
“Uncle… Uncle!” pekik Sean yang menuruni tangga dan dan menghampiri pamannya saat itu. Ia dengan begitu tergesa-gesa begitu ingin mengabarkan kebahagiaannya kali ini pada sang paman yang tengah duduk di sofa dengan laptop dala pangkuannya.
“Ya, Sayang?” tanya Dafa yang langsung meraih tubuh kecil itu kedalam pangkuannya. Dafa lantas mengusap wajah Sean yang banjir keringat akibat berlari barusan.
“Sean mau punya adik baby,” ucapnya dengan begitu antusias. Mata dan wajahnya begitu berbinar dengan senyumnya yang terlengkung dengan begitu indah.
“Sean tahu darimana?”
“Dady usap perut momy, begini.” Sean memperagakan bagaimana ketika dady memanjakan Momy di kamar mereka barusan hingga Ia mengira itu adalah sebuah berita baik. Namun, sepertinya Dafa meragukan itu semua.
Untungnya tak lama kemudian dady menggandeng momy turun kebawah menemui mereka berdua dan akan makan malam bersama. Tatapan mata Sean lantas tertuju pada mereka berdua dengan lengkungan senyum dari bibirnya. Ia tak menghampiri Meera, padahal ia amat ingin digendong saat itu. Tapi ia takut jika adik babynya kenapa-napa dan tetap bertahan dengan paman Dafa.
Dady dan Meera kemudian duduk didepan mereka, dengan wajah Meera yang tampak begitu pucat dimata Dafa. Pria itu lantas melirik kakaknya untuknya segera meminta penjelasan dengan apa yang barusan diceritakan oleh Sean padanya.
“Sean, comer here.” Dady mengulurkan tangan, dan Sean beralih kepangkuannya saat itu juga dengan tetap melirik Momy dan perutnya yang nyeri.
“Yes, Dady?” panggil Sean.
“Sean ingin adik baby?” tanya dady, dan Sean dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Dady mengusap kepala Sean, sementara momy hanya bisa menundukkan kepalanya lesu. Dafa paham sekali dengan maksud mereka saat ini, hanya saja mereka sedikit sulit untuk menjelaskannya pada Sean agar ia mengerti. Apalagi wajah Meera tampak seperti tengah begitu kecewa dengan kegagalannya.
__ADS_1
“Dady minta maaf pada Sean, jika Dady belum bisa menuruti apa yang Sean mau saat ini. Momy dan Dady belum bisa memberikan adik untuk Sean dalam waktu dekat,” ucapnya.
Saat itu wajah Sean yang tadi ceria langsung mendung seketika. Ia mengalungkan lengan ke leher dady dan menenggelamkan wajahnya dileher dady saat itu, kemudian isak tangisnya terdengar begitu perih ditelinga mereka semua. Meera seakan ikut menangis mendengar tangisan anaknya, hatinya hancur seketika. Terlebih lagi ia memang tengah sensitive saat ini.
“Sean… Hey, kenapa menangis? Sini dengan paman Dafa,” panggil Dafa pada keponkaannya, tapi Sean menggelengkan kepala dan tetap ingin bersama dadynya.
“Sean sangat ingin adik baby, kan? Jadi, Sean sudah tak boleh lagi terlalu manja dengan momy mulai saat ini. Karena biar bagaimanapun, perhatian Momy nantinya akan terbagi dengan adik Baby. Bagaimana?” Dady berusaha membuat kesepakatan pada putranya saat ini demi lancarnya program mereka nanti jika memang harus dengan bantuan dokter untuk mempercepat semua prosesnya.
Mungkin nanti dengan proses itu, Meera akan sering bedrest atau bahkan Sean tak bisa bermanja lagi dengannya. Ia hanya takut jika Sean belum puas mendapatkan kasih sayang Meera yang begitu tumpah padanya.
Sean tampak bingung dengan keputusan itu. Ia masih ingin bermanja sepenuhnya dengan Momy, tapi ia juga ingin adik Baby sebagai temannya saat ini. “Jadi, Sean harus sabar menunggu adik baby datang. Okey?” bujuk Dafa.
**
Seminggu dari kejadian itu, mereka kembali mesra dalam kesehariannya. Dengan pengakuan Dady mengenai Dafa, saat ini Meera berusaha mengakrabkan diri lebih baik dengan adik iparnya itu. Meski dari segi umur, Dafa masih lebih tua dari dirinya. Ia hanya ingin mereka benar-benar menjadi keluarga tanpa dihantui rasa canggung seperti selama ini.
