Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
MUNAFIK!!


__ADS_3

Satu jam sebelum pemanggilan.


“Dimana pertemuan malam ini?” tanya dady pada Sila yang masih setia mendampinginya. Bahkan mereka sempat mampir ke hotel sebentar dan bergantian mandi disana.


“Tuan Yoshiba ingin menjamu kita di sebuah Restaurant jepang, Tuan.” Sila memberikan undangan online yang ada di tabnya.


Undangan untuk beberapa orang yang masuk kedalam serikat pengusaha ekspor impor. Dalam kata lain, banyak pula saingan dady yang akan datang kesana dan mereka akan bersama membahas pekerjaan dengan jalur yang sama pula. Hanya saja, dalam bisnis ataupun usaha pasti ada saja yang selalu ingin bersaing baik sehat maupun tidak.


“Kita segera kesana,”


“Baik, Tuan.” Tapi Sila berhenti sejenak untuk merapikan jas dan dasi dady saat itu.


Meski kadang masih sering terpana, tapi Sila benar-benar bisa menjaga hati. Makanya ia bisa awet bekerja hingga saat ini dan bertahan di dekat dady dibanding yang lainnya yang tak tahan dengan karisma pria mapan dan tampan itu.


Keduanya turun menuju loby hotel bersama. Mungkin jika yang tak tahu, mereka kan mengira ada sesuatu atau bahkan affair diantara keduanya. Ya, seperti bagaimana keadaan sekretaris dan bos seperti yang sering terdengar selama ini.


Naik mobil, dalam perjalanan sejenak dan Sila meminta dady untuk mampir membelikan istri tuan Yoshi sebuha buket bunga. Keturunan jepang itu memang suka jika disanjung, diberi oleh-oleh yang cantik untuk menarik hatinya. Hingga mereka tiba disebuah Restraurant jepang tempat mereka akan dijamu oleh pemilik acara.


“Selamat datang, Tuan Louis.” Istri tuan Yoshi yang bernama Iriana Yoshi itu menyambutnya secara langsung dan memberi penghormatan pada keduanya.


Sila membalas dengan ramah sembari memberikan buket bunga besar itu pada sang nyonya. Tersipu malu, senyumnya begitu manis dengan gingsul yang menghisi. Ia kemudian mempersilahkan dady dan Sila masuk kedalam dan bergabung dengan undangan lainnya.


“Tuan Louis,” sambut tuan Yoshi padanya, bahkan mempersilahkan dady duduk tepat disampingnya saat itu. Memang, dady memiliki pengaruh besar terhadap perusahaannya yang ada di Jepang.


Diantara semua yang menyambut, ada pula yang sinis melihat itu semua. Tapi dady tak ambil pusing dengan itu dan tetap menikmati semua jamuan yang ada.


“Maaf, saya tak minum alkohhol,” ujar dady ketika seorang pelayan datang membawakannya minuman.


“Maaf Tuan, saya lupa untuk_”

__ADS_1


“Tak apa, Tuan Yoshi. Tentunya cukup sulit untuk mengontrol begitu banyak tamu. Nikmati saja pestanya,” balas dady yang mengusap bahu tuan Yoshi saat itu.


Hidangan demi hidangan tersedia, dan mereka semua mulai menikmatinya. Sila disana ikut sibuk membantu nyonya Irr menjamu mereka semua, itu juga atas izin dady untuk menghormati pemilik acara.


“Sepertinya, Tuan Louis berusaha mengambil alih acara ini.”


“Maksudnya?” tanya Dady tanpa menoleh kebelakang. Hanya dari suara saja ia tahu siapa yang mengoceh saat ini.


“Ya, membawa sekretaris untuk mencari muka. Bahkan tak menghormati jamuan yang tuan Yoshi berikan,” celotehnya. Abrar, seorang pengusaha cargo saingan Dady selama ini. Mereka merintis ditahun yang sama, tapi pasang surut hingga akhirnya tertinggal jauh oleh dady yang dibantu mendiang istrinya.


“Tuan Ar, maaf. Saya yang teledor disini, dan memang selama ini kami yang harusnya memisah sejak awal untuk_” Ucapan terhenti ketika dady mengangkat tangannya.


“Tak ada yang perlu minta maaf disini, apalagi hanya demi seorang yang merasa jengah ketika melihat orang lain tampak special sedangkan dirinya tidak. Padahal, itu hanya sebuah kebiasaan. Atau, dia ingin diperlakukan dengan hal yang sama?” tatap dady menelengkan kepala dan senyum miringnya.


