Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Restu


__ADS_3

Ibu pingsan selama beberapa saat. Dady membopongnya ketempat tidur tanpa rasa risih sama sekali dengan kantung yang ada diperut ibu Meera saat itu, dan Meera sendiri baru melihatnya seekali ini bahwa ibunya memang begitu parah hingga harus diobati begitu intensif seperti ini.


Shinta datang untuk memeriksa ibu saat itu, dan Ia menjelaskan pada Meera aka napa yang ibu derita selama ini karena memang ia belum menyampaikan detailnya. Meera hanya bisa menitikan airmata, tapi seketika itu juga ia langsung mengusapnya karena ingat janjinya pada dady untuk tak menangis lagi.


Untung kondisi ibu tak drop dan parah. Ia hanya syok dengan berita yang ia dengar mendadak saat itu, dan dipastikan sebentar lagi ia akan sadar. “Tapi, nanti kalau pingsan lagi gimana?” tanya Meera pada Shinta saat itu.


Shinta tak bisa menjawab apapun saat ini, ia tak bisa menjanjikan sekuat apa ibu untuk mendengar berita yang datang padanya.


“Kau bisa keluar? Biar aku yang menunggu dan menjelaskan padanya nanti,” pinta dady pada istrinya.


“Tidak, Dad… Biar Meera saja, karena sejak awal Meera dicari oleh ibu. Nanti, Meera akan panggil Dady jika terjadi sesuatu.” Meera menggandeng lengan suaminya itu untuk meyakinkan, dan kemudian dady keluar membawa Sean yang masih dalam gendongannya.


Sean masih bingung disana, dan terus menatap ibu Meera dengan begitu fokusnya. Bahkan hingga dady membawanya keluar, Sean bahkan memutar kepala hanya untuk terus menatap nenek barunya yang terbaring lemah disana.


Meera menutup pintu. Ia duduk disebelah ibu dan menggenggam erat tangannya saat itu, yang sudah Enam bulan bahkan tak ia rasakan sentuhannya.


“Enghhh!!” Suara ibu terdengar, dan Meera langsung memberinya perhatian saat itu.


“Ibu bangun?” tanya Meera yang tampak lega dan bahagia.


“Kamu sendiri?” tanya ibu. Melihat sekeliling dan tak ada siapapun disana selain Meera dan dirinya.


Ibu diam sejenak saat itu, menghela napas kemudian beralih posisi untuk duduk bersandar agar lebih nyaman ketika mengobrol dengan putri yang setengah tahun ini menjadi penyemangatnya untuk sembuh.


“Kamu tahu, setiap malam ibu selalu terfikirkan oleh kamu, Meera. Kamu dimana, bersama siapa dan bagaimana kamu diluar sana. Ibu bertanya pada Shinta, dan ia terus meyakinkan jika kamu baik-baik saja. Kamu meminta ibu semangat untuk semua pengobatan hingga nanti kita akan tinggal bersama dan bahagai meski tanpa ayah lagi.”

__ADS_1


Cerita yang diberikan Meera begitu menyentuh hatinya. Ia juga begitu, ia selali memikirkan ibu dan dady selalu meyakinkan jika ibu baik-baik saja selama masa pengobatannya. Saat itu Meera hanya fokus dan terus fokus dengan kesepakan dengan suaminya dan meyakinkan diri jika semuanya baik-baik saja.


Benar kata dady. Andai Meera tahu betapa parah sakit ibu sejak lama, ia pasti tak akan bisa fokus pada Sean dan dirinya, karena Meera akan selalu terbayang-bayang pada ibunya disana. Meera lagi-lagi menyesal sempat meragukan dady selama ini.


“Kapan kalian menikah?”


“Sejak, kejadian itu. Dady Louis membawa pergi Meera, dan anak buahnya membawa ibu pergi dari rumah kita.”


“Kalian sudah merencanakannya? Makan enak, dan semuanya. Uang yang ayah ambil, itu darinya?” tanya ibu penuh rasa curiga, tapi Meera memang menganggukkan kepala saat itu juga.


“Tapi semua tak seperti yang ibu fikirkan. Dady baik sejauh ini, sayang, dan perhatian dengan Meera. Hanya ada sesuatu yang memang harus_”


“Dia duda? Bagaimana Istrinya?” tanya ibu mengenai masa lalu dady. Meera anak semata wayangnya, meski pria itu baik tapi ia juga tak ingin Meera terjebak dalam sebuah urusan yang pelik nantinya.


