
“Siapa?” tanya dady pada Shinta, karena saat itu mereka tengah bersama menemui dokter bedah yang menangani ibu untuk proses kelanjutan pengobatannya.
“Nyonya, tapi beliau tak lagi menjawab ketika saya tanya.”
“Nanti aku yang akan menghubunginya,” jawab dady, dan kemudian Shinta menganggukkan kepalanya.
Dady ke kamar mandi ketika Shinta menjawab panggilan itu, ia tak enak karena sudah beberapa kali memanggil dan tak ada yang menjadabnya. Tapi, ketika dijawab justru Meera diam seribu bahasa.
Obrolan demi obrolan mereka terus berlanjut. Shinta memberikan hasil kemoteraphy ibu pada sang dokter saat itu dengan segala perkembangan yang ada, dan bahkan ibu sudah sadar dan mulai mau menyapa Shinta meski terkadang ia sibuk mempertanyakan Meera.
“Sudah kemo ke berapa?” tanya dokter padanya.
“Kemo ke Tiga dari 6x jadwal yang ada. Jadi minggu depan kemo ke Empat,” balas Shinta padanya.
Dokter tampak menganggukkan kepalanya setelah itu, terlebih lagi ketika Shinta memberi info mengenai semua efek kemo yang diterima dengan baik oleh tubuh ibu Meera. Dari berat badan yang bertambah, wajahnya juga tampak lebih segar dari biasanya meski rambut tampak mulai rontok. Tapi ibu tak mempermasalahkan itu smeua, dan semangat hidupnya begitu tinggi saat ini demi Meera.
“Baiklah… untuk kemo ke Empat nanti biar saya langsung kontrol beliau karena saya ada jadwal di Rumah sakit lain minggu depan.”
“Baik, Pak.” Dan seperti biasa, pertemuan itu tak berlangsung lama karena kepadatan jadwal yang ada.
Dady langsung mencoba menghubungi Meera saat itu juga, tapi Meera tak sama sekali membalas panggilannya. “Jangan-jangan? Aaisssh… kenapa lagi wanita ini?” fikir dady yang langsung berfikir aneh pada istrinya saat itu.
“Shinta, untuk keuangan akan segera ku transfer padamu.”
“Baik, Tuan.” Shinta mengangguk, dan ia mambaca kecemasan dady saat itu. Apalagi dady langsung pamit pulang untuk menemui sang istri, karena sempat cerita jika Meera tengah tak enak badan saat ini.
Shinta paham, dan selepas kepergian mereka semua ia memilih duduk santai sejenak di kursi dengan segala ketenangan yang ada. Sejak merawat ibu, ia lelah dan jarang memiliki waktu untuk me time.
Meera yang baru saja bekurung di kamar lantas keluar karena kehabisan air minum persediaannya. Ia seperti tengah semedi, makan pun ia tak selera saat ini. Tapi tubuhnya tak lemas hanya karena itu dan hanya merasa malas untuk melakukan apapun seharian.
“Vira, Sean mana?” tanya Meera yang menemuinya di dapur.
__ADS_1
“Tuan sedang main, Nyonya. Daritadi nanyain, tapi_”
“Maaf ya, merepotkan.” Meera merasa menyesal karena moodnya yang berantakan saat ini. Terlebih lagi ia mendengar suara mobil Ane pulang dari Koasnya, serasa pintu rumah itu langsung ingin ia kunci agar ia tak bisa masuk sama sekali.
Meera cepat-cepat pergi agar tak bertemu dengannya, namun telat. “Eh, ada NYONYA. Kok pucet? Apa abis sedih lagi?” goda Ane padanya saat itu.
“Ane, aku ngga mau cari ribut.” Meera segera melangkah dan akan pergi darinya saat itu, tapi lagi-lagi Ane mencekal tangannya.
“Jangan pergi dulu, aku tuh punya sesuatu buat kamu.” Ane membujuk agar Meera tiggal, dan ia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya saat itu dan memberikannya pada Meera dengan wajah yang ceria.
“Apa ini?”
“Ngga papa. Udah dilihat dikamar aja,” balas Ane yang kemudian langsung lari menuju kamarnya sendiri. Saat itu oma entah pergi kemana, karena sejak pagi ia berangkat bersama Ane tapi tak kembali bersamanya.
Meera langsung masuk ke kamar dan ia duduk untuk membuka semua foto yang ada di dalam amplop dari Ane untuknya.
