
Hari semakin siang dan saat itu Dafa datang menjemput Sean dan Meera. Mobilnya masuk ke tempat parkir sekolah dan ia duduk menunggu dengan pintu mobil yang ia buka sembari memainkan hpnya.
Tugas Dafa bisa dibilang mudah, tapi tanggung jawabnya begitu besar. Di kantor menjadi Asisten pribadi Dady dan ketika Sean pulang harus menjaga Sean di rumah serta mengasuhnya sebelum Meera datang. Dan tugas itu sama sekali tak berkurang meski Meera datang, tapi justru semakin bertambah berat hingga Ia tak boleh lengah sama sekali dengan semua keadaan yang ada.
“Mas Dafa udah lama?” tanya Meera menghampiri dengan Sean dalam gandengan tangannya.
“Nyonya,” sambut Dafa yang kemudian tegak menunduk padanya. Meera sudah melarang, tapi sepertinya Dafa memang sifatnya sudah terseting dengan sedemikian rupa untuk selalu menghormati sang Nyonya.
Semua yang ada disana lantas melihat keduanya dan menduga-duga dengan perlakuan yang ada. Tapi saat itu bu Dona seakan diam seribua Bahasa dan tak lagi menjadi kompor diantara mereka semua. Entah apa yang Momy lakukan padanya hingga diam seperti itu.
“Hey jagoan, bagaimana sekolah hari ini, lancar?” colek Dafa dihidung bangir keponakannya. Sapaan itu langsung dibalas senyum ramah dan anggukan Sean padanya.
“Oh iya, Mas Dafa. Meera ada beberapa barang di kantor, bisa tolong ambilkan?” pinta Meera. Tak perlu banyak bertanya, Dafa segera mengangguk dan pergi mengambil barang itu di ruangan kerja Meera, dan ia sendiri tahu tempatnya.
Saat itu semua guru dan staf yang ada disana lantas memperhatikan Dafa dengan ketampanan dan penampilannya yang mempesona. Berseragam serba hitam dengan eraphone terpasang ditelinganya seperti seorang bodyguard andalan konglomerat di drakor yang sering mereka lihat.
“Siang, Pak Dafa,” sapa Tami, salah seorang rekan Meera yang cukup dekat dengannya. Sayangnya Tami sering bepergian mengurus akreditasi sekolah hingga jarang membela Meera ketika dibully yang lainnya.
“Bu Tami? Maaf, saya datang untuk membawa barang Nyoya. Terimakasih atas kerja samanya selama ini,” ucap Dafa padanya.
“Ya, sama-sama. Salam pada Meera, ya?”
“Siap,” angguk Dafa lalu pergi dengan barang itu menuju mobil dan Meera disana.
Setibanya di rumah, Dafa segera meraih Sean untuk menggantikan pakaiannya sementara Meera merapikan diri sendiri.
Meera masuk ke kamar, dan mendapat panggilan Video dari Dady saat itu juga dan harus segera menjawabnya. “Sepertinya selalu paham, kapan waktu ganti baju dan waktunya mandi. Kenapa sih, pas banget?” omel Meera pada suaminya. Karena memang ia tengah mengganti baju saat itu. Ia menyandarkan hp diatas meja dengan sebuah vas bunga disana lalu membuka satu persatu pakaiannya.
__ADS_1
“Wow… Kau sedang ganti baju rupanyya. Mana Sean?” tanya Dady dengan tatapan terus mengintimidasi tubuh indah Meera yang hanya mengenakan bra dan celana pendek ketatnya.
“Sedang ganti baju dengan Mas Dafa, sebentar lagi Meera menyusul membantunya mengerjakan tugas. Banyak sekali,”
“Baru sadar? Biasanya kau yang memberi tugas itu, Mom.” Meera seketika diam menginggatnya, lalu cengengesan sendiri disana sembari mengenakan kaos croptop yang memperlihatkan perut ratanya. Kemudian ia mengambil sebuah celana pendek untuk menutupi celana tipisnya tadi.
“Kau memakai pakaian itu di rumah?” tanya datar Dady.
“Iya, kenapa? Ini ada disini, jadi Momy pakai saja. Tak apa kan?” tanya Meera. Ia masih bingung menyebut dirinya sendiri ketika bicara pada sang suami.