“Istri dady meninggal sejak lama. Anaknya_Ocean Alexander Damares adalah murid Meera Di Sekolah, dan ia terus memanggil Meera dengan sebutan Momy. Dan saat itu terus berlanjut hingga Dady nya menikahi Meera.”


Kreek!! Pintu dibuka, dan saat itu kepala kecil Sean melongok dari balik pintu untuk melihat mereka berdua. “Momy,” panggilnya lembut pada Meera, dan itu membuat hati ibu terenyuh seketika, bergetar bahkan menitikan air mata.


“Sini sayang.” Meera melambaikan tangan pada Sean dan langsung memangkunya saat itu. Ia juga memperkenalkan ibu pada Sean, “Ini Nenek,” ucap Meera dan Sean langsung menjulurkan tangan meraih tangan ibu dan mengecupnya tanpa segan.


Ibu sudah menjadi nenek sekarang, dan ia amat terharu dengan keadaan itu terlebih lagi ketika menatap Sean memang begitu dekat dengan Meera. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka meski belum kenal sama sekali pada menantunya itu. Ibu hanya beberapa kali melihat, tapi ibu hanya mengira jika beliau adalah pejabat di Rumah sakit yang ia tinggali saat ini.


“Sean?” panggil dady yang menyusul putranya saat itu. Dady kembali membungkuk ketika melihat sang ibu mertua yang tengah menatapnya, dan saat itu ibu tengah menggenggam tangan mungil Sean dengan begitu lembutnya.


“Ibu,” sapa dady dengan ramah, dan setelah itu mendekat mencium tangan sang mertua. Justru ibu yang segan ketika dady yang tampak begitu menghormatinya saat ini.

__ADS_1


“Terimakasih Tuan telah merawat dan menjaga Meera selama ini, bahkan Tuan telah mmebantu pengobatan saya. Apakah dia merepotkan?” tanya ibu, dan dady sontak tersenyum mendengarnya saat itu.


“Tidak merepotkan, hanya sesekali perlu ditenangkan ketika mencari masalah.”


“Ih… Siapa yang suka cari masalah?” sergah Meera pada suaminya, tapi ulang Meera justru membuat mereka semua tertawa bersama saat itu juga.


Tatapan dady begitu penuh empati pada mertuanya. Tampak begitu sayang seperti ibunya sendiri saat itu hingga Meera terenyuh melihat keakraban mereka dengan ibunya. Ia sempat takut jika ibu akan berfikiran buruk denga napa yang terjadi, dan dady sulit menyesuaikan diri dengan pandangan ibu terhadap dirinya. Tapi nyatanya, mereka sama-sama bisa terbuka, terutama ketika membicarakan mengenai Meera.


Hari sudah semakin sore. Shinta mengingatkan jam istirahat ibu saat itu, dan Dady mengajak Meera untuk segera pamit untuk pulang ke rumah mereka. Bahkan dady mengatakan akan segera mengajak ibu untuk pulang jika semua sudah baik-baik saja.


Sontak ibu semringah mendengarnya, meski tak ada sedikitpun dalam bayangan ibu seberapa megah dan seberapa kaya raya seorang dady Louis Alexander Damares saat ini. Ia hanya bisa melihat kebahagiaan Meera, dan itu sudah cukup baginya.


Dady menyetir saat itu dan Sean berbaring mengantuk di kursi belakang sendirian. Meera duduk diam bersandar dikursinya, sembari sesekali tersenyum sendirian hingga dady mengerenyitkan kening melihatnya.


“KEnapa?”


“Apanya?” Meera justru balik bertanya saat itu.


“Itu, tersenyum sendiri. Kenapa? Ada sesuatu?” tanya dady lagi untuk memastikan semuanya.


Tapi Meera menggelengkan kepala. Ia jsutru mendekat dan meraih lengan dady untuk Ia dekap dan bersandar dengan begitu mesra disana. Tersenyum sekali lagi, dan beberapa kali mengecup lengan kekar itu dengan begitu mesra.


“I Love You penculikku,” ucap Meera. Dady hanya tersenyum dan menekuk tangan membelai rambut Meera saat itu, kemudian mengecup keningnya dengan begitu hangat.


“Aaaaahhh… Momy Sean!!!” pekik pria kecil yang rupanya mendengar kemesraan mereka.

__ADS_1


“Lah, kirain tidur.” Meera yang terkejut langsung menoleh padanya saat itu, tapi dady dengan iseng kembali mendekap kepala Meera dengan lengan kekarnya. Membuat Sean nyaris tantrum berebut Momy kesayangan mereka saat ini.


__ADS_2