Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Misteri Kecelakaan Vikram


__ADS_3

Pagi ini vikram bangun lebih awal karena dia harus ke luar kota untuk mengurus perusahaannya, Eliana pun telah bangun dan membantu Vikram untuk menyiapkan sarapan pagi, dan di bantu oleh BI Helen juga Nyonya Mely.


"El, kau istirahat saja, biarkan ibu dan BI Helen yang menyiapkannya"ucap Nyonya Mely.


"Tidak apa-apa Bu, aku juga ingin membantu"jawab Eliana yang langsung membawa makanan ke meja makan.


Setelah selsai dengan menata makanan di meja makan, lalu Eliana pun menuju kamarnya untuk memberitahu Vikram. Mereka berdua pun keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju meja makan.


Lalu sarapan bersama setelah selsai sarapan pagi Lukas pun telah tiba dan menunggu Vikram di ruang tamu, tak butuh waktu lama Vikram pun bersama Eliana dan di bantu pak Ujang yang membawa kopernya.


"Tuan, apakah semuanya sudah siap?"Tanya Lukas sopan.


"Sudah, sayang ingat ya kau jangan sampai kelelahan jika kau ingin apapun katakan saja pada ibu dan BI Helen ya, mereka pasti akan membantumu"ucap Vikram, lalu menggenggam tangan Eliana.


"Iya sayang, aku mengerti"jawab Eliana, dengan senyum kecutnya.


Sebenarnya Eliana tidak ingin di tinggal oleh Vikram jika saja dia tidak hamil pasti akan ikut dengan Vikram, Vikram memeluk Eliana melepaskan rasa rindu mereka sebelum benar-benar berpisah oleh jarak yang memisahkan mereka berdua.


"Iya sudah, kau jangan menangis lagi ya dan tunggu aku pulang"mengecup kening Eliana, lalu beralih mengusap lembut perut Eliana."Hai baby, Papi pergi bekerja dulu ya, kau jangan nakal jaga mamiku baik-baik ya"


Eliana tersenyum melihat Vikram setelah berpamitan dengan Eliana dan Nyonya Mely, Vikram pun masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Lukas. Akhirnya mobil pun melaju meninggalkan Eliana, mata Eliana sudah berkaca-kaca dia tidak ingin di tinggal lagi. Nyonya Mely pun menepuk pelan bahu Eliana, agar Eliana bisa bersabar.


"Sabar nak, Vikram pasti kembali lagi dengan selamat"ucap Nyonya Mely lalu memeluk Eliana.


"Iya Bu, aku akan sabar menunggunya pulang"membalas pelukkannya.


Satu hari sudah di lalui oleh Eliana dia benar-benar kehilangan Vikram, biasanya Vikram selalu menemaninya setiap saat tetapi sekarang Eliana harus sendirian walaupun di temani Nyonya Mely.


"Vik, aku merindukanmu, sudah satu hari kau bahkan tidak memberiku kabar"ucap Eliana yang menatap ponselnya.


Setiap detik, menit, dan juga jam Eliana selalu menatap layar ponselnya berharap Vikram akan menghubunginya, tetapi sayang sekali dia tidak menghubungi Eliana sampai detik ini juga.


Nyonya Mely melihat hal itupun ikut merasakan kesedihan Eliana, air matanya pun menetes melihat Eliana yang tidak bersemangat menjalani hari-harinya tanpa Vikram.


"Sabar nak, ibu yakin Vikram pasti akan pulang dengan selamat"ucapnya, lalu dia pun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Tuan Daniel pun menghampiri sang ibu, karena dia telah pulang dari luar kota, mendengar Eliana sendirian akhirnya dia pun datang dan menemaninya.


"Ibu bagaimana keadaan El?"Tanya tuan Daniel yang begitu khawatir.


"Dia masih di kamarnya Daniel, El terus menatap layar ponselnya"ucap Nyonya Mely yang kini telah duduk di sofa.


"Kasihan sekali adikku, di saat seperti ini dia malah di tinggal oleh Vikram"ucap tuan Daniel.