Semua tampak tegang disana, apalagi tuan Yoshi yang sepertinya tak enak hati karena ketahuan memperlakukan dady dengan cara yang berbeda dari mereka semua. Tapi yang disana sebenarnya tak pula mempermasalahkan apa yang terjadi saat ini.


“Ar, sudahlah.” Salah seorang tamu bersama teman wanitanya memekik dari arah lain padanya.


Dady melirik beberapa orang yang langsung menundukkan wajahya saat itu. Tak disangka, dady tahu semua kebiasaan mereka yang bahkan sudah memiliki bokingan wanita masing-masing setelah ini.


“MUNAFIK! Hanya karena tak terlihat, kau kira semua akan menganggapmu suci? Kau tak sesetia itu pada Rose. Dan dia_” Ar melirik Sila, mungkin menuduh affair diantara keduanya.


“Hey!” pekik Sila, tapi dady hanya tertawa renyah mendengarnya. Ia menggelengkan kepala dan tak mau menjawab lagi semua tuduhan yang ada saat itu.


Tuan Yoshi yang tak enak hati saat ini, dan ia memasang kecemasan diatara mereka berdua terlebih lagi pada dady. Ia lebih rela Ar yang keluar daripada dady saat ini.


“Hanya gara-gara ini,” ucap dady menggenggam satu gelas kaca kecil berisi minuman memabukkan itu. Sila sudah cemas dan menggelengkan kepala berusaha mencegah, namun dady justru meminumnya hanya dengan sekali tegukan.


“Tuan!” pekik Sila, dan tuan Yoshi meraup wajahnya dengan rasa kecewa pada diri sendiri.

__ADS_1


“Nikmati pesta kalian, aku permisi pulang.” Dady langsung berdiri dan membungkuk pada mereka semua untuk memberi penghormatan, terutama pada Abrar yang diam membisu disana tanpa sepatah katapun.


Dady keluar diiringi Sila yang selalu didekatnya. Ia mulai melonggarkan dasi dan kerah kemeja, dan matanya mulai meremang terhuyung melihat jalan. Lemah memang jika dady meminum alcohol seperti itu, hingga bahkan semua kolega begitu paham padanya.


“Tuan, saya yang menyetir. Saya antar pulang, ya?”


“Ke hotel, Sila.” Dady tak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu saat ini, apalagi jika Sean akan melihatnya.


Sila menurut, dan ia mengantar bosnya itu ke Hotel meski tertatih dan kesulitan memapah tubuhnya yang tinggi besar darinya. Sila bahkan mengantar hingga masuk ruangan, “Pergilah,” titah dady saat itu juga. Bahkan ia meminta Sila membawa mobilnya untuk pulang karena tak bisa mengantarnya saat ini.


Fikiran dady selalu melayang dan menerawang ketika mabuk. Ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini, apalagi hanya sendiri. Padahal saat itu ia segera mandi, bahkan keramas dengan air hangat agar semua efeknya menjadi semakin ringan. Tapi, rasanya seperti tak terjadi apa-apa padanya.


Hingga akhirnya dady meraih hp, dan ia segera menghubungi istrinya disana.


“Dady kenapa?”


“Kemari, aku membutuhkanmu sekarang juga.” Dady memerintah, dan saat itu Meera yang cemas segera meminta Dafa segera mengantarnya ke Hotel.


“Sebenarnya ada apa?” tanya Dafa penasaran.


“Meera juga kurang tahu, Mas. Dady seperti_ ah, ngga tahu. Meera ngga mau menebak-nebak,” balasnya membuang semua pemikran yang ada.


Hingga keduanya tiba di Hotel dan Dafa mengantar Meera ke kamar suaminya. Ia hanya penasaran dengan apa yang terjadi pada dady saat ini, dan memastikan jika pria itu baik-baik saja disana.


“Dady, ini Meera,” ketuknya pada pintu kamar. Padahal Dafa sendiri tahu kata sandi pintu itu. Beberapa kali dan bebepa menit menunggu hingga Meera semakin cemas disana dengan akral yang mulai dingin sangking cemasnya.


Kreek! Dady keluar. Ia hanya mengenakan handuk kimono dengan wajah yang mulai sayu. Tatapannya langsung tertuju pada Meera saat itu juga. “Dafa, aku titip Sean hingga besok pagi.” Dady menarik tangan Meera untuk masuk dan segera menutup pintu kamarnaya saat itu juga.


Dafa disana hanya diam mematung seribu Bahasa. Ia tak dapat berkata-apa-apa, selain hanya menghela napas panjang sepanjang-panjangnya. Apalagi ia melihat sesuatu yang membuatnya menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Sepertinya sudah tak tahan,” gumam Dafa, membalik badan lalu pergi dari sana.


__ADS_2