
“Mom, ngantuk.” Sean mulai menggelendot manja pada Meera saat itu. Dan dari wajahnya, ia tak tampak jika tengah berbohong saat ini.
“Bukunya kita beresin dulu, ya?” bujuk Meera, dan Sean langsung beranjak merapikan semua yang ada di meja, dan bahkan tanpa di perintah sama sekali, Ia mempersiapkan buku untuk jadwalnya esok hari.
Meera duduk, tersenyum dan begitu bangga dengan putranya saat itu. Ia langsung mengulurkan tangan dan membawa Sean ke dalam pelukannya.”Mau di bacain cerita malam ini?” Sean mengangguk senang mendengar tawaran itu dan segera mencari buku untuk Meera bacakan saat itu.
“Jack an the beans? Ini Sudah berapa kali, Sayang? Momy bosan,” rengek Meera, bahkan ia sempai hafal tanpa harus melihat bukunya saat itu. Namun Sean suka itu, dan ia tetap ingin itu untuk Meera bacakan sebagai pengantar tidurnya.
Meera mengalah lagi, ia membacakan cerita itu hingga Sean memejamkan matanya. Tangan Meera mengusap kepala anak kecil itu dan sesekelia mencium aroma segar yang ada disana, bau khas anak-anak yang amat ia sukai terutama pada Sean yang menjadi magnet tersendiri untuknya saat ini.
“Sayang aku, yang pinter ya? Nanti kalau mau minta adek baby, kita rundingkan sama dady dulu.” Lagi-lagi Meera mengecup Sean, hingga ia merasa lelah sendiri dan memejamkan matanya disana.
Paling nanti dady menjemput dan menggendongnya untuk masuk ke kamar. Dan apapun yang terjadi setelah ini, Meera harus siap dan mengumpulkan tenaganya hingga penuh Kembali.
“Hish!! Benerkan, tidur pisah. Apa kataku, pasti pernikahan Cuma sandiwara deh. Aku fotoin buat bukti,” ucap Ane saat itu, entah bukti untuk apa dan untuk siapa nanti.
Ia kemudian pergi dari kamar itu dan menuju sofa ruang tamu yang lampunya ia terangkan. Sengaja, agar dady Louis dapat melihat keseriusannya dalam belajar dan menyelesaikan semua mata kuliah. Ia ingin sekali dipuji.
__ADS_1
Hingga beberapa lama ia membolak balik semua buku yang ada di hadapannya saat itu, namun dady tak tampak sama sekali keluar dari ruang kerjanya. Padahal ia sudah memperhitungknan jika semua tepat ada pada sudut pandang dady Louis ketika keluar dari sana. Ia sampai mengantuk menunggu waktu itu tiba, dan ia akan bergaya seolah ia tengah berjuang dengan begitu keras saat ini.
Hingga terdengar pintu ruangan itu terbuka. Matanya yang mulai berat itu seketika terbuka dan ia merapikan diri segera dan meraih bukunya Kembali, tak perduli jika buku itu terbalik.
Namun, dady tak melihatnya sama sekali, ia justru berjalan berlawanan dari kamarnya saat itu dan justru berjalan menuju kamar Sean. Sangking penasaran, bahkan Ia berdiri dan berjalan memperhatikan arah atas hingga kakinya tersandung kaki sofa tanpa sengaja.
“IIih!!” geramnya menendang sofa itu dengan keras. Ia semakin penasaran ketika dady berasa disana cukup lama, “Pasti mau kiss Sean, iya kan?” tebaknya, karena memang kakaknya itu begitu cinta anaknya.
Tapi, apa yang ia lihat setelah itu? Bahwa dady justru manggendong Meera keluar dari kamar sang putra, bahkan tampak begitu mesra karena tangan Meera mengalung di leher suaminya. Ane membulatkan mata saat itu, memastikan ia tak salah lihat kali ini. Bahkan ia nekat memperhatikan ketika mereka benar-benar masuk kedalam kamar dady saat itu.
Ruangan dady memang kedap suara, tapi mungkin akan terdengar jika sedekat itu oleh Ane.
“Dady sudah selesai kerjanya?” tanya Meera setengah membuka mata. Dady yang baru saja membuka kemeja dan jam tangannya saat itu langsung duduk disebelah Meera dan membelai wajah bersihnya yang mulus.
“Mereka akan merepotkanmu beberpaa hari ini,”
“Iya, ada mas Dafa, kan? Jadi aman,” jawabnya membalas belaian dipipi dady saat itu. Terasa sedikit kasar dengan bulu-bulu yang mulai tumbuh disana. Mungkin besok Meera akan mencukurnya hingga Kembali bersih.
__ADS_1
“Kau tak suka?” tanya Dady, dan Meera saat itu menggelengkan kepalanya.
“Geli,” jawabnya lembut.
Dady berbaring disebelahnya saat itu bertelan jang dada, satu tangan Meera raih untuk menjadi bantalnya. Awalnya Meera ingin memejamkan mata lagi karena masih mengantuk, namun dady justru menggesekkan jenggot kasar itu ke wajah Meera hingga tertawa dibuatnya.
“Geli, jangan…” lenguh Meera saat itu. Tapi bukannya diam, dady malah justru semakin aktif dengan tangan besar yang mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Meera saat itu dan menyerang ganas bibir indahnya
Meera menggeliat seperti cacing kepanasan mendapat semua stimulant yang mulai menyentrum sekujur tubuh kecilnya. “Hmmpphhh!!” Ia sampai tak tahan melenguh saat itu. Setiap sentuhan yang dady berikan benar-benar langsung membuatnya gila dan hilang akal.
Bahkan tak hanya Meera yang mulai lepas kendali, dady juga mulai semakin buas saat ini untuk beralih posisi mengungkung tubuh sang istri. Bisa dibayangkan mereka sedang apa disana.
“AAaarrgghhh!! Mereka? Menyebalkaaan!” Ane juga ikut gila rasanya mendengar suara-suara lakhnat dari dalam sana. Ia kemudian menutup telinga dan berlari menuju kamar dan segera menutup tubuhnya dengan selimut yang tebal.
“Kamu kenapa?”
“Udah, Ma… Diem!!”
__ADS_1