Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Main petak umpet


__ADS_3

Dady dan Dafa pulang bersama dengan mobilnya masing-masing. Sean yang baru saja selesai mandi dan begitu segar itu langsung menyambut keduanya dengan begitu ceria, bahkan langsung menemplok pada Dafa dan naik ke gendongannya.


Meera menyusul. Ia juga sudah mandi dan wangi saat ini menyambut sang suami dengan senyum yang tak kalah manisnya. Ia meraih tas yang dady bawa dan mengajaknya segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Meera berusaha menjadi istri yang baik sesuai tugas melayani suaminya, berharap agar itu semua memupuk cinta diantara mereka berdua.


“Meera siapkan air hangat, mau?” tawarnya yang tengah melepas satu persatu kancing kemeja yang dady pakai saat itu hingga mulai memperlihatkan cetakan sempurna yang selalu membuatnya menelan saliva.


“Aku lebih suka air dingin, karena setelahnya ada kau yang akan menghangatkanku.” Dady dengan smirknya meraih dagu Meera dan mulai menyerang bibir indah itu untuk kembali ia nikmati. Rasanya jika tak menjaga diri, atau diganggu Sean, dady akan kembali nonstop mala mini.


“Sean menangis tadi pagi karena kehilangan Momy.”


“Jadi, Hmmm?” Dady terus mengecup bibir nikmat itu seperti sebuah permen yang benar-benar nikmat baginya.


“Malam ini Momy tidur dengan Sean, boleh?”


“Aku tak pernah melarang, tapi jangan salahkan aku jika setelahnya aku akanm menculikmu lagi dari kamar itu.” Ucapan dady membuat tubuh Meera merinding seketika, bahkan sesuatu terasa kencang diperut bagian bawahnya.


“Iya, terserah dady saja.” Meera berusaha menahan semua sensasi yang mulai tercipta sekuat tenaga. Seluruh tubuhnya terasa bergetar, kakinya lemas dan nyaris jatuh tapi dady menahan tubuh Meera hanya dengan satu tangannya saat itu hingga dady meyudahi semua aktifitasnya ketika sudah merasa sedikit puas.


Puas tak puas, daripada nanti terganggu oleh Sean ditengah permainan.


Dady lantas meraih handuk yang telah dipersiapkan Meera ditas ranjang mereka, tak lupa mengusap bibir basah Meera dengan ibu jari sebelum meninggalkannya.


“Meera siapin ganti, setelah itu kita ajak Sean main bersama.”


“Okey Mom,” ucap dady sembari berjalan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang terasa begitu nikmat dan memberikan sensasi memijat disekujur tubuhnya saat itu. Bahkan sempat terbayang jika Meera yang memijatnya dengan gaya yang begitu sensual.


“Clyton, kau bisa berdiri lagi nanti. Jangan nakal,” ujar Dady pada pusaka besar kebanggaannya yang perkasa saat itu. Yang hanya membayangkan Meera saja ia langsung bisa berdiri dengan gagah dan tegak mencari tempat bersarangnya yang nikmat.


Meera mempersiapkan baju dady, hingga ia mendengar hp dady berbunyi dan ia segera melihat pesannya saat itu. Hanya takut jika penting dan ia akan segera memanggil dady untuk membalasnya.

__ADS_1


“Transfer Lima ratus juta pada rekening Shinta? Siapa Shinta?” Meera penasaran, tapi keburu Sean memanggilnya saat itu juga.


“Momy!”


“Ya, sayang, sebentar.” Meera segera menaruh hp itu lagi dan bergegas keluar menemani putranya belajar dan mengerjakan semua tugas dari sekolahnya.


Sembari belajar sembari bertanya-tanya, begitulah keadaan Meera sekarang ini. Terbayang-bayang nama Shinta di dalam fikirannya saat itu, tak perduli dengan nominal yang dikirim karena ia sudah mendapatkan berkali lipat lebih besar dari nominal yang tertera disana.


“Momy,” panggil Sean, mmebuyarkan lamunan Meera.


“Ya, Sayang? Maaf, momy melamun. Sudah selesai?” tanya Meera. Karena untuk pelajaran matematika, Sean akan begitu tanggap dan bisa dengan segera mengerjakannya. Dan saat Meera mulai meraih beberapa buku untuk mengajari Sean membaca.


“Huaaaammss…” Mulailah jurus lelah dan lemah tak berdaya dikeluarkan oleh Sean pada momynya ketika akan membaca.


“Ngga bisa bohongin Momy, tadi Sean sudah tidur.”


