
Suara tangisan keras itu sontak menggemparkan seisi rumah. Dafa yang baru bangun dari tidurnya langsung bergegas menghampiri Sean disana bersama beberapa maid lainnya yang tengah bekerja mempersiapkan sarapan dan bekal sang tuan kecil.
“Sean… Jangan menangis. Pagi ini mandi sama paman aja, dan paman yang akan suapin Sean. Okey?” bujuk Dafa pada keponakannya itu.
“No!! Momy… Momy… Momy!” panggilnya berulang kali hingga membuat mereka semua menggaruk kepala.
“Memangnya, Nyonya dimana?” tanya Vira, salah satu maid yang ada disana.
“Nyonya semalam diculik Tuan,” bisik yang lain, dan mereka hanya tersenyum renyah mendengarnya.
“Hussst!” tegur Dafa hingga mereka diam semua.
Dafa terus merayu Sean yang masih diam dipintu kamar dadynya. Ia terus merayu dengan berbagai cara agar Sean mau bersamanya hari ini untuk semua keperluan yang ada, dari cara yang lembut hingga sesekali bernada ancaman sangking gemasnya Sean tak mau beranjak dari tempatnya.
“Kita telepon Momy sambil mandi?”
“Malu!” Sean bahkan sudah bisa menyebut kata itu, dan Dafa cukup senang mendengarnya.
“Baiklah. Kalau malu, berarti kita video call Momy Sean sambil sarapan. Bagaimana? Tapi Sean harus mandi dulu,” bujuk Dafa lagi, padahal ia sendiri belum mandi. Entah bagaimana ia mengatur waktunya lagi pagi ini.
Padahal sudah sedikit lega ketika ada Meera, tapi sepertinya dua ayah dan anak ini akan saling berebut untuk Meera.
Akhirnya Sean beranjak darisana, ia mengulurkan tangan dan Dafa segera menggendongnya masuk kedalam kamar. Tak lupa Dafa meminta Vira untuk mempersiapkan seragam kerja untuknya dan mengantarnya ke kamar Sean saat itu juga.
Dan sesuai janji, bahwa ketika sarapan Dafa akan menghubungi Meera untuk putra yang amat merindukannya. Sean amat antusias menunggu Momy menjawab panggilannya saat itu.
“Momy!” panggil Sean ketika tersambung pada Meera disana. Meera sendiri masih berada diatas ranjang dan masih begitu malas untuk bergerak setelah sarapan.
“Hey, sayangku. Sudah mandi?” tanya Meera yang juga rindu pada sang putra, tapi seharian ini sepertinya masih memiliki tugas negara bersama dadynya.
“Yess, Mom. Where are you?” tanya Sean yang penasaran ketika Meera pergi bahkan tanpa pamit dan membuatnya menangis.
“Momy temani dady sebentar, nanti Momy temani Sean. Okey?” Sean tampak lesu mendengarnya. Baru saja beberapa hari sekolah ditemani Momy, dan hari ini harus berpisah lagi. Ia murung, seakan ingin menggelengkan kepala dan menolak ucapan Meera saat itu juga.
Mungkin bagi Sean, Momy itu mutlak miliknya hingga dady tak boleh merebut wanita itu darinya.
__ADS_1
“Sayang,” panggil lembut Meera pada putranya disana. Sangat ia sayangkan ketika melihat wajah Sean, namun ia juga begitu lelah saat ini.
“Yess, Momy.” Jawaban pasrah dari Sean sebelum mematikan panggilannya.
Meera membenarkan posisinya saat itu. Ia saja hanya memakai kemeja besar dady karena tak memiliki pakaian ganti saat ini, dan ia tak mungkin bisa keluar dalam kondisi seperti ini. Ia membolak balikkan tubuhnya bagai ikan goreng diatas ranjang, meski kadang juga seketika ingat ketika dady yang melakukannya semalam. Hal itu membuat perutnya keram seketika.
“Aaahh!! Malah kebayang-bayang,” gumamnya.
Meera kemudian menyalakan hp lagi untuk menelpn dady yang ada dikantornya saat ini, namun yang mengangkat hanya asistennya karena dady tengah ada sebuah pertemuan di ruang lain.
“Nyonya, ini Sila.”
“Oh iya, Mba Sila… Dady mana?”
“Sedang rapat? Ada perlu, biar saya panggilkan.”
Meera yang belum terbiasa menjadi istri DIrektur justru tampak kebingungan saat ini. Ia ragu dengan tawaran Sila padanya, dan akan mengganggu sang suami ketika bekerja.
