
Louis meminta dafa membawa sean istirahat dan menenangkannya dikamar. Sean sensitive dengan keadaan seperti ini, maka dari itu louis berusaha tenang dan menahan diri sejak tadi.
“Momy,” galau sean dalam gendongan pamannya.
“Momy ganti baju sebentar. Sean tahu bukan,, baju momy basah karena tante ane tadi?” Sean hanya mengangguk menaruh kepala dipundak pamannya. Hinga masuk kedalam kamar, sean begitu tenang menurut pada dafa tanpa bertanya akan meera. Ia dengar ketika dady louis memintanya menemui di ruang kerja.
“Wah, Nyonya, pakain ini sangat pas. Cantik sekali,” puji maid yang menangani meera saat ini.
Meera mengenakan dress berwarna coklat selutut dengan atasan berkancing. Dari bahannya saja meera tahu jika dress itu barang mahal, dan mungkin hanya dapat ia beli dengan menahan lapar setahun penuh menabung dari gaji. Itu saja andai tak dirampok ayahnya dengan cepat.
“Ini gaun mendiang Nyonya Rose. Tuan menaruhnya disini, sengaja untuk mengenang beliau ketika rindu.”
“Apa tak apa jika saya pakai. Saya takut jika tuan marah, nanti.” Meera sedikit ragu karena keterangan itu. Tapi sang maid hanya tersenyum mendengarnya, kemudian pamit keluar. Tak lupa mengingatkan meera jika dary louis ingin bertemu dengannya di ruang kerja.
“Turun, dan belok kiri dari tangga. Disana ada sebuah ruangan, dan nyonya tinggal masuk saja.”
“Baik,” angguk meera padanya.
Meera duduk sejenak disofa yang ada disana. Ia tahu jika dibawah tengah tegang saat ini dan ia tak ingin ikut campur dengan urusan tersebut, apalagi dengan mantan mertua dan ipar louis. Ia paham bagaimana watak mereka hanya dengan beberapa kali bertegur sapa.
“Tapi kenapa, aku masih tak bisa memahami bagaimana pria iti? Padahal aku sangat mudah bisa membaca karakeristik orang yang ada didekatku. Aku justru bisa membaca akan dafa, yang baik, lembut, dan penuh perhatian. Lelaki sempurna,” puji meera pada asisten calon suaminya.
Benar pemikiran meera, jika mereka dibawah sana tengah tegang saat ini. Ane, oma vani seperti tengah disidang oleh louis saat ini dengan kesalahan fatal yang mereka lakukan. Seolah tak tahu, padahal louis juga sudah beberapa kali mengatakan jika meera adalah calon istrinya.
“Kak, ane minta maaf. Ane tadi spontan, Kak.” Ane cemas dengan tatapan louis saat ini, begitu tajam seperti siap menerkamnya kapan saja.
“Louis, mama mohon kamu maafkan ane. Ane hanya melindungi mamanya, tak lebih.”
“Melindungi mamanya dengan menghancurkan orang lain. Begitu?” tatap nyalang louis.
“Ane Cuma siram air, basah doang dan ngga ada yang rusak. Lagipula, bajunya aja jelek begitu,” lirih ane yang tak hentinya menghina. Dan itu lantas mendapat balasan tajam dari louis yang lagi-lagi berbicara dengan tatapan matanya.
__ADS_1
“Aku masih menghargai kalian disini karena kalian adalah keluarga mendiang istriku. Jika tidak_”
“Louis, Sayang… Mama ngerti kamu marah, Nak. Mama minta maaf atas nama ane, ya? Mama janji, ane tak akan mengulanginya lagi.” Oma vani mendekat pada louis dan mengelus bahunya saat itu.
Suara langkah kaki terdengar turun. Meera, akhirnya keluar dan menghampiri mereka disana karena ia merasa sudah terlalu lama menunggu. Ia melihat jam dan hari semakin sore saat ini, dan ia ingin segera menyelesaikan semua urusan yang ada dan pulang menemui ibunya.
Louis menoleh, matanya terbuka lebar dengan penampilan meera saat ini yang tampak begitu anggun dengan dress mendiang istrinya. Tubuhnya, dan semua begitu pas, hanya tatanan rambut dan tatapan matanya yang berbeda, karena momy sean adalah wanita yang begitu lembut dan penuh senyum ramah dalam hidupnya. Atau karena kehidupan merka saja yang berbeda, dan meera masih terjebak dalam semua deritanya.
“Hah… itu?” Ane menunjuk dressnya, dan ia begitu paham dress itu milik siapa. Ingin berbicara, namun oma vani segera menutup mulut ane saat itu juga.
“Louis, mama ke kamar dulu ya, buat ganti baju. Nanti kita lanjutkan lagi bicaranya,” ucap oma vani yang segera membawa putrinya pergi dari sana.
“Tuan, jadi bicara?” tanya meera yang sontak mengagetkan tatapan louis padanya.
