Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Panda untuk Adik Baby


__ADS_3

Dafa dan Sean tiba di sebuah Mall besar, mereka masuk bergandengan tangan dengan perasaan begitu bahagia seperti dua anak kembar yang baru dibebaskan orang tua mereka untuk main sepuasnya. Dafa segera mengajak Sean naik menuju wahana bermain yang cukup ramai karena saat itu juga Week end. Dafa cukup mengingat ingat agar Sean tak boleh terlalu lelah dengan segala aktifitasnya.


“Atau… yang penting kita bermain sepuasnya. Yeeee!!!”


“Yaeeeeey!!” Dafa dan Sean berlari masuk wahana bermain itu dengan wajah yang begitu bahagia seakan terbang ke surga dunia.


Dafa membelikan tiket seluruh wahana untuk mereka berdua. Bermain Trampolin, Outbond, mandi bola bersama dan Dafa sama sekali cuek meski mereka semua orang tua melihat tingkahnya disana yang seperti anak kecil. Tak apa, yang penting Dafa bahagia saat ini disela perasaannya yang begitu kuat berusaha melupakan bayang-bayang Meera.


Ya, bagaimana sulit lupa? Dady saja yang ditinggal meninggal dan tak pernah bertemu lagi itu begitu sulit melupakan istrinya, bagaimana dengan Dafa yang bertemu setiap hari, bertegur sapa dan bahkan kemanapun nyaris selalu bersama.


Jika dibayangkan pengorbanan Dafa saat itu, sebenarnya cukup luar biasa, bukan?


“Loncat… Loncat! Hiyaaaa!!!” Sean terjatuh dan terlentang ketika kesimbangannya sulit ia jaga dirampolin super luas itu. Dafa yang melihat Sean ikut berbaring disebelahnya, lalu melihat langit-langit yang bergambar bintang itu bersama.


“Capek?” tanya Dafa, tapi Sean menggelengkan kepala. Ia justru tegak dan menggandeng Dafa keluar setelahnya menuju wahanya permainan yang lain, dan entah kenapa ia mengajak Dafa menuju mesin capit berisi boneka panda didalamnya.


Sean meminta Dafa membelikannya beberapa koin, kemudian ia mencoba dan terus mencoba mengambil boneka panda yang hanya terus berpindah dari tempatnya. Tampak perjuangan keras Sean saat itu demi si panda, membuat Dafa tak tega melihatnya.


“Kau mau itu?” tanya Dafa, dan Sean menganggukkan kepalanya.


“Untuk adik Baby,” celetuk Sean saat itu, yang rupanya sudah begitu menginginkan adik dari sang Momy. Mungkin ia berharap jika adiknya nanti adalah perempuan, yang cantik dan akan bisa ia lindungi. Entahlah, ia masih kecil dan belum memiliki beban hidup saat ini.


“Paman bisa membelikannya jika kau mau,”

__ADS_1


“No…. Ini buat adik Baby, dan Sean halus bisa.” Sean semakin serius, dan bahkan sesekali berdoa memejamkan mata untuk mencapit bonekanya.


Dan jika dihitung berapa dana yang sudah Dafa keluarkan, sebenarnya sudah bisa untuk membeli satu buah boneka panda berukuran sedang. Namun, ia tetap setia menunggu Sean dengan segala perjuangan yang tengah ia perjuangkan saat ini. Sampai Dafa duduk di lantai dan mengantuk menunggunya saat itu.


“Yeee!! Horeee…. Horee!” Sean bersorak kegirangan ketika apa yang ia ingin saat itu ia dapatkan. Ia berlari berkeliaran sangking bahagianya saat itu dan Dafa lagi-lagi hanya diam menatapnya ikut senang.


“Kasi Momy,” pinta Sean, dalam artian ia mengajak Dafa menemui Momy dimanapun ia berasa. Dan ketika itu, hembusan napas Dafa begitu berat rasanya.


“Kita makan dulu, okey?” bujuk Dafa, dibalas anggukan keponakannya itu. Mereka turun menuju sebuah Restaurant yang ada disana, dimana Dafa dan Meera sering mengajaknya makan bersama.


