Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Kenapa bukan Aku?


__ADS_3

“Tu-tuan muda? Pa, dia?” Bu dona gugup bukan main dengan wajahnya yang mulai pias.


“Tuan Sean, adalah putra tunggal Tua Louis, Ma. Mama ngga kenal?”


“Hiiikksss!!” Napas bu dona seketika sesak mendengarnya. Ia tak mampu menatap anak itu lagi, apalagi baru saja dihina terus-terusan olehnya sebagai anak kurang normal. Apalagi melihat lirikan mata meera padanya.


Ia tak ingin berlama-lama disana dengan segala rasa malu dan bengeknya, lantas meraih tangan sang suami dan segera pergi tanpa meminta maaf pada mereka berdua. Itu saja meera lepaskan karena ia tak ingin membuat masalah lagi dan memikirkan sean saat itu.


“Nyonya, Saya Dafa, Asisten Tuan Louis untuk Sean.”


“Kenapa panggil saya Nyonya?” tanya meera kebingungan mendengarnya, apalagi banyak yang menyaksikan disana termasuk rekan sejawatnya.


“Maaf, Tuan yang memintanya. Mari, saya akan mengantar anda pulang sekaligus lewat disana,” tawarnya.


“Tapi, saya masih banyak kerjaan. Jadi, pulangnya masih nanti.” Balas meera sedikit canggung padanya.


Dafa Bramantyo, adalah Asisten pribadi Louis yang akhirnya menangani Sean. Ia cukup dekat dengan anak yang sudah ia anggap keponakannya sendiri itu, hingga louis mempercayakan sang putra padanya sebelum kehadiran meera.


Pria bertubuh tinggi dan tegap itu sudah bekerja hampir sepuluh tahun bersama Louis, hingga ia amat paham akan mereka berdua. Dan jika meera jadi menikah dengannya, meera bisa mencari info tentang calon suaminya itu pada Dafa.


Dafa meraih sean dan menggendongnya, ia membujuk pria kecil itu untuk pulang bersama, namun sean menggelengkan kepala dan meminta meera untuk segera pulang bersama meski mereka akan terpisah dijalan nanti.


“Momy,” panggil sean yang justru mengulurkan tangannya pada meera. Mau tak mau, meera menyambutnya saat itu dan membawa sean kedalam gendongannya.


“Momy belum bisa ikut sekarang, momy banyak kerjaan. Bagaimana jika… Jika nanti kita bertemu, dan momy main ke rumah sean?” Dan sean langsung menganggukkan kepala menjawabnya. Ia begitu antusias menjawab tawaran meera, meski meera sendiri bingung kenapa bisa mengucapkan itu semua.

__ADS_1


Hingga akhirnya dafa berhasil membawa sean pulang bersamanya saat itu juga.


Meera kembali ke dalam ruangan pribadinya dan mengerjakan beberapa data yang ada. Tanpa ia sadari beberapa rekan memperhatikannya saat ini.


“Oh, pantes dibela mati-matian tuh anak aneh. Rupanya dia deket sama keluarganya, apalagi tahu kalau anak orang kaya.”


“Kamu kenapa, Mir?” tanya meera padanya.


“Tak apa, hanya memperkirakan sebab akibat yang ada. Ngga akan ada asap kalau ngga ada apinya,” jawab mirna yang berubah sedikit ketus padanya. “Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, Meera. Nanti kalau jatuh, sakit.”


Ucapan itu membuat meera menghela napas panjang dan berat. Ia sesekali menyibak rambut yang jatuh menutup wajahnya, tapi enggan membalas apa-apa. Ia memilih diam tanpa menjelaskan, karena ia merasa jika semuanya akan percuma. Mereka akan terus mengorek kesalahan dan tak akan pernah bosan.


**


“Kak Louis, Ane datang bawa makan siang nih.” Ia adalah adik ipar louis yang Bernama Roxane, adik satu-satunya dari sang mantan istri yang terus mendekati louis selama ini, tapi ia tak pernah bisa mendekati keponakannya sendiri.


“Nanti kalau aku nikah sama kak louis, aku akan jadi nyonya yang berkuasa. Hihi, mereka semua akan menghormati dan tak akan pernah bisa membantah kata-kataki.” Begitu indah khayalan ane disana, padahal perasaannya tak pernah direspon sama sekali oleh sang kakak ipar.