Sementara Dady mengurut dahi, ia menyesal tak memeriksa terlebih dulu apa yang mereka berikan untuk Meera, karena ia fikir semua akan normal sesuai usia dan karakternya. Namun, rupanya asisten Dady saat itu menganggap Meera akan sama dengannya dari segi pakaian. Memang sama, tapi Dady kurang suka apalagi istrinya bersama Dafa disana.
“Ganti bajumu, ada yang lebih sopan didalam sana,”
“Iiiih, apaan? Ngga mau, ini aja nyaman. Tak mungkin Dady akan pulang dan mengganti baju ini dalam sekejap, bukan?” cicit Meera. Lagipula ia di rumah bersama Sean dan Dafa, sementara yang lain adalah perempuan disana.
“Sean lapar belum? Atau kita kerjakan tugasnya terlebih dulu?” tanya Meera. Sean menggeleng dan kemudian mengeluarkan beberapa buku tugasnya saat itu juga, karena baginya mengerjakan tugas dengan momy adalah kebahagiaan luar biasa.
“Tapi selesai satu, kita makan siang dulu, okey?”
“Okey, Mom.” Sean mengangguk mematuhi permintaannya saat itu.
Meera begitu pandai membuat kegiatan belajar itu megasyika untuk mereka berdua. Berlajar sembari bermain, kadang juga istirahat sejenak ketika melihat Sean mulai lelah karena ia juga baru saja pulang dari sekolah.
Sembari menunggu Sean mengumpulkan tenaga, Meera merapikan kamar Sean yang cukup beratakan. Meski ia sadar memiliki maid di rumah itu dengan tugasnya masing-masing, tapi Meera seakan tak bisa diam ketika harus menunggu untuk membersihkan sesuatu.
“Momy… Lapar,” ucap Sean mengusap perut kecilnya.
__ADS_1
“Okey,” jawab Meera, yang langsung menuntunnya untuk keluar dan makan siang bersama. Kebetulan Meera juga lapar karena ini sudah lewat sedikit dari jam makan siang dan makanan sudah terjejer rapi di meja makan.
“Mas Dafa, makan dulu.” Meera memanggil Dafa yang tengah begitu sibuk dengan laptop ditangannya saati itu.
Mereka begitu ceria disana seperti keluarga harmonis dengan segala canda dan tawa. Meera juga tak segan melayani Dafa dengan makan siangnya, hingga kedatangan seseorang membuat mereka diam seketika.
“Dady, kok pulang?” tanya Meera heran pada suaminya, apalagi dengan tatapannya yang tajam benar-benar terfokus pada Meera dari ujung kepala himgga ujung kaki saat ini.
Dady mendadak kembali memanggul tubuh Meera dan membawanya naik ke kamar mereka dengan sebuah paperbag ditangannya.
“Hey! Apa-apaan ini?” Meera berusaha memberontak lagi dan berteriak memukuli Pundak Dady sekuat tenaga, sementara Dafa dan Sean hanya kompak bengong melihat keduanya.
Sreek!! Braaak!! Dady menurunkan Meera diatas ranjang meera dan saat itu memaksa Meera membuka kaos kecilnya. “Sudah dibilang, ngga mau!”
“Buka, atau aku yang mmebukanya?” ancam Dady.
Akan tetapi, belum sempat Meera menjawab Dady sudah terlebih dulu membuka kaos itu dengan tangan besarnya dan begitu kasar. “Aaakkhh!! Sakit!!” Pekik Meera ketika tersangkut dihidungnya.
Dady lantas mengeluarkan sebuah gaun indah didalam paper bag itu dan memakaikannya pada Meera. Sangking indahnya gaun itu sampai membuat Meera tak mampu berkata-kata apapun lagi pada suaminya. Ingin marah, mengamuk, dan mencakari tubuhnya saat itu juga dengan kukunya yang cukup panjang.
“Kau lebih cantik dengan daster itu.” Dady sesekali memuji sang istri dengan daster yang ia belikan.
“Maid saja seragamnya lebih bagus dari ini Dady!!” amuk Meera sejadi-jadinya. Ia menggelendot kesal saat itu hingga menggelesor dilantai dan menangis disana.
“Ngga bisa lihat istrinya fashionable dikit, AAAAHH!! Huhuuuu!!”
Dady hanya tersenyum bangga atas kemenangannya saat ini.
__ADS_1