
“Tuan, ada apa?” tanya sila menatap wajah resah bosnya itu.
“Ane dan mama, mereka mendadak datang ke rumah dengan barang-barangnya. Mereka seperti ingin pindah kesana,” ucap Dady yang mencemaskan istrinya saat ini. Ia hanya takut jika Meera belum terbiasa dengan mereka atau bahkan tengah ditindas oleh keduanya.
Bayangan dikepala dady benar-benar tak dalam keadaan baik saat ini.
“Bukannya pak Dafa pulang? Dia menjemput Nyonya, tadi.”
“Aku sudah memintanya mengawasi, tapi_”
“Jika ragu, Tuan pulang saja tak apa.” Sila ingin dady tak kepikiran dan sedikit tenang saat ini. Toh, pekerjaan bisa dilakukan kapan dan dimana saja dady mau. Hanya saja mungkin jika di rumah akan ternganggu sang istri, Sean sudah terbiasa dengan pekerjaan dady nya.
“Tidak… Biar ku awasi dari sini,” ujar Dady yang kemudian duduk kembali dan fokus pada laptopnya. Ia akan menunggu kabar dari Dafa atau bahkan Meera sekalian untuk kedua Duo gayung itu disana.
**
“Ada apa ini?” tanya Dafa yang keluar dari ruang kerjanya saat itu. Ia membawa pulang banyak sekali pekerjaan yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja dan terlalu fokus di kamarnya yang disetting kedap suara.
Ia akan bermasalah dengan dady jika mengetahui itu semua.
“Uncle,” Sean memanggil, namun tak berlari ke arahnya melainkan tetap memeluk Meera.
__ADS_1
“Kamu ngga ajarin ibu tiri Sean ini untuk bersikap dengan baik? Dibilangin masalah pengalaman mengurus anak, malah nantangin hamil duluan. Ngga berpendidikan!” sinisnya.
Dafa melirik Meera, lalu Meera menganggukkan kepala untuk membawa Sean melanjutkan makan siangnya saat itu dan ia mengambil alih pembicaraan dengan Oma. Bahkan dengan sopan Dafa mengajak Oma duduk untuk bicara Empat mata disana.
“Sebenarnya, Mama kesini atas dasar dan maksud apa? Mendadak membawa koper dan bahkan beberapa perlengkapan seperti ingin pindahan.” Sebenarnya Dafa bisa dengan mudah mencari info tentang apa yang terjadi pada mereka, tapi masih ingin menunggu kejujuran oma untuk menilai semuanya.
“Mama hanya ingin merefresh fikiran, Dafa. Daripada mama staycation Di Hotel, bukankah lebih baik kesini membantu merawat Sean? Mama juga sakit,” balasnya, sementara Dafa menatapnya penuh curiga.
Biar bagaimanapun, insting Dafa cukup kuat seperti kakaknya.
“Kamu ngga percaya? Biar mama ambil surat keterangan dari dokternya kalau kamu mau lihat,”
“Untuk sakit, Dafa percaya. Tapi untuk yang lain… Tidak. Jangan salahkan Dafa untuk_”
Meera yang mendengar itu semua hanya bisa menggelengkan kepala dari tempatnya. Ia tak ingin ikut campur meski rasanya gatal sekali untuk ikut bicara saat ini.
“Momy?”
“Ya, Sayang? Ada PR kan? Yuk kerjain dulu,” bujuk Meera pada sang putra, lalu lanjut masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan semua tugas yang ada.
Meera hanya pamit pada Dafa dengan anggukan kepala saat itu dan Dafa membalasnya. Oma menangkap yang berbeda dari mata Dafa untuk Meera saat ini.
__ADS_1
“Memang dia cocoknya buat kamu, sama-sama ngga jelas asal usulnya.” Dafa mendengar itu langsung mengepalkan tangan, tertusuk hatinya dengan begitu perih dan dalam.
“Ma_”
“Apa? Itu benar kok, kamu itu ngga jelas asal usulnya. Masih mending Kakakmu mencari, mengakui dan menampungmu disini. Jika tidak, kamu entah akan jadi apa disana.” Oma semakin menjadi dengan segala cecarannya saat ini.
Yang jelas Dafa adalah adik dady Louis Alexander Damares, meski nama belakangnya ia dapat dari keluarga sang ibu. Dan memang benar, jika ia beruntung karena dady mau menampungnya saat ini meski identitasnya sedikit tersembunyi dari yang lain. Bahkan, Meera saja belum tahu kejelasan mereka berdua sebenarnya.
“Hati-hati, bibit pelakor ada dalam diri kamu, Dafa. Kamu suka dia kan?” goda oma padanya.
Dafa berusaha tenang, ia tak ingin ambil pusing dan terpengaruh oleh semua ucapannya saat itu. Ia hanya ingin fokus menyelesaikan masalah Duo gayung agar tak semakin kerasan menetap di rumah besar itu.
“Kali ini Saya diam. Tapi saya akan cari tahu semua hingga jelas. Setelah ini, saya akan carikan kontrakan untuk kalian tinggal.
“Anak saya lebih berhak untuk rumah ini! Daripada kamu, atau dia!”
“Ma, Kak Rose sudah meninggal. Masih di akui kalian disini saja, itu sudah bagus. Penghargaan dari Kak Louis untuk kalian.” Dafa tampak begitu lelah.
Pasalnya, tak Cuma berkali-kali mereka membahas hal yang sama seperti ini, tapi mereka seakan tak pernah bosan mengulang dan semua ucapan Dafa akan dikembalikan lagi padanya. Jengah pasti.
“Sekarang, Mama istirahat dulu. Lebih baik kita tunggu kak Louis pulang sebentar lagi,” bujuk Dafa daripada ia semakin pusing dibuatnya.
__ADS_1
Untung saja Ane saat itu tak ada. Jika iya, entah bagaimana jadinya.