Sementara itu di hotel sana dua sejoli masih dikuasai oleh rasa cinta dan Hasrat yang semakin panas. Dady selalu tak tahan dengan godaan tubuh molek istrinya itu selalu ingin lagi dan lagi seolah tak bisa berhenti. Ia seakan tengah memanfaatkan waktu libur dengan begitu baik untuk memanjakan cinta mereka yang mulai tumbuh seiring berjalannya waktu bersama.


Apalagi Dady, yang baru sadar dan bisa mengungkapkan semua perasaannya malam tadi untuk Meera. Ketika ia sudah mulai bisa membedakan dan menghempas bayangan yang selalu datang menghampirinya ketika ia bersama Meera, namun terkadang Rose yang samar Hadir di depan mata.


“Jika kau tak bisa, biar aku saja mengambil alih kembali permainan ini.” Dady merasa tak tega melihatnya saat itu, karena ia memang tak ingin Meera tersiksa karenanya dan Clyton yang begitu besar didalam sana.


“Harus mulai terbiasa, Dady. Meera tak hanya ingin dipuaskan, tapi juga harus bisa memuaskan agar dady_”


“Apa? Kau takut aku melirik yang lain?” Meera mengangguk hingga dady tersenyum kembali padanya saat itu. Ia meraih tengkuk Meera dan memanguut bibirnya untuk sedikit meredam semua rasa sakit yang ada, namun mulut cerewet Meera tak hentinya terus mengeluarkan suara indahnya.


Suasana semakin panas ketika Meera mulai bisa bergerak dengan ritme pelan, perlahan dan ia semakin mempercepat gerakannya saat itu. Suara keduanya bersahutan memenuhi ruangan besar kamar hotel yang besar dan kedap suara, hingga akhirnya mereka meraih puncak bersama.


Meera tergelepar tak berdaya dan lemas diatas ranjang itu dan dady ikut berbaring memeluknya dengan begitu erat hingga panggilan masuk. Dafa memanggil, dan ia memberitahu Dady ketika ia bersama Sean menuju kesana sekarang juga. Meera yang mendengar itu seketika berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya saat itu juga.

__ADS_1


“Mom… Ikut, Mom!” pekik Dady yang menyusulnya dibelakang saat itu.


Sean dan Dafa sudah tiba di hotel, mereka memencet bel beberapa kali dan Meera tak kunjung membukanya saat itu hingga Dafa kesal namun hanya bisa menghembuskan napas kasar dari mulutnya. Ia kasihan melihat Sean yang Sudah gundah gulana karena rindu dengan Momy nya.


Dan percayakan jika dady hanya ingin mandi bersama dengan istrinya? Otor sih ngga percaya. Pasti ada udang dibalik bakwan saat itu.


Hingga beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka, dan Meera langsung menyapa sang putra dan memeluknya dengan begitu erat. “Momy baru mandi?” tanya Sean yang mencium rambut basah Meera saat itu, dan harum sekali aromanya.


Meera tampak canggung saat itu untuk menjawab pertanyaan sang putra padanya. Tapi saat itu Sean mengalihkan pertanyaan ketika memberikan panda pada Momy dengan begitu bangganya.


“Dia bermain mesin capit dan berusaha memberi itu pada… pada adiknya,” jawab Dafa jujur apa adaya, membuat Meera semakin gugup tiada tara.


“Too adik Baby,” ucap Sean saat itu.


“Kau sudah sangat menginginkannya?” tanya dady yang keluar dari bilik kamarnya saat itu, sudah rapi dan tampak begitu segar karena baterainya Sudah terisi sempurna.


Sean menganggukkan kepala berkali-kali dengan mata penuh harap untuk keduanya. Ia benar-benar siap untuk menjadi seorang kakak yang baik untuk adik Babynya yang tengah dalam proses pembuatan oleh pabriknya saat ini.


Dady tak menyiakan semua kesempatan yang ada ketika Meera dan Dafa tengah mengasuh putraya. Ia meraih laptop yang ada diatas meja dan mulai melakukan pekerjaan seperti biasa dan fokus disana.


“Bisakah kau fokus dengan anakmu? Ini hari libur,” tegur Dafa yang yang menegur kakaknya saat itu.


Dady langsung diam dan menghentikan pekerjaan seketika. Ia diam, dan kepalanya menoleh Dafa memberinya tatap tajam dan begitu mematikan seperti siap menerkamnya kapan saja. Datar, tapi begitu mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2