
Semua orang lantar berkerumun melihat mereka berdua disana. Para wartawan berbondong bonding untuk kembali beradu skil terbaik mereka untuk mengambil foto Meera dan Dady Louis secara bergantian dan bahkan memberondong keduanya dengan berbagai macam pertanyaan bahkan tak jarang pertanyaan itu sedikit menjerumuskan.
Dady memilih diam, tetap pada pelukannya untuk Meera dan membawanya pergi segera dari sana. Ia mengedipkan mata pada Dafa dan Shila untuk mengambi alih acara itu dan mengeluarkan semua wartawan dari sana.
Dady membawa Meera kedalam sebuah ruangan yang nantinya akan menjadi ruangan pribadinya ketika ada di Gedung itu. Dady lantas meminta Meera untuk duduk di sofa dan mencari alat p3k untuk mengobati luka dilututnya.
“Siapa yang membawamu kemari?”
“Ane, dan Ar.” Meera menjawab apa adanya saat itu, sembari memperhatikan wajah ketika dady tengah mengobati lukanya. “Dady kenapa menghampiri Meera? Harusnya dady pergi membawa Sean dan_”
“Diam_”
“Maaf,” ucap Meera yang kemudian membungkam mulutnya saat itu. Hinga dady selesai dan ia duduk disamping Meera yang tengah sedih dengan keadaan mereka saat ini. Dalam hatinya lantas dipenuhi pertanyaan-pertanyaan bagaimana mereka kedepannya.
“Mereka live, dan langsung disiarkan di televisi. Aku tak yakin jika salah satu dari mereka mendapatakan foto wajahmu di lensa kameranya.” Bisa saja dady membayar mahal agar sang wartawan tak menyebarkannya saat itu, namun semuanya seolah sudah sangat telat dan memang tak hanya satu yang akan menyebarkan berita itu nantinya.
“Arrrgghh!” Ane memekik ketika mengetahui kenyataan jika dady justru memeluk Meera saat itu. Semua tak sesuai maunya, ketika ia meninggalkan Meera dan justru saling kecewa diantara mereka dengan apa yang telah ia rencanakan sebelumnya.
“Sudahlah, pasti akan ada huru hara setelah ini. Kau lihatkan, berita tentang kakakmu itu sudah menyebar kemana-mana. Jika perusahaan aman, pasti akan ada sesuatu yang lain menunggu mereka nanti.”
Ucapan Ar saat itu membuat Ane penasaran denga napa yang mereka sembunyikan. Kenapa mereka harus menikah diam-diam dan merahasiakan semuanya?
Memang Ane sempat kesal dengan Louis yang pernah begitu hancur dengan kematian sang istri hingga menutup hatinya rapat-rapat, tapi hanya dengan wanita itu ia dengan begitu mudah kembali membuka hatinya secara luar biasa. Padahal, Ane yang sudah mendekatinya sekian lama dan ia tak pernah menoleh sama sekali pada adik iparnya itu.
__ADS_1
Tapi Ana tak memungkiri jika ia takut saat ini. Ia amat takut ketika Dady mengetahui jika itu semua adalah ulahnya, dan pasti dady akan mengejar bagaimanapun caranya nanti. Meski Ar sudah berjanji akan melindunginya sementara, pasti dady tetap akan menemukannya.
Semua pesta selesai dan acara bubar. Namun sudah dapat dipastikan jika berita sudah melebar kemana-mana, bahkan mungkin banyak bumbu yang akan mengiring banyak opini dari berita yang mengalir nanti. Yang bahkan mereka dengan sigapnya membongkar video lama menganai dady yang menangisi mendiang istrinya dimasa lalu.
Saat itu, Dady, Dafa, Meera dan Shila tengah menonton berita itu di layar besar yang ada di ruangan mereka. Dafa hanya bisa menundukkan kepala dan meraup wajahnya dengan kasar, sementara Shila berusaha menenangkan sang nyonya dengan berita yang menyebar.
“Dafa, bawa Meera dan Sean pulang,” titah dady pada adiknya saat itu. Dan untuk sementara ia akan stay disana bersama beberapa anak buahnya untuk terus memantau situasi yang ada. Ia juga tak lupa segera menghubungi Shinta untuk terus mengawasi ibu, bahkan segera memindahkannya ke rumah pribadi yang telah dady sediakan untuk mereka berdua.