“Haisssshh,” keluah Sean yang langsung melemaskan kepalanya saat itu. Akan tetapi, bukan Meera jika tak bisa membujuk putranya untuk belajar bersama. Entah janji apa yang Meera ucapkan pada sang putra untuk membujuknya.


Shinta membuka hpnya saat itu, melihat sejumlah besar yang di transfer oleh dady Louis padanya. Yang jelas bukan untuknya, melainkan mertua yang tengah ia rawat saat ini, untuk biaya operasi dan semua kebutuhan lainnya selama perawatan. Shinta tak lupa langsung mengucapkan terimakasih apda dady saat itu juga.


Shinta yang lelah barus saja mengurus izin operasi ibu, akhinrya bisa sedikit meluruskan kakinya saat ini dengan helaan napas yang lega. “Junet, Saya off sebentar. Kalau ada kabar dari ibu, beritahu saya secepatnya,”


“Baik, Mba Shinta.” angguk rekan kerjanya dari sana. Shinta memang amat butuh istirahat setelah semua kesibukannya hari ini.


**


Waktu makan malam tiba, dan mereka menikmatinya bersama di ruang makan. Sean tampak bersemangat dengan semua hidangannya saat ini, bahkan sampai menambah makan beberapa kali. Dady bahkan memperhatikan pipi Sean tampak sedikit lebih cubby saat ini dalam pengasuhan Meera.


“Abis ini kita main, karena Sean Sudah belajar dengan rajin.” Meera memberi suapan terakhir pada Sean saat itu, dan dady dengan ringan tangannya menyuapi sang istri dengan makan malam yang sudah hampir dingin.

__ADS_1


“Terimakasih, Dady.” Meera tersenyum dengan begitu manisnya saat itu. Entah sadar atau tidak ketika Dafa memperhatikan indah senyumnya yang bisa menggetarkan jiwa raga.


Permainan yang Sean pilih adala petak umpet. Mereka bermain bertiga karena dady harus mengurus beberapa pekerjaan yang ada dan tak bisa diganggu oleh siapapun.


“Hom pim pa… Ya… Paman Dafa jaga,” tunjuk Meera pada Dafa yang menggaruki kepala. Pasalnya ia sudah lama tak bermain itu dan nyaris lupa bagaimana caranya.


“Nanti kami sembunyi, Paman Dafa cari. Okey?” tanya Meera menjelaskan semua.


“Yasudah, sana sembutnyi. Jangan jauh-jauh, terutama Sean.”


“Yess, Paman. Huaaaaa!!! “ Sean langsung berlari mencari tempat persembunyian teraman ketika paman Dafa mulai menutup matanya, begitu juga dengan Meera yang mencari tempat persembunyian yang menurutnya aman dari pencarian.


Sean menuju kamarnya, dan bersebunyi dibalik selimut besar yang ada. Ia terkekeh sendiri didalam sana, deg-degan ketika paman Dafa nanti akan menemukannya. Sean juga tak pernah bermain ini sebelumnya, baru pertama hingga ia begitu senang dan penasaran.


“Tadaaa!! Ketemu.” Paman Dafa dengan cepat menemukan Sean ditempatnya, seolah memang sudah tertebak, Sean yang terkejut langsung tertawa dan begitu bahagia, bahkan berteriak sejadi-jadinya.


“Momy?”


“Belum ketemu. Ayo kit acari,” ajak Dafa padanya, kemudian mereka berdua menacari keseluruh ruangan yang ada di rumah itu.


Tok… tok.. tok! Sean memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Dadynya saat itu. Ia membuka, dna mendapati dady tengah menerima sebuah telepon dan menghadap keluar jendela.


“Ya, Sayang?” sapa dady yang langsung berbalik pada putranya.


“Ehm… Kami main petak umpet. Apakah Nyonya disini?” tanya Dafa, tapi dady menggelengkan kepala. Dan juga tak ada yang ia lihat masuk sejak tadi.


“Okey… Kita cari lagi?” ajak Dafa pada keponakannya.


“Yesss!” Sean menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dady yang mengakhiri panggilan itu langsung melangkah menuju kursinya dan duduk disana, “Awwwh!!” Ia mendengar suara pekikan saat itu, dan suaranya amat sangat ia kenal.


Dady langsung memundurkan kursinya dan melirik kebawah mejanya saat itu juga, dan melihat Meera tengah duduk meringkuk disana tersenyum malu-malu padanya. “Hay, Dady,” sapa Meera dengan wajah bodohnya.


__ADS_2