Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
KALAH


__ADS_3

Dady Louis dan mertuanya bertemu di persidangan hari ini. Dan pada akhirnya Meera datang untuk mengunjungi suami tercinta untuk menemaninya saat itu. Meera menggantikan pakaian dady dengan kemeja putih dan celana bahan hitam begitu rapi dan bersih, bahkan Meera sempat memeluknya sebelum mereka benar-benar masuk kedalam ruangan sidang dan bertemu mereka semua disana.


“Meera takut,”


“Takut apa? Takut jika dia membawamu pergi dariku nanti?” tanya Dady yang langsung mendekap Meera di dadanya saat itu, sementara Sean dibawa Shila untuk ia asuh hari ini di rumahnya.


“Ayah kenal mereka darimana?”


“Orang jahat bisa dengan mudah mendapatkan sekutu, apalagi mereka sama-sama ingin menghancurkanku. Kau tenang saja,” ucap dady mengecup kening Meera dengan mesra.


Meera mengangguk dengan helaan napas panjang saat itu. Ia harus bersiap karena dirinyalah yang akan diperebutkan disana nanti oleh mereka, meski itu semua hanya alasan saja. Yang paling tepat, adalah ayang pasti akan meminta banyak uang sebagai kompensasi atas kehilangan yang ia alami.


Meera keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan persidangan. Tampak ayah disana yang Sudah menunggu, lalu langsung menghampiri Meera dan memeluk dengan wajah berderai air mata, seolah ia amat merindukan putrinya saat ini.


“Meera, Sayang… Kau baik-baik saja? Ayah merindukanmu, Nak.” Ayah bahkan mengecup kening Meera saat itu, tapi Meera terlalu datar padanya.


“Meera sudah menawarkan uang banyak untuk ayah, tapi ayah sendiri menolaknya.”


“Untuk apa ayah menerima itu jika akan mendapat lebih banyak dari kau kamu beri. Dan jika pada akhirnya Louis yang melepasmu, setidaknya masih ada yang mau dengan janda cantik sepertimu dengan bayaran tinggi.” Ayah tertawa ditelinga Meera saat itu.


Meera mengepalkan tangan, ia dendam dan tak akan pernah mengampuni pria yang ada didepan matanya nanti.

__ADS_1


“Jangan pernah bersaksi apapun, jika kau tak ingin keluargamu hancur setelah ini.” Ancaman seorang ayah pada putrinya sendiri tanpa bas abasi. Meera hanya memasang wajah takut saat itu, tapi ayah tak tahu jika Meera sudah bisa memasang wajah palsu didepan matanya.


“Kau lihat, Meera yang lugu mulai ketakutan hanya dengan ancamanku,” senggol ayah pada Ar yang ada disampingnya saat itu. Bahkan Ar seperti mengincar Meera ketika ketika lepas dari rivalnya, entah bagaimana bu Dona nanti jika ia mencampakannya.


Semua orang datang. Dady sudah duduk di kursinya saat ini dengan pengacara yang menemani, sementara Dafa duduk didekat Meera. Ayah duduk di sisi lain dengan pengacaranya sendiri saat itu dan seperti tengah mempersiapkan celebrasy kemenangannya sebelum bertarung.


Susunan acara dibacakan saat itu dengan semua agenda hari ini. Bahwa mereka akan langsung memvonis karena menurut mereka bukti sudah begitu lengkap hingga tak harus banyak menunda semuanya.


Drama antara Meera dan Dafa, saling menggenggam tangan dan saling menguatkan didepan mereka semua.


“Dia Meera putri kandung saya. Kalau mau menikahi, untuk apa diculik seperti itu dan istri saya ikut dibawanya. Bukti sudah lengkap, dan saya yakin jika Meera hanya diperalat dan dijadikan babu di rumahnya.” Ayah juga menuntut mengenai istrinya yang tak mereka hadirkan dalam persidangan itu hingga suasana kurang panas terasa.


“Apakah dari pihak tertdakwa juga memiliki saksi sendiri?” tanya hakim pada Dady dan mereka semua menunjuk Meera.


