Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Kau menatap Istriku?


__ADS_3

“Siapa?” tanya Meera pada dady yang kembali duduk ditempatnya saat itu.


“Bukan siapa-siapa,” jawab tenang dady yang kemudian mengambil alih suapan Sean dari momynya. “Habiskan makananmu, sebentar lagi kita pulang,”


“Iya,” angguk Meera padanya. Tapi ia tetap penasaran dengan siapa yang menelpon dady barusan. Jika hanya sekretaris atau asisten, tak akan mungkin dady pergi jauh darinya seperti saat ini.


Meera menghabiskan makan siangnya dengan lahap berlomba dengan Sean, bahkan dady memesankan eskrim untuk mereka berdua dan menjadi begitu bahagia disana. Hingga Dafa datang dan langsung menghampiri ketiganya.


“Mas Dafa?” sapa Meera, tapi juga bingung kenapa ia mendadak datang diantara mereka.


“Dafa, bawa mereka pulang ke rumah, aku masih ada urusan setelah ini.” Dady meraih kepala Meera lalu mengecupnya, bergantian dengan Sean. Dan tampaknya anak itu sama sekali tak merasa kehilangan moment bersama Dady asal ada momy disana.


“Pulang ke rumah, dan jangan mampir kemanapun setelah ini.”


“Tapi, Dady_ ya, baiklah…” pasrah Meera pada suaminya, karena lagi-lagi ia harus mengalah pada semua keadaan yang ada. Ia masih butuh banyak waktu untuk menyesuaikan diri dalam keadaan ini.


Meera menghabiskan hidangan terakhirnya, kemudian ia mengajak Dafa segera pulang usai membersihkan wajah Sean yang belepotan dengan sisa eskrim yang baru saja ia santap. Bahkan Sean tampak kelelahan hingga Dafa harus menggendongnya selama perjalanan keluar dari Restaurant itu.


Mereka naik mobil, Meera dibelakang memangku Sean yang Sudah lelap memejamkan matanya. Meera masih melamunkan kejadian baruan, ia akui masih begitu sensitive saat ini.


“Nyonya kenapa?” tanya Dafa dengan segala kepekaannya.


“Ngga papa, Mas. Cuma kekenyangan aja kayaknya, jadi ngantuk. Cepetan yuk,” pinta Meera padanya. Langsung menyanggupi dan mempercepat laju mobilnya saat itu hingga mereka benar-benar tiba di rumah.

__ADS_1


Dafa langsung turun dan meraih Sean dari Meera di belekang, dan Meera berusaha mengangkat sedikit tubuh Sean agar lebih mudah diraih Dafa. Namun, situasi itu justru mengeratkan pandangan mereka berdua. Mata bertemu mata, dan entah kenapa jantung Dafa seketika berdegup dengan begitu kencang karenanya.


Mata Meera begitu indah dan bibirnya yang begitu merona itu menambah keindahannya dimata Dafa. Tangannya tersentuh begitu lembut, menimbulkan getaran halus yang nyaris tak terbaca olehnya sendiri saat itu dan hanya Dafalah yang bisa memahaminya.


“Momy,” rengekan Sean membangunkan lamunan itu. Dafa tampak sedikit gugup dan melanjutkan meraih Sean untuk ia bawa ke kamarnya dengan segera, sementara Meera menyusul dibelakangnya dengan tas Sean.


“Mas Dafa dihubungi dady buat jemput kami?”


“Ya, Nyonya. Tuan ada keperluan yang tak dapat saya wakilkan, hingga harus dengan cepat kembali ke kantornya.”


“Benar ke kantor?”


‘Hmmm, ya… Ke kantor,” angguk Dafa meyakinkan sang Nyonya.


“Ini hanya sebatas tanggung jawab?” tanya Meera yang menatap dirinya sendiri didepan kaca, apalagi dengan iming-iming uang Satu milyar itu membuatnya sedikit gamang saat ini.


