
Callista telah sampai di kota A lalu dia pun tidak tahu harus mencari Devan kemana, selama belum bertemu dengan Devanius dia memutuskan untuk tinggal di hotel.
Setelah makan siang barulah di mencari keberadaan Devanius yang belum dia temukan. Callista mencari keseluruh rumah sakit.
"Aku harus mencarinya dan bertenaga kepada perawat tersebut"gumamnya.
Callista pun melangkahkan kakinya mendekati perawat tersebut dan bertanya kepadanya, mungkin saja Devan ada di sana.
"Permisi suster, aku tanya ada pasien yang seperti ini?"Memberikan ponselnya kepada suster tersebut.
Kedua Suter itu saling pandang dan mengerutkan keningnya, tidak mungkin bagi mereka memberi tahu informasi pasien kepada orang yang belum mereka kenal.
"Maaf Nona, kalau boleh tahu siapa namanya orang tersebut dan akan mencarinya"ucapnya dengan mencari nama dan data pasien.
Callista pun mengatakannya dengan jelas tetap saja nama itu tidak bisa di temukan, sudah berulang kali Callista dan suster saling berdebat dan suasana semakin panas.
Dan pada akhirnya dia tidak menemukan apapun lalu Callista keluar dari rumah sakit karena hari sudah semakin panas lalu dia memutuskan untuk kembali ke hotel saja mungkin besok atau lusa dia akan menemukannya.
Berbeda tempat dua insan yang masih terlelap dalam mimpi indahnya dan suara ketukan pintu membuatnya harus membuka matanya.
"Siapa yang mengganggu masih sepagi ini"gumamnya.
Di luar pintu suara seseorang mengejutkan yang ada di dalam kamar dengan cepat mereka memakai pakaiannya kembali dan merapikan tempat tidur dengan cepat.
"Mami, Papi kalian tidak akan bangun ini sudah siang"teriak Yehezkiel di balik pintu.
"Iya sebentar"teriak Eliana yang kini sibuk dengan pakaiannya.
Begitu juga dengan Vikram yang berlari ke kamar mandi dan tidak mungkin dia bertemu dengan Yehezkiel dalam keadaan yang begitu kusut.
Eliana melangkahkan kakinya setelah membereskan kamar dan juga pakaiannya, dengan perlahan dia membukakan pintu untuk Yehezkiel. Tanpa menunggu lama Yehezkiel pun masuk ke dalam kamar lalu dia mengedarkan pandangan.
"Papi dimana?"Tanya Yehezkiel.
"Dia di kamar mandi, ada apa Kiel kenapa kau kemari"mengajaknya duduk di sofa.
"Ini sudah siang Mami, kenapa kalian masih di dalam kamar apa yang kalian lakukan?" Tanya Yehezkiel yang kini menatap Eliana penuh selidik.
Eliana pun tidak bisa menjawabnya karena mana mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya, lalu pintu kamar mandi terbuka dan Yehezkiel bangun dari duduknya lalu dia menghampiri Vikram.
"Papi..."ucapnya.
"Hai anak Papi yang tampan, kau sudah menunggu Papi ya. Maafkan Papi ya"ucapnya lalu mengecup pipi Yehezkiel.
"Papi dan Mami sedang apa? Kalian mengabaikanku sedari tadi, aku sudah menunggu kalian seperti kain kering"kesal lalu mengerucutkan bibirnya.
Vikram pun gemas dengan tingkah Yehezkiel dan hari ini Yehezkiel merajuk kepada Vikram karena dia ingin bermain ke taman, dan tentu saja Vikram tidak akan menolaknya sebelum pergi ke taman mereka akan mengisi perut mereka yang sudah sedari tadi berdemo minta di isi.
"Iya sudah kalian tunggu di ruang makan Mami akan mandi terlebih dulu"ucapnya langsung menuju kamar mandi.
