahkan menekan kata-kata itu di hadapan Dafa dengan tatapan tajamnya. Itu pertanda jika ia meminta Dafa tak berharap banyak dari harta kakaknya saat itu.


“Satu minggu, dan aku akan mengawasi kalian disini dengan mata Dafa. Bahkan kalian tahu jika ada beberapa CCTV di bagian penting rumah ini terutama kamar Sean.”


“Kamu semena-mena, Louis.”


“Setuju lanjutkan, tidak silahkan pergi.” Dady tampak begitu tegas saat itu, yang meski menyebalkan tapi Ane begitu suka dengan ekspresi dady saat ini. Membuat desiran darah ditubuhnya seolah berhenti dan membuatnya meleleh seketika seperti eksrim yang terkena panas.


Oma sudah akan membalas ucapan dady, namun Ane masih sempat mencegahnya saat itu untuk diam dan menuruti apa maunya. Entah apa yang Ane rencanakan saat ini. Mata elang Dafa sejak tadi menguntit tingkah mereka berdua.


“Yaudah ngga papa. Sebenarnya Ane Cuma mau titip mama disini sebentar karena Ane mau persiapan Koas. Itu kan, yang Kak Louis mau? Nanti kalau udah persiapan, Ane bawa pulang mama lagi kok,” jawabnya dengan begitu lembut dan anggun, bahkan Dafa sampai menaikkan alis dan bibir kanannya bersamaan.


Dady bergeming, saat itu ia segera bangkit dari tempat duduk dan pergi dari sana untuk Kembali pada pekerjaannya. Dafa ikut, dan ia menyusul kakanya di ruang kerja saat itu juga.


“Apa aku akan Kembali bertugas dari rumah?” tanya Dafa yang kemudian duduk dihadapan kakaknya itu.


“Kau selalu marah ketika aku dekat dengannya,”


“Menjaga, bukan mendekati. Dia bukan bu guru cantik yang kau kagumi lagi, dia istriku!”


“Aaaawwhhh!! Kau tahu itu? astaga,” kaget Dafa menutup mulut dengan telapak tangannya, dengan kaki naik satu keatas kursi saat itu. Ia yang justru merasa tak enak hati karena sang kakak tahu rahasia yang sempat ia simpan sejak lama.


“Kau tak kecewa?”


“Apa? Meera bersamamu?” Dady mengangguk saat itu.


“Seperti yang kau bilang, aku hanya bisa mengawasi. Aku tak dapat melakukan apapun, bukan? Kau sudah bersamanya, dan Sean tampak bahagia. Tapi_”

__ADS_1


“Apa? Kau bilang Meera tak bahagia?” Dafa menggelengkan kepalanya saat itu.


“Tapi, jika aku melihatnya terlalu sering menangis karenamu_” Dafa mengangkat kedua jarinya dan ia arahkan ke leher, setelah itu ia gerakkan seperti tengah melukai dirinya sendiri saat itu. Tampak begitu serius dengan ucapan dan tatapan tajamnya yang menusuk hingga ke relung hati yang terdalam.


“Kerjakan tugasmu,” balas dady yang seolah tak menghiraukan itu semua dan memilih mengalihkan pembicaraan mereka berdua saat itu.


“Ya,” pasrah Dafa menjawab semua perintah dady padanya. Ia kemudian keluar dari kamar itu dan berjalan menilik Meera yang tengah mengajari Sean sejenak di kamarnya.


Seperti biasa, Meera saat itu mengajar Sean sembari bermain dengan begitu lincah hingga Sean benar-benar nyaman bersamanya. Bahkan Sean tak lagi phobia untuk belajar membaca seperti apa yang selalu ia hindari.


“Kalau suka, kenapa dilepas?”


“Ane, kamu ngapain?” kaget Dafa yang nyaris terlonjak kaget karenanya.


Ane dengan begitu santai ikut melirik kedalam melihat mereka berdua sembari mengunyah apel yang ada di tangannya saat itu. Lalu ia Kembali pada posisi semula yang tegap memandang Dafa, bahkan menepuk bahunya.


“Aku tahu, kau terbebani rasa bersalah oleh statusmu yang hanya… Ah, sudah lah. Kita sama-sama tahu itu. Tapi ini bukan sama sekali alasan untuk kau bahkan melepas cintamu untuk dia. Kak Louis tak harus menikahi Meera juga hanya untuk menjadi pengasuh anaknya,”


“Begitu?”


“Ya, begitu. Dia pasti tahu jika kau suka Meera sejak lama, tapi dia tak menghiraukannya. Dia hanya fokus pada dirinya sendiri dan Sean. Bahkan aku yakin jika Kak Louis sama sekali belum menyentuh wanita itu. Seleranya bukan dia.”


Tampak sekali Ane seolah meremehkan Meera saat ini, dengan daster sederhana yang ia pakai dan bahkan tak mengenakan polesan sama sekali di wajahnya saat itu. Bahkan ia membandingkan Meera pada kakak cantiknya yang jelita dan cantik dimanapun ia berada.


“Jadi menurutmu, aku harus memperjuangkan dia? Begitu?”


“Ya, aku hanya memberi saran.” Ane Kembali menepuk Pundak Dafa saat itu, berlakon seperti orang yang begitu care padanya sekarang. Ia kemudian pergi meninggalkan Dafa dalam diamnya, dan Ane tampak begitu puas dengan ekspresi bingung plus galau Dafa saat ini.

__ADS_1


“Ya, aku suka pertentangan ini,” gumam Ane dalam hati, berharap semua akan sesuai dengan apa yang ia mau.


__ADS_2