
Meera mengulet ketika menyadari sudah waktunya bangun pagi ini. Ia merasakan sebuah tangan besar memeluknya saat itu dan ia langsung membalik badan menatapnya.
"Kau sudah bangun?"
"Kenapa ngga begerak jika sudah bangun daritadi?" tanya Meera pada suaminya.
"Masih ingin seperti ini. Kau kenapa buru-buru sekali?"
"Mau siapin Sean sekolah. Lepas dulu!" Meera berusaha berbalik dan beranjak dari tempat tidur itu untuk menghampiri putranya yang ada di kamar.
Semalam Meera menemani sebenarnya, ia tidur disana hingga beberapa lama memeluk Sean hingga dady kembali menculik dan membawanya ke kamar mereka.
Greep... Braaak! Dady meraih Meera lagi hingga terlentang kembali di ranjang besarnya. Ia bahkan spontan berteriak memanggil nama dady sangking kagetnya.
Dady langsung menarik tubuh mungil itu untuk dia peluk dengan begitu erat hingga Meera terasa sesak dan berusaha melepaskan diri darinya. "Sean sebentar lagi bangun, harus siap-siap buat_"
Dady meraih hp dan menunjukkan kalender padanya saat itu juga. Tanggal merah, hari nasional hingga Sean tak perlu sekolah. Meera lantas meringankan tubuh tak lagi mencoba melakukan perlawanan pada suaminya saat itu.
Meera membelakangi dady, yang saat itu mulai sibuk lagi mengecupi tengkuknya dengan begitu beringas tanpa jeda. Meera hanya bisa memejamkan mata sesekali meliuk menahan sesuatu yang mudah sekali berdesir dalam dirinya.
"Dady! Momy!" pekik Sean yang dengan kasar membuka pintu kamar itu dan menghempasnya ke dinding keras sekali.
Meera yang terkejut lantas terlonjak, sementara dady hanya bisa pasrah beralih dari sang istri dan rebah disebalahnya menghela napas panjang. Pasrah, dan juga kesal.
Pria kecil itu berlari, langsung naik ke ranjang dan merangkak berada ditengah-tengah momy dan dadynya. Ia begitu bahagia ketika paman Dafa mengatakan jika ia libur hari ini. Ia berjingkrak tak karuan hinga kasur busa itu membal tak karuan.
Penerawangan dady jelas langsung lain ketika merasakan kasurnya bergerak naik turun. Fantasinya jelas sangat luar biasa saat ini.
"Hey, sayang, ayolah... Kenapa berteriak seperti itu?" bujuk dady padanya.
Sean meraih hp dady dan menunjukkan kalendernya disana pada kedua orang tuanya. "Iya, libur. Kenapa? Sean mau kemana?" tanya Meera.
"Joging," celetuk Sean padanya. Ia memang dulunya sering dibawa paman Dafa dan dady joging, tapi sejak sekolah itu jarang sekali terjadi meski hari minggu. Dady memintanya istirahat agar tak kelelahan saat itu.
"Ayooo!" rengek Sean menarik tangan momhy dan dady untuk berdiri menuruti apapun maunya. Ia terus memanggil momy dan dady hingga mereka bosan dan pasrah pada keadaan..
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kita joging, ya? Momy mandi dulu, nanti kita siap-siap. Okey?" Sean bersorak kegirangan setelahnya.
"Kenapa harus mandi? Kau nanti berkeringat lagi?"
"Bau dady, ngga nyaman." Ucapan Meera membuat dady kena mental seketika. Ia menggaruk kepala dan beralih membawa Sean untuk mempersiapkan diri setelah mandi.
Dafa tak ada, ia sudah pergi terlebih dulu sepertinya ke lapangan untuk berolah raga. Bahkan kadang ia masih bisa ngegym dengan berbagai alat yang tersedia di rumah itu.
Meera sudah dengan leging hitam dan kaos putih ketatnya ketika dady kembali masuk untuk mempersiapkan diri sendiri. Ia langsung menatap Meera dari atas sampai kebawah dengan lekuk tubuhnya yang tercetak dengan begitu indah. Terutama bagian dada kesukaannya.
"Kau mau olahraga, atau menggoda Dafa."
"Kenapa mas Dafa? Apa urusan sama pakaian Meera?"
"Tak ada. Tapi, kau harus segera menggantinya saat itu juga."