Yehezkiel dan Vikram pun keluar dari dalam kamar menuju ruang makan mereka sarapan lebih dulu karena Yehezkiel sudah kelaparan.
"Papi ayo aku sudah kelaparan menunggu kalian"ucapnya sudah tidak tahan lagi.
"Baiklah sayang ayo kita makan lebih dulu"
Mereka berdua pun makan lebih dulu tak lama Eliana pun menuruni anak tangga dan menghampiri keduanya lalu Eliana pun memakan makanannya. Setelah selesai Yehezkiel pun menagih janjinya kepada Vikram.
"Papi ayo kita pergi ke taman bermain, aku sudah menunggu sedari tadi"rengeknya.
"Baiklah ayo kita pergi"
"Hore...ayo Mami kita pergi ke taman, aku sudah tidak sabar"Ajaknya lalu menarik tangan Eliana.
"Iya sayang ayo"
Mereka bertiga pun keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil, mobil melaju menebus jalanan yang semakin siang udara semakin panas cukup lama perjalanan mereka dan sampai di taman juga.
__ADS_1
Yehezkiel keluar dari dalam mobil dan di susul oleh Eliana juga Vikram yang mengikutinya dari belakang. Yehezkiel pergi ke satu stand es krim yang paling dia sukai dan memanggil Eliana agar mendekatinya.
"Mami kemarilah"ucapnya.
Eliana menganggukkan kepalanya dan segera menghampiri Yehezkiel, setelah sampai Yehezkiel pun menunjuk salah satu es krim yang dia inginkan. Dan Eliana pun menurutinya lalu mereka bertiga duduk di taman dekat air mancur.
Hari ini Callista akan menenangkan fikirannya yang sudah semrawut mencari keberadaan Devanius yang tak kunjung dia temukan seperti di telan oleh bumi, lalu Callista pun melangkahkan kakinya menuju taman karena dia merasa lelah seharian mencari keberadaan Devanius.
"Sepertinya aku harus beristirahat dulu, sebelum mencarinya kembali"gumamnya.
Callista pun melangkah mendekati taman tersebut lalu dia pun duduk di kursi panjang sambil mengedarkan pandangannya. Tetapi matanya tidak berkedip saat melihat seseorang yang familiar baginya.
"Apakah dia? Tetapi bagaimana mungkin!"Ucapnya lalu matanya menatap terus dan tidak berkedip."Sebaiknya aku menghampirinya saja,"
Callista pun melangkahkan kakinya dengan cepat dan menghampirinya lalu setelah dekat Callista membulatkan matanya dan dia tidak mengira jika Devanius masih hidup, mata Callista pun berkaca-kaca menatap Devanius lalu dia menghampirinya dan memeluknya.
"Devan hiks hiks aku sangat merindukanmu"ucapnya dengan memeluk erat.
Eliana pun terkejut dengan kedatangan Callista yang begitu mendadak baginya, sedangkan Vikram hanya dia saja tanpa ingin menyentuhnya.
"Devan, ayo kita kembali ya, kita pulang lalu kita menikah karena aku mencintaimu"ucapnya di saat dia memeluk Devanius.
Eliana mengerutkan keningnya lalu dia pun bangun dari duduknya, sedangkan Yehezkiel pergi bermain jadi dia tidak akan mengerti pembicaraan orang dewasa. Eliana pun menarik tangan Callista dengan kasar.
"Nona Callista, apa maksud anda? Apakah anda akan menikah dengan suamiku?" Ucap Eliana dengan sorot mata tajamnya.
"Nona Eliana, maafkan aku dia itu Devan bukan suamimu, jadi anda tidak berhak mengatakan hal itu."
"Enak saja kau bilang dia bukan suamiku, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan"Kesal Eliana dan melipat tangan di dadanya.
"Nona Eliana ada apa denganmu kenapa kau mengatakan hal itu, dia itu Devanius bukan suamimu"ucapnya dengan mengerutkan keningnya.
