Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Bertemu Ibu


__ADS_3

Setelah selesai bekerja Eliana pun tidak lupa dengan janjinya dia sudah menunggu di lobi dan Vikram pun menyusulnya.


"Apa dia sudah datang?" Tanya Vikram.


"Belum Vik, aku masih menunggu"jawab Eliana yang melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya sudah aku akan menunggumu sampai dia datang,"


"Kau yakin Vik?"


Vikram pun menganggukkan kepalanya tak lama datanglah mobil mewah yang berhenti tepat di hadapannya, lalu keluarlah seseorang dengan stelan jas mahalnya.


"Maafkan aku El,"ucapnya menghampiri Eliana.


"Tidak apa-apa Tuan Daniel"sahut Eliana, sebenarnya dia ingin sekali memanggilnya dengan sebutan kakak namun ia urungkan karena rasa canggungnya.


"Silahkan Tuan Putri" ucap Tuan Daniel, yang membukakan pintu mobil untuk Eliana.


Sedangkan Vikram dia langsung berdehem."Ehm"


Membuat Eliana menoleh ke arah Vikram."Ada Vik? Kau tidak sedang cemburu 'kan?"


"Tidak, pergilah"jawab Vikram.


Eliana pun masuk ke dalam mobil Tuan Daniel, setelah Eliana masuk lalu Tuan Daniel menatap ke arah Vikram.


"Terima kasih adik ipar, telah memberikan waktunya untuk"menepuk bahu Vikram.


"Ck"Vikram berdecak kesal.


Tuan Daniel hanya menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil dan melaju menuju Apartement milik Tuan Daniel.


Selama perjalan Eliana tidak mengucapkan apapun karena di bingung harus memulainya darimana, tak berselang lama mobil pun tiba di Apartement. Lalu Tuan Daniel keluar dan di susul oleh Eliana.


"Ayo El, ibu ada di dalam"


"Baiklah"


Eliana mengikuti langkah kaki Tuan Daniel yang telah berjalan lebih dulu, tak lama mereka pun sampai di lantai atas lalu Tuan Daniel membuka pintu Apartement dan mengajak Eliana masuk ke dalam.


"Kau duduklah dulu aku akan memanggilnya"Tuan Daniel meninggalkan Eliana.


Beberapa detik kemudian Tuan Daniel datang bersama dengan seorang wanita paruh baya , melihat hal itu Eliana pun menatap wanita tersebut begitu juga sebaliknya dia pun menatap Eliana.

__ADS_1


"Daniel apakah benar dia?"Tanyanya.


"Iya benar dialah adik kandungku dan juga putri kecilmu"jawab Tuan Daniel.


Wanita paruh baya itu menghampiri ya dengan bulir bening yang sudah tidak bisa dia bendung lagi menatap lekat ke arah Eliana lalu memeluknya. Awalnya Eliana membiarkannya saja, dia belum beraksi apapun tetapi semakin lama hatinya pun semakin nyaman, lalu dia pun membalas pelukkan tersebut.


"I-ibu hiks"Isak tangis Eliana, saat dia memanggilnya dengan sebutan ibu.


"Iya sayang, gadis kecilku ini ibu mu nak"jawanya yang masih memeluk, dan mengecup rambut panjangnya.


"Jadi benar ini kau? Apakah aku sedang bermimpi?"Melepaskan pelukkannya dan menatapnya lagi.


"Tidak nak, ini kenyataannya, akulah ibu kandungmu"ucapnya.


Lalu kepala Eliana terasa sakit dan dia pun langsung memegangnya."Ah.. sakit sekali"


Lalu kejadian beberapa tahun yang lalu pun berputar di otaknya dan membuatnya semakin kesakitan.


"Sakit...."ucap Eliana.


Tuan Daniel pun menghampiri Eliana yang sedang kesakitan"Ada apa El, katakan saja"


Eliana tidak menjawab karena otaknya sedang mengingat kejadian saat di di culik juga kenapa dia bisa hilang ingatannya, karena mobil si penculik itu tergelincir menabrak jurang sehingga membuat Eliana tenggelam terlalu lama dan dia tidak mengingat apapun.


"Kakak"ucap Eliana. kala melihat Tuan Daniel yang menatapnya


Tuan Daniel terkejut dengan ucapan Eliana, dan sang ibu pun tersenyum melihat Eliana memanggil Tuan Daniel dengan sebutan kakak.


