Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Wanita memang sensitif


__ADS_3

 “Sejak kapan kau ada di dalam sana?” tanya dady menelengkan kepalanya.


Dibawah cukup sempit meski masih muat untuk tubuh kecil Meera meski harus meringkuk memeluk lututnya, tapi meja cukup tinggi karena menyesuaikan tubuh dady yang jugs tinggi besar.


“Tadi masuk waktu dady masih telepon.” Jwabnya cengengesan. “Tolong,” pinta Meera mengulurkan kedua tangan pada suaminya dengan tatapan yang begitu manja.


Dady hanya menghela napas melihat tingkah istrinya itu. Ia beranjak dari kursi kemudian berjongkok meraih tubuh mungil Meera lalu membopongnya untuk pindah dari kolong meja. Namun alih-alih melepas, dady justru mendudukkan Meera diatas meja dan menghimpit tubuhnya disana. Tangan ia lepas dari pinggang Meera untuk menopang tubuhnya membungkuk.


“Dady mau apa?” tanya Meera yang mulai gugup, terutama ketika kedua Netra mereka saling beradu tatap saat ini dengan begitu dekat. Hidung mancung itu juga sudah mendekat ke pipi Meera hingga melesak sedikit ke telinga indahnya.


“Mau apa? Kita hanya berdua disini. Bukankah kau tahu, jika bekerja aku tak mau diganggu.”


“Te-terus?” Meera menelan saliva hingga tenggorokannya naik turun.


“Aku akan beri kau hukuman? Bukankah kau juga menghukum Sean jika tak menurutimu.”


“Bedalah, beda kasus dan_ Empphh!!” Vacum cleaner tanpa aba-aba mulai menghisap bibir Meera saat itu juga. Untung sudah tak begitu kaget dengan spontanitas suaminya yang kadang diluar kendali. Dan Meera sudah mulai terbiasa dan bisa mengimbangi.


Tangan besar yang satunya Sudah memegangi pinggang belakang Meera saat ini, menekannya sedikit maju agar spontan membusungkan dada dan menempel pada dada dady yang bidang. Sementara tangan Meera meraih lengan dady yang berotot kemudian meremaasnya dengan kuat meski bagi dady tak berasa sama sekali.


“Hmmp… Aaah!!” Dady melepas pangutaan itu dan Meera menarik napasnya dengan begitu panjang dan lega.


Bugghh!! Meera memukul dada bidang dady saat itu, seperti kapas jatuh dan hanya membuat dady tersenyum miring menatapnya.”Kurang puas, atau salah tempat?”


“Waktunya ngga tepat! Orang lagi main sama anaknya. Sama anak atau sama Dafa?”

__ADS_1


“Dady… kalau mau main ikutan aja, kita main bareng. Ngga suka diginin,” kesal Meera dengan tingkah suaminya yang aneh itu. Dafa jelas pamannya Sean, tapi Shinta? Sayangnya Meera masih belum berani bertanya dan menghancurkan suasanya mereka yang cukup mesra, sepertinya ini moment yang cukup langka.


“Dady?” tanya Meera, meraih dada dady dan mengusapnya dengan mesra untuk merasakan kondisi dan suasana hatinya saat ini. Cukup tenang, dan ia akan mulai bicara lagi.


“Ya?” tatap balas dady padanya.


“Kita Sudah berumah tangga. Meera sudah melakukan tugas apapun yang dady berikan sesuai dengan perjanjian kita, dan dady juga sudah menuruti apa yang Meera mau meski kadang spontan.” Meera membuka satu persatu kancing kemeja dady dan menempelkan bibirnya dijakun yang tampak naik turun itu.


“Dan?” Napas dady mulai berat terdengar.


“Bisakah kita saling jujur? Dady begitu mengetahui semua apa saja tentang Meera, semuanya tanpa terkecuali, termasuk betapa berantakan kehidupan Meera sebelum bertemu dengan Dady.”


“Kau menuduhku memiliki rahasia darimu? Ada yang kau curigai?”


Tapi dady hanya membalas tatapan itu dengan tajam dan datar, sesekali tatapan mat aitu turun tubuh istrinya yang hanya berbalut daster saat itu seperti biasanya. Daster batik yang cukup mengembang berwarna ungu dengan bagian dada yang tertutup. Tapi. hanya sekali tarikan tangan saja dady bisa melihat isi didalamnya yang indah dan menggugah selera seperti sebuah santapan lezat yang memang terhidang untuknya.


