
“Kau dapat teman?” tanya dady ketuka dalam perjalanan akan pulang.
“Teman apa? Circle dady ngeri semua. Ngga ada pertemanan lain?”
“Apa aku bilang jika mereka temanku? Aku hanya bilang mereka adalah kolega bisnis, belum tentu mereka adalah temanku.”
Dady menjelaskannya dengan begitu santai pada Meera. Sementara Meera hanya diam mengerenyitkan dahinya saat itu penuh tanya. Bagaimana bisa mereka yang bahakan seakrab itu tak ada satupun yang berteman akrab dengannya. Bahkan mereka pulang saja setelah dady memberi sebuah bogeman renyah pada pria yang sempat mengganggu Meera di pesta barusan.
“Apa yang mereka katakan padamu?”
“Dady pernah ingin menikah, tapi Sean tak mengizinkan. Dia wanita yang tadi?”
“Dia yang ingin menikah denganku, aku hanya membawanya pada Sean saat itu. Dan sayangnya, dia terlalu berharap lebih pada hubungan kami.”
Meera hanya mengangguk mendengar penjelasan itu. Dan untuk yang lain, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri tentang kebenaran yang ada. Atau meskipun iya, Meera sejak awal juga sudah bertekad untuk mengabdikan diri pada suaminya saat ini dan berusaha meraoh cintanya meski sudah tak utuh lagi dengan Sean sebagai pelipur laranya saat ini.
Ya, setidaknya sejak awal Meera sudah memenangkan hati Sean dibanding dari mereka semua yang sempat mengejar cinta suaminya.
“Dady, lapar.” Meera memegangi perutnya saat itu. Mereka memang belum makan karena dady terburu-buru meraih tangan Meera untuk pergi dari sana. Ya, kita tahu sekali bagaimana cemburuan dady pada istrinya.
“Kau mau makan apa? Ini belum terlalu malam, jadi_”
“Itu disana ada pecel ayam. Sambelnya enak deh, mampir yuk?” ajak Meera sedikit memaksa.
Pada dasarnya dady tak pernah memilih ia akan makan dimana sekalipun dipinggir jalan, namun kali ini ia bersama Meera yang masih ia sembunyikan dari lingkungannya. Apalagi tak kurang kemungkinan jika ada orang yang tahu Meera disana.
“Tidak, kita makan di Restaurant biasa saja. Atau aku akan bungkuskan untuk kita makan di rumah.”
“Tapi kalau dimakan di rumah_”
__ADS_1
“Meera_
“Ya, Sayang… Bungkus aja,” pasrah Meera pada suaminya.
Mendengar kata sayang itu mmebuat Dady menahan senyum saat ini. Ia segera memarkirkan mobil kamudian keluar untuk memesankan makanan untuk istrinya tercinta yang menunggu sembari bermain hp di mobilnya saat itu. Entahlah, ada saja kecurigaan Meera jika dady Louis berbuat baik padanya seolah ia akan meminta upah dengan semua itu nanti.
Dady yang berjas rapi itu masuk ke kedai kaki lima yang cukup ramai itu dan memesan makanan untuk Meera. Ia menunggu dan duduk disana hingga makanan itu selesai dibuat, dan lagi lagi menghubungi Shinta ketika Meera tak ada.
“Bagaimana? Bukankah operasinya hari ini?”
“Ya, Tuan… Maaf saya belum sempat mengabari sejak tadi. Operasi baru saja selesai TUga puluh menit yang lalu karena beberapa macam kendala yang ada, namun bisa ditangani dengan baik. Kami telah memotong usus yang rusak jaringannya, kemudian membuat stoma di perut untuk menggantikan saluran pembuangan. Hanya tinggal menunggu hasil lab, apakah kanker itu parah atau tidak, dan bagaimana kemoterapinya.”
Shinta menjelaskn semuanya dengan detail saat itu, untuk saja dady bukan tipe orang yang mudah mual dengan masalah yang seperti itu. Ia hanya sedikit memijat kening mendengarnya.
“Semua administrasi sudah kau urus? Apa itu cukup?”
