Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Cemburu 2


__ADS_3

Hari mulai siang, tampaknya Mia sudah dibuat kewalahan oleh tingkah Sean disana apalagi tak ada Momynya. Ia membuat makan siang berantakan, semua buku di rak ia hamburkan sesuka hati ketika ia mulai tak suka dipaksa belajar oleh gurunya.


Mia beberapa kali menarik napas kemudian mengeluarkannya dengan kasar menghadapi tingkah anak itu saat ini, apalagi banyak yang ikut mengompori suasana hatinya yang mulai tak terkendali.


“Sudah saya biang, anak itu tak cocok di Sekolah umum. Dia harusnya masuk sekolah luar biasa, karena disana pasti ada guru khusus untuknya.” Bu Dona kembali membuat gara-gara, apalagi tak ada Meera yang menjaganya.


“Ibu ini, ngga takut sama sekali loh. Padahal dia anak bosnya suami,”


“Kenapa takut? Saya bilang apa adanya, bukan? Dia kalau begini, bisa ganggu kenyamanan siswa lain, bahkan bisa melukai temannya. Mentang anak orang kaya seenaknya.” Bu Dona bersedekap bangga ketika mampu bersuara lagi disana. Ia suka disanjung, pemberani dan tegas berwibawa.


“Terus maunya apa? Kamu Momy… Momy terus! Momy kamu disini ngga ada, mau apa?” sergah Mia kehilangan kesabarannya saat itu. Sean yang kaget langsung diam, berdiri dan berli menuju pojokan dibawah jendela dan meringkuk ketakutan disana.


“Dasar anak orang kaya,” kesal Mia padanya.


“HIks… Momy,” sedih Sean ditempatnya.


‘Lihat, kebiasaan dimanja dia. Apalagi Momy barunya itu yang_”


“Yang apa?” tanya Meera yang mendadak ada dibelakang mereka. Seketika diam, mundur dan memberi jalan untuk Meera menghampriri putranya. Ia memanggil Sean, yang saat itu langsung berdiri dan memeluknya dengan erat dengan segala rindu yang ada.


Meera tak banyak bertanya ataupun bicara, hanya melirik CCTV yang ada diruangan itu saja bisa mmebuat wajah Mia pucat karenanya. “Aku bisa jelasin,” ucap Mia, tapi Meera berlalu begitu saja.


“Belum puas?” lirik Meera pada bu Dona yang langsung menurunkan sedekapnya. “Saya pernah bilang, jika urusan suami kita berdua adalah urusan pekerjaan mereka dan saya tak mau campur aduk itu semua. Tapi ini anak saya, dan saya ngga akan tinggal diam.”


“M-Mau apa? Bisa apa sama saya?” tantang bu Dona yang semena-mena. Tapi saat itu Meera tampak begitu tenang dengan senyum miringnya.

__ADS_1


Meera memang ingin professional, ia tak mau mencampur aduk urusan suami dengan anak mereka di Sekolah. Apalagi, semua akan berpengaruh dengan masa depan anak mereka. Itu tak akan Meera lakukan.


“Dady!” pekik Sean ketika melihat dady Louis keluar dari salah satu ruanga di Sekolah itu. Ia tersenyum pada sang putra dan segera berjalan menghampirinya, tak ayal membuat semua mak-mak disana membulatkan mata terutama bu Dona karena itu bos besar suaminya.


Dady benar-benar baru sekali datang ke Sekolah itu karena selama ini urusan ia serahkan pada Dafa. Dan hari in, itupun atas permohonan Meera agar mau mengantar untuk menjemput putra mereka disana.


“Hey, Sayang… Harimu menyenangkan?” tanya Dady, seketika Sean saat itu melirik Mia yang ada jauh darinya. Mia langsung menundukkan kepala.


“Of course, Dady.” Sean menjawab dengan riang gembira. Mungkin karena kali pertama dady menjemput di Sekolahnya.


“Mom, selamat_”


“Ya, kenapa, Dad?”


