Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Besok pagi kita menikah


__ADS_3

Meera benar-benar memanjakan ibunya hari ini, bahkan ia tak membiarkan ibunya bergerak untuk membereskan piring dan semua perlengkapan kotor yang ada dimeja. Meera yang mengerjakan semua dan membereskannya hingga benar-benar rapi, bahkan mencuci pakaian sang ibu dan menaruhnya didalam sebuah tas secara diam-diam untuk dibawa oleh orang-orang itu nanti.


“Nanti, tolong barang ibu dibawa. Ibu tak punya apapun selain ini,” ujar meera pada louis.


“Kau kira aku tak bisa membelikan pakaian yang lebih baru dari itu? Mereka akan tahu jika menculikmu adalah sebuah rencana.” Meera lantas menepuk kepala atas kebodohannya sendiri saat itu, lalu kemuian membongkar kembali pakaian ibu dan memasukkannya kedalam lemari.


Braaakkk!!! Pintu rumah terdengar dibuka paksa dengan kuat hingga menabrak dinding, padahal saat itu meera tak menguncinya.


Tubuh meera langsung tegang, dan ia menatap jam yang ada di kamar ibu saat itu. Dan benar, memang seperti biasa ayahnya datang. Saat itu juga terdengar teriakan ibunya dari ruang tamu.


“AAaahhh… Ampun!” pekik ibu, pasti ada saja yang ayah lakukan padanya.


“Katakan dimana meera?” tanya ayah yang saat itu menjambak ibu hingga kepalanya terdongak keatas. Itu begitu sakit dan perih sampai ibu menitikan air mata.


“Meera tak ada. Dia… Ahh, dia pergi.” Ibu terpaksa bohong berusaha melindungi putrinya saat itu. Tapi meera justru keluar mematahkan perlindungan ibu padanya.


Meera berjalan santai dengan wajah yang amat datar menghampiri ayahnya, dan pria tua itu lantas melepaskan ibu dari cengkramannya. “Mana uangku?” tanya ayah meera tanpa rasa sungkan ataupun malu.


“Yah, sudahlah, kasihan meera jika terus diperas begini. Dia juga punya kehidupan sendiri,” bujuk ibu yang lemah tersungkur di lantai. Berusaha berdiri dan meraih sang suami agar tak mendekati putrinya, dan ia memeluk kaki ayah saat itu agar langkahnya terhenti.


“Lepaskan! Kau mau matii?!” sergah ayah yang begitu kasar pada istrinya, terhempas hingga tersungkur untuk yang kedua kalinya. Bahkan dahi ibu terluka terkena ujung kursi kayu yang ada, menitikan daraah yang cukup banyak disana.


“Stop!! Sekasar itu ayah hanya demi uang?” Meera marah, ia melampiaskan semua apa yang mengganjal dalam hatinya saat itu juga, apa yang ia tahan selama ini yang selalu dicegah ibu untuk ia lampiaskan. Meski tak ada pengaruhnya, tapi sedikit lega.

__ADS_1


“Kau merasa sudah berhasil hingga kau berani menghinaku begini?” tatap nyalang ayah yang mendekati meera dengan aroma alcohol dimulutnya. Meera hanya diam, napasnya berat dan tersengal pusing mencium aroma yang nyaris membuatnya muntah itu.


“Kau baru saja makan enak bersama ibumu?” tanya ayah yang melihat isi meja makan. Masih ada sisa sedikit disana, dan ia berencana memakannya ketika berhasil mendapat uang yang ia inginkan saat itu.


“Aku dicegah beberapa pria ketika datang kemari. Siapa? Pria yang membayar tubuhmu? Kau sudah semakin pandai mencari uang rupanya. Jika begitu, lebih baik kau gunakan tubuh ini agar bisa lebih cepat untuk_”


Plaaak! Akhirnya meera memberi sebuah tamparaan keras pada ayahnya saat itu juga.


Meera lantas masuk kemudian mengambil uang, lalu menyerahkannya pada pria tua tak tahu diri itu agar segera pergi. Tapi ia tak ingin segera pergi sebelum louis datang kali ini.


Namun siapa sangka, sang ayah justru membuang uang itu ke lantai hingga semua berceceran disana. Meera lantas membulatkan mata begitu rengam, dan bertanya apa mau dia sebenarnya.