"Ganti pake apa? Masa iya joging pake daster? Kali lucu."
Dady hanya diam, saat itu ia membuka lemari dan mencari kaos oblong yang ia simpan lama dibarisan paling bawah. Kaos yang ia pakai ketika tubuhnya belum sebesar ini, masih kurus dan belum berotot kekar.
Dady kemudian memakaikan kaos itu pada Meera dan merapikannya.
Sangat cocok, tak terlalu besar dan tak begitu ketat. Panjangnya menutupi bagian intim Meera yang nyaris tergambar dengan leging ketatnya saat itu.
"Puas?" tatap Meera malas.
"Sangat. Ayo keluar, Sean sudah menunggu sejak tadi." Dady meraih pundak sang istri dan berjalan bersama menuruni tangga. Beberapa kali Meera yang kesal menyingkirkan tangan dady dari tubuhnya.
Ketiganya keluar, berlari kecil menuju lapangan bola basket yang tak jauh dari rumah dan ada taman khusus berolahraga disana. Cukup ramai di hari libur, bahkan Sean melihat Dafa diujung sana sendirian dengan aktifitas ringannya.
"Dafa... Dafaaaaa!" pekik Sean menyusulnya saat itu. Dafa yang mendengar langsung merentangkan tangan dan membungkuk menyambut keponakannya tercinta.
"Sama siapa, dady?"
"Yess, Momy." Sean menunjuk momy dab dady yang ada di sebrang sana. Dafa segera membawa Sean menuju mereka berdua.
__ADS_1
"Tumben joging?"
"Haruskah izin padamu?" ketus Dady, yang langsung tertuju pada tatapan Dafa saat itu. Kemana lagi jika bukan pada istrinya.
Meera juga tampak langsung mengakrabkan diri pada Dafa, mengobrol dan Dafa menceritakan seluruh tempat yang cukup indah itu pada sang Nyonya.
Wajar, Meera baru sekali ini keluar dari rumah selain ke Sekolah dan ke hotel.
"Ayo joging lagi," ajak Dafa yang menurunkan Sean dari tempatnya saat itu.
Dady yang akan berjalan ikut mereka, mendadak dihentikan suara hp yang ada di sakunya. Sebuah telepon dan ia harus segera mengangkatnya saat itu juga.
"Lagi joging bawa hp? Nanti jatuh loh," tegur Meera dicampur segala rasa curiga.
"Banyak pekerjaan yang sulit ditunda, Mom. Larilah dengan Dafa dan Sean. Nanti aku menyusul," ujar dady padanya.
Tak ada cara lain kecuali pasrah, dan Meera segera berlari menyusul dafa dan Ocean yang lari tak jauh darinya saat itu.
Mereka berputar beberapa kali di lapangan basket, ketika lelah Dafa mengajak Meera untuk minum sejenak di kursi yang ada disana sembari melihat Sean bermain dengan begitu cerianya.
"Dady lama," keluh Mera yang mengipasi lehernya saat itu. Hingga ia memutuskan untuk mencari suaminya sejenak dan meninggalkan mereka berdua ditempat duduknya diam-diam.
Lelarian keliling lapangan basket dari taman bunga untuk mencari suaminya. Hingga Meera benar-benar menemukan dady tengah duduk bersama seorang wanita yang saat itu tak dapat ia lihat wajahnya. Ia juga tak tahu dady tengah membicarakan apa saat itu, tapi mereka berdua kelihatan akrab sekali saat ini.
"Ngeselin!" geram Meera meremaas handuk yang ia pegang saat itu. Ia menghentakkan kaki lalu pergi dari tempat itu untuk kembali pada Dafa dengan hati yang tak karuan rasa.
Saat itu Meera melewati sekumpulan pemuda yang tengah bermain skateboard bersama. Ia yang tengah galau tak begitu memperhatikan mereka dengan lajunya yang tergesa-gesa.
"Mba... Awas!" pekik seorang pemuda yang tergelincir tepat dihadapannya saat ini.
"Aaarrrghhh!" Meera memekik sejadi-jadinya ketika akan tertabrak, dan tubuhnya ngefrezee seketika dibuatnya.
Braakk! Meera terjatuh, sikunya perih terkena lantai kasar dan panas lapangan saat itu. Tapi bukan itu, melainkan seorang pria yang tertimpa tubuhnya saat itu yang langsung membuatnya cemas.
"Astaga!"
__ADS_1