
Sementara seseorang sedang menyuruh bawahnya agar segera bergegas menangkap seseorang yang di maksudnya.
"Cepat pergi ke kota A dan temukan dia, tidak peduli mati ataupun hidup karena bagaimanapun juga dia adalah bagian dari keluarga ini"ucapnya tegas.
"Baik Tuan"
Beberapa bawahannya pun segera bergegas untuk bersiap-siap akan pergi ke kota yang di maksud Tuannya. Setelah kepergiannya barulah seorang gadis cantik masuk dengan langkah anggunnya.
"Papa, apa kau sudah menyuruh mereka untuk menjemput Devan?" Tanyanya dengan manja.
"Iya sayang, pasti mereka akan menemukan Devan secepatnya. Jadi kau jangan khawatir ya"mengusap lembut rambut putri kesayangannya.
"Terima kasih, Papa memang yang terbaik!" Mengancungkan jempolnya.
"Tentu saja, karena kau anak gadis kesayangan Papa"ucapnya tersenyum.
Dia adalah Tuan Handoko dan putrinya Callista, Tuan Handoko pasti akan melakukan apapun demi putrinya karena sejak kecil Callista sudah di tinggal oleh ibunya karena sakit jantung dan membuat Tuan Handoko mengikuti apapun yang di minta putrinya.
Sementara di kota A, kini Devanius sedang menjemput Yehezkiel pulang dari sekolah karena sebelumnya dia sudah meminta izin kepada Eliana agar dia saja yang menjemput Yehezkiel.
Sampai di sekolah Yehezkiel pun telah keluar karena jam pelajaran telah selesai, lalu Yehezkiel mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang menjemputnya.
Mata Yehezkiel pun berbinar-binar melihat seseorang yang datang dan tersenyum kepadanya.
"Om Devan" ucapnya lalu dia pun menghampirinya.
"Iya Kiel ini Om, ayo kita pulang" ajaknya.
"Om Devan, aku ingin membeli eskrim" pinta Yehezkiel setelah masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, kita akan mencari eskrim"
Mobil pun menembus kota Jakarta yang sangat panas serta kepulan asap tebal pun ada dimana-mana. Mobil telah sampai di depan toko eskrim dengan senang hati Yehezkiel pun turun dan segera masuk ke dalam toko tersebut.
Devanius pun mengikutinya dari belakang dia melihat Yehezkiel sedang memilih eskrim yang dia sukai, setelah mendapatkannya lalu mereka berdua pun membayarnya.
__ADS_1
"Ada lagi dek?" Tanya kasir ramah.
"Tidak, ini sudah cukup" sahut Yehezkiel.
"Baiklah, ini eskrimnya dan ini total pembayarannya"menyerahkan struk tersebut."Wah dek, Papamu sangat tampan sekali, kalian benar-benar mirip" puji kasir tersebut, saat menerima uang dari Devanius.
Devanius hanya tersenyum kecil menanggapinya tetapi kata-kata tersebut membuatnya semakin berfikir dengan ucapan kasir tersebut. Sedangkan Yehezkiel hanya acuh saja, meskipun di bilang mirip dengan Devanius.
Setelah selesai mereka masuk ke dalam mobil dan Devanius akan mengantar Yehezkiel pulang ke rumahnya.
Sebelum sampai ke rumah di belakang mereka ada sebuah mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya saat mereka di toko eskrim, dan Devan pun tahu betul siapa orang-orang itu. Sedangkan Yehezkiel sedang asyik dengan sekotak eskrim yang sengaja di beli oleh Devanius.
Cepat sekali orang itu sampai.batin Devanius
"Om, Kiel ngantuk sekali apakah masih lama sampai rumah?" Tanya Yehezkiel dengan mata yang sudah sayup.
"Tidurlah Kiel, jika sudah sampai Om akan membangunkanmu"ucap Devanius, lalu mengusap puncak kepala Yehezkiel.
"Baiklah"
Begitu juga mobil yang ada di belakangnya pun ikut menambah kecepatannya, sampai di perempatan ada lampu merah sebelum lampu merah di mulai Devanius dengan gerakkan cepat dan lihai memutar jalan menuju jalan pintas agar tidak di kejar oleh mobil aneh tersebut.
