Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Jebakan


__ADS_3

Di sebuah hotel seseorang mengerejapkan matanya sinar lampu yang menyilaukan matanya, lalu dia memegang kepalanya yang sedikit pusing akibat semalaman yang membuatnya tidak sadarkan diri.


Dia mengedarkan pandangannya karena ruangan tersebut terasa asing baginya, lalu dia menatap dirinya sendiri dia pun terkejut melihat dirinya yang tak memakai sehelai benangpun hanya dengan berbalutkan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.


"Apa yang terjadi denganku?" dia mencoba mengingat kembali.


Memorynya  mencoba untuk mengingat kembali hal yang terjadi tadi malam dan sampai bisa berada di kamar hotel. Tetapi yang dia ingat hanya datang bersama dengan sang kakak lalu dia menerima minuman yang di berikan oleh kakaknya. Setelah itu dia merasakan pusing di kepalanya dan entah apa yang terjadi lagi kepadanya.


"Ugh... apa ini perbuatan kak Imel? Tetapi kenapa dia melakukan ini padaku!" menjambak rambutnya.


Terdengar suara ponselnya berdering lalu dia menoleh ponselnya yang berada di atas nakas dan mengambilnya, lalu dia pun membulatkan matanya saat dia melihat siapa yang memanggilnya.


Tutt


"Adik kau dimana? Kenapa kau tidak pulang? Ayah dan ibu mengkhawatirkanmu?"


"Aku tidur di rumah temanku kak, katakan saja pada Ayah dan ibu jangan khawatir aku baik-baik saja. Sudah dulu kak aku akan pulang!"


Tanpa menunggu jawaban dari sang kakak dia pun langsung mematikan ponselnya sepihak, dia menggenggam kuat ponselnya ada kilatan amarah yang terpancar di wajahnya.


"Aku harus meminta kakak untuk menjelaskannya," gumamnya.


Dengan cepat dia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan bergegas menuju kamar mandi, lima belas menit kemudian dia pun telah selesai dan berjalan keluar dari kamar hotel. Sesat pandangannya tertuju di meja kecil ada secarik kertas yang berisi sebuah tulisan.


Dia pun mendekatinya dan membacanya.


'Pelayanan mu sangat menarik Nona, semoga kita bisa bertemu lagi'


Dia pun mencengkram kuat kertas tersebut dan melemparnya ke sembarang arah dengan perasaan kesal dia pun melangkah keluar. Sampai di luar hotel dia pun memberhentikan taxsi untuk mengantarnya ke rumah.


...******...


Sementara di keluarga Wijaya semua keluarga sedang menunggu kepulangan seorang gadis yang tidak pulang semalaman.


"Sampai kapan kita akan menunggunya hah, anak tidak tahu diri itu kapan dia akan kembali," ucap pria paruh baya yang sudah kesal.

__ADS_1


Pria paruh baya itu adalah Tuan James Wijaya dan istrinya bernama Sinta Wijaya mereka pun sedang duduk di ruang keluarga menunggu kedatangan seorang gadis bernama Eliana Chelsea Wijaya dia adalah anak angkat dari keluarga Wijaya.


"Kenapa Eli belum datang juga? Mel adikmu sebenarnya ada dimana kenapa lama sekali!" seru Nyonya Sinta.


"Ibu bersabarlah, adik pasti dalam perjalanan pulang,"


Sepersekian detik kemudian seseorang pun melangkah masuk ke dalam dengan pakaian yang acak-acakan serta rambut yang tidak di tata dengan rapi, akibat terburu-buru untuk pulang.


"Aku pulang," ucap Eliana dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Semua mata tertuju padanya dengan tatapan yang sulit di artikan, apa lagi Tuan James dengan tatapan tajamnya lalu dia bangun dari duduknya dan menghampiri Eliana.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipinya dan semua orang terkejut tetapi tidak dengan Imel yang terlihat senang melihat sang adik di perlakukan seperti itu.


"Darimana saja hah, besok kau akan menikah kenapa kelakuanmu seperti ini membuat malu saja," ucap Tuan James dengan, sorot mata tajamnya.