Lalu Vikram pun mulai membuka suaranya, jika sudah begini pasti keduanya akan bertengkar hebat. Lalu Vikram pun menjelaskan kepada Callista, jika dia bukan Devanius tetapi Vikram. Dan hal itu membuat Callista menggelengkan kepalanya dia tidak percaya dengan ucapan Vikram.
"Nona aku katakan padamu, jika aku adalah Vikram, dan aku akan menjelaskan semuanya padamu"jawab Vikram saat ini yang melepaskan pelukkannya dari Callista.
"Nona maafkan aku, tetapi aku adalah Vikram bukan Devan yang kau cari"
"Aku tidak peduli siapapun kamu yang terpenting aku sangat merindukanmu dan sangat mencintaimu. Aku mohon padamu ikutlah pulang denganku"ucapnya dengan wajah memelasnya.
"Maaf Nona tidak bisa, aku sudah menikah jadi aku tidak mungkin ikut bersamamu"
Callista pun tidak mempunyai cara lagi lalu dia menghampiri Eliana dan mencekik lehernya dan tentu saja membuat Eliana kesulitan bernafas, lalu Vikram berusaha melepaskan tangan Callista.
"Callista lepaskan dia" teriak Vikram.
Dan membuat semua pengunjung menatap ke arahnya lalu mereka pun saling berbisik-bisik, Vikram tidak peduli dengan sekitarnya dia berusaha melepaskan tangan Callista, Eliana tidak bisa melakukan apapun karena dia kesulitan untuk melepaskannya karena tangan Callista begitu kuat.
Saat bersama ada sebuah mobil yang melintas dan berhenti di taman dengan beberapa orang yang keluarga dari dalam mobil tersebut pria paruh baya dan beberapa bodyguard yang kebetulan berhenti di taman lalu mereka melihat seseorang yang dia kenal lalu merkea pun bergegas menghampirinya. Yehezkiel yang melihat hal itupun segera berlari menghampiri Eliana dengan Isak tangisnya.
"Mami....."Teriaknya.
Yehezkiel pun segera menghampiri Eliana dengan sekuat tenaga dia mencoba memukul kaki Callista tetapi baginya itu tidak menyakitan.
"Diam kau bocah, enyalah jika kau tidak ingin seperti dia"ucapnya dengan sorot mata tajamnya, yang sedang mencekik leher Eliana." Hahaha... pergilah dengan tenang kau Eliana, hahaha"ucapnya dengan tertawa lepas.
"Callista lepaskan dia, kau tidak bisa memaksaku seperti ini" ucap Vikram yang masih berusaha melepaskan tangan Callista.
"Aku tidak perduli, kau harus menikah denganku!"
Wajah Eliana sudah pucat dan dia hampir kehilangan nafasnya, di saat itu juga ada seseorang yang menarik paksa tangan Callista dan membuatnya terlepas dari leher Eliana.
Mata Callista membulat sempurna saat melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Papa..."gumamnya.
"Cepat pulang Kista, kau tidak bisa membuat masalah seperti ini"ucapnya dengan wajah sendunya, ada kesedihan yang selama ini dia pendam sendirian.
__ADS_1
"Tidak Papa, aku ingin menikah dengan Devan, aku sudah menemukan Devan Papa ayo kita ajak dia pulang"ucap Callista dengan raut wajah bahagianya.
"Tidak Callista, aku tidak bisa menikah dengannya" mengusap lembut pipi Callista.
Dengan cepat Callista menepisnya."Tidak, aku tetap akan menikah dengannya, jangan menghalangiku Papa"
Vikram pun menghampiri Eliana dan memeluknya dengan erat."Maafkan aku sayang"
Vikram mengecup kening Eliana dan mengusapnya lembut, Callista pun menghampirinya dan menarik paska tangan Vikram.