**
Bagaimana tidak? Sean daritadi memanyunkan bibir dan terus bersedekap selama perjalanan menuju sekolahh dan tak mau bicara pada siapapun yang ada didekatnya. Dafa sampai kebingungan bagaimana lagi cara untuk membujuk sang keponakan.
Bahkan hingga keduanya tiba di Sekolah, Sean turun dan berjalan sendiri membawa tas dan perlengkapannya masuk ke dalam ruang kelas. Dafa hanya bisa menggaruk kepala kebingungan melihatnya.
“Pak Dafa sudah datang?” sapa Mia padanya. Ia memang kesengsem Dafa sejak pertama Dafa mengantar Sean kesekolahnya. Ia akan selalu semringah ketika Dafa datang, pantas saja ia selalu uring-uringan ketika Meera dekat dengan pria itu.
“Pagi Bu Mia. Maaf, hari ini saya titip Sean karena Momy Sean sedang tak bisa menjaganya.”
“Momy Sean?” Tampaknya Mia belum paham jika Meera sudah benar-benar jadi Momy Sean saat ini. Ia kira, itu hanya panggilan akrab Sean padanya meski hanya sebaats baby sitter. Ya, dia masih anggap Meera sebagai baby sitter Sean.
“Ya, Momy Sean_Bu Meera. Beliau sedang menemani Dady Sean dalam sebuah pertemuan, hingga saya yang ambil alih saat ini.
Serasa tersambar petir di pagi hari yang cerah dengan cahaya matahari yang indah. Mia seakan langsung lunglai dan kakinya gemetar saat itu juga, bahkan ingin sepertinya Ia menghilang dari wajah Dafa saat itu juga. Apakah Meera sering curhat pada Dafa bagaimana ia memperlakukannya selama ini?
Mia serasa cengo. Mulutnya terkatup seketika tak bisa bicara apa-apa selain hanya menganggukkan kepala pada Dafa. Ia terselamatkan dengan bunyi lonceng yang memanggilnya saat itu dan segera berlari masuk kedalam kelasnya.
__ADS_1
Dafa ikut beranjak, ia kembali ke kantor saat ini hingga panggilan dari Meera datang padanya.
“Ya, Nyonya?”
“Mas Dafa, tolong bawakan pakaian Meera ke hotel. Meera_”
“Ehmmm… Ya, baiklah. Saya akan kesana segera.” Tanpa panjang pertanyaan Dafa membelikan sebuah dress di toko pakaian yang ia lewati dari sekolah Sean. Ia tak sempat lagi mampir ke rumah setelah ini karena begitu banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor.
Tiba di Hotel Dafa segera naik ke kamar Dady tanpa diantar oleh petugas. Ia mengetuk pintu dan Meera segera membukanya saat itu juga dan bahkan mempersilahkan Dafa untuk masuk dan mampir sejenak.
“Maaf, Saya masih ada pekerjaan dan_”
“Kau berani mengundang dan mempersilahkan Dafa masuk kedalam ketika aku tak ada?” tanya Dad yang mendadak muncul dihadapan keduanya.
Meera menelan saliva. Tatapan Dady begitu tajam dan mengerikan saat itu seolah siap menerkamnya kapan saja terutama Dafa.
“Dady, Meera bisa jelaskan.”
“Dafa_”
“Ya, Tuan… Saya pergi, permisi.” Dafa menunduk dan langsung berputar pergi meninggalkan mereka berdua disana. Meera lebih tahu bagaimana cara menjelaskan semua pada suaminya, dan ia tak mau terlalu ikut campur dalam itu semua.
Dady masuk, ia melepas jas dan melemparnya diatas ranjang saat itu sementara Meera menutup pintu dan menghampirinya untuk menjelaskan. Namun hanya melihat dady saja tubuh dan kakinya sudah bergetar begitu hebat saat ini.
“Meera hanya minta diantar baju, disini tak ada pakaian ganti.”
“Kau bisa membelinya via online. Kau tak kekurangan uang ketika sudah bersamaku,” uajr Dady, membuat Meera ingin menepuk kepalanya sendiri dengan tingkah bodohnya saat ini.
“Maaf,” ucap Meera.
Dady langsung menghampiri, tangan besar segera meraih pinggang Meera saat itu dan bahkan sedikit mengangkat tubuh Meera agar semakin erat dengannya. Tatapan tajam dan wajah tampan itu perlahan mendekat dan terus mendekat hingga keduanya tanpa jarak, kemudian bibir itu mulai mendekati telinga Meera dan berbisik ke telinganya.
“Kau bahkan tak perlu pakai baju ketika bersamaku.”
Lembut, namun mmebuat tubuh Meera merinding dibuatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
__ADS_1
"Masih pagi, Dady_"