“Meera capek!! Capek sama ayah seperti ini. Kenapa tak biarkan meera pergi?”


“Pergi? Aku tak pernah dengar kata itu dalam kamusku. Aku saja baru ingat, jika anakku saat ini sudah sangat cantik dan dewasa. Pasti akan laku keras,” tawanya menyeringai.


Dua perempuan melawan satu lelaki tua, tapi ia juga tengah dalam keadaan mabuk. Mereka saling serang. Meera berusaha melawan tapi ayah melampiaskan semua pada ibunya saat itu hingga ibu benar-benar lemah tak berdaya tidur dilantai kehabisan tenaga. Giliran meera yang menjadi pelampiasan. Di pukuli hinga wajahnya memar karena ia melawan sekuat tenaga hingga ayahnya kehilangan akal.


Kemudian ia menyeret meera dengan menjambak rambutnya untuk keluar dari rumah itu. Tapi beberapa pria datang menghadangnya keluar dari sana.


Kenapa telat? Tidak, itu semua rencana mereka.


“Siapa kalian?” tanya ayah meera dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


“Lepaskan dia, atau kau akan habis ditangan kami semua.”


“Kalian menginginkan dia? Wah, hebat sekali kau meera, yang bahkan sudah mendapat pelanggan sebanyak ini.”


Buughh!! Sebuah bogem melayang ke wajah pria itu tanpa aba-aba, dan ia langsung meringis melihat darah diujung bibirnya cukup banyak mengalir.


“Siapa kalian! Bayar dia jika ingin membawanya, bukan begini.” Tapi mereka tak mendengar, justru meraih pak tua itu dan menghajarnya bersama secara membabi buta. Hingga seseorang datang dan langsung menghampiri meera saat itu juga.


Pria dengan jas serba hitam, tegap dengan tatapan tajamnya melewati mereka semua yang tengah menghajar ayah meera. Ia melihat sang calon istri duduk lemah disana menatap pada ayah dan sesekali menoleh pada ibunya.“Ku bilang jangan terluka,”


“Sa-saya_” Belum selesai ucapan meera, pria itu segera membopong tubuh rampingnya. Siapa lagi jika bukan dady louis yang memiliki hobi menculik calon istrinya saat itu. Louis begitu enteng meraih tubuh meera dan mengangkatnya seperti kapas dan menaruh tubuh itu dibahunya. Dengan langkah panjang louis tiba di mobil dan menaruh meera disana kemudian berjalan duduk disebelahnya untuk menyetir.


Banyak yang mleihat kejadian itu sebenarnya, tapi louis meminta mereka diam dan keluar sama sekali dari rumah masing-masing, bahkan untuk menolong ayah meera. Boleh, tapi nanti ketika semua telah selesai dan ibu meera sudah aman dibawa mereka semua.


“Kenapa harus begini? Kenapa tak culik saya tanpa bertengkar dan_”


“Sudah ku bilang. Jika kau mau ku culik, maka kau akan melihatnya terluka.” Louis menatap tajam kedepan lalu menyalakan mobilnya untuk pergi dari sana.


Meera menoleh, ia mengkhawatirkan sang ibu yang tadi masih pingsan dengan luka disekujur tubuhnuya.


“Jangan menoleh, Meera. Apapun yang terjadi, jangan menoleh kebelakang atau kau akan mendapat hukuman dariki,” ucap dady louis tajam meski saat itu tak menatap meera sama sekali. "Ibumu akan aman setelah ini, dan jangan pernah tanyakan soal ayahmu.”


Begitu banyak pertanyaan dibenak meera, tapi ia berusaha menyimpan dan tak mengutarakannya saat itu juga. Dady louis sudah berjanji, dan ia juga akan menepati semuanya.

__ADS_1


Pria itu bahkan meraih tisu dan memberikannya pada meera agar menyeka darah pada lukanya. Saat itu dady louis tak mengajak meera langsung kerumah untuk bertemu sean, tapi membawanya ke sebuah hotel besar dan bermalam berdua disana.


"Besok pagi kita menikah. Dan setelah ini kau resmi menjadi momy sean, dan istriku."


__ADS_2