
“Aku dengar ada sesuatu di pesta semalam. Ada apa?” tanya Dafa ketika duduk bersama menunggu sarapan tiba. Saat itu Meera tengah mengurus Sean untuk sekolahnya. Ia telat bangun akibat kuatnya pertempuran hebat semalam, bahkan ia rasanya masih mengantuk saat ini. Sayangnya Sean tak mau dititipkan oleh siapapun dan hanya ingin dengan Momy.
“Biasa, mereka hanya terkejut ketika aku membawa Meera untuk pertama kalinya bertemu mereka semua. Kau pasti tahu kejadian lain setelahnya,” jawab santai dady dengan segelas kopi yang ada di meja saat itu.
“Bisakah kau melindunginya? Apa salahnya jaga dia selama disana, dan kau tak perlu menggubris siapapun yang_”
“Apa dia terluka?” tatap dady pada Dafa saat itu, yang sepertinya begitu cemas akan keadaan istrinya saat ini. Istri bos sekaligus kakak kandungnya sendiri meski dari ibu yang berbeda.
“Tidak… Aku tidak melihatnya,” jawab Dafa menundukkan kepala. Ia memang terlalu mencemaskan Meera dan itu tampak berlebihan, ia akui itu.
Untungnya setelah itu Meera datang bersama Sean untuk sarapan bersama. Semua duduk dengan rapi dan Meera mulai melayani mereka semua dengan baik dan penuh senyum ceria. Tak seperti habis dibully atau merasakan sebuah trauma saat ini.”Apa benar dia baik-baik saja?” fikir Dafa tipis-tipis menatapnya.
“Dafa_”
“Ya, maaf.” Dafa langsung kembali fokus pada makanan yang ada di piringnya saat itu. Entah kenapa rasanya begitu istimewa jika Meera yang melayani, Dafa sudah begitu kuat menjaga perasaannya sendiri saat ini.
Hingga ketinganya berpisah saat itu. Dady dengan mobilnya menuju ke kantor dan Dafa mengantarkan Meera dan Sean ke sekolah terlebih dahulu. Meera duduk di belakang sembari mengecek beberapa tugas Sean yang mungkin lupa dikerjakan, tapi untungnya Dafa juga cepat tanggap dengan itu semua hingga beres sesuai waktunya.
“Nyonya?”
“Ya, Mas Dafa?” Meera langsung merespon dan mengalihkan pandangan dari Sean menuju Dafa saat itu.
“Yang semalam, ap aitu menyakitkan?”
“Yang… Semalam? Yang mana?” tanya Meera sedikit bingung, meski sebenarnya ia tahu arah pembicaraan Dafa padanya.
“Ambil sisi positif dari setiap kejadiannya aja, Mas Dafa. Semoga setelah kejadian itu, dady Louis semakin memperhatikan dan menjaga Meera setelah ini. Kami jadi sedikit lebih akrab, dan semakin lama semakin dekat dari biasanya,” balas Meera.
Jelas bukan hanya itu yang dimaksud oleh Dafa, melainkan resiko jangka panjang yang akan diterima nantinya dari social mereka. Orang yang ada disana bukanlah orang yang mudah kalah dan tenang begitu saja ketika apa yang diinginkan tak tercapai.
“Tidak, hanya Nyonya harus lebih mawas diri saat ini.”
__ADS_1
“Iya, Mas. Meera akan jaga diri dan jaga Vian setelah ini,” balas Meera dengan santainya.
Dan mereka telah tiba di sekolah saat itu. Meera turun menggandeng Sean dan Dafa megiringnya dari belakang menuju ruang kelas seperti biasa. Bu Dona sudah ada disana dan menatapnya tajam saat itu. Meera sudah terlanjur biasa melihatnya.
“Mas Dafa, terimakasih.” Ucap Meera padanya. Dafa kemudian pergi menuju ke kantor dan melakukan pekerjaan seperti biasanya.
Meera mempersiapkan Sean untuk masuk ke kelas dan mengikuti perlajaran bersama bu Mia yang sudah menunggunya. Ia kemudian duduk di kursi tunggu yang ada tanpa mencari kursi lain saat itu. Meera mulai sibuk membuat akun media social barunya seperti perintah dady dan menggunakan nama belakangnya disana. Ia langsung Follow akun dady sebagai yang pertama, kemudian Dafa.
“Kau mengikuti akun Dafa?”
“Kenapa? Tak apa kan?”
“TErserah,” ucap dady yang membuat Meera langsung membulatkan matanya.
“Ini orang kenapa lagi?” geleng Meera pada tingkah aneh suaminya itu.