“Dia tak akan berani banyak berbicara,” bisik ayah pada pengacaranya dengan begitu yakin.


Mereka semua diam, dan Meera langsung menceritakan semua kronologi dan alasan dady menculiknya saat itu. Dan memang benar, awalnya memaksa karena butuh Meera sebagai ibu dari anaknya. Tapi Meera takt ahu sama sekali ada maksud lain yang dady sengaja lakukan pada mereka berdua.


“Saya mencintai suami saya. Saya punya seorang putra dan suami yang mencintai saya saat ini, dan saya bahagia bersama mereka,” ucap Meera saat itu disambung dengan bahasan mengenai perilaku sang ayah pada ibu dan dirinya selama ini.


“BOHONG! Dia bohong, yang Mulia. Dia pasti sudah dipengaruhi oleh pria itu!” tegas ayah yang tak terima penjelasan putrinya saat itu.

__ADS_1


“Apa ayah tahu ibu sakit? Minimal, dimana bagian yang diderita ibu dengan segala sakitnya? Meera tak bertanya apa penyakit ibu, karena ibu memang merahasiakan semuanya.” Meera lantas menoleh pada sang ayah saat itu dengan wajah sendunya mengingat semua derita mereka.


“Dia bohong! Ibunya hanya sakit biasa, enco, pegel, dan dia punya magh bawaan karena usianya sudah tua,” bela ayah pada dirinya sendiri, yang saat itu membuat Meera langsung tersenyum getir mendengarnya.


“Dady Louis, suami saya. Dia mengobati ibu selama ini dengan penyakit yang ia derita, Kanker usus. Dady bahkan membayar seorang perawat khusus untuk ibu dan begitu tulus menjaganya disana meski bayarannya juga besar. Ibu mulai sehat meski tak sepenuhnya. Jadi meski ini kasus penculikan, sebenarnya saya sendiri yang meminta Dady Louis untuk menculik saya kala itu.”


Keterangan Meera lantas mengejutkan semua orang disana, terutama para pendukung ayahnya yang langsung memijat kepala. Bahkan, pengacara ayah saja tak habis fikir dibuatnya dengan kasus yang ada.


“Apa-apaan ini?” anehnya saat itu.


Mereka semua cukup tegang disana terutama dengan semua keterangan dari Meera yang meloloskan suaminya. Yang sejak tadi percaya diri, sudah dipastikan kalah telak kali ini dan sulit membela diri lagi. Hanya tinggal hakim yang bertanya, apakah dady akan menuntut balik mereka atau tidak saat ini karena telah memfitnahnya.


“Mana bisa? Saya disini korban kok, malah saya yang dituntut!” keras ayah Meera pada pendiriannya. Apalagi ia tahu, jika yang mendukungnya sejak tadi mulai pergi satu persatu meninggalkannya disana, dan hanya tersisa pengacara. Dia saja sudah memasang wajah malas saat itu.


“Saya akan menuntut, tapi dengan kasus Tiga tahun lalu ketika Pak Ridwan menjadi penyebab kecelakaan dan menewaskan istri saya,” jawab Dady.


Ayah membulatkan mata saat itu. Ia tak percaya jika yang ada didepan mata adalah korban tabraknya beberapa waktu lalu, ketika ia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan oleng hingga menabrak mobil orang hingga menabrak bagian pembatas jalan setelahnya kemudian kabur.


“Dia… Adalah salah satu alasan saya menculik Meera dan ibunya. Kesempatan dibalik semua kesempatan yang ada, karena ibu Meera adalah penyelamat kami kala itu hingga saya ingin membalas hutang budi padanya.


“Tidak… Bohong! Mana buktinya? Itu sudah lama, dan kalian bohong. Tidak!!!” pekik Ayah yang berusaha kabur dari ruangan persidangan itu. Ia berlari menuju pintu utama dan mencoba keluar dari sana dengan pintu besar yang tak terkunci.

__ADS_1


Namun, ia justru diam gemetaran dengan tubuh membeku ditengan pintu ketika tepat didepan matanya ada sosok ibu. Dia saksi kunci semuanya saat itu dan dia datang saat ini.


__ADS_2