
Dady Louis tengah duduk dengan begitu tenang saat ini didepan laptopnya. Tatapannya begitu fokus pada semua data dan laporan akhir bulan yang ada, apalagi dengan perusahaannya yang tengah naik saat ini dan semakin memiliki banyan anak cabang dimana-mana.
Tak hanya itu, Dady juga tengah menunggu laporan mengenai Ane saat ini dengan kuliah dan Koas yang harusnya sudah berjalan bersama teman satu fakultasnya. Namun, rupanya Ane sendiri belum memiliki kesiapan apapun untuk terjun di lapangan. Tak bisa dipaksa, karena semua ini berhubungan dengan nyawa manusia hingga mau tak mau Ane harus ulang semua mata kuliah yang ada.
“Kau tak pernah menyerap ilmu mu?”
“Kak, maaf. Ane selama ini ngga fokus karena kefikiran Sean, jadi_”
“Sean urusanku, dan bahkan kau tak pernah menengoknya selama ini.”
“KAaaak!!”
“Tak perlu hubungi hingga semua selesai dan kau masuk Koas.” Dady langsung menutup teleponnya sepihak tanpa menunggu Ane melanjutkan pembelaannya.
“Tuan, saya memiliki sebuah laporan dari cabang daerah.” Dafa masuk dan duduk tepat di depan Dady saat ini. Ia mendapatkan kabar jika ada armada pengiriman yang membutuhkan uluran tangan dari petinggi perusahaan Logistic yang dipimpin Dady saat ini.
Ya, pengiriman tak hanya ekspor impor ke luar negri, tapi juga di Indonesia dan bercabang dimana-mana. Kabarnya salah satu kurir mengalami musibah akibat overload dari barang yang harus ia kirim sementara kendaraan yang ia miliki tak kuat lagi dipaksakan menjalankan tugas dengan cepat.
“Motornya terbakar ketika membawa barang. Untung saja ia masih bisa menyelamatkan diri dan menjatuhkan semua barang,” ucap Dafa dengan segala informasi yang ada.
Dady amat prihatin dalam semua kejadian ini, tapi ia terenyuh ketika melihat video ketika sang kuris masih bisa tersneyum dengan segala musibah yang ada. Pasalnya, ia masih bisa menyelamatkan semua barang yang ia bawa dimotornya.
“Bagaimana dia saat ini?”
“DIa masih bertugas dengan baik, dengan motor pinjaman dari tetangganya.”
“Besok kau kesana, berikan semua yang dia butuhkan sebagai reward kerja kerasnya. Gantikan motor yang rusak dari perusahaan, dan aku menambah untuk uang saku sebagai pernghargaan,” titah Dady.
“Tapi, itu bukannya akan menimbulkan kecemburuan social pada kurir yang lain?”
“Jika mereka mau yang seperti itu, mereka bisa membakar motor masing-masing didepan mataku saat ini.” Dady memang selalu lugas dalam bicara. Hingga untuk yang tak paham atau baru mengenal, maka ia akan menganggap dady Louis sebagai arogan dan sulit diajak Kerjasama.
__ADS_1
“Bagaimana Sean?” tanya Dady akan putranya.
“Baik, dia masuk dan belajar seperti biasa. Bahkan tampak sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Hanya saja nyonya,”
“Kenapa dengan Meera?” Dady langsung menoleh ketika Dafa menyebut nama istrinya.
Dafa menceritakan apa yang ia ketahui mengenai Meera tadi pagi yang diolok temna dan beberapa wali murid yang lain dengan status barunya. Tapi Meera hanya berkata jika ia wali sah Sean mulai hari ini dan tak mengatakan mengenai pernikahannya dengan Dady hingga mereka semua hanya menganggap Meera sebagai pengasuh Sean saat ini.
“Apa mereka terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain hingga tak bisa berfikir dengan benar, hingga tak bisa mendeskripsikan arti wali sebenarnya?” omel Dady datar.
“Entahlah, bahkan mereka fikir nyonya memilih menjadi Baby sitter Tuan kecil agar… Agar bisa mendekati saya,” imbuh Dafa menggaruki kepalanya.
Saat itu Dady langsung menyipitkan mata dan mengatupkan bibir tanpa berkata apapun lagi. Bisa-bisanya ia yang menikahi, justru Dafa yang menjadi bahan shiper para penonton yang ada.
“Kau suka?” tanya datar dady.