"El, duduklah dan ceritakan semuanya kepada ibu nak, selama beberapa tahun ini kau Kana saja"pintanya.


Eliana menoleh dan menganggukkan kepalanya"Baiklah, karena aku sudah mengingatnya sekarang Bu"


Lalu Eliana menceritakan semuanya dan membuat hati keduanya terasa sakit saat mendengar jika dia pernah di sakiti oleh orang tua angkatnya.


Berbeda tempat kini Imel sedang menggendong putri kecil yang sedang menangis, lalu datanglah Edward dengan stelan kemeja kerjanya, melihat kedatangan sang suami Imel pun menghampirinya.


"Ed, aku butuh uang untuk membeli susu anak kita"ucap Imel.


Edward yang baru saja pulang pun di buat kesal olehnya."Mel, aku baru saja pulang, setidaknya biarkan aku beristirahat dulu bukannya datang di sambut dengan ucapan mu yang selalu meminta uang terus"


"Ed, tetapi ini anakmu, dan dia membutuhkan asupan gizi yang lebih baik"kesal Imel.


Edward mengerutkan keningnya."Apa kau yakin dia itu anak kandungku? Atau kau sengaja dulu menjebak ku agar tidak menikahi Eliana?"

__ADS_1


Mata Imel membulat sempurna mendengar ucapan dari Edward.


"Ed apa maksudmu? Aku tidak menjebak mu, kau memang mabuk dan salah masuk kamar"elak Imel, mana mungkin dia mengakuinya.


"Heh! Naif sekali kau Mel, membuatku muak"kesal Edward."Ternyata aku salah selama ini, seharusnya aku lebih percaya kepada Eliana tetapi aku malah bisa percaya dengan ular betina sepertimu"


"Edward jaga ucapanku hah, jangan pernah kau mengatakan hal itu kepada ku" bentak Imel, lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan Edward sendirian.


Edward hanya bisa menjambak rambutnya yang frustasi karena dia tidak mempercayai Eliana dan lebih memilih bersama Imel, rasa penyesalan di hatinya kini baru dia rasakan setelah tahu kebenarannya. Tetapi dia tidak mengatakannya kepada Imel karena dia masih mengingat anaknya saat ini, namun dia juga masih meragukan dengan anaknya saat ini apakah itu anak kandungnya atau bukan.


"Akh.. membuatku pusing saja"


Edward pun melangkah keluar dari kamarnya dan dia melewati Imel yang sedang menggendong anaknya.


"Kau mau kemana lagi Edward" ucap Imel.


"Bukan urusanmu, aku bebas kemanpun yang aku mau"ucapnya santai.


"Tetapi aku ini istrimu dan kau sudah memiliki seorang anak Ed, ingat ini putri kandungmu"ucap Imel dengan wajah sesedih mungkin.


"Cukup bagus aktingmu Imel, sampai membuatku bisa mempercayaimu"cibir Edward.


"Edward juga ucapan mu, aku serius!"


Edward memutar bola matanya malas lalu dia pun bergegas meninggalkan Imel yang berteriak memanggil namanya.


"Ed..Edward tunggu, kau kamu kemana"teriaknya.


Tetapi Edward tidak menjawabnya karena dia sudah melangkah keluar dari rumah dan membuat Imel mendengus kesal.


"Sial, kenapa Edward jadi seperti itu, apakah dia sudah tahu jika anak ini bukan anak kandungnya, gawat jika dia tahu, maka aku akan kehilangan. semuanya" gumam Imel."Tidak boleh terjadi, aku harus membuatnya percaya kembali padaku"ucapnya lagi.


Kini Eliana dan Tuan Daniel berserta sang ibu pun sedang menikmati makan malamnya bersama-sama untuk kali pertama.


"Jadi kau sudah menikah nak?"


"Iya Bu, dia sangat baik padaku, karena dialah yang menolong selama ini"


"Baguslah nak, ibu ikut bahagia jika boleh kenalkan ibu padanya, ibu juga ingin melihat menantu ibu apakah tampan atau tidak"


"Ibu... baiklah nanti aku akan mengajaknya untuk bertemu dengan mu Bu"


Mereka pun melanjutkan makan malam tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2