"Devan kau harus ikut denganku pulang"
"Callista sadarlah aku ini Vikram bukan Devan"
Tuan Handoko pun tidak tega melihat kondisi putrinya saat ini lalu dia menyuruh dokter tersebut untuk menarik paksa Callista, melihat hali itu Callista segera bersembunyi di belakang Vikram.
"Tidak aku tidak mau dokter, Devan tolong usir dokter itu. Aku tidak mau ikut dengannya"ucapnya ketakutan.
Vikram dan Eliana saking mengerutkan keningnya melihat sikap Callista yang begitu takut kepada dokter tersebut.
"Nona Callista ayo kita pulang"ucap perawat tersebut.
"Tidak mau.... kalian pergilah!" teriaknya.
"Nona Callista, ayo Papamu sudah menunggu ayo kita pulang"mengulurkan tangannya.
Callista semakin ketakutan dia pun mencengkram baju Vikram dengan kuat, Vikram yang tidak mengerti pun segera bertanya kepada dokter tersebut.
"Dokter ada apa ini sebenarnya?"Tanya Vikram bingung.
"Maafkan kesalahan putriku Tuan Vikram, sebenarnya dia menderita gangguan mental karena saat itu dia melihat ibunya meninggal dan membuatnya depresi"ucap Tuan Handoko yang mengatakannya dengan raut wajah sedihnya.
"Maafkan aku Tuan Handoko aku tidak tahu jika putrimu mengalami hal yang paling sulit"ucap Eliana.
"Jadi saya mohon bujuklah Callista agar dia mau pulang denganku"pinta Tuan Handoko.
"Baiklah Tuan saya akan berusaha membantumu"
Vikram pun menoleh ke arah Callista yang sedang ketakutan juga tubuhnya bergetar hebat juga menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan Vikram pun memegang kedua bahu Callista.
"Lista, ayo kita pulang ya kau jangan seperti ini lagi ya"ucap Vikram dengan lembut.
"Aku tidak mau Devan, dokter itu jahat dia selalu menyuntikan obat padaku"ucapnya menggelengkan kepalanya.
"Agar kau cepat sembuh, ayo pulanglah ya"
"Apa kau akan ikut pulang?"Tanya Callista dengan sorot mata memelasnya.
Vikram menatap Eliana seolah meminta persetujuan dari, dan Eliana menganggukkan kepalanya barulah Vikram menganggukkan kepalanya dan membuat Callista bahagia.
"Tetapi kau harus di obati oleh dokter ya"pinta Vikram.
"Baiklah"
Vikram pun menyuruh dokter itupun memberikan obat kepada Callista dan menyuntikannya perlahan-lahan kepala Callista pun teras pusing dan membuat semua tubuhnya terasa lemas, lalu Callista pun pingsan di pelukkan vikram dan Tuan Handoko tersenyum senang melihat Callista menurutinya.
"Terima kasih Tuan Vikram, dan tolong Maafkan kesalahan putriku"ucapnya dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Tidak perlu berterima kasih Tuan, aku senang bisa membantumu"jawab Vikram.
Lalu Tuan Handoko menyuruh bodyguardnya untuk membawa Callista pulang kembali setelah berpamitan kepada Eliana, Tuan Handoko pun segera meninggalkan Vikram dan Eliana.
Kini Kehidupan Vikram dan Eliana pun berjalan dengan normal seperti biasanya tidak ada perselihan lagi ataupun pertengkaran di antara mereka berdua dan hidup bahagia untuk selamanya.
END
Terima kasih buat semua yang sudah mampir di karya recehku ini, maaf jika banyak typo ataupun ceritanya kurang menarik semoga kalian terhibur dan jangan lupa dukungannya ya, Othor juga mengucap beribu-ribu terima kasih yang sudah mendukung ataupun memberikan hadiah. Semoga rezeki kalian melimpah.
__ADS_1
Sampai jumpa juga di cerita yang lainnya.