
Setelah puas bermain kini Yehezkiel telah tertidur pulas di pangkuan Devanius, lalu Devanius mengusap lembut Yehezkiel seperti anaknya sendiri. Sesekali Eliana melihat keduanya dari kaca spion karena posisi mereka ada di belakang, Eliana begitu senang melihat pemandangan yang seperti itu dan perlahan-lahan dia akan mencoba membantu agar ingatannya kembali lagi.
Mobil telah sampai di rumah miliknya terlihat semua lampu sudah padam itu berarti para pelayan sudah terlelap dan sedang bermimpi indah. Mobil berhenti dan Eliana melihat ke belakang, lalu di keluar dari dalam mobil lalu menuju pintu belakang.
"Tuan Devan, Kiel biar aku saja yang menggendongnya kau pasti lelah, karena sudah seharian kau menggendongnya" ucap Eliana yang akan menggendong Kiel.
"Tidak apa-apa Nona, aku akan mengantarnya sampa ke kamarnya"tolak Devanius, lalu dia pun mulai menggendong Yehezkiel.
"Baiklah"
Eliana pun menunjukkan dimana kamar Yehezkiel dan Devanius mengikuti langkah kaki Eliana yang mulai menaiki anak tangga.
"Tuan Devan, di sebelah kiri itu adalah kamar Kiel, kau masuk saja lebih dulu. Aku akan berganti pakaian karena sangat lengket" ucap Eliana yang akan berbelok ke kamarnya." Dan sebelahnya itu adalah kamar tamu, kau bisa istirahat di sana" ucap Eliana yang berlalu menuju kamarnya.
"Baiklah terima kasih Nona" jawab Devanius.
Sampai di depan kamar Yehezkiel, lalu Eliana menyuruhnya untuk masuk dengan senang hati Devanius pun masuk ke kamar Yehezkiel yang bernuansa biru. Devanius pun perlahan-lahan merebahkan yehezkiel di ranjang miliknya dan mengusap lembut setelah di menarik selimut sampai batas dadanya.
Lalu setelah puas menatap wajah tampan Yehezkiel, tidak sengaja matanya menangkap sosok yang begitu membuatnya penasaran. Dia menoleh dan terkejut saat melihat sebuah bingkai foto yang ada di meja kecil Yehezkiel di samping tempat tidur.
Dengan tangan gemetar dia perlahan-lahan mengambil bingkai foto tersebut dan menatap wajahnya orang yang ada di dalam foto tersebut.
Kenapa dia mirip denganku? Ah tidak lebih tepatnya dia adalah aku, tetapi aku ini sebenarnya siapa?. batin Devanius.
Lalu otakmu pun berputar kembali ke masa lalu di sana ada sosok seorang wanita yang paling dia cintai yang entah siapa, karena wajahnya belum begitu jelas. Devanius memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat mencoba mengingatnya.
"Kenapa kepalaku terasa pusing" memijat pelipisnya, dan meletakan bingkai foto tersebut ke tempatnya.
Eliana yang baru saja selesai berganti pakaian pun terkejut melihat Devanius memegang kepalanya dengan cepat menghampirinya dan memegangi kepalanya.
"Tuan Devan kau kenapa, ayo aku bantu kau beristirahat di kamarmu" Eliana memapah Tuan Devanius, keluar dari kamar Yehezkiel.
Menuju kamar sebelah dan perlahan-lahan Eliana merebahkannya di ranjangnya.
"Apa kepalamu terasa sakit? Tunggu sebentar aku akan mengambil obat dulu" ucap Eliana panik.
Tetapi Devan menahan tangan Eliana dan membuat Eliana menoleh." Ada apa Tuan?"
"Nona sekarang katakan, kenapa di kamar Kiel, ada foto yang mirip denganku? Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Devanius, dia menatap intens ke arah Eliana.
__ADS_1
"Apa... maksud Tuan foto yang mana? " Elak Eliana.
"Kau tidak perlu berpura-pura lagi Nona!" Ucap Devanius datar.
Eliana menatap wajah datarnya Devanius, lalu matanya mulai berkaca-kaca melihat sikap Devanius sekarang ini.
Sikapmu tidak berubah ya, sebenarnya aku sangat rindu padamu. batin Eliana.
