
“Maa, mama!!” panggil Ane yang sudah tiba di rumahnya saat ini. Rumah baru yang lebih sederhanay dari rumah sebelumnya karena telah disita oleh Bank.
Ia merasa dendam sekali pada Dafa saat ini karena telah berani mengusirnya dari rumah itu padahal dady diam saja selama mereka disana. Ia takt ahu jika semua pekerjaan Dafa adalah titah dari kakaknya.
“Ada ada apa, Ane? Pualang kampus teriak-teriak,” omel oma Vani pada putrinya itu yang menurutnya terlalu bising. Ia bahkan langsung keluar dari kamarnya saat itu juga untuk menemui putrinya tercinta.
Ane langsung memeluk mamanya dan mengajak duduk disofa mereka untuk bicara berama.
“Ane baru paham, kalau pernikahan Kak Louis dan wanita kampungan itu ternyata masih dirahasiakan public.”
“Ya, emang bener kan? Kamu ngga tahu?” tanya Oma, dan Ane menggelengkan kepalanya saat itu. Ia kira memang sengaja diam-diam hanya karena tak ingin mewah, apalagi itu adalah pernikahan kedua bagi kakak iparnya.
“Terus, kenapa kamu heboh dengan itu semua? Jangan cari gara-gara kamu, ya.” Oma Vani mengancam putrinya saat itu agar tak berbuat macam-macam pada mereka kali ini. Ia tahu bagaimana Louis, yang ketika sudah mengusir dari rumah itu tandanya mereka akan benar-benar selesai.
__ADS_1
Andai Oma Vani ada ketika pengusiran itu, pasti ia akan memohon pada Rafa agar tak keluar dari sana. Dan kini, mereka luntang lantung hanya mengandalkan sisa saham dan pembagian yang diberikan Dady Louis pada keduanya. Uang kuliah Ane di stop, tunjangan lain juga tak dady berikan lagi setelah ini.
“Andai kamu tak gegabah, Ane.”
“Mama bisanya nyalahin Ane doang, keselin!” geramnya yang kemudian meninggalkan sang mama ditempatnyya saat itu dan berjalan menuju kamar kecilnya. Untung saja mobil tak mereka ambil karena itu adalah hadiah dari sang kakak untuknya meski sudah ia tukar tambah berkali kali dengan berbagai gaya yang berbeda.
“Kenapa di rahasiakan? Ada apa, dan kenapa jika semua orang tahu tentang pernikahan mereka?” Ane penasaran, dan entah apa yang akan ia lakukan setelah ini untuk mereka semua.
*
Ya, telat. Padahal sudah seminggu dan ia bahkan sudah sempat membeli sebuah alat tes kehamilah untuk mengecek apakah ia hamil atau tidak. Dan nyatanya terjawab bahkan sebelum alat itu ia coba gunakan.
Padahal dady sebentar lagi datang, tapi ia tak bisa menyambutnya didepan. Tak biasanya ia sesakit ini bahkan sampai tak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
“Meera?” panggil dady pada istrinya. Ia kaget ketika masuk ke kamar dan suasana gelap gulita. Dady nyaris bertanya ada masalah apa hari ini, karena biasanya jika seperti itu tandanya Meera tengah ngambek padanya.
Klek, lampu ia hidupkan dan Meera segera melirik padanya saat itu juga.”Dady sudah pulang? Maaf, Meera sakit perutnya.” Meera perlahan duduk saat itu untuk meminta pelukan hangat dari sang suami.
“Kau kenapa?” tanya dady yang masih berdiri sementara Meera memeluk pingganya. Dady bahkan memberi perhatian dengan mengusap rambut Meera yang ia rasa berkeringat dibagian kulit kepala. “Sesakit itukah?” tanya dady, dan Meera menganggukkan kepalanya.
“Maaf, bulan ini negative lagi. Kita belum bisa berikan adik baby untuk Sean dalam waktu cepat,” sesak Meera saat itu, padahal ia sudah berharap cukup banyak beberapa waktu ini.
Dady tak berkata apapun. Ia terus mengusap rambut Meera dan menunduk untuk sekedar mengecup keningnya saat itu dengan mesra, kemudian ia pamit untuk membersihkan dirinya yang penuh keringat. Bahkan ia sama sekali tak meminta Meera untuk mencarikan pakaiannya saat itu.
Dan siapa sangka, dady justru membaringkan diri dibelakang Meera setelahnya. Dady memiringkan tubuh, kemudian tangannya menelusup kebawah selimut untuk membantu Meera mengusap perutny. Perhatian kecil, namun terasa pecah hingga membuat Meera bahagia tiada tara hanya dengan sepercik perhatian kecil dari suaminya.
“Dady, Momy… Oopppss!!” Sean menutup mulutnya sendiri saat melihat kemesraan kedua orang tuanya. Tatapan matanya tertuju pada tangan Dady yang tengah mengusap perut Momy saat itu, dan sebagai anak kecil, entah kemana arah khayalannya saat ini.
__ADS_1
“Yeeey!! Adik Baby!” pekik Sean kegirangan, dan ia tanpa pamit lantas keluar berlari dengan begitu riangnya.
“Kan, Dady… Sean salah paham tuh,” ucap Meera yang langsung merasa kasihan pada putranya saat itu. Pasti ia sudah amat menginginkan adik Baby hadir dalam keluarga mereka saat ini dan sudah memiliki harapan begitu besar dengan apa yang ia lihat barusan.