
Hari menjelang sore, Meera mengajak Sean untuk segera mandi dan mendadaninya untuk yang pertama kali. Rambut Sean yang cukup gondrong itu ia sisir dengan rapi, tapi ia belum berani memotongnya tanpa izin dari dady.
"Ganteng sekali, anak Momy. Muaaah!" Meera mengecupi pipi Sean dan menghirup aroma segar ala anak-anak ditubuhnya saat itu.
Meera pernah bermimpi menikah di usia matang dan memiliki anak yang lucu bersama suaminya serta hidup bahagia. Pernikahan sudah terlaksana meski sederhana, cukup bahagia dengan Sean menjadi pelipur lara. Namun, tidak dengan anak yang ia bayangkan, apalagi sang suami belum mau menyentuhnya.
"Huffft!" Meera menghela napas kasar dari mulutnya.
"Momy, mandi." Sean menyentuh pipi mulus Meera dan mengusap dengan ibu jarinya.
"Ya, Momy mandi dulu, ya? Sean main disini dan tak boleh kemana-mana. Okey?"
"Yess," angguk Sean lalu duduk dikursi menggambarnya.
Sudah begitu banyak gambar disana, Sean, Dady dan Momy. Sean memajangnya dengan begitu bangga tertempel di dinding kamar, bahkan meminta paman Dafa membelikan sebuah bingkai untuknya.
Meera masuk kedalam kamar besar itu, meraih handuk kimono lalu mandi untuk yang pertama kali didalam kamar suaminya. Harusnya malam pertama yang indah, tapi Meera selalu mengingat ucapan dady Louis agar tak terlalu mengharapkannya saat ini.
Semua perlengkapan bahkan sudah begitu lengkap disana, sabun, shampo dan beberapa skinkcare untuknya. Ia suka wangi lavender, dan ia begitu suka dengan semua aroma yang diberikan disana.
Meera menyiapkan air busa didalam bathup, dan ia benar-benar berusaha menikmati waktu santainya sembari mendengarkan musik kesukaan dari hp barunya. Bahkan ia hingga memejamkan mata menikmati semua relaksasi yang ada, yang sempat ia inginkan sejak lama.
Akan tetapi, suara panggilan mengganggu moment itu dan cukup membuatnya kesal saat ini. Untung saja hpnya tak tercebur kedalam air sangking kagetnya.
"Bisa ngga, kalau ngga ganggu dulu. Saya lagi mandi dan menikmati me time," omel Meera pada suaminya yang saat itu menelpon.
"Kau sedang mandi? Me time?"
"Oops!" Meera keceplosan lagi dan langsung menutup mulutnya.
"Iya, lagi dikamar mandi." Akhirnya ia menjawab jujur dan apa adanya. Namun setelah itu dady justru merubah mode telepon menjadi mode video call.
Meera terlonjak kaget dan ia berusaha menutupi tubuhnya saat itu juga meski sebagian tertutup busa.
"Bukankah aku sudah pernah melihatnya?" Dady kembali tersenyum miring melihat Meera yang saat itu menenggelamkan tubuhnya di dalam busa.
"Sean mana?"
"Sedang main, baru saja mandi tadi. Dady pulang jam berapa?" Meera berbasa basi.
__ADS_1
"Aku? Tak tahu, mungkin lebih dulu Dafa yang pulang nanti."
"Yang ditanya Dady, bukan Mas Dafa." Meera bernada sedikit keras padanya. Dan baru ini ada yang bisa bicara sedikit keras pada Dady setelah oma Vani. Dan itu saja hanya untuk menggertaknya tadi.
"Kau rindu padaku?" tanya Dady dengan alis mata kanannya naik keatas.
"Hah? Ti-tidak, takut Sean tanya." Meera memainkan bibirnya. Padahal, Sean sama sekali tak akan bertanya karena sudah terbiasa.
"Aku akan berusaha pulang lebih cepat, nanti. Demi_"
"Demi Sean?"
"Kau juga." Meera memejamkan mata, terasa begitu senang hanya mendengar ucapan itu untuknya. Getarannya terasa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ehm... Yaudah, Meera mandi dulu, ya?"
"Hmmm, angguk Dady mengedipkan mata tajamnya.
Meera mematikan hp itu kemudian menyelesaikan ritual mandi yang sempat tertunda. Seperti ada sebuah pemacu semangat dalam dirinya saat ini hingga semakin ingin segera menyambutnya pulang.