Malam pun telah tiba dan Eliana tetap setia menunggu ponselnya, dan BI Helen membawakan makan malam untuknya.


"Nyonya makam malam sudah siap,"ucap Bi Helen menaruh nampan yang berisi makanan.


"Terima kasih Bi, taruh saja di meja"ucap Eliana lemas.


Bi Helen pun sebenarnya tidak tega melihat keadaan Eliana sekarang tetapi dia tidak bisa berbuat apapun. Bu Helen melangkahkan kakinya keluar dari kamar Eliana dan ada Tuan dan yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Eliana.


"Tuan Daniel"ucap Bi Helen sopan.

__ADS_1


"Iya Bi, kau keluarlah biarkan aku yang akan membujuk Eliana"jawab tuan Daniel, lalu melangkah masuk.


Bi Helen kembali ke dapur dan Tuan Daniel masuk ke dalam kamar Eliana, dia akan mencoba membujuknya agar mau makan.


"El, kenapa makanannya tidak kau makan?"Tanya Tuan Daniel.


"Kakak, aku tidak lapar"Eliana mendongakkan kepalanya, menatap lesu ke arah Tuan Daniel.


Tuan Daniel menghembuskan nafas kasarnya lalu dia pun duduk di samping Eliana, dan menggenggam tangan Eliana.


"El, kau tidak boleh seperti itu dan kau harus ingat jika sekarang kau tidak sendirian lagi, kau harus ingat dia yang membutuhkan asupan makanan El"ucap Tuan Daniel, mengingatkan.


Eliana menatap Tuan Daniel dengan air mata yang sudah menetes di wajah cantiknya.


"Kakak hiks hiks, aku merindukan Vikram kak! Aku harus bagaimana kak hiks hiks?"Tangis Eliana pun pecah, lalu memeluk Tuan Daniel.


"Iya El, aku mengerti sudah jangan menangis lagi"mengusap lembut punggung Eliana.


"Aku merindukannya kak, hiks hiks aku tidak bisa jauh darinya kak"Eliana menangis sesegukkan.


Hati Tuan Daniel pun terasa sakit melihat Eliana menangis seperti itu apa lagi tidak ada kabar darinya.


Pintu di dorong kasar oleh Nyonya Mery karena terburu-buru.


Brak.....


"El, kau harus kuat ya nak"ucap Nyonya Mely dengan raut wajah sedihnya.


"Maksud ibu apa? Ada apa ini Bu?"Tanya Eliana menatap Tuan Daniel, seolah meminta jawaban.


"Iya Bu ada apa sebenarnya ini?"Tanya Tuan Daniel.


Nyonya Mely pun bingung harus mengatakan apa kepada Eliana yang sebenarnya dan membuat Eliana juga Tuan Daniel semakin bingung.


"Ibu katakan ada apa?"Eliana memegang tangan Nyonya Mely.


"Kita ke lantai bawah nak, ada polisi yang datang ingin bertemu denganmu"ucap Nyonya Mely, lalu menarik tangan Eliana.


Eliana pun bingung kenapa polisi bisa datang ke rumahnya, dan Tuan Daniel pun mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di lantai bawah Eliana, Nyonya Mely, dan Tuan Daniel pun menghampiri petugas polisi.


"Pak polisi ini putriku, silahkan pak polisi katakan padanya"ucap Nyonya Mely.


"Baik Nyonya,"beralih menatap Eliana."Apakah benar Nyonya adalah istri dari Tuan Vikram?"Tanya petugas polisi memastikan.


"I-iya saya istrinya, ini ada apa ya pak?"Eliana menatap intens ke arah petugas polisi tersebut.


"Begini Nyonya kami menemukan ini saat kecelakaan dua hari yang lalu"menyerahkan dompet dan kartu indentitas milik Vikram.


Eliana menatap tidak percaya dengan ucapan polisi tersebut.


"Ti-tidak mungkin pak, kenapa kalian baru memberitahu kepadaku jika ini milik suamiku, kalian pasti bohong"ucap Eliana tidak percaya.

