
Dady menarik Meera untuk masuk kedalam dan segera menutup pintunya dengan rapat. Tubuh mungil Meera ia dorong hingga menempel ke dinding dan dady segera menyerang bibir indah itu dengan begitu gemas.
“Dady, please… Dady kenapa?” Meera berusaha meminta kejelasan saat ini, tapi dady seolah tak mendengarkannya dan terus menyerangnya dengan brutal.
Meera membulatkan mata ketika merasakan sesuatu menyentuh perutnya saat ini. Sesuatu yang sepertinya sudah bangun sejak tadi dan minta untuk dimanjakan olehnya malam ini juga. Apalagi, sepertinya sudah 2x lipat tak tertahan akibat kegagalan semalam.
Meera yang memahami itu semua lantas berusaha tenang, tangannya mulai meraba dada dady yang terbuka kemudian memejamkan mata untuk mulai membalas panguutan keduanya. Sayangnya Dady terasa sedikit kasar untuknya, apa mungkin karena sudah lama puasa?
Tangan besar itu meraih wajah Meera dan membuatnya terdongak menatapnya, hingga cumbuannya terasa semakin dalam. Dan tangan yang satunya turun menyusuri leher lengan hingga menuju dada Meera yang selalu membuatnya penasaran.
“Aaaahkk… Dady,” rintih Meera yang justru begitu merdu untuknya. Bukan memelankan, ia justru mempercepat cumbuuan itu pada sang istri hingga makin keras suara yang keluar dari mulutnya saat itu.
Meera yang terburu buru hanya sempat meraih blazer dan masih dengan dasternya. Dengan belahan dada rendah, membuat dady dapat dengan cepat menurunkan lengan daster itu dari lengannya. Wajah Meera langsung bersemu merah, apalagi ketika dady semakin beringas ketika menatap dua aset originalnya yang terpampang nyata didepan mata.
Tubuh itu lantas dady gendong menuju ranjang kemudian merebahkannya disana dengan sedikit kasar. Ia langsung menyerang lagi tanpa aba-aba. Bau minuman masih tercium meski dady sudah berapa kali saja menggosok mulutnya.
Kecupan demi kecupan terus menjelajahi tubuh Meera hingga ia menggelinjang mendongakkan kepala sembari meremaas apa saja yang ia raih dengan tangannya. Kecupan mulai turun ke dada yang masih terbungkus bra, namun itu saja sudah berantakan dan tak karuan bentunya. Tangan kanan dady meraih bibir Meera dan mengusapkan ibu jari dibibir indah itu dengan begitu sensual diiringi desah indah yang terdengar.
“Euummhhh!!”
Sedangkan tangan kirinya mulai menerobos masuk kedalam daster yang Meera kenakan dan meraba paha mulusnya disana. Meera seperti mendapat sengatan listrik yang begitu hebat disekujur tubuhnya.
Dady seperti bayi yang kehausan saat ini, bahkan hingga meninggalkan banyak jejak di leher dan didada Meera sangking brutalnya. Hingga Meera memberanikan diri menarik tali pengikat handuk kimono itu hingga telepas, dan ia sendiri ternganga melihatnya.
“Sudah ku duga,” ujar Meera yang tak terkejut dengan milik suaminya.
__ADS_1
“Apa? Bukankah kau sudah pernah melihatnya?” tatap dady tajam yang justru melepas semua yang melekat ditubuhnya saat itu juga, membuat Meera semakin membulatkan mata.
Tak banyak ini itu, dady langsung menarik kaki Meera agar berada diujung ranjang. Meera menjerit karena takut jatuh tapi perhitungan dady sendiri begitu tepat saat ini, dan ia segera menarik daster Meera agar bisa melepasnya dari bawah.
“Sempurna,” tatap dady pada tubuh polos istrinya penuh dengan gairaah yang begitu membara.
Ia membungkuk lagi mengecupi bibir Meera, turun ke dada dan turun terus diperut ratanya. Meera mendesis, tubuhnya menegang tak karuan dengan jemari kaki tangan yang terkunci. Hingga dady melipat kedua kaki Meera keatas dan menenggelamkan wajah diantara kedua paha Meera yang mulai basah.
“Aaah!!” Meera memekik keras ketika lidah panjang dan basah mulai mengobrak abrik inti tubuhnya dibawah sana, membuat perutnya ikut bergejolak tak karuan rasa.”Apakah, malam ini akan benar-benar tejadi? Satu Milyarku,” gumam Meera dalam hati. Antara takut, tapi ia bahagia dengan tugas gandanya.
