
"Dia...." menoleh ke arah Eliana, lalu Eliana pun menganggukkan kepalanya."Kau...putraku"ucapnya dengan air mata menetes.
"Mami kenapa Om Devan mengatakan hal itu?"Ucap Yehezkiel polos.
"Sayang dia adalah Papi kandungmu yang selama ini kau cari nak"jawab Eliana dengan tersenyum.
"Apa....jadi i- ini...Pa-Papi!" jawabnya gugup.
Vikram pun merentangkan tangannya dengan cepat yehezkiel pun memeluk Vikram dengan erat dia benar-benar sangat merindukan sosok ayah yang selama ini dia rindukan setiap malam.
"Papi jadi....kau adalah Papiku? Ini benar 'kan, tidak bohong 'kan!"Ucap Yehezkiel yang menangis di pelukkan Vikram.
"Iya nak, ini Papi kandungmu, lalu siapa namamu? Papi belum mengenalmu!" Tanya Vikram yang kini mencium puncak kepala Yehezkiel.
"Namaku adalah Yehezkiel Valdes Viktor"sahutnya.
"Nama yang sangat indah nak"
"Iya Papi"melepaskan pelukkannya."Karena Mami yang memberiku nama itu karena aku sangat mirip denganmu Papi"ucapnya dengan bangga.
"Iya sayang"
Lalau Vikram menatap Eliana seolah meminta penjelasan darinya, Eliana mengerti lalu dia pun menjelaskannya.
Sementara gadis cantik yang sedari tadi sudah gelisah menunggu kabar dari bawahan Ayahnya, tetapi tak kunjung juga memberi kabar padanya.
"Kenapa lama sekali, bahkan sampai sekarang tidak ada kabar apapun!" Ucapnya dengan meneguk jus."Lebih baik aku menemui Papa saja"bangun dari duduknya dan bergegas keluar dari kamarnya.
Menuruni anak tangga dan menghampiri ruang kerja Tuan Handoko, lalu dia pun menerobos masuk begitu saja saat Tuan Handoko sedang memberikan arahan kepada bawahannya.
Brakkk...
"Papa kenapa sampai sekarang tidak ada kabar dari bawahanmu, kemana mereka semua Papa"Kesalnya lalu duduk di sofa, sambil melipat kedua kakinya.
Lalu Tuan Handoko pun menyuruh para bawahannya untuk segera keluar dan mereka pun mengerti lalu mereka semua keluar semua. Tinggallah Callista dan Tuan Handoko.
"Sayang bersabarlah, mungkin sebentar lagi"menghampiri Callista.
"Mau sampai kapan Papa? Aku sudah kesal menunggunya"mengerutkan keningnya dan juga raut wajah kesalnya.
Lalu terdengar dering ponsel Tuan Handoko dengan cepat dia merogoh saku celananya dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Bagaimana?"
__ADS_1
.....
"Apa...bagaimana mungkin kalian bisa kehilangan jejak lagi, cari sampai dapat apa lagi dia mengalami kecelakaan, cepat cari!" Titahnya.
Callista pun mengerutkan keningnya saat mendengar Tuan Handoko menyuruh bawahannya untuk mencari Devanius.
"Papa ada apa ini? Kenapa kau begitu marah? Apa yang terjadi?" Callista bertanya kepada Tuan Handoko, sehingga dia memijat pelipisnya."Papa ada apa ini sebenarnya?"Tanya Callista penasaran.
"Sayang bersabarlah, Devan mengalami kecelakaan dan sampai sekarang mereka belum menemukannya"mengusap pelan bahu Callista.
"Apa...itu tidak mungkin Papa, pasti itu bukan Devan Papa. Pasti Papa salah ucap 'kan!" Jawab Callista dia tidak begitu percaya.
"Benar sayang, mana mungkin Papa membohongimu"lanjutnya.
"Tidak pasti Papa bohong 'kan Papa! Ini pasti hanya trik Papa supaya aku bisa melupakan Devan iya 'kan?" Sahut callista dengan sorot mata tajamnya.
"Tidak nak, Papa serius!"
"Tidak, aku harus pergi mencarinya dan membuktikannya kepada Papa jika Devan baik-baik saja"ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tuan Handoko menahan tangan Callista."Jangan nak, kau belum tahu dimana keberadaannya saat ini Papa mohon sayang"
"Tidak Papa, Devan pasti membutuhkan bantuan Kista dia pasti kesakitan saat ini. Dan Kista tidak akan membiarkan Devan sendirian Papa"menghempaskan tangan Tuan Handoko.