“Dengan mudahnya memberi uang itu. Tapi. Setidaknya aku berusaha bersyukur memiliki kalian. Aku pasti akan menghidupkan cinta diantara kita berdua.” Meera selalu meyakinkan dirinya sendiri terhadap keluarga yang tengah ia bina saat ini. Berusaha meyakinkan jika memang mereka akan benar-benar menjadi keluarga yang penuh cinta setelahnya.


“Iya, pasti bisa. Ayolah Meera, jangan sensitive seperti ini.” bujuknya pada diri sendiri.


Sementara saat itu dady tengah bertemu dengan Shinta. Mereka bertemu di sebuah hotel dimana terdapat café yang cukup besar disana. Shinta memberitahu jika ada seorag professor ahli bedah Digestif yang datang dari sebuah kota besar untuk sebuah kujungan disana. Shinta memperkenalkannya pada dady agar membujuknya menangani ibu Meera.


“Ini status pasien, Prof. Saya yang bertanggung jawab selama disana. Karena meski Rumah sakit besar, kami masih kekurangan Dokter sepesialis terutama untuk Bedah Digestif.” Shinta melaporkan semuanya disana, karena memang kondisinya sudah separah itu saat ini. Bahkan mungkin setelahnya akan dilakukan kemoterapi secara berkala pada ibu Meera usai pemeriksaan lebih lanjut.

__ADS_1


“Astaga, sudah separah ini? stadium Tiga dan kankernya ganas? Usianya juga_”


“Ya, beliau memang kekurangan dan menyembunyikan penyakit itu dari anaknya. Suaminya pasif, bahkan hanya bergantung pada istri dan anak selama ini, bahkan tak segan menyiksa jika kekurangan.” Dady akhirnya angkat bicara dengan apa yang terjadi pada istrinya selama ini.


Dady diam-diam memang menyelidiki semua yang terjadi pada Meera meski tak terjun langsung ke lapangan dan hanya meminta orang lain yang ia bayar untuk melakukan semuanya. Yang jelas itu bentuk perjuangan Dady untuk Sean dan Meera.


“Besok operasi akan dilakukan. Saya tak bisa berlama-lama disini, karena di Rumah sakit lain juga begitu banyak pekerjaan. Dan… tolong urus semua perizinan dan permohonannya agar saya bisa dengan cepat melaksanakan semua tugas yang ada.”


Shinta tampak menghela napas dengan begitu lega, meski ia sendiri akan begitu sibuk setelah ini. Bahkan ibu akan dibawa ke rumahnya setelah siuman dan ia akan merawatnya disana atas perintah dady.


Begitu juga dady Louis, yang merasa perjuangannya memiliki kemajuan saat ini. Sayangnya ia belum bisa memberitahu Meera atas semua kabar yang ada, karena ia masih ingin istrinya itu fokus pada Ocean dan dirinya. Ia tak mau melalaikan kesempatan, toh Ibu sudah ada ditangan yang aman bersama asisten medisnya itu.


Dady beranjak dari sana dan kembali ke kantornya untuk bekerja. Dafa juga sudah datang untuk menyelesaikan semua tugas agar selesai pada waktunya dibantu Sila dan yang lain.


“Nyonya tadi bertanya,”


“Apa? Tentang kepergianku?”


“Ya…” angguk Dafa dengan tatapan fokus pada laptopnya. “Dia masih sangat sensitive dengan hubungan kalian, apalagi masih banyak rahasia yang tersimpan. Saya hanya membaca dari tatapan matanya barusan.”


Mendengar itu dady langsung menghentikan semua aktifitasnya disana. Ia lantas mengangkat kepala dan menatap Dafa dengan lirikan tajamnya, seperti anak panah yang benar-benar tertuju pada satu titik saat ini dan tak tergeser kemana-mana sama sekali.


“Kau menatap istriku, setajam itu?” tanya Dady, begitu datar dan tampak tak tenang.

__ADS_1


Justru Dafa yang tampak begitu tegang menegapkan badan dan menelan salivanya dalam-dalam. Bahkan hingga siang ini sudah Dua kali dady seperti itu padanya, cemburu.


__ADS_2