“Ya, aku menuruti maumu, bahwa kau ingin jadi salah satu pemilik Yayasan di Sekolah ini. Aku baru saja mengajukan diri menjadi donator tetap atas namamu disini,” ujar Dady seketika melengkungkan senyum Meera padanya. Serasa langsung ingin memeluk dan menciumnya saat itu juga.


Jangan dibayangkan bagaimana ekspresi bu Dona dan Mia disana. Mereka seperti dua orang yang berada diantara dua jurang berbahaya saat ini.


Bel berbunyi, waktunya Meera mengemas semua barang Sean di ruangannya saat ini. Meera melirik Sean tajam ketika ketahuan tak menghabiskan makanan dan bahkan membuangnya berserakan. “Ocean Alexander Damares?”


“Yess, Momy. Sorry, maaf…” ucap Sean dengan begitu lembut padanya. Ingin marah, tapi ekspresi Sean begitu imut hingga Meera hanya bisa menghela napas panjan karenanya.


Mereka pulang, berjalan keluar beriringan dengan yang lain menuju parkiran mobil. Tampak benar seperti keluarga yang bahagia dimata mereka yang melihatnya. Bahkan Dady mengajak Sean dan Momy makan siang bersama di Restaurant langganannya karena Sean sendiri belum makan siang ini.


Sepanjang jalan didalam mobil itu jiwa ibu-ibu Meera mulai muncul lagi, ketika ia mengomeli Sean dengan segala tingkahnya di Sekolah itu hingga membuat bu Mia geram padanya.

__ADS_1


“Kenapa Sean tak suka membaca? Bahkan Sean tak bisa membawa nama Momy dan Dady.” Sean hanya menundukkan kepala mendengar omelan Momy nya. Ia tampak sedih dan menenggelamkan wajah dileher Meera saat itu dan terisak disana.


Dady ingin menenangkan, tapi tangan Meera mencegahnya.


“Momy tak akan pernah melarang Sean suka dengan apapun, dan mendalami apapun yang Sean sukai. Tapi Momy ingin Sean membaca hingga pandai. Sean tahu Dady, Sean juga yang memaksa Dady agar Momy tinggal bersama Sean saat ini. Mau momy pergi lagi?”


“No!” pekik Sean keras padanya.


“Jadi, Sean harusnya tahu apa yang momy inginkan saat ini.”


“Yess, Momy.” Sean mengangguk dan mengangkat kepalanya saat itu, sementara Meera mengusap air mata dipipi sang putra.


Hingga keduanya tiba di Restaurant, dan saat itu mereka segera masuk kedalam ruangan yang telah dady pesan untuk makan bersama. Dengan menu yang cukup mewah, Sean begitu bahagia ketika makanannya datang tepat didepan matanya.


“Sean makan ini?” tanya Meera ketika melihat steak diatas meja.


“Ya, Sean menyukainya. Ini lebih baik daripada mie instan, dan aku selalu melarang agar Vira dan yang lain meberikannya.” Dady mulai menyantap hidangan yang ia pesan saat itu.


“Kasihan, pasti dia tertekan.” Meera bergumam dan langsung mendapat lirikan tajam suaminya.


“Mie instan, jajanan, cemilan. No!”


“Tapi sesekali bolehlah, kenapa dilarang?”


“Momy, nikmati saja hidanganmu saat ini.” Meera hanya menganggukkan kepala, kemudian menyuapi Sean dengan steaknya. Ia berjanji akan mencuri kesempatan dan membawa Sean bersenang-senang setelah ini.

__ADS_1


Hingga hp dady mendadak berdering. Ia meraihnya dari meja, setelah itu pergi meninggalkan Sean dan Meera di meja mereka tanpa pamit sama sekali. Meera langsung melirik sedih, dan juga penasaran siapa yang menghubungi sang suami hingga hanya untuk menjawab saja haru pergi dari mereka berdua.


Namanya pengantin baru, masih sensitif pastinya. Tapi, Meera entah kenapa perasaannya sedikit tak enak saat ini dengan debaran jantung yang cukup kuat. “Aku cemburu? Apakah itu dari wanita?”


__ADS_2