“Apaan? Kenapa aku harus suka di ship dengan Meera,”
“Mana ada? Ah, sudahlah. Aneh,” tukas Dafa yang mulai kesal pada ekspresi dady padanya.
“Kau bilang aku aneh? Apa yang lebih aneh dari ini?”
“Tidak… Kau aneh,” balas Dafa yang beralih kemudian pergi dari ruangan itu menghindari semua cecaran Dady padanya.
Sementara itu Meera saat ini tengah membereskan beberapa bekas perlengkapan yang ada di meja kerjanya. Ia membereskan semua berkas karena pasti akan ada yang menggantikannya setelah ini. ia memasukkan semua yang ia rasa penting didalam sebuah kardus yang ia minta pada ibu kantin sebela sekolahnya.
“Bu Meera,” sapa sang kepala sekolah dengan begitu ramah padanya.
“Ya, Bu.” Meera langsung berdiri membungkukan tubuh padanya saat itu. Ia juga tak lupa mengucapkan terimakasihh karena tela membimbingnya dengan baik selama bekerja disana.
“Dan… Tak ada yang mencari saya, bukan?” tanya Meera mencemaskan ayahnya. Ia takut jika akan membuat keributan disana dan membuat trauma beberapa murid bahkan orang tua yang ada.
__ADS_1
Meski selama ini ia tahu ayah tak pernah perduli padanya, tapi bisa saja ia kehilangan dan melakukan berbagai cara agar dapat menemukan Meera secepatnya.
“Tidak, Nyonya.” Panggilan dari kepala sekolah seketika membuat meera gugup dan melarangna memanggil demikian.
“Jangan begitu, Bu. Saya tak enak,” ujar Meera, yang lantas membuat kepala sekolah tersenyum gemas pada kerendah hatian Meera padanya.
Ibu kepala sekolah itu memang merangkul Meera sejak datang kesana, dan bahkan tak segan memberi nasehat bahkan membantu kebutuhan Meera selama bekerja. Beliau membimbing Meera hingga menjadi seorang professional saat ini. Antara kaget dan senang ketika Bu Kepala sekolah mendengar pernikahan Meera dengan ayah dari salah seorang muridnya.
“Tak ada apa-apa, kan?” tanyanya dengan segala perhatian yang ada.
“Tidak, Bu. Kami sama-sama siap, saling nyaman dengan usia yang sama-sama sudah dewasa,” jelas Meera, yang kemudian membuat Bu kepala sekolah mengela napas lega.
“Tapi Meera diam saja ketika dihina,”
“Biarkan mereka bicara sesuka hatinya. Tipe seperti mereka adalahh tipe pencari kesalahan orang lain dan akan terus mencari celah meski beberapa kali dijelaskan,” imbuh Meera. Ia berusaha tenang dan mengalihkan topik pembicaraan dari itu semua hingga teriakan Ocean kembali terdengar ditelinganya yang peka.
Meera segera pamit dan berjalan cepat menuju dimana suara sean berada saat ini, dan rupanya lagi-lagi Sean tengah dibully oleh orang yang sama.
“Momy,” Sean langsung menghampiri dan memeluk Meera dengan wajah takutnya. Saat itu tatapan Meera langsung tajam pada Bu Dona dan putranya.
“Belum puas, Bu? Padahal ibu sendiri tahu jika Ocean adalah anak dari bos suami ibu sendiri.”
“TAkut…” Bu Dona justru mengolok saat ini. ”Suami saya orang berpengaruh dan pandai mencairkans suasana. Lagipula, saya bicara apa adanya bahwa sebagai ibu saya akan membela anak sendiri.”
Tanpa rasa takut, itulah ekspresi bu Dona saat ini pada Meera dan anak bos suaminya. Satu kali aman, membuatnya merasa tak lagi memiliki ancaman dan merasa akan terus aman selamanya.
“Bu, jika saat itu saya tak bisa mengambil sikap karena terkendala status saa sebagai guru disini, maka sekarang tidak.” Meera mengikat rambut panjangnya saat itu dan membalas ucapan bu Dona padanya.
“Maksudnya? Anda mau lawan saya, sebagai apa?”
“Sebagai Momynya. Kita bela anak kita masing-masing, dan seberapa kuat anda melawan saya.” Meera tampak begitu serius dan marah saat ini, ia juga cukup membuat bu Dona dengan kuat menelan salivanya.
__ADS_1
“WOW… Angry Mom,” kagum Sean mendongakan kepala menatap Momy yang luar biasa baginya saat ini.