“Dady, ayolah, kita sedang bicara serius.” Meera menegurnya agar kembali fokus pada pembicaraan mereka saat itu.


Namun, seperti dady saat ini sudah tak mampu menggubris istrinya lagi. Sesuatu dibawah sana sudah terlanjur terpancing dibuatnya, entah kenapa Meera selalu bisa dengan mudah membangunkan Clyton.


Kedua tangan Meera ia kalungkan di lehernya, dan dady mulai lagi menyerang bibir dengan begitu dalam hingga lama kelamaan turun ke leher dan menghisapnya seperti vampir hingga beberapa kali. Turun lagi ke dada dan dengan tergesa-gesa mengisap semua yang ada disana.


Meera hanya sanggup memejamkan mata dan sesekali mendongakkan kepalanya. Meski sedikit kesal, ia juga menikmati semua gelenyar nikmat yang mulai merambat keseluruh tubuhnya saat itu. Ia mendesis, merintih dan sesekali membuang desaahan yang spontan keluar dari mulutnya dengan segala tingkah dady yang mulai mengobrak abrik inti tubuhnya.


“Salah… Memang aku tak boleh sama sekali mengganggunya,” sesal Meera yang mulai terjebak dalam pusara kenikmatan yang ada.

__ADS_1


Hingga dirasa cukup dengan semua foreplaynya, dady mulai melepas bebas clyton dari sarangnya saat itu. Ia meraih kembali tubuh Meera, menggendongnya didepan dan mulai penyatuan mereka dengan berdiri.


Meera hanya bisa pasrah memeluk leher dady dengan kedua kaki mengalung dipinggangnya. “Rasanya dalam sekali,” lirih Meera ditelinga dady saat clyton terasa langsung menyentuh dinding rahimnya dalam posisi seperti ini.


Dady hanya tersenyum puas melihat ekspresi Meera, dengan terus membawa tubuh kecil itu naik turun menghentaknya. Kadang ia bawa tubuh Meera menempel ke dinding, agar ia bisa menahan tanga Meera diatas dan menikmati dadanya yang naik turun begitu menggoda.


Meera mendesaah, hanya bisa bisa menahan jeritannya agar tak terdengar oleh Dafa atau bahkan Sean diluar sana, meski rasany menahan jeritan itu begitu menyiksanya saat ini.


Hingga akhirnya mereka berdua menikmati puncak bersama. Sepertinya itu posisi yang cukup kuat untuk mereka berdua dalam permainan singkat namun begitu nikmat yang terjadi barusan. Dary membawa tubuh lemas itu duduk diatas kursi kerja dalam posisi masih ia gendong dan ia pangku saat ini.


Napas Meera terengah-engah ketika dady membantunya mengikat rambut dengan ikatan yang ia temukan dilengan Meera. Sementara Meera dengan wajahnya yang masih sayu, beruasaha tegak untuk merapikan dasternya. Bahkan Clyton masih ada didalam sana dan belum dikeluarkan sama sekali.


“Momy!!” panggil Sean yang mendadak membuka pintu ruangan itu. Meera yang terkejut langsung menjatuhkan tubuh dalam pelukan dady dan menyembunyikan wajahnya disana.


“Sean? Nanti Momy akan menyusul ke kamar. Okey?” bujuk dady. Dan tak berapa lama setelah itu Dafa langsung menyusul Sean, menutup mata anak itu dan langsung menggendongnya untuk ia bawa ke kamar dengan segera.


Tubuh Dafa sendiri bergetar melihat posisi mereka berdua saat ini. Ia mengepalkan tangan, namun tak mampu berbuat apa-apa dengan segala isi fikirannya. “Ya, setidaknya mereka itu sah suami istri,” lirihnya.


“Kan, udah dibilangin. Ngga bisa lihat situasi,” omel Meera pada suaminya saat itu, dengan wajah cemberut, apalagi ketika Sean pasti akan banyak bertanya setelah ini.


Dady hanya tersenyum melihat ekspresi Meera saat itu. Jemarinya kembali meraih bibir indah dan mengusapnya dengan lembut, turun kebawah dan membantu Meera melepaskan Clyton darinya. Keduanya mengerang bersamaan.


Meera lantas berlari keluar dan langsung menuju kamar untuk membersihkan dirinya saat itu juga.


"Wanita memang sensitif," gumam dady menatap kepergian sang istri.

__ADS_1


__ADS_2