Gadis yang masih berstatus mahasiswa kedokteran itu begitu ingin menjadi pengganti kakaknya untuk louis, bahkan ia sudah menyukai kakak iparnya itu sejak lama. Sejak SMA, ketika louis masih berpacaran dengan kakaknya. Pesona louis, wibawa dan semua tannggung jawabnya pada keluarga lantas membuat ane semakin tergila-gila meski tak pernah ada wasiat turun ranjang antara mereka berdua.


Louis yang baru saja selesai mengadakan rapat itu segera keluar dari ruangan pertemuan menuju ruangan pribadinya. Ia bersama sila, mengikuti dari belakang bersama beberopa dokumen yang ada ditangannya saat itu. Ia terdiam seketika saat melihat ane ada dan duduk di ruangannya.


“Ane?” panggil datar louis padanya.


Ane langsung menyambut dengan senyum dan berdiri menyambut sang kakak ipar saat itu juga. Ingin memeluk, tapi tangan louis menolak dengan berjalan maju meninggalkan ane yang menghampirinya.

__ADS_1


“Hiikkk!” Sila sampai tak kuasa menahan tawa melihatnya walaupun seketika mendapat tatapan tajam dari ane saat itu juga. Sila langsung sigap mengatupkan mulutnya.


“Kak Louis, ane bawain makan siang buat kakak. Kakak pasti belum makan,” ucap ane yang langsung bersikap seolah tak terjadi apa-apa baru saja.


Ane mendekat, duduk dihadapan louis untuk mempersiapkan makan siang mereka berdua. Louis berusaha untuk tak menolak dan menghormati adik iparnya saat ini. Mereka makan siang bersama disana, Sila lalu keluar meninggalkan mereka berdua menuju tempat kerjanya.


“Kau tak kuliah? Aku dengar seharunya se letinganmu sudah menjalani masa Koas?” tanya louis padanya.


“Ah, itu… Sebenarnya Ane juga udah mau koas, tapi ane kemarin kan sibuk urus mama sakit. Jadinya tertunda,” jawabnya, dan louis tahu jika itu semua hanya bohong belaka.


“Aku sudah menjalankan kewajibanku membiayai semua kebutuhanmu dan mama selama Rose tak ada. Dan kau hanya harus memberikan pencapaian terbaikmu sebagai bayarannya,” ujar louis yang kembali membahas semua amanat sang istri pada mama dan adiknya. Dan setidaknya louis bisa melepas tanggung jawab itu ketika ane sudah lulus dan mendapat pekerjaan sesuai dengan pendidikannya saat itu.


“Ah, kakak. Jangankan pencapaian, semua yang kakak inginkan juga akan ane berikan sebagai bakti ane pada kakak. Ane siap menjadi momy buat sean, dan mama begitu mendukung untuk_”


“Aku akan menikah,” ucap louis yang saat itu langsung membuat jantung ane berdegup kencang dan salah tingkah. Ia gugup, bahkan tangannya gemetaran saat ini.


“Tapi, kan, ane belum_”


“Dia adalah guru Sean di sekolahnya, dan bahkan sean sudah akrab memanggilnya Momy.”


Deegg!! Ane langsung membulatkan mata, dan tenggoorokannya bahkan langsung tercekat mendengar semua ucapan louis padanya. Kepala ane terasa langsung berbintang, dan terbang kea wang-awang ketika yang dimaksud oleh louis itu bukanlah dirinya.


“Siapa, Kak? Gurunya Sean? Guru sekolah, PAUD?” Ane berusaha memperjelas semua diantara semua bintang yang mengitari kepalanya.


“Ya, sepertu yang ku bilang tadi.” Louis tampak begitu santai dengan makanan yang mengisi penuh mulutnya. Ia merasa cocok dengan makanan itu meski tak begitu suka gadis yang membuatnya, dan ia akan tetap makan karena ia memang lapar.

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa bukan Ane? Siapa guru PAUD itu? SIAPA????” teriak ane dalam hati, dengan segala rasa kecewa dan sakit yang parah dihatinya. Patah, tanpa pernah tubuh subur seperti harapannya.


__ADS_2