Callista menaiki anak tangga menuju kamarnya segera dia mengambil koper menuju lemari untuk mengemasi pakaiannya, dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.
"Tunggu aku Devan, aku pasti akan menyelamatkanmu"ucapnya, lalu dia pun bergegas mengambil jaket dan koper yang sudah dia siapkan.
Keluar dari dalam kamar dan menyeret koper tersebut menuruni anak tangga dan di depan pintu sudah ada bodyguard dari Tuan Handoko yang sedang berjaga sedari tadi, Callista pun mencoba melewatinya tetapi dia di halangi oleh bodyguard tersebut.
"Ada apa dengan kalian biarkan aku pergi"ucap Callista mengerutkan keningnya karena kesal.
"Maafkan kami Nona, tetapi Tuan sudah mengatakan jika kami tidak boleh membiarkan Nona pergi"ucapnya dengan tegas.
"Memang kalian siapa, kalian tidak berhak mengaturku"ucapnya kesal."Enyalah kalian, "berusaha menerobos tetapi, tenaga bodyguard lebih kuat di bandingkan dengan Callista.
"Maafkan kami Nona"mencekal tangan Callista dan yang satunya menarik kopernya ke dalam rumah.
"Lepaskan aku, kalian tidak berhak mengaturku"teriaknya.
Tuan Handoko pun melangkahkan kakinya mendekati Callista."Callista, sudah Papa katakan lebih baik kau tunggu saja kabar selanjutnya, jangan membantah perkataan Papa"
"Tidak Papa, aku tidak mau! Lepaskan aku Papa"ucapnya dengan sekuat tenaga dia berontak.
__ADS_1
"Kalian jaga Nona jangan sampai di kabur, jika dia maka kalian akan tahu akibatnya"titahnya tegas dan mengabaikan teriakkan Callista.
"Papa jahat, lepaskan aku Papa!"teriaknya lagi.
Para bodyguard pun mengunci pintu kamar Callista dan mereka menyimpan kunci tersebut dan berjaga di depan pintu kamar Callista, sedangkan Callista berusaha menggedor-gedor pintu kamarnya hingga akhirnya dia pun merosot dan air matanya pun sudah membasahi wajahnya cantiknya.
Kembali lagi ke Eliana kini Yehezkiel semakin lengket dengan Vikram dia tidak mau jauh darinya. Eliana mencoba membujuknya tetapi Yehezkiel tidak mau.
"Kiel, ayo nak makan dulu"ucap Eliana yang baru saja kembali dari Restaurant.
"Tidak Mami, aku ingin menemani Papi pasti Papi membutuhkan bantuanku"ucapnya yang duduk di samping Vikram.
"Sayang makanlah dulu, jika kau sakit siapa yang akan menjaga Mamimu. Lihatlah Papimu ini belum sembuh, ayo kau makan ya"bujuknya.
Sejenak Yehezkiel pun berfikir lalu dia pun menganggukkan kepalanya, Eliana pun tersenyum dan memberikan sekotak nasi lalu Yehezkiel pun menerimanya dan langsung memakannya.
"Pelan-pelan sayang,"
"Iya Mami"
Sementara Yehezkiel menikmati makanannya, Eliana pun menghampiri Vikram dan duduk di sampingnya. Sedangkan Yehezkiel duduk di sofa, Vikram menggenggam tangan Eliana dengan erat.
"Sayang maafkan aku yang telah melupakanmu dan juga Kiel, aku benar-benar tidak ingat apapun"ucapnya lembut.
"Tidak apa-apa sayang, yang terpenting ingatanmu sudah kembali dan aku sudah senang mendengarnya, tetapi..."Eliana menggantungkan kalimatnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Vikram heran.
"Bagaimana dengan Callista? Pasti dia akan mencarimu, sayang!" Ucap Eliana menatap khawatir.
Vikram tersenyum tipis melihat sikap Eliana yang begitu khawatir padanya."Sayang don't worry"
"Tetapi..."
"Ssttt sudahlah, biarkan aku yang mengurus masalah ini. Kau lebih baik fokus mengurus Kiel"menatap intens kedua mata Eliana.
Eliana pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Vikram, lalu Yehezkiel pun menghampiri kedua orang tuanya
"Mami....sudahlah jangan menatap Papi seperti itu" Rajuk Yehezkiel lalu melipat tangan di dadanya.
Keduanya pun tersenyum melihat tingkah Yehezkiel yang menurut mereka begitu menggemaskan.
Bersambung
__ADS_1