"Nona kenapa kau diam saja? Apakah ada pertanyaan yang salah dariku"
"Eh, tidak ada baiklah aku akan menceritakannya padamu"
Eliana pun menceritakan awal saat di bertemu dengan Vikram, dan Devanius begitu serius mendengarkannya, sesekali dia memegang kepalanya dan mencoba mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Eliana saat ini.
"Jadi maksudmu dia adalah aku? ah kepalaku sakit sekali!" Ucap Devanius memegang kepalanya.
"Tuan lebih baik kau beristirahat saja, aku akan mengantarmu ke kamar" membantu Devanius.
"Nona, jika kau benar, maka Kiel itu adalah..."menatap dengan wajah sendunya.
Untuk sesaat mata mereka saling bertemu cukup lama saling memandang, tetapi tatapan mata Devanius tertuju pada bibir Eliana entah dorongan dari mana dia pun perlahan-lahan mendekatkan kepalanya lalu semakin dekat dan akhirnya Devanius mengecup bibir milik Eliana. Mungkin Eliana bisa saja membohongi dirinya, tetapi tidak dengan hatinya yang begitu merindukan suaminya.
"Maaf Tuan Devan, bu-bukan maksudku seperti itu" ucap Eliana memalingkan wajahnya.
"Ah, lebih baik aku istirahat dulu Nona, selamat malam"ucapnya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Eliana malu tetapi di dalam hatinya dia sangat senang dan memegang bibirnya yang di kecup oleh Devanius.
Lalu dia pun melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, sementara Devanius segera menutup pintu kamarnya dan detak jantungnya tidak beraturan.
"Ada apa dengan jantungku, kenapa berdetak sangat kencang sekali"gumamnya."Tetapi aku lupa menanyakan kepadanya, astaga kenapa kau begitu bodoh Devan"menepuk keningnya.
Lalu Devanius pun segera naik ke ranjangnya setelah membersihkan dirinya, lalu pergi ke alam mimpi.
Pagi hari suara burung pun membangunkan tiga insan yang berbeda kamar, tetapi Eliana bangun lebih dulu sementara Yehezkiel sudah siap dengan seragam sekolahnya dan Devanius pun bingung harus melakukan apa karena dia tidak tahu.
Melangkah keluar dari kamarnya menuruni anak tangga, dan berjalan menuju meja makan dia melihat Yehezkiel sedang sarapan. Yehezkiel menoleh dan memanggil Devanius untuk sarapan bersama.
"Om Devan, kemarilah temani aku" panggil Yehezkiel.
__ADS_1
"Kenapa Kiel sarapan sendirian, dimana Mamimu?" Menghampiri dan mengedarkan pandangannya.
"Om rindu dengan Mamiku ya" goda Yehezkiel.
"Ti-tidak bukan seperti itu...." belum selesai mengatakannya, Eliana sudah ada di belakang Devan.
"Tuan Devan ayo sarapan bersama" ajak Eliana yang melewatinya lalu duduk di kursinya.
"Hah! Ba- baiklah" ucapnya gugup dan melangkah duduk di kursi.
Mereka pun sarapan bersama, tak lama Yehezkiel telah selesai dengan sarapannya dan berpamitan kepada Eliana dan Devanius.
"Mami, Om Devan sudah siang Kiel pasti telat Kiel berangkat dulu" mencium punggung tangan Eliana dan Tuan Devan.
"Hati-hati sayang" ucapnya mengusap kepala Yehezkiel.
"Baik Mamiku sayang"
"Hati- hati Kiel"
"Iya om"
Setelah kepergian Yehezkiel lalu Eliana pun bangun dari duduknya dan melangkah pergi sebelum meninggalkan Devan.
"Tuan Devan anggap saja ini seperti rumah sendiri, jangan sungkan" ucap Eliana tersenyum manis.
Buatlah dirimu nyaman sayang, karena memang ini rumahmu. batin Eliana, menatap Yehezkiel.
"Terima kasih Nona, tetapi maafkan aku karena aku harus mencari hotel untukku" ucapnya dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Tuan Devan tidak perlu sungkan, jika kau rindu dengan Kiel kapan pun kau bisa datang" jawab Eliana tersenyum manis.
"Terima kasih Nona, aku akan membereskan koperku dulu"
Setelah kepergian Devanius, Eliana menatap punggung Devan sampai menghilang dari pandangannya.
"Siapapun kau, aku tidak akan menyerah karena kau adalah Vikramku" ucapnya, lalu dia tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Bersambung
__ADS_1