Dady semakin agresif. Lidahnya disana dan tangannya tak bisa diam dengan yang lainnya. Kaki Meera ia naikkan dipundak, dan ia memperdalam cumbuannya disana.
“Dady, please... Ampun!” Meera sudah tak karuan lagi rasanya, bahkan ia ingin menangis sangking nikmatnya padahal itu baru pemainan lidah saja. Bahkan untuk beberapa saat, tubuh Meera mengejang dengan begitu dahsyat mendapat pelepasan pertamanya.
Dady mendongakkan kepala mengusap bibir dengan ibu jarinya dengan penuh dahaga.
“Kau menang, kau akan mendapat satu milyarmu setelah ini.” Dan dady mulai membobol pertahan Meera yang sudah ia jaga sekian lama. Bahkan ia rela terluka ketika kabur dari orang ayah yang ingin memperk*s*nya.
Lengkingan suara Meera terdengar begitu indah, meski juga kesakitan karena milik dady yang begitu perkasa. Airmata itu akhirnya mengalir tanpa pernah bisa lagi ia cegah saat ini. Sebenarnya ia tak terobsesi dengan satu milyar itu, karena ia sadar dengan semua tugasnya sebagai seorang istri.
Dady tampak begitu puas dengan apa yang ia lihat. Sean benar-benar bisa memilih momy dan istri untuk dadynya.
**
Matahari bersinar mengintip Meera yang masih terlelap diatas ranjangnya. Dengan tubuh yang masih polos berbalut selimut memeluk bantal telungkup, ia berusaha membuka mata dan melihat disekitarnya.
__ADS_1
“Oowhh!” Meera memekik lirih ketika seluruh tubuhnya terasa nyeri dan perih. Tulangnya terasa remuk, dan ia mengingat-ingat berapa kali dady menggila malam tadi. Bahkan ia tak sadar lagi karena sepertinya ia pingsan.
“Kau bangun? Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,”
“Hah?” Meera memicingkan mata, seolah salah mendengar semuanya.
“Sakit? Mau ku bantu ke kamar mandi?” tawar Dady, yang saat itu dengan cepat menggendong tubuh Meera dan bahkan memandikannya disana. Benar, airnya hangat dan bau lavender begitu segar menenangkan untuk Meera saat itu.
Meera meminta dady keluar agar ia bisa dengan segera menyelesaikan ritual mandinya. Ia kemudian keluar dengan tertatih menahan perih, menghampiri dady yang tengah merapikan dirinya.
“Tidur saja dan tak usah kemana-mana. Maaf jika membuatmu sakit,” ucap dady padanya.
“Kenapa mabuk?” tanya Meera, “Bukan dijebak oleh obat perang sang kan?”
“Tidak, kau curiga? Karena brutal?” goda dady, yang tersenyum miring melihat wajah sayu Meera yang malu-malu padanya.
Meera memasang dasi dady sebisanya, kemudian ia duduk lagi di ranjang dengan wajah yang masih lemas. Rasanya seharian ini ingin ia habiskan untuk istirahat, dan itupun jika dady tak menganggunya lagi setelah ini, yang jelas ia harus mempersiapkan diri.
Meera diam, ia terus menatap suaminya disana. “Ada yang mau kau tanyakan? Aku tak pernah membawa wanita lain kemari, apalagi menyentuhnya. Hanya kau, itupun karena kau istriku.”
“Maaf,” ucap Meera yang memang sempat salah sangka pada suaminya itu.
“Sebentar lagi layanan kamar akan datang membawa sarapan dan ia juga akan mengganti sepraynya.” Dady menelengkan kepala, dan Meera menggigit bibirnya. “TErimakasih karena telah menjaganya untukku,” kecup dadi dibibir Meera saat itu.
**
__ADS_1
“Momy!!!” pekik Sean sejadi-jadinya ketika momy tak ada disampingnya saat itu. Ia kelimpungan, lantas keluar naik turun mencari Meera sampai ke dapur, bahkan ia mencari Meera hingga ke kamar Dadynya.
“Aarrrhh!! Momy!” Benar-benar kehilangan sepertinya, hingga menangis menggelendot pintu dan menjatuhkan tubuhnya dilantai rumah besar itu.