__ADS_1


"Maafkan kami Nyonya, karena mobil jatuh ke jurang dan kami baru menemukan ini saja. Sampai sekarang kami belum menemukan jasad Tuan Vikram"ucapnya menjelaskannya.


"Tidak mungkin ......"Eliana menggelengkan kepalanya."Ibu tidak mungkin 'kan, pasti itu bukan Vikram!"Menatap Nyonya Mely.


Nyonya Mely hanya diam saja dia tidak bisa berkata-kata lagi, lalu Eliana menatap Tuan Daniel.


"Kakak, katakan jika ini bohong kau jangan diam saja kak hiks hiks"air mata Eliana mulai menetes.


Tuan Daniel pun tidak tahu harus mengatakan apa kepada Eliana, dia pun bingung harus percaya atau tidak.


"Kenapa kalian diam saja hah! Katakan jika Vikram belum mati, cepat katakan hiks hiks"tangis Eliana pun pecah.


"El, sadarlah ikhlaskan kepergian Vikram nak"ucap Nyonya Mely.


Eliana menatap sinis ke arah Nyonya Mely.


"Vikram belum mati ibu, aku yakin dia masih hidup," Menatap ke arah petugas polisi."Pak, kau pasti salahkan itu pasti bukan mobil suamiku 'kan, katakan pak jangan diam saja"bentak Eliana.


"Maafkan kami Nyonya, tetapi ini kebenarannya"ucapnya menunduk sopan.


Eliana menangis sejadi-jadinya dia tidak percaya jika Vikram meninggalkannya begitu cepat. Lalu petugas polisi pun berpamitan setelah menyerah barang-barang milik Vikram.


Setelah kepergian petugas polisi Eliana pun kehilangan kesadarannya dan dia pingsan, beruntung Tuan Daniel menangkapnya dengan sigap sehingga Eliana tidak terjatuh.


"El, bangun El sadarlah!"ucap Tuna Daniel yang menepuk pelan pipi gembul Eliana.


"Ya ampun El, Daniel bawa Eliana ke kamarnya"titahnya Nyonya Mely.


Tuan Daniel pun menganggukkan kepalanya dengan cepat dia menggendong tubuh Eliana menuju kamarnya. Dan di susul Nyonya Mely dari belakang, Tuan Daniel pun membaringkan Eliana di ranjang miliknya dan mencoba mencari minyak kayu putih di laci.


Sementara bi Helen yang mengetahui Eliana pingsan pingsan segera menelepon dokter Mawar.


Tak butuh waktu lama dokter Mawar pun telah sampai di rumah Vikram, dia bergegas menuju kamar Eliana, membuka pintu dan segera masuk ke dalam.


"Apa apa ini? Kenapa bisa seperti ini?"Tanya dokter Mawar yang kebingungan.


"Begini dok....."Tuan Daniel pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat satupun.


Setelah mengetahuinya semuanya dokter Mawar pun ikut merasakan kesedihan yang di alami Eliana saat ini, karena dokter Mawar adalah sahabat Vikram semasa kuliah.


"Aku tidak menyangka Vikram akan seperti ini, kasihan El pasti dia sangat terpukul dan sekarang dia sedang mengandung. Aku tidak bisa membayangkannya jika aku menjadi El"ucap Dokter Mawar, yang telah memasang infusan kepada Eliana.


"Iya dokter, aku sebagai kakaknya saja sangat sedih melihat dia seperti ini"jawab Tuan Daniel.


Mereka bertiga pun menunggu di kamar Eliana, karena Meraka takut jika Eliana sadar nanti pasti akan memanggil nama Vikram.


TAMAT


Terima kasih buat semua yang sudah mau menyelipkan jempolnya di karya recehku ini, maaf kalau ceritanya gak jelas alurnya dan maaf kalau masih banyak typo. Makasih yang sudah mau dukung karyaku ini.


Mungkin nanti akan di lanjut ceritanya, semoga kalian bisa mendukung lagi karyaku ini, terima kasih banyak buat kalian semua.


🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2