Sayangnya Meera masih amat bingung dengan perlakuan Dady padanya. Lembut, perhatian, tapi kenapa masih enggan untuk menyentuhnya. Kadang meski terjebak oleh masa lalu, mana ada pria yang tahan ketika ada wanita tidur diranjangnya saat itu. Bahkan juga sudah sah menjadi istrinya.
"Au ah... Kerjakan saja peranmu, Meera. Kerjakan dengan baik," gumam Meera yang menyabun tubuh indahnya.
Di kamar, Sean rupanya tengah bersama Dafa. Mereka berdua tengah menaruh sebuah foto didalam bingkai yang indah dan akan Sean pajang dikamarnya saat itu.
Bahkan Dafa tak hanya membeli sebuah bingkai, tapi ia juga mencetak foto pernikahan Meera dan Dady tadi pagi yang meski seadanya.
"Kenapa di cetak?" tanya Meera.
"Keberatan? Sean yang meminta tadi." Meera juga melihat Sean begitu bahagia dengan lembaran kertas berwarna itu. Dan ia sepertinya ingin membuat foto yang ada dia ditengah kedua orang tuanya.
"Besok, kita foto dengan Dady, okey?" ajak Meera, mendapat anggukan bahagia dari sang putra.
"Aduh!" Meera memekik kecil ketika jempolnya terkena carter yang ada disana untuk merapikan lembaraan foto yang ada.
Jempol Meera berdarah, dan dengan sigap Dafa meraih dan melumaat jempol itu untuk menghentikan setitik darah yang mengalir dari sana. Sementara Sean turun dari kursi, dan meraih sebuah kotak dari bawah kasurnya.
Kotak permainan dokter, tapi alatnya lengkap dan ada plaster disana untuk mengobati tangan Momynya.
__ADS_1
"Maaf, Aku refleks tadi." Dafa merasa tak enak, apalagi Meera yang telah menjadi istri bosnya.
"Saya yang harusnya minta maaf. Teledor," ucap Meera. Saat itu Sean meraih balutan luka itu dan beberapa kali meniupnya.
Makin lama hari semakin sore, dan Meera menyuapi Sean makan karena sudah mengeluh kelaparan. Mereka makan diteras sembari menunggu Dady pulang dari kantornya.
" Ayo, Sayang..." Meera membujuk Sean yang justru asyik dengan aktifitasnya.
"Dady!" pekik Sean yang begitu hafal dengan mobil Dady meski masih sangat jauh dari gerbang rumah mereka..
Deeggh! Entah kenapa jantung Meera berdebar, seakan ia memang tengah menunggu kepulangan suaminya saat itu.
Dady memarkir mobil di garasi. Sean menghampiri dan segera merentangkan tangan meloncat kegendongan Dadynya saat itu. "Jagoan, sudah makan?" sapa Dady mengucek rambut putranya. Padahal Meera sudah susah merapikan itu semua.
Sean mengangguk, ia tampak amat senang ketika Dady pulang cepat hari ini. Karena itu sangat amat jarang sekali.
"Hey, makan dulu, abisin." Meera mulai mengomel lagi. Dia dapat kebiasaan baru sepertinya.
Tapi Sean justru menutup mulut dan menggelengkan kepalanya saat itu.
"Lihat, dia sudah kenyang sepertinya." Dady membela dan membuat Meera menyipitkan mata.
"Apa?" tanya Dady.
"Bela terosssss! Iya, anaknya dibelain terus." Meera cemberut pada mereka berdua, tapi Sean justru tertawa lebar melihatanya.
"Momy ngambek," bisik Dady yang semakin melebarkan tawa putranya.
"Awas kalian,"
"Awas apa? Mau melawan kami? Atau Dady?" Meera membulatkan mata dan mundur selangkah dari tatapan tajamnya.
Sean melesat turun dari gendongan itu, ia mendorong Dady dekat dengan Momy hingga keduanya tampak tanpa jarak.
"Apaan?" gugup Meera berusaha membuang muka.
"Boleh Dady pinjam Momy?" lirik dady dan Sean kembali menganggukkan kepalanya.
Dan... Greep! Dady meraih dan membopong tubuh kecil Momy dipundak, ia pikul seperti ketika ia menculiknya.
__ADS_1
"Hey! Suka sekali begini!" Meera berontak dan memukuli punggung dady yang membawanya naik kekamar saat itu juga.
Agak lain emang dady Louis ini.