“Cukup, Tuan. Semua sudah saya bayarkan, dan lunas.” Shinta bahkan menyebutkan masih banyak sisa dari yang dady transferkan padanya kemarin. Tapi, dady hanya meminta Shinta untuk menyimpan dan membagi untuk keperluan lainnya.
“A-ayah?” lirih Meera yang mulai merinding disekujur tubuhnya, bahkan tangannya gemetar hingga hpnya jatuh ke lantai mobil saat itu.
Ayah Meera berkacak pinggang bak preman menatap mobil mewah yang ia naiki saat ini, membuat Meera semakin ketakutan karenanya. Ia amat takut jika ayah datang dan melihatnya saat itu bahkan mebawanya pergi dari dady. Meski ia tak tahu bagaimana ibu, tapi ia tak menampik jika memikirkannay setiap hari.
“Da-dady… Dady cepet, Dad. Meera takut,” Meera justru merasa sesak ketika terpaksa membungkuk dan berusah meraih hpnya saat itu. Kenapa begitu sulit dalam keadaan genting saat ini, sekaan hp itu meghindari Meera dan meloncat kearah berlawanan darinya.
“HAisshh… Ayolah!” lelah Meera dengan segala rasa takutnya.
“Arrrrrghh!!!” Meera memekik sejadi-jadinya ketika wajah sang ayah saat itu menempel di jendela mobil. Jantungnya serasa akan copot, bahkan ia mundur seketika saat melihat mata jahat yang selama ini membencinya begitu dalam.
“Dady,” tangis Meera tersedu-sedu, ia memejamkan mata dan menutup telinga membungkuk tak lagi mampu mengangkat kepalanya saat itu.
__ADS_1
Kreek! Pintu dibuka dan sebuah tangan meraih tubuhnya. Meera terlonjak kaget dan meraung sejadi-jadinya saat itu dengan wajah yang begitu pucat dan berderai air mata.
“Aaargghhh!! Lepass… Lepasin! Jangan ganggu Meera lagi, Ayah!”
“Hey, Meera… ini Louis,” panggilnya dengan begitu lembut. Meera yang membuka mata langsung menatap dan memeluknya dengan erat saat itu juga. Ia nyaris gila jika dady tak segera datang menghampirinya.
“Kau lihat dia?” tanya dady, dan Meera mengangguk menunjuk jendela yang ada dibelakangnya saat itu dengan tangannya yang gemetar dan dingin, bahkan ia masih sulit menahan diri dan airmatanya yang terus mengalir dengan begitu deras.
Dady meraih wajah Meera saat itu dan menatapnya dengan begitu lekat. “Usap air matamu, aku tak mau mengusapnya jika kau menangis hanya karena dia.”
“Dady… Hikksss!” Meera berusaha menuruti perintahnya meski sulit.
“Ingat, kau baru saja ku acungi jempol ketika mampu memberi hukuman pada orang yang merendahkanmu, dan kau berani meski kau tak mengenalnya.”
“Tapi ini beda…” Meera masih dengan air matanya.
“Tak ada bedanya. Setelah kau menikah denganku, dan aku membawamu darinya, maka kau adalah milikku dan kau lepas darinya. Bukankah itu perjanjiannya?” Meera menganggukkan kepala dan mengusap air mata dengan tangan mungilnya saat itu.
Dady benar-benar keras dan konsisten dengan ucapannya yang tak mau mengusap air mata Meera. Ia hanya menuduk sejenak dan meraih tisu untuk Meera saat itu dan meraih hpnya yang jatuh. Bahkan dady membuka hp itu dan memeriksa semua isi didalamnya, bahkan menghapus laman social media milik Meera.
“Dady…” rengek Meera dengan ketegasan suaminya.
“Kau bisa buat yang baru dengan namaku dibelakang, itu akan lebih aman. Dia masih bisa menghubungimu dari sini,”
“DIa ngga_”
“Dengar dan jalankan… Aku tak mau kau menangis lagi setelah ini jika bukan karenaku.”
“Egois!” kesal Meera yang berusaha mengeringkan air matanya saat itu juga, menghela napas mengatur wajah agar Sean tak curiga terjadi apa-apa padanya.
__ADS_1
“Sudah?” tanya dady yang bersiap dengan setirnya.