Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Siapa Pria ini?


__ADS_3

Pagi hari matahari bersinar cerah sinarnya pun menebus ke arah dua insan yang sedang terlelap, lalu salah satu dari mereka pun mulai mengerjapkan matanya.


"Ugh...perutku tersa berat sekali"ucapnya, lalu menoleh ke sebelahnya.


Eliana pun terkejut melihat Vikram yang ada di sebelahnya dan kejadian semalam pun berputar lagi di otaknya, mengingat hal itu Eliana pun segera melepaskan tangan Vikram yang melingkar di perutnya lalu bangun dari tidurnya. Dan membuat Vikram pun terbangun lalu dia menoleh ke arah Eliana.


"Kau sudah bangun?"ujar Vikram dengan suara seraknya.


Eliana tidak menjawab apapun dia masih merasa kesal lalu Eliana melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Vikram pun bangun dan duduk di sofa dia menyandarkan tubuhnya sambil melipat tangan di dada karena hari ini adalah hari libur jadi Vikram santai saja.


Lalu pintu di ketuk oleh kepala pelayan dan Vikram menuyuruhnya masuk.


Tok tok tok


"Masuk!"


Dia mendorong pintu dan masuk ke dalam lalu membungkuk hormat kepada Vikram.


"Tuan sarapan sudah siap"ujar Bi Helen.


"Baik Bi, terima kasih"jawab Vikram.


Lalu bi Helen pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vikram dan melanjutkan pekerjaannya kembali, beberapa menit kemudian Eliana pun telah selesai dengan ritual mandi lalu Eliana akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar vikram. Namun Vikram memeluk Eliana dari belakang dan membuat Eliana terkejut.


"El, maafkan aku, aku begitu khawatir padamu"ujar Vikram.


Eliana terkejut dengan ucapan Vikram tetapi dia tidak mengatakan apapun hanya diam saja.


"El, aku sudah bilang jika kau tunanganku saat ini, tidak peduli siapapun yang mengakui kalau dia adalah tunanganku. Kau cukup percaya saja padaku, apa kau bisa?"tanya Vikram yang masih memeluk erat Eliana.


Eliana pun mengigit bibir bawah dan memejamkan matanya dadanya terasa sesak saat mendengar ucapan dari Vikram. Lalu Eliana melepaskan tangan Vikram yang melingkar di perutnya dan keluar dari kamar.


Vikram menghembuskan nafas kasarnya lalu mengikuti Eliana ke ruangan makan, Eliana pun memakan makanannya begitu juga dengan vikram.


...*******...


Sesampainya di kantor Vikram pun masuk ke ruangannya dan langsung duduk di kursi kebesarannya, dan Ronal pun masuk ke dalam ruangan Vikram.


"Vik, metting sebentar lagi, apa kau sudah siap?"tanya Ronal yang menghampiri Vikram.


"Sudah, kau suruh Eliana untuk datang ke ruang metting kali dan suruh dia dia untuk persentasi"ujar Vikram, lalu dia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah"


Ronal pun keluar dari ruangan Vikram lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangan Eliana.


"El, bos meminta agar kau yang perestasi kali ini"tutur Ronal.


"Huuff baiklah, terima kasih tuan"Eliana menghembuskan nafasnya.


"Ini berkasnya lakukan dengan baik, bos mengandalkanmu"menepuk bahu Eliana.


"Iya, aku akan berusaha sebaik mungkin"


Ronal melangkahkan kakinya lagi menuju ruangannya, sementara Eliana menatap malas pada berkas tersebut lalu Fika pun mencoba menghiburnya agar Eliana tidak murung lagi.


"Ayolah, kau jangan seperti itu kau harus buktikan jika kau mampu El. Apalagi dia tunanganmu, seharusnya kau lebih semangat" hibur Fika dengan tersenyum manis.