“Ah… Ayo ke ruang kerja,” ajak louis segera, yang kemudian berjalan meninggalkan meera dibelakangnnya.
Mereka berdua telah sampai diruang kerja, yang ternyata tak kalah besar dari runang lain disana. bahkan ada beberapa koleksi buku yang nyaris lengkap seperti sebuah perpustakaan hingga mmebuat meera terpana. Sangking terpananya, hingga meera tak sadar jika louis berhenti dan meera menabrak tubuh besarnya saat itu.
Meera lantas bertanya alasan louis memanggilnya sembari mengusap kepala yang sebenarnya tak sakit karena terbentur dada. Tetap sakit sih, kalau dirasa.
“Dia memang mantan mertua dan adik iparku, tapi kau calon istriku hingga kau tak perlu menuruti mereka berdua.” Louis tanpa pendahuluan membicarakan semua pada meera. Bahkan dengan tegas mengatakan jika meera tak perlu ingin mendekatkan diri pada keduanya.
Saat itu meera hanya mengangguk menuruti apa mau louis padanya.
“Dan… Apakah anda benar-benar ingin menikahi saya? Bagaimana dengan ibu jika saya disini?”
“Sudah ku bilang tempatku bukan panti werda. Ibumu akan mendapat perawatan sendiri untuk penyakitnya nanti. Dan ayahmu, dia tak akan bisa menyentuhmu selama bersamaku.”
Meera terdiam sejenak mencerna kembali ucapan dan tawaran louis padanya. Ia meyakinkan diri, bahwa ia kaburpun tak akan pernah selamat selama hidup dan akan terus menjadi bulan-bulanaan ayahnya dan akan selalu kembali menderita. “Jadi, kapan anda akan menculik saya lagi?” tanya meera, yang seketika membuat louis tersenyum miring padanya.
“Kau mau ku culik lagi? Kapan?” Louis dengan smirknya berdiri tegap lalu berjalan mendekati meera."Jika aku menculikmu, tandanya kau harus terima jika beberapa orangku akan menghajarnya,"
__ADS_1
“Besok saya gajian, dan pasti dia akan pulang untuk_” ucapan meera terhenti ketika louis semakin dekat dan membelai rambutnya saat itu. Bahkan tak segan mendekatkan wajah ke Tengkuk meera dan menghembuskan napasnya disana yang seketika membuat meera mendongakkan kepala.
“Untuk apa?” bisik louis begitu lembut padanya.
“Untuk-meminta… Uang,” ucap meera dengan suara terbata. Ia berusaha mengalihkan pandangan, namun louis meraih wajah meera dan mendekatkan bibir keduanya, lalu mengecupnya dengan lembut.
“Tuanh…” Desaah meera tanpa sadar dan berusaha melepas kecupaan louis darinya.
“Kau menolak? Kau bahkan akan menjadi istriku sebentar lagi. Setelah itu kau aman dari ayahmu, tapi kau tak akan aman dariku.” Louis meraih pinggang ramping meera dan mengikis jarak diantara keduanya.
Louis berjalan maju, mengajak meera berjalan mundur hingga sampai ke sofa besar yang ada disana. Meera benar-benar canggung karena ini memang adalah yang pertama baginya.
Buughh! Louis menjatuhka tubuh meera disofa saat itu juga. Menunduk meraih bibir meera dan meluumatnya dengan ganas meski meera belum bisa membalasnya.
“Tu-tuan, bisakah menunggu hingga kita menikah? Saya rasa itu akan lebih indah,” pinta meera yang benar-benar gugup saat ini, tapi louis benar-benar tak perduli.
Tangan kanan louis mengangkat kaki kiri meera untuk melingkar di pinggangnya, dan tangan kiri louis mengusap paha meera yang tanpa sengaja terbuka entah sejak kapan.
“Eummmhh!!” Meera melenguuh dengan semua akitifitas ganas louis yang saat ini tengah mengecapi leher indah dan nyaris menuju dadanya saat ini.
Meera menggeliat kegelian, mencengkram apa saja yang dapat ia raih disana, dan tampak begitu menggemaskan bagi luois yang tengah menjelajahi tubuh calon istrinya.
Kreekk!!
“Aarrrhhh! Astaga… Louis!” Oma vani yang mendadak masuk itu langsung berbalik badan dan menutup matanya melihat aksi mereka berdua disana.
Meera yang kaget lantas menepuk Pundak louis, hingga pria itu langsung merubah posisi untuk duduk dan meera ikut disampingnya. Tak lupa louis meraih sebuah bantal untuk ia pangku dipahanya.
“Kenapa?” tanya meera.
“Ada… Ada sesuatu yang terdesak dibawah sana. Dia, bangun,” jujur louis dengan wajah tegang memijat pelipisnya, sedangkan meera hanya melongo dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
“Astaga, tidur saja sebesar itu, apalagi jika bangun.” Meera yang entah kenapa membayangkan penampakan waktu itu yang telah mengotori fikirannya.