Ya, foto. Itu adalah foto dady bersama seorang perempuan cantik, dan mereka tampak sangat akrab sekali saat itu. Bahkan dady sesekali memberi senyum dan memegang punggung wanita itu. Meera langsung gemetar melihatnya, bahkan hati Meera perih seketika. Ia merenung cukup lama, bahkan ia tak sadar jika suaminya pulang dan masuk ke dalam kamar mereka yang remang. Meera segera menyimpan foto itu di dalam nakasnya.
“Udah ngga papa. Dady tumben pulang cepet?”
“Ya, aku hanya memiliki beberapa pertemuan hari ini dan aku sengaja pulang cepat untukmu.”
“Untuk Meera?”
“Ya… Jika kau masih kurang enak badan, aku berniat mengajakmu cek up hari ini. Aku tak ingin kau sakit dan_”
“Tak bisa melayani Dady dan Sean lagi?” tanya Meera, dan dady langsung mengerutkan dahi mendengarnya. Tatapan dady seketika tajam, seolah menuntut jawaban dari apa yang belum ia pertanyakan.
Meera saat itu langsung meraih hp yang dipegang dady dan membukanya, bahkan yang ia cari dapat ia temukan dengan cepat karena dady juga baru saja mengirim sejumlah uang untuk Shinta yang kesekia kalinya. Dan lagi-lagi dalam jumlah yang cukup besar.
“Ini_” ucap Meera menunjukkan laporan keberhasilan transfer itu.
__ADS_1
“Aku bisa melakukan transaksi besar dan mengirimnya pada siapapun.”
“Dia siapa? Shinta, dan bekali-kali dady kirim uang sama dia gede banget. Bahkan dia kan, yang dady angkat panggilannya diam-diam kalau ada Meera? Kenapa harus sembunyi?” tanya Meera yang mulai terisak lagi.
“Bukankah aku katakan agar kau tak menangis lagi?”
“Bagaimana ngga nangis? Dady terlalu banyak rahasia dari Meera. Dari Mas Dafa, mendiang momy Sean dan_” Meera melangkah mengambil foto tadi dari nakas dan memberikannya pada dady. “Dady sering menemui wanita itu kan?”
“Ya, bahkan aku baru saja bertemu dengannya untuk_”
Buugghh!! Meera melempar suaminya dengan bantal yang ada didekatnya saat itu.
“Meera!!” bentak dady pada akhirnya. Entah kenapa Meera seperti anak kecil saat ini yang terus merengek meminta perhatian darinya. “Katakan, siapa yang memberi ini padamu?”
“Jelasin dulu dia siapa? Dady kenapa selalu mengelak ketika Meera meminta penjelasan? Sesulit itukan terbuka sama istri? Atau… Memang selama ini dady hanya ingin mengikat Meera agar patuh dan fokus merawat Sean? Dady ngga pernah mau membuka hati untuk Meera, dan hanya Meera yang berjuang sendiri selama ini.”
Meera semakin deras meneteskan air matanya saat itu. Ia terisak, sementara dady hanya diam beberapa kali menghela napas tampak begitu kuat menahan segala rasa emosi yang ada. Hingga akhirnya tangan besar dady mencekal lengan Meera dengan cukup kuat dengan tatapan tajamnya.
“Dady, sakit.” Meera merantih kesakitan akibat cengkramannya saat itu.
“Aku takt ahu apa yang membuatmu seperti ini. Tapi yang jelas, kau Sudah melanggar perjanjian yang sudah kita buat.”
“Perjanjian kita hanya agar Meera tak bertanya tentang ibu! Meera sudah menuruti apa yang dady mau dan Meera tak pernah membangkang selama ini. Bahkan Meera sama sekali tak pernah keluar dari rumah jika bukan bersama Dady. Lepasin,” rengek Meera dengan segala kesakitannya saat itu.
“Ikut aku!” ucap dady yang kemudian menarik tangan Meera keluar dari kamar, menuruni tangga dan mengajaknya pergi.
“Jaga Sean, jangan sampai Ane mendekatinya!” titah dady ketika Dafa kembali dan mereka bertemu dipersimpangan pintu masuk.
“Dady mau bawa Meera kemana?” tangis Meera saat itu.
“Bukankah kau bertanya dia siapa? Tangismu akan lebih keras setelah ini,” ucap dady yang kemudian menyetir mobilnya dengan begitu kencang.
__ADS_1
Meera berantakan saat itu dengan segala tanda tanya dihatinya.