
“Kak,” sapa Dafa yang menemui kakaknya pagi itu. Ia sengaja ke penjara terlebih dahulu sebelum menuju kantor dan mengurus semuanya disana, dan pula ia memberikan sebuah bukti laporan untuk ayah Meera meski hanya beberapa karena yang lain sengaja ia tahan dan akan ia keluarkan di persidangan.
“BAgaimana Meera?” tanya Dady, dan Ia juga tahu Sean baik-baik saja selama ada Momynya disana.
“Ya, sesuai dengan apa yang kau bayangkan. Semalaman dia tak bisa tidur ditemani Shila disana, menagis dan menyesali semuanya. Apalagi setelah mendapat kenyataan jika ayahnya lah yang menjadi dalang semua ini. Untung saja ada ibu,”
“Dia tak megajukan pertanyaan lain?” Dafa menggelengkan kepala dengan semua pertanyaan itu dan melanjutkan semua yang terjadi kemarin, termasuk yang ia lakukan pada Ane. Meski terlalu keras, tapi dady memaklumi itu semua dan berterimakasih karena ia tak harus mengotori tangannya sendiri dan berakhir dengan rasa bersalah pada mendiang istrinya.
Rose begitu menyayangi ibu tiri dan adiknya itu, karena baginya hanya mereka yang dipunya sebelum Sean ada.
Dady menculik Meera untuk melindunginya dari sang ayah, dan ia ingin membalas budi dengan ibu yang sudah menolong mereka kala itu. Cinta itu bonus bagi mereka yang akhirnya tumbuh seiring berjalannya waktu, dan itu memang takdir untuk mereka berdua. Sisanya, dady tak akan diam karena ayah Meera sudah muncul ke permukaan dan akan segera menuntutnya.
Dafa meminta izin sebentar pada polisi jaga disana untuk memberi kesempatan Dady menelpon istrinya. Dan ketika mereka mengizinkan, Dafa segera meraih hpnya untuk menghubungi Meera via telepon saat ini.
“Dady?” panggil Meera dengan begitu bahagianya mendengar suara dady untuk yang pertama kali sejak kemarin pagi.
“Hey, sayang. Kau baik-baik saja?”
“Ya, Meera di hotel sekarang dan Sean sedang bermain. Mau bicara dengannya?” Tapi dady menolak, ia takut rasa rindunya pada sang putra akan membuatnya lemah saat ini.
“Sayang… Maaf karena aku telah memanfaatkanmu dalam situasi ini. Aku telah memperalatmu sebagai penengah antara kami dengan sebuah konflik yang kau sama sekali tak ketahui,” ujarnya dady yang lantas menyentuh hati Meera saat itu.
__ADS_1
Karena memang, ia sempat merasa jika ia dimanfaatkan oleh dady dalam hal ini. Sebuah rahasia terbesar dari dady yang tertutup oleh perintilan rahasia kecil lainnya. Jika Meera tak bisa berfikir jernih, mungkin ia sudah salah paham dengan semua ini, atau bahkan pergi jauh dari mereka semua untuk menenangkan diri. Tapi semua pengorbanan dady untuknya saat itu menjadikan dirinya kuat saat ini.
“Kita saling memanfaatkan, bukan? Harusnya Meera yang minta maaf, karena ternyata ayahlah yang_” Meera tak sanggup melanjutkannya saat itu. Dan andai boleh, Meera ingin keluar menghampiri dady dan memeluknya erat saat itu juga.
Sayangnya obrolan mereka saat itu terkendala waktu. Tapi dady meminta Meera menahan perasaannya saat itu agar tak semakin menyiksa mereka berdua, dan Meera harus tetap fokus pada Sean. Mungkin sesekali menanyakan bagaimana kabar ibunya disana.
Dafa pergi setelahnya untuk mengontrol pekerjaan yang lain. Ia tahu jika Ane datang kesana saat itu dan ia langsung menuju pos penjagaan agar polisi tak membiarkan mereka masuk apapun alasannyya. Dengan senyum puas, Dafa langsung pergi dari sana lagi dan benar-benar kembali ke kantornya.