Sepanjang perjalanan Meera diam dengan Sean dalam pelukannya. Ia tengah memikirkan dady disana yang tengah berjuang keras demi mempertahankan dirinya setelah ini.
Dari siapa?
Yaitu dari seseorang yang memang selama Enam bulan lebih ini tengah mencarinya.
“Meera?” tatap ayah ketika melihat semua berita yang ada. Ia bahkan merebut hp itu demi memastikan jika itu benar-benar putrinya yang sudah sekian lama hilang tanpa jejak.
“Kau menikahi orang kaya tanpa seizinku? Luar biasa!” Ayah Meera tertawa keras dalam hatinya saat itu. Apalagi yang ia fikirkan selain semua kompensasi yang harus Ia terima sebagai wali dari Meera, ia bahkan sudah membayangkan berapa besar jumlahnya.
“Tapi kau tak akan bisa dengan mudah mendapatkan itu semua, Wan.”
“Apa? Kita akan tuntut dia jika tidak memberikan itu semua. Dia telah menculik putriku dan menikahinya tanpa izin, bahkan mungkin ibu Meera juga ada bersama mereka saat ini. Ia juga bisa menuntut mereka dengan gugatan ganda.
Ayah Ridwan tertawa terbahak-bahak membayangkan itu semua. Membayangkan seberapa besar yang akan ia dapatkan setelah ini dari semua kasus yang ada, karena ia tahu benar jika pemiliki JVT ekspres itu bukanlah pria sembarangan. Ia lantas pergi pada seorang rentenir untuk meminjam uang dalam jumlah banyak demi melancarkan aksinya nanti.
__ADS_1
“Kau yakin akan memenangkan kasus ini? Yang kau hadapi bukan orang sembarangan, Wan.”
“Tapi yang dia culik itu adalah istri dan putriku. Semua bukti lengkap jika hanya ingin menuntutnya saat ini.” Ayah Meera begitu yakin dengan semua itu dan mulai memasang badan untuk pertarungan mereka nanti.
***
Hari sudah pagi. Meera membuka mata dan saat itu taka da dady disampingnya. Ia hanya menghela napas berat, ia juga rasanya begitu malas bangun saat ini meski masih harus mengantar Sean ke Sekolahnya. Ia seperti lebih ingin ke kantor dady dan mengurus suaminya saat ini.
“Meera, kau sudah bangun?” panggil Dafa dari luar padanya.
“Ya, Mas. Sebentar lagi Meera keluar,” jawabnya. Mau tak mau ia segera beranjak dan membersihkan diri saat ini, sengaja berdiri dibawah kucuran air dingin showernya agar matanya segera terbuka dan bersiap untuk menghadapi semua yang akan datang padanya.
“Dady?” sapa Meera ketika sang suami menelponnya dipagi hari. Ia semangat, tapi juga tak mampu menjabarkan perasaannya saat ini.
“Jangan kemana-mana, tetaplah di rumah.”
“Sean? Dia harus sekolah,” ucap Meera.
“Bukankah Momy adalah gurunya? Lakukan, dan jangan menentang.” Meera terisak mendengar semua itu. Ia tak dapat menahan airmatanya lagi saat ini.
“Tuan Louis, kami dari keplosian datang kemari untuk memberi surat penangkapan untuk Anda atas penculikan pada nona Meera dan ibunya.” Suara itu terdengar jelas ditelinga Meera, dan tak mungkin jika itu semua pura-pura. Bahkan Dady langsung mematikan teleponnya pada Meera saat itu juga hingga membuat Meera semakin cemas dibuatnya.
“Dady… Dady jawab Meera, Dad! Dady, itu tadi siapa?” Meera memekik kuat memanggil suaminya saat itu, namun sama sekali tak ada jawaban. Ia berusaha menghubunginya lagi, namun tak ada yang mengangkatnya sama sekali disana atau sekedar memberi kejelasan baginya.
__ADS_1
“Tidak… Jangan. Dady!” tangis Meera semakin menjadi dibuatnya saat itu denga nisi kepala yang tak karuan rasanya.