Sementara saat itu Dady menjadi stalking pada Dafa dan beberapa kali menatapnya yang sedang tersenyum sendiri menatap hp ditangannya. Dady memanyunkan bibir dan menggerakkannya kanan kiri penuh rasa curiga, jangan-jangan ia tengah berbalas chat pada istrinya.
“Siapa yang kau hubungi?”
“Heh… kenapa mendadak sok ingin tahu begitu? Aku juga punya privasi yang tak harus ku bagikan padamu.”
“Aku hanya bertanya_”
“Itu termasuk Kepo, dan kepo itu tak baik!” sergah Dafa pada kakaknya itu.
“Kau mulai berani padaku? Kau sadar aku siapa?”
“Apa… Siapa? Selalu saja mengancam dengan kata-kata itu. K-kau fikir, aku sangat takut kehilanganmu? Padahal selama ini kau yang mencariku.” Dafa bahkan menjulurkan lidahnya saat itu.
“Dafa Alexander!” Sayangnya nama Damares tak tersemat dibelakang nama Dafa saat itu, tapi Dafa tak pernah mempermasalahkannya selama ini.
__ADS_1
Dafa menyipitkan mata, tangan dengan hpnya itu menjulur pada dady seperti ia sudah akan memberikan hpnya saat itu juga. Dady yang tampak mulai senang, lantas mengulurkan tangan pada Dafa untuk meraih hp itu.
“Taraaaa! Aku bohong. Biarkan saja kau penasaran dengan urusan pribadiku, karena jika seperti itu kau akan selalu memperhatikanku.” Dafa kembali menjulurkan lidahnya dan langsung berlari dari ruangan dady saat itu.
“DAFAAAA!!!” geram dady mengepalkan tangan hingga semua otot tangannya kelihatan.
***
“Senengnya yang sempet di godain semelam,” sindir bu Dona pada Meera yang masih duduk tenang di kursinya saat itu. Padahal Meera sedari tadi tak membuat ulah apapun pada mereka semua, apalagi ia masih dalam keadan mengantuk saat ini.
Meera terpaksa membuka mata saat itu untuk menjadi pendengar yang baik dengan segala ocehan bu Dona padanya. “Ibu sehat?” tanya Meera dengan santainya.
“Maksud kamu, saya sakit?” sergah bu Dona yang tak terima dengan yang diucapkan Meera padanya.
“Ya, kali aja agak gimana gitu. Soalnya aneh ketika datang mendadak dan langsung melabrak saya seperti ini. Ada apa?” Meera begitu lembut seolah bertanya denga salah satu muridnya.
“Saya Cuma mau bilang, Bu Meera itu dinikahi tuan Louis hanya sebagai pengasuh Sean, jadi ngga usah gede kepala.”
“Terus?”
“Segala macem temen suaminya digodain, abis kegoda di dorong masuk kolam renang. Biar apa? Biar kelihatan jaga diri dimata semua orang disana, dan cari perhatian semua orang?”
“Ibu kenal pria itu? Jika iya ibu kenal, mungkin ibu adalah teman yang ingin membelanya meski dia salah. Tapi, kenapa ibu yang melabrak saya, kenapa bukan istrinya?” tanya Meera yang merorehkan senyum miring padanya saat itu.
Bu Dona terkesiap, ia diam seketika membisu tak mampu menjawab apa yang diutarakan Meera saat itu. Wajahnya saja sudah langsung gugup dan pias apalagi ketika beberapa orang memperhatikan mereka berdua disana.
“Saya memang tak akrab dengan banyak orang, tapi saya sendiri tahu jika bu Dona tak ada disana, Tahu kabar darimana, Bu? Cepet bener?” goda Meera yang semakin membuat tenggorokannya tercekat untuk bicara. Meera bahkan melirik tangan bu Dona yang tampak mengepal saat itu, tapi bukan marah melainkan seperti ia tengah terancam dan ketakutan.
Untung saja dalam semua ketegangan itu bel berbunyi, dan mengaburkan semuanya. Meera langsung turun dari kursi dan memakai sendalnya saat itu untuk berjalan menuju Sean, namun langkahnya terhenti sejenak.
"Saya punya batasan dengan siapapun yang dianggap teman oleh suami saya, dan saya tahu mereka semua. Tapi yang saya tahu, dia bukanlah sahabat dady Louis Alexander Damares. Harusnya Anda juga tahu jika mereka adalah rival selama ini mengingat posisi suami Anda di kantor suami saya."
__ADS_1
Meera langsung meninggalkannya untuk menemui Dafa.