Meera baru saja datang dari dapur untuk membangunkan dady yang masih berselimut tebal saat itu. Ia langsung merangkak dan masuk kedalam selumut itu, merayap ditubuh dady dan langsung memeluknya dari belakang dengan begitu erat sekali. Bahkan dagu Meera dileher dady saat itu, mmebuat napasnya terhembus dengan begitu hangat ditelinga.
“Hey, Sayang… Aku masih ngantuk,” rengek dady pada tingkah istrinya yang manja. Hingga kemudian Meera meraih tangan dady agar menyentuh rambutnya yang sudah wangi dan masih basah akibat mandi pagi-pagi sekali usai tamu bulannya yang tuntas bersih.
Meera baru keramas pagi tadi, karena takut masih flek dan akan memberi harapan palsu pada suaminya yang sudah seminggu libur dari olahraga malamnya. Meski, kadang Meera memanjaka clyton sesekali dengan apapun yang bisa ia lakukan, tapi dady tak puas jika belum benar-benar memiliki Meera seutuhnya.
__ADS_1
Dady langsung membuka mata saat itu juga lalu membalik tubuh langsung menatap Meera saat itu juga dengan wajah yang begitu semringah. Ibarat orang kelaparan yang diberi umpan, maka akan segera menikmati hidangan segar yang yang ada didepan mata apalagi saat ini Meera yang menawarkan dirinya.
Meera langsung tersenyum melihat respon sang suami saat itu, dan ia lantas menarik selimutnya lagi dan meraih untuk membangunkan sesuatu dibawah sana. Ia harus gerak cepat sebelum Sean bangun dan menghampirinya nanti. Dady mendongakan kepala sembari memejamkan mata, mendesis dengan apa yang Meera lakukan dibawah sana. Ia seperti mendapatkan lollipop manis dan tengah begitu menikmatinya.
“Nakal kau, Meera.” Dady meremang karena ulah istrinya.
Meera lantas menghentikan aktifitas itu. Kepalanya terasa masuk kedalam baju tidur yang dady pakai saat itu, mengecupi perut hingga naik ke dadanya, terus hingga dady mengintipnya dari bagian atas kemeja.
“Puas?” tanya Dady yang menghembuskan napas dengan begitu berat, sementara Meera hanya tersenyum menganggukkan kepala dengan tatapan penuh goda. Hal itu membuat dady tak sabar dan langsung menarik kuat kemeja itu hingga terbuka dan ia langsung meraih wajah Meera kehadapannya saat itu juga. Ia lantas menikmati bibir manis itu dengan begitu lapar. Setiap hari sudah ia nikmati, tapi seolah tak ada puasnya sama sekali.
“Kau memasak didapur tanpa Bra?” tatap nyalang dady ketika meraih sesuatu didada Meera. Bisa-bisanya ia, padahal bisa jadi Dafa memperhatikannya saat itu.
“Meera lepas pas masuk tadi. Mana berani Meera keluar tanpa pakai itu,” jawab Meera sembari mengecupi leher suaminya. Ingin sekali menghisap dan meninggalkan bekas disana, namun hari ini dady sibuk untuk bekerja.
Dady duam saat ini, ia hanya ingin menikmati full service dari istrinya dipagi hari sebagai penambah tenaga. Usaha Meera memang tak sia-sia untuk bisa memuaskan dirinya hingga terbang ke puncak nirwana.
Desaahan dan desahaan memenuhi kamar besar itu saat ini. Meera tengah dengan bebarsnya meliuk-liuk dipangkuan dady yang tangannya tak pernah bisa diam menjelajahi setiap inci tubuh Meera yang polos juga akibat ulah tangan besarnya. Ini masa subur, dan Meera berusaha untuk tak membuang segala kesempatan yang ada.
“Dady…” desaah manja Meera ditelinga suaminya. Dady paham, tapi ia tak mengganti posisi mereka saat itu, ia hanya menagambil alih permainan dengan tetap pada Meera diatas pangkuannya hingga akhirnya tubuh Meera melenting dengan jeritan mereka berdua bersamaan disana. Bahkan tanpa sadar Meera menggigit bahu dady hingga terluka karena gigi tajamnya.
"Apa aku menikahi manusia setengah vampir," tanya dady, bahkan menemukan bercak darah ditulang selangkanya saat itu. Tapi, Meera hanya bisa menundukkan kepala dan menggigit bibirnya.
__ADS_1