Eliana memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang Ayah."Ayah kenapa kau memarahiku, kenapa kau tidak pernah menanyakan kepada kakak apa yang telah dia perbuat kepadaku"


Dengan mata berkaca-kaca Eliana tersenyum getir mendengar ucapan dari Imel." Heh, jadi kakak tidak akan menjelaskannya."


Sementara semua orang saling tatap mereka tidak mengerti dengan apa yang di katakan Eliana. Dan di sana juga sudah ada keluarga dari calon suaminya Edward dia adalah kekasih dari Eliana yang sudah lima tahun berpacaran dengannya.


"Eli, apa maksudmu kali ini, kenapa kau menyalahkan kakakmu?" Edward pun membela Imel.


"Ed, apa kau tahu apa yang dia lakukan padaku," tarikan nafasnya mulai tidak beraturan.


"Jika kau tidak memiliki bukti, jangan mengatakan sembarangan," ujar Edward meremehkan.


Eliana mengerutkan keningnya dia tidak habis pikir dengan Edward yang begitu membela Imel.


"Ed, aku ini calon istrimu kenapa kau tidak mempercayaiku," menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Heh, gadis sepertimu tidak pantas untuk aku percaya lagi. Kau yang telah mengkhianatinya Eli, aku begitu kecewa padamu," menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Deg...


Hati Eliana bagaikan di sayat pisau terasa sesak dan tarikan nafasnya semakin tidak beraturan, dia pun mengigit bibir bawahnya serta air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.


"Apa salahku Ed, kenapa kau seperti itu," mencengkram kuat tangan Edward.


Edward menghempaskan tangan Eliana lalu dia merogoh saku celananya dan memperlihatkan foto seseorang yang tidak memakai sehelai benang. Dan membuat Eliana membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ed, apa kau percaya jika aku di jebak?" 


"Cukup Eli, ini sudah membuktikan jika kau tidak serius dengan pernikahan ini. Aku kecewa Eli lebih baik kita batalkan pernikahan ini," titik final Edward.


Eliana menggelengkan kepalanya dia tidak mau membatalkan pernikahan ini, karena keluarga sudah setuju. Hanya karena masalah ini semuanya pun berubah dalam sekejap.


"Tidak Ed, bagaimana kau bisa memutuskannya sendiri Ed," Eliana menghampiri Edward." Ibu kenapa jadi seperti ini, kakak katakan yang sebenarnya kepada semua orang jika aku di jebak kak!" memohon kepada Imel.


"Adik, aku tidak mengerti maksudmu apa? Aku harus menjelaskan apa lagi!" dengan wajah polosnya.


"Kenapa kau tidak..." ucapannya langsung di potong oleh Nyonya Ara ibu dari Edward.


"Cukup hentikan pertengkaran ini, aku akan memutuskannya, bahwa pernikahan Eli dan Edward di batalkan. Tidak di sangka Eli yang mempunyai wajah polos dan lugu bisa bermain seperti itu," ucap Nyonya Ara, lalu melipat tangan di dada.


"Tidak, aku sangat mencintai Edward Bibi, kenapa kau memutuskannya" Isak tangis Eliana pecah.


Hatinya benar-benar sakit kedua orangnya tuanya pun begitu membencinya mereka sama sekali tidak membelai Eliana sedikitpun dan malah mendukungnya.


"Jika seperti itu, maka kita nikahkan saja Edwar dengan Imel, bagaimana Tuan dan Nyonya?" tanya Nyonya Sinta dengan senyum manisnya.


"Baiklah, aku setuju jika Edward menikah dengan Imel dia adalah gadis yang baik lugu, dan juga polos," ucap Nyonya Ara setuju.


"Baiklah semua sudah di putuskan, dan kau Eli jangan sampai mengacaukan pernikahan kakakmu, jika kau berani aku akan mengusirmu dari rumah ini, apa kau mengerti!" ucap Nyonya Sinta.


Tanpa mengatakan apapun Eliana berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar, Eliana pun menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Sakit! Itu yang dia rasakan saat ini karena merasa di khianati oleh kekasih dan juga oleh kakaknya sendiri yang tega melakukan hal ini kepadanya.


"Kalian semua kejam kepadaku," dengan Isak tangisnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2