“Pagi pak Dafa,” sapa mereka semua. Dafa hanya mengangguk dan langsung masuk ruangan untuk menyibukkan diri dengan semua pekerjaan yang ada bersama Shila.
“Tak ada berita baru?” tanya Dafa saat itu.
“Hanya mendengar, jika ayah Nyonya akan mengadakan demo didepan nanti. Sendiri.” Shila memberi info dari sebuah pesan yang ia dapat di call center kantornya saat itu
“Benar bukan? Aku hanya harus bersyukur dengan semua keadaanku saat ini bahwa Meera juga bukan jodohku. Semua yang diberikan kak Lous padaku sudah lebih dari cukup, dan harusnya aku memang mengabdi padanya yang telah menyelamatkan hidupku hingga saat ini.”
DI cap sebagai anak pelakor seumur hidup Dafa, itu sempat membuatnya nyaris gila di usia remaja. Untung dady saat itu tak datang untuk menuntut, melainkan mengulurkan tangan dan mengajaknya tinggal bersama.
**
“Momy kenapa sedih?” tanya Sean yang menghampiri momynya saat itu.
__ADS_1
“MOmy ngga sedih, Sayang. Momy laper, makan yuk,” ajak Meera pada sang putra yang langsung menganggukkan kepalanya. Padahal mereka sudah sarapan dan itu juga belum waktunya makan siang.
Mungkin karena mereka dikurung disana hingga gampang lapar, apalagi Sean asyik bermain di kolam renang sejak tadi hingga pakaiannya basah semua dan menggigil kedinginan. Meera langsung memesan makanan online lewat layanan kamar yang tersedia disana dan belajar sejenak menunggu pesanannya datang.
Selama bersama Meera, Sean sudah lebih aktif dari biasanya. Ia juga tak pernah lagi masuk Rumah sakit yang biasanya sebulan sekali, badannya pun saat ini tampak lebih berisi dari sebelum mereka bertemu. Semuanya begitu baik sejak kedatangan Meera di keluarga mereka dan saat ini penuh dengan cinta di dalamnya.
**
“Kembalikan anak saya! Kembalikan istri saya! Saya memang orang miskin, tapi anda tak bisa menginjak-injak saya seperti ini!” Suara ayah Meera mulai terdengar diluar sana, berkalung baliho dengan foto anak dan istrinya lengkap dengan Toa ditangan.
Pria itu bahkan menghampiri siapa saja yang lewat disana dan mengadukan nasibnya yang perih dengan semua kejadian ini. Betapa pedih ia ditinggal oleh istri dan anaknya yang dinikahi paksa oleh pemilik perusahaan yang ada didepan mata mereka sekarang. Ia bakan duduk dilantai menangis dan meraung sejadi-jadinya saat itu bersama seorang cameramen yang merekamnya untuk media.
Tapi entah media mana yang akan meliputnya nanti.
Ia tampak meyakinkan sebagai kaum tersakiti saat ini dan bagai tengah menuntut keadilan dengan sebenar-benarnya dimata orang awam yang menonton aksinya dipinggir jalan raya depan kantor mereka.
Dafa meliriknya dari ruang atas sembari tertawa dengan ulah pria tua itu. Ia fikir, dengan car aitu bisa menuntut dady seperti yang ia mau? Andai ia tahu, bahkan istri yang selama ini ia aniaya itu ditangan dady sangatlah baik-baik saja dan sebentar lagi sembuh dari penyakitnya.
“Andai kau mau menerima uang satu milyar dari Meera dari pergi jauh dari mereka semua, pasti semua ini tak akan terjadi, Pak tua.”
“Astaha, Ayah!” geram Meera megepalkan tangannya dengan gelisah melihat video kelakuan ayahnya saat itu. Bahkan ibu yang melihatnya juga menelpon akibat begitu malu dengan kelakuan pria yang masih menjadi suaminya itu.
__ADS_1
“Maafkan ayahmu, Nak.” Suara ibu tertahan tangis saat ini, terutama mengingat kisah yang terjadi beberapa tahun lalu yang menimpa mereka bertiga dan menewaskan istri menantunya.