Heh! Ingin menangkapku mimpi saja, sampai kapanpun aku tidak akan kembali lagi. batinnya.
Mobil hitam tersebut pun berhenti setelah melewati lampu merah, mereka pun bergegas keluar dan mencari mobil yang mereka cari.
"Damn! Kita kehilangan jejaknya" ucap salah seseorang yang berpakaian hitam tersebut, serta rahang yang mengeras.
"Sudahlah, lebih baik kita cari lagi pasti belum jauh dan masih ada di sekitar sini" sahutnya lagi.
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali, untuk mencari seseorang yang di inginkan Tuannya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil Devanius telah sampai di rumah Eliana dan beruntungnya Yehezkiel tidak terusik saat di perjalanan tadi.
Sampai di depan rumah, lalu Devanius pun membangunkan Yehezkiel dengan lembut.
__ADS_1
"Kiel, bangun nak, sudah sampai di rumah"mengusap lembut pipi Yehezkiel.
"Emmm," Yehezkiel mulai membuka matanya." Sudah sampai Om?" Mengerjapkan matanya.
"Iya sudah sampai" lalu Devanius keluar dari dalam mobil.
Devanius mengitari mobil menuju pintu mobil Yehezkiel dan membukanya.
"Apa kau bisa berjalan, atau mau Om gendong?" Tawar Devanius.
"Gendong om" merentangkan tangannya.
"Baiklah"
Devanius pun menggendong Yehezkiel menuju kamarnya, sedangkan para pelayan pun sudah tidak aneh lagi dengan kedatangan Devanius, karena mereka berfikir jika wajah Devanius hanya mirip dengan Vikram jadi mereka tidak mempermasalahkannya.
Masuk ke dalam kamar dan merebahkan Yehezkiel lalu dia pun melepaskan sepatu Yehezkiel dan menaruhnya di rak sepatu. Devanius menatap lama wajah Yehezkiel lalu dia pun teringat kata-kata di kasir tadi jika mereka mirip sekali.
Devanius mulai mengedarkan pandangannya dan dia menatap lagi bingkai foto yang mirip dengannya lalu di laci meja Yehezkiel banyak sekali album foto seseorang yang mirip dengannya bersama Eliana.
Dengan rasa penasaran Devanius pun mengambilnya dan membuka satu persatu halaman album foto tersebut. Awalnya dia biasa saja tetapi semakin lama kepala Devanius pun terasa pusing dan bayangan seseorang pun mulai bermunculan di benaknya.
"Ugh... sakit sekali kepalaku, siapa orang yang ada di dalam bayanganku itu wajahnya tidak begitu jelas" ucapnya sambil memegang kepalanya.
Salah satu foto tersebut ada nama seseorang yang sedang dia lihat saat ini.
Vikram. batinnya.
Lalu Devanius pun mencari bukti lagi jika dirinya bukan Vikram tetapi Devanius, lalu dia menemukan buku Diary Yehezkiel dan Devanius pun membuka dan membacanya.
Kata demi kata membuat kepalanya Devanius terasa sakit.
...Vikram Valdes Viktor itulah nama Papiku, dan namaku adalah Yehezkiel Valdes Viktor tetapi saat aku lahir aku tidak tahu bagaimana wajah Papiku dan aku bertanya kepada Mami. Seperti apa wajah Papiku? Dan Mami pun mengatakannya dan memberikan foto ini, Jika aku rindu aku bisa melihat foto Papiku dan bercerita dengannya meskipun hanya sebuah foto aku sangat bahagia....
...Tetapi andai saja dia masih hidup aku akan memeluknya dan tidak akan melepaskannya lagi, dan hari ini aku bertemu seseorang yang sangat mirip dengan Papiku dia adalah Om Devan, orangnya baik dan wajahnya sangat mirip Papiku awalnya aku mengira dia Papiku tetapi setelah aku lihat lagi ternyata dia berbeda. Ada rasa sedih tetapi hatiku senang karena Om Devan selalu menemaniku di saat Mami sedang bekerja....
__ADS_1
Bersambung