Eliana bukannya menjawab tetapi dia memutar bola matanya malas melihat sikap Fika padanya dan mau tidak mau Eliana harus mengerjakan tugas dari bosnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian kini para klien sudah di ruangan metting mereka sedang menunggu pemilik perusahaan tersebut tak lama terdengar derap langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut, semua mata yang menatap ke arahnya pun sedetik kemudian saling menundukkan kepalanya.


Karena mereka tahu jika tuan muda yang satu ini memiliki aura yang dingin menurutnya, siapa lagi jika bukan Vikram dan bersama Ronal lalu Vikram pun duduk di kursi kebesarannya di ikuti oleh Ronal.


Vikram melihat satu persatu wajah kliennya seperti ada yang kurang dia menatap Ronal, merasa di tatap dingin dengan segera Ronal membungkukkan badannya lalu melangkah keluar dari ruangan metting.


"Astaga, kenapa dia terlambat"gumam Ronal, yang sedang berdiri di depan pintu lift.


Saat akan menekan tombol pintu lift, lalu pintu lift pun terbuka dan terlihatlah seorang gadis yang sedang membawa berkas yang harus dia persentasikan.


"Cepat semua menunggumu"ujarnya lalu berbalik lagi, menuju ruangan metting.


Dengan langkah malasnya dia mengekor di belakang Ronal, lalu semua mata menatap ke arah seseorang bukan berarti mereka menatap Ronal melainkan Eliana.


Salah satu klien pun menatap intens ke arah Eliana seperti tidak asing baginya. Sedangkan Eliana acuh tak acuh karena dia harus melakukan persentasi dan tidak begit memperhatikan wajah klien.


Kenapa wajahnya mirip dengan dia? Tetapi itu tidak mungkin.batinya


Satu jam kemudian metting telah selesai beberapa klien pun berpamitan untuk pulang, tetapi tidak dengan seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Eliana. Dia pun menghampiri Vikram karena rasa penasarannya lebih besar.


"Tuan Muda Vikram, semoga kerja sama kita kali ini akan menjadi keuntungan untuk kedua perusahaan" ucapnya lalu tersenyum manis, tetapi tatapan matanya tidak luput dari Eliana.


Eliana yang merasa risih dari tadi ingin sekali dia menconkel matanya yang genit itu, pikir Eliana. Lalu Vikram pun memperkenalkan Eliana kepadanya.


"Iya semoga saja Tuan Daniel, karena tanpa dia mungkin persentasi kali ini tidak akan berjalan dengan lancar, kenalkan dia adalah Eliana sekertarisku" ucap vikram, dia pun menyuruh Eliana.


Eliana pun sedikit membungkukkan badanya dan Tuan Daniel pun tersenyum manis menatap Eliana.


Eliana sebenarnya merasa aneh melihat tuan Daniel sepertinya begitu familiar di matanya.


Kenapa aku merasa tidak asing, tetapi siapa pria ini.batin Eliana.


"Hah! Ada apa tuan?"jawab Eliana gugup.


"Kembali ke ruanganmu,"titah Vikram


Lalu Eliana pun dengan patuh membungkuk hormat dan melangkah keluar dari ruangan metting. Sementara Vikram dan Daniel masih sibuk dengan urusannya, sepanjang jalan menuju ruangannya Eliana diam saja dia begitu terusik dengan pria yang bertemu dengannya.


"El, kenapa lu? Abis dari ruang metting tuh kusut banget" ujar Fika.


Eliana hanya menoleh tanpa ingin membalas ucapan dari Fika, sementara Fika memutar kepalanya melanjutkan pekeejaan kembali.


...*****...


Setelah selesai dengan mettingnya, sepanjang perjalanan tuan Daniel pun memikirkan hal yang tadi sempat mengganggu fikirannya.


"Siapa dia? Kenapa mirip sekali dengannya!"gumam Daniel."Apakah aku harus mencari tahu tentang dirinya, tetapi bagaimana mungkin dia sudah tiada"sekilas mata Daniel pun berkaca-kaca mengingat kejadian lima tahun yang lalu.


...Lima Tahun Yang Lalu...


Di taman bermain seorang gadis cantik sedang bermain bersama dengan sang kakak yang begitu menyayanginya.


"Kak, aku ingin boneka besar itu!"tunjuknya pada salah satu anak yang membawa boneka besar tersebut.


"Iya adikku sayang, kau harus tunggu ibu dulu sebentar lagi ibu akan datang"ucapnya, lalu mengusap lembut kepala adiknya.


"Tetapi aku ingin boneka itu kak!"rengeknya.


"Sabar ya sayang,"dia mencoba menenangkan sang adik.

__ADS_1


Tak lama datanglah wanita paruh baya yang menghampiri mereka berdua, karena ada panggilan telefon dari asistennya.


"Ada apa sayang?"menghampirinya.


"Adik ingin boneka itu Bu"ucapnya.


Wanita paruh baya itupun mengerti dan menyuruh sang kakak untuk membelinya di toko sebrang dengan senang hati sang kakak pun mengiyakan permintaan sang adik. Dengan wajah berbinar serta senyum manis mengembang di wajahnya membuat wanita paruh baya tersebut tersenyum.


Wanita paruh baya dan anak gadisnya pun menunggu kedatangan sang kakak, lalu dering ponsel mengalihkannya.


"Halo...halo...ada apa? Hallo suaramu tidak begitu jelas"ucap wanita paruh baya tersebut.


"Sayang kau tunggu di sini ya, ibu akan menjawab panggilan telefon dulu"mengusap puncak kepalanya.


Gadis kecil itupun menganggukkan kepalanya dan terapan matanya tidak lepas sedikitpun karena dia sedang menunggu sang kakak sedang membelikan boneka untuknya.


Setelah wanita paruh baya itu sedikit menjauh lalu adad seseorang dengan pakaian badutnya menghampiri gadis kecil itu, tidak ada rasa curiga ataupun takut gadis itu tersenyum senang saat badut itu berpura-pura jatuh.


Setelah puas membuat gadis itu tertawa kini badut itupun menghampirinya dan bertanya kepada gadis kecil itu.


"Apa kau mau ikut denganku gadis manis?"tanya badut itu.


Diapun menganggukkan kepalanya tak lupa dengan senyum manisnya.


"Ayo"ajaknya.


Gadis itu mengikuti badut tersebut sampai di depan mobil badut itu langsung menggendong dan membawa paksa gadis itu masuk ke dalam.


"Ibu..tolong aku! Aku takut ibu"teriaknya.


Namun tidak ada sahutan dari sang ibu karena dia sibuk menelefon, sedangkan sang kakak minat itupun segera berlari mengejar mobil tersebut. Tetapi sayang sekali mobil itu melaju dengan cepat dan membuatnya kelelahan.


"Adik....adik..."teriaknya.


Lalu dia pun melihat sekelilingnya dia mencari sang ibu dan menghampirinya


"Ibu adik di culik,"ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Seketika dia pun terkejut dan terduduk di bangku taman.


Bruk..


"Anakku...hiks hiks"ucapnya dengan Isak tangisnya.


...******...


Kembali ke ruangan Eliana tidak terasa hari sudah sore dan waktunya untuk pulang, Fika sudah selesai merapikan berkasnya lalu dia melirik ke arah Eliana yang sedari tadi melamun.


Eliana terkejut dia mendengus kesal melihat Fika mengejutkannya.


"Dor...kenapa lu El, dari tadi ngelamun aja" menepuk bahu Eliana.


"Ya ampun Fika, lu bikin jantung gue copot aja nih"kesal Eliana.


Tanpa merasa bersalah Fika hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya."Hehehe maaf sahabatku, ayo pulang udah sore atau lu mau nginep di sini"


"Ish...ayo kita pulang!"


Eliana dan